Boima Hengki Banurea
Kontraversi Doktrin Sakramen
a. Apa dan bagaimana sakramen menurut: GKR, Luther, Zwingli, dan
Calvin
b. Baptisan
(1) GKR, Luther, dan Zwingli
(2) Lutheranisme, Calvinisme , dan Anabaptisme
I. Pengantar
Menjelang awal tahun 1520-an, tampak jelas bahwa sistem sakramental
dari gereja abad pertengahan sedang menjadi subyek kritik yang hebat dari
kelompok-kelompok pembaharuan. Para reformator itu menyusun suatu serangan
gencar atas berbagai pengertian Abad Pertengahan tentang jumlah, hakikat, dan
fungsi sakramen-sakramen serta mengurangi jumlah sakramen-sakramen yang otentik
dari tujuh menajadi dua (Baptisan dan ekatristi).
Pada awal zaman Perjanjian Baru, orang-orang Kristen menghubungkan
baptisan dengan berbagai karunia Roh Kudus, pembasuhan dosa, kematian, dan
kebangkitan, dan dengan inisiasi ke dalam persekutuan para pengikut Kristus,
gereja. Kemudian ketiak orang-orang Kristen mulai menekankan dosa asal, mereka
pun percaya bahwa baptisan menyingkirkan dosa asali dan juga dosa-dosa aktual.
Para reformator menjelaskan baptisan sebagaimana dilakukan oleh Ecclesia
Primitive (Gereja Mula-Mula).
II. Pembahasan
2.1. Makna Sakramen Secara Etimologis
Sebagai istilah
teknis dalam teologi Katolik modern dan dalam arti ketat, sakramen berarti
tanda lahir yang ditetapkan Kristus dan yang menunjukkan rahmat batin yang
diberikan kepada si penerima dalam melaksanakan tanda suci tersebut. Tradisi
Kristiani di Timur menamakan tanda-tanda keselamatan yang dalam Gereja itu musterion,
Tradisi di Barat menyebutnya sacramentum. Kedua istilah ini sudah
mempunyai arti tertentu dalam budaya klasik Yunani dan Latin yang
pra-kristiani.[1]
2.1.1. Musterion
Perkataan misteri memiliki arti rahasia. [2]Musterion
(bentuk jamaknya : musteria), umunya dipakai dalam budaya klasik Yunani
untuk menunjukkan upacara ibadat kepada dewa-dewi. Bila dipakai dalam arti
religius maka ditunjukkannyalah rencana keselamatan Allah demi manusia. Dalam
kitab Daniel, sebagimana telah kita lohat, itilah raz diterjemahkan
dalam Alkitab Yunani dengan kata musterion. Di sini kata ini menapat
makna tersendiri, yakni rahasia eskatologis, artinya kabar terselubung
mengenai kejadian-kejadian mendatang yang telah ditentukan oleh Allah dan hanya
oleh Allah saja dan oleh orang yang diilhami Roh Allah boleh disingkapkan dan
ditafsirkan (Dan 2: 18, 4:9). Pemberitaannya sendiri pun terjadi scara
teka-teki dalam selubung firman-firman yang merupakan musteria karena
penyingkapan penuh boleh terjadi di akhir zaman. Peristiwa-peristiwa
apokaliptik harus disimpan dengan saksama oleh para pelihat dan hanya boleh
diteruskan kepada para bijak. [3]
Dalam gereja purba, selain untuk menunjukkan rencana Allah
menyelamatkan manusia, istilah ini tetap dipakai untuk karya Allah yang
mewahyukan diri dalam bentuk manusiawi. [4]
Bila gereja disebut misteri keselamatan maka sebutan ini mengungkapkan
pandangan bahwa di satu pihak Gereja memang suatu kumpulan atau perhimpunan
orang-orang yang menjadi anggotanya yang memperoleh karya keselamatan dari
Allah. [5]
Sekali lagi ditandaskan bahwa Musterion (bentuk jamaknya : musteria),
umunya dipakai dalam budaya klasik Yunani untuk menunjukkan upacara ibadat
kepada dewa-dewi. Sebagaimana misteri-misteri kafir dalam perbuatan-perbuatan
sakral mengahdirkan secarareal perihal dewa-dewinya, begitu pula dalam ritus
simbolis sakramen-sakramen gereja berlangsunglah pengulangan Kultis dan dengan
demikian penghadiran tindakan penebusan Krsitus yang secara historis tak dapat
diulangi. [6]
2.1.2. Sacramentum
Istilah sakramen berasal dari bahasa Latin sacramentum berarti sumpah, seperti yang
dilakukan anak muda yang bergabung dengan angkatan darat Romawi. Vulgata
menerjemahkan kata Yunani mysterion
dengan sacramentum, yang menyebabkan baptisan dan Perjamuan Kudus
menjadi sakramen, [7]yang
sudah dilazimkan oleh Tertulianus (sekitar tahun 200) menjadi istilah
theologia.[8]
Kata sakramen tidak diambil dari Alkitab, melainkan dari adat istiadat Roma,
yaitu dari kata sacramentum. Kata ini memiliki dua arti (a) sumpah
prajurit, yaitu sumpah kesetiaan yang harus diucapkan oleh seorang prajurit di
hadapan panji-panji kaisar, dan (b) uang tanggungan yang harus diletakkan di
kuil oleh dua golongan yang sedang berpekerkara. Siapa yang kalah di dalam perkara
itu akan kehilangan uangnya. Oleh karena itu maka kata sakremen (yang
dijabarkan dari kata sacer = kudus) mengandung juga arti perbuatan atau
perkara yang rahasia, yang kudus, yang berhubungan dengan para dewa. Berhubung
dengan itu, maka kata sacramentum kemudian dipandang sebagai terjemahan
dari kata Yunani mysterion. Di dalam gereja semula yang disebut sakramen
adalah segala rahasia yang bersangkutan dengan Tuhan Allah serta pernyataan-Nya
, yaitu: upacaar-upacara kebaktian, dan lain-lainnya. Oleh karena itu
lama-kelamaan pengertian sakramen itu mencakup segala hal yang bersangkutan
dengan hidp kekristenan. [9]
Van Boland dalam buku Dogmatika masa Kini juga menyatakan bahwa di kalangan
ketentaraan Romawi, istilah sacramentum digunakan untuk menyatakan sumpah
setia. Timbulnya selaku sitilah theologia, mungkin dapat dimengerti dengan
mengingat kepada penggunaannnya di lapangan hukum dan pengadilan. Misalnya
dalam bidang hukum, kata sacramentum telah dipakai untuk barang atau kepunyaan
yang menjadi petaruh atau jaminan, padawaktu dua pihak mengadakan suatu
perjanjian. Lebih jelas lagi : bila dua orang berselisih, lalu membawa
perkaranya ke hadapan pengadilan, maka keua pihak wajib terlebih dahulu
menyetor kan uang jaminan; uang kepunyaan orang yang kalah, kemudiannya disita.
Uang jaminan itulah yang disebut sacramentum , sebab orang harus
menyetorkannya kepada perbendaharaan sebuah kuil (Latinnya : sacrum).
Dengan mengingat latar belakang ini sakramen diartikan sebagai jaminan yang
diberikan Allah dalam mengadakan PerjanjianNya. [10]
Yang memungkinkan Tertulianus untuk menerapkan kata sacramentum pada
ritus inisiasi Kristiani hanyalah kenyataan bahwa sacramentum dalam arti
sumpah setia prajurit merupakan ritus penerimaan ke dalam kalanangan militer.
Apa yang dilangsungkan dalam misteri-misteri kekafiran dan dalam bidang militer
itu justru dipenuhi dengan sesungguhnya dalam sakramen agama Krsitiani dan
karena itu juga memperoleh artinya yang sejati dalam sakramen-sakramen agama
kami (sacramenta nostrae religionis). Hal itu dijelaskannya dengan
Sakramen Baptis menjadi prajurit Kristus (Miles Christie) dan menerima
kewajiban-kewajiban iman Kristiani, pembaptisan adalah sacramentum dalam
arti yang sebenarnya. Arti etimologis yang aktif dari kata sacramentum
adalah menyucikan, menahbiskan, dan itulah yang terjadi dalam pembaptisan
sehingga tepatlah upacara Kristiani ini disebut sacramentum. [11]
2.2. Makna Sakramen
2.2.1. Menurut Gereja Katolik Roma
Menurut Gereja Katolik Roma, hakekat sakramen terletak di dalam hal
berikut, yaitu bahwa sakramen mencurahkan karunia yang adikodrati ke dalam
eksistensi manusia, [12]Dalam
Gereja Katolik Roma, terdapat tujuh sakramen. Penentuan mengenai tujuh sakramen
ini bukan disebabkan karena tradisi. Bagi Gereja Rom Katolik, ketujuh sakramen
tidak dapat diganggu gugat. Pertama-tama angka 7 adalah suatu angka yang
menunjukkan gambaran angka kudus 3 dan 4, yaitu angka ilahi dan angka insani.
Selanjutnya ketujuh sakramen ini dipandang sebagai sejajar dengan tujuh tahapan
jalan hidup manusia menurut kodrat, sehingga hidup kodrati manusia, sejak awal
hingga akhirnya, diliputi dan diberkati oleh ketujuh sakramen itu.[13]
Dekrit Orange
menghasilkan dua puluh lima kanan atau pernyataan doktrinal diikuti kesimpulan.
Kasih karunia yang mendahului perlu kalau manusia mau hidup sebagai orang
Krsiten, dan kasih karunia yang bekerja sama perlu kalau kita mau jalan terus.
Kanon-kanon membenarkan kebutuhan kita akan kasih karunia, tetapi kasih karunia
terikat pada sakramen-sakramen.[14]
Ajaran Gereja
Katolik Roma mengenai sakramen ini berpusat kepada penegertian sacramentum
atau mysterion atau rahasia. Sakramen adalah suatu mysterion,
suatu rahasia, sebab di dalam sakramen itu senantiasa ada karunia yang baru
yang dicurahkan. Demikianlah sakramen dijadikan perkara yang berdiri sendiri,
menjadi suatu rahasia tersendiri. [15]
Ketujuh sakramen
dalam Gereja Katolik Roma adalah :
baptisan¸yang dihubungkan dengan kelahiran manusia, penguatan iman, yang
dihubungkan dengan pertumbuhan dengan pertumbuhan tubuh, waktu
perpindahan dari kanak-kanak ke puber, ekaristi (perjamuan kudus) yang
dihubungkan dengan gizi, pengakuan dosa dan perminyakan yang
dihubungkan dengan penyembuhan, penahbisan imam atau imamat dan perkawinan
yang dihubungkan dengan penyempurnaan bagi persekutuan. [16]
a. Perjamuan (misa). Sifat sakramen ini: mengajarkan
perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus, ketika ditahbiskan
oleh imam,inilah ajaran transubtansiasi.[17]
b. Baptisan, bagi Gereja Romawi baptisan itu bukan kiasan
dari pembasuhan dosa manusia oleh darah Kristus, melainkan baptisan itu
sungguh-sungguh mengahpuskan dosa turunan dan segal dosa yang diperbuat oleh
orang itu sendiri. Sebelum manusia dibaptiskan, dosa turunanya masih melekat
kepadanya, sehingga ia berada di luar lingkungan rahmat dan keselamatan, dan
pasti akan binasa.
c. Konfirmasi (sakramen penguatan). Sakramen ini menyusul
baptisan dan berdasar pada Kis. 8: 14-17. Maksudnya ialah menguatakan niman dan
mengaruniakan Roh Kudus. Konfirmasi itu dilakukan dengan membuat tanda salib
pada dahi dengan minyak suci dan dengan meletakkan tangan pada orang yang
menyambutnya.
d. Pengakuan dosa. Sakramen itu terdiri atas tiga bagian
:
1. penyesalan batin yang sungguh. 2. Pengakuan dosa dengan mulut di
hadapan imam , menurut Mat 16 : 19. 3. Penebusan dosa dengan amal, atau yang
memberikan absolusi atas nama Tuhan, karena ia mendapat kuasa anak kunci itu
dari tangan Tuhan sendir menurut Mat 16 ; 19, 3. Penebusan dosa dengan amal,
atau penintensia.
e. perminyakan (sakramen orang sakit) berdasar pada suatu
kebiasaan dalam jemaat yang mula-mula,yaitu orang sakit didoakan dan diurapi
oleh ketua-ketua (Yak. 5:14).
f. Perkawinan, Oleh karena pengaruh pandangan kafir yang
dialistis, d=maka dari ulahya Gereja menganggap tubuh dan segala hal yang
berhubungan dengan tubuh itu sebgai pekara najis saja. Seorang Krsiten
yang mau menuju kepada kesempurnaan,
sudah barang tentu harus mematikan tuubhnya dan bertarak sedapat-dapatnya.
g. Tahbisan imam, segal sakramen tadi disampaikan kepada
jemaat dengan tangan imam, karena dilah yang disanggupi untuk jabatan suci itu
dengan suatu tahbisan istimewa. Oleh tahbisan itu iamenjadi satu-satunya
pengantara, yang dipakai oleh Tuhan untuk menyampaikan rahmat-Nya kepada
manusia. [18]
Menurut ajaran
Gereja Roma, rahmat dan keselamatan hanya boleh disambut manusia dengan
menerima sakramen. Sakramen-sakramen itu merupakan saluran-saluran yang ke
dalmnya dicurahkan zat rahmat dari atas,untuk memasuki, memenuhi, menyucikan,
dan meynelamatkan manusia lahiriah-batiniah. [19]
2.2.2. Luther
Menurut gereja-gereja Reformasi hakekat sakramen adalah tanda dan
materai yang ditetapkan oleh Tuhan Allah untuk menandai dan mematerikan
janji-janji Allah di dalam Injil, bahwa karena korban Kristus di kayu salib
kita dianugerahi keampunan dosa dan hidup kekal. [20] Bagi
Luther, sakramen-sakramen dikaitkan dengan pertumbuhan dan pemeliharaan iman
dari umat Allah, sementara gereja abad pertengahan cenderung memperlakukannya
sebagai semacam komoditas yang dapat diperdagangkan, yang mampu mendatangkan
penghasilan.[21]
Luther menolak ide yang berasal dari
abad pertengahan, bahwa sakramen-sakramen memberi keselamatan seperti obat atau
suntikan memberi penyembuhan, asalkan dari si penerima sakramen tidak ada
rintangan [22]
De Captivitate Babylonica Ecclesiae Praeludium (Pembuangan Babel
Gereja). Dalam karya ini Luther menyerang ketujuh sakramen Gereja Katolik Roma.
Ia mengurangi jumlah sakramen menjadi dua, yaitu yang ditetapkan oleh Yesus
sendiri : baptisan dan perjamuan kudus. [23]
Bagi Luther, sakramen terutama merupakan suatu janji akan pengampunan dosa yang
diterima melalui iman oleh jemaat. [24]
2.2.3. Zwingli
Harus diingat bahwa Zingli adalah seorang pendeta untuk tentara
Konfederasi Swiss. Dengan menarik dari penggunaan sumpah di dalam kemiliteran
Zwingli berpendapat bahwa suatu “sakramen” pada dasarnya merupakan suatu
deklarasi kesetiaan dari seseorang kepada suatu kelompok. Sama seperti seorang
serdadu bersumpah setia pada pasukannya (dalam diri seorang jenderal), demikian
pula orang Krsiten bersumpah kepada saudara-saudarnya sesama orang Krsiten.
Menurutnya, suatu sakramen adalah cara yang memungkinkan seseorang dapat
membuktikan kepada gereja bahwa ia bermaksud, atau sudah menjadi seorang tentara
Kristus dan yang menginformasikan kepada seluruh gereja, daripada hanya kepada
dirinya sendiri, tentang imannya”. Dalam baptisan, orang percaya itu berjanji
untuk setia pada persektuan gereja, di dalam ekaristi, ia mendemostraikan
kesetiaan itu kepada masyarakat umum.[25]Bagi
Zwingli, istilah sakramen mempunyai pengertian dasar “sumpah” dan mula-mula
menganggap sakramen-sakramen baptisan dan ekaristi sebagai tanda-tanda
kesetiaan Allah kepaad umat-Nya dan janji anugerah-Nya untuk keampunan. Pada
tahun 1523 ia menulis bahwa kata sakramen dapat dipergunakan untuk merujuk pada
perkara-perkara yang telah Allah lembagakan, perintahkan, dan tahbiskan melalui
firman-Nya, yang adalah sama kokohnya dan sama pastinya bila Ia telah berjanji
mengucapkan kesamaan pada tingkat tertentu anatara pandangan-pandangan Luther dan
Zwingli mengenai fungsi sakramen-sakramen. [26]
Ulrich Zwingli, reformator kota Zurich di Swis, dengan cara yang
lebih radikal menolak teologi sakramen yang dikembangkan dalam Gereja Katolik
Roma Abad Pertengahan. Bagi Zwingli sakramen adalah tindakan simbolis yang
mennujuk kepada keselamatan yang diperoleh Kristus dan yng dipakai oleh
orang-orang percaya untuk memperingati apa yang dibuat Krsitus dan untuk
menyatakan iman mereka. Walaupun Kristus yang menetapkan saakramen, tidak dapat
dikatakan bahwa Kristus atau Allah yang bertindak di alamnya untuk menyelamtkan
manusia atau untuk memperkuat imannya. Yang bertindak adalah orang-orang
percaya, yang memakai sakramen untuk membuktikan iman yang sudah dimiliki. [27]
2.2.4. Calvin
Calvin mengartikan sakramen itu sebagai suatu materai (Latinnya: sigillum,
bandingkan segel), yang lazimnya dikenakan atas suatu piagam untuk
mensahkan isinya (bandingkan Rm. 4 :11). Dapat juga kita katakan : sakramen itu
adalah seumpama cap yang tertera pada kertas materai. Dengan
menggunakan kertas yang dicap ini, maka perjanjian anatara dua pihak disahkan
secara hukum. Maksudnya Tuhan telah memberikan sakramn itu selaku tanda yang
kelihatan, untuk menguatkan dan memateraikan Perjanjian yang telah diikat-Nya
dengan kita manusia di bukit Gologota, ketika Yesus mati di kayu salib. Atau
dengan berbagai perbandingan lain : di dalam berbagai sakramen itu Allah
seakan-akan berjabat tangan dengan manusia untuk meneguhkan Perjanjian-Nya,
sakramen adalah bagiakan cermin, di mana kita dapat meilhat rahmat Allah dengan
mata kepala kita, sakramen adalah sebagai suatu lukisan, di mana janji-janji
Allah telah digambarkan di hadapan mata kita. [28]
Dalam ajaran
tentang sakramen, Calvin menekankan bahwa sakramen adalah pemberian Alah, bukan
sekedar tindakan pengakuan manusia, tetapi ia menolak pemahaman bahwa sakramen
berarti sesuatu apa pun terlepas dari iman orang yang menerimanya. Bagi Calvin,
sakramen adalah suatu tanda lahiriah (symbolum) yang dipakai Allah untuk
memateraikan dalam batin kita janji-janji akan kerelaan-Nya terhadap kita
dengan maskud untuk memperkuat iman dan mengundang respons manusia.[29]
Jelaslah bahwa prakarsa dalam sakramen ada pada Allah, tetapi bahwa segi
pengakuan iman oleh manusia, yang diutamakan Zwingli, ditekankan pula. Menurut
Calvin, sakramen tidak berati apa-apa apabila terlepas dari pemberitaan Firman.
Tanpa penjelasan tentang apa yang dijanjikan Allah, tidak ada sesuatu untuk dilambangkan atau dmateraikan[30]
2.3. Baptisan
Istilah baptisan kata Yunani untuk ritus baptisan, yaitu baptizomai,
berarti memandikan atau membasuh. Namun, dalam Septuaginta ditemukan arti klasik,
menenggelamkan atau menyelamkan. (Yes. 21 :40. Ada dugaan bahwa dala m PB dengan arti inilah Yesus meramalkan
baptisan kematian-Nya yang akan segera terjadi (Mrk. 10 :38-39), demikian pula
ketika Paulus menunjuk baptisan Israel di Laut Merah (1 Kor 10 : 2). Dua
perikop ini merupakan pemahaman terhadap baptisan Kristen. Bagi Paulus,
baptisan disetarakan dengan peristiwa keluaranya Israel melintasi laut. Dalam
baptisan secara simbolis umat Kristen
ikut ambil bagian dalam kematian dan kebangkitan Yesus. Mereka
dikuburkan bersama-Nya dan bangkit dalam kehidupan baru. Jadi, baptisan juga
dianggap sebagai permulaan kehidupan baru. (Yoh. 3 :4-5). [31]
2.4. Makna Baptisan
2.4.1. Gereja
Katolik Roma, Luther, dan Zwingli
a.
Gereja Katolik Roma
Dalam doktrin Gereja Katolik Roma, pembaptisan (pemandian )
merupakan kelahiran alam hidup baru di dalam Kristus.Sakramen ini ibarat pintu
gereja, orang yang masuk gereja melalui pembaptisan dapat hidup di dalam Roh.
Pada prinsipnya mereka dapat juga menerima berbagai sakramen lainnhya demi
pemeliharaan hidup rohani tersebut. Kristus sendiri telah menghendaki semua
orang dibaptis dalam Matius 28 : 19. Konsili Trente menyatakan bahwa baptisan
adalah sarana regenarasi (kelahiran kembali) dari dosa asali dan juga satu
karunia Roh Kudus dan penyatuan ke dalam tubuh Krsitus. [32]
Untuk menjamin
masuk kepada kebahagiaan abadi, Gereja tidak mengenal cara lain daripada
pembaptisan,Allah telah mengaitkan keselamatan dengan pembaptisan, tetapi Allah
sendiri tidak terikat pada sakramen-sakramen –Nya. [33]
Mengenai perayaan sakramen Baptis, perlu diingat bahwa sejak zaman rasuli
ditempuh dalam waktu lebih singkat ataupun lebih panjang, namun unsur-unsurnya
yang hakiki harus selalu ada, yaitu pewartaan sabda, penerimaan Injil yang
membawa pertobatan, pengakuan iman, acara pembaptisan ke dalam arti ketat,
dicurahkannya Roh Kudus, dan komuni ekaristi yang pertama. Pembaptisan sendiri
dilangsungkan dengan membenamkan calon baptis ke dalam air, atau dengan
menuangkan air di atas kepalanya sambil menyerukan nama Allah Tritunggal
Mahakudus, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus. [34]
Dalam doktrin
Gereja Katolik Roma, manfaat baptisan adalah :
1. pengampunan dosa aal serat semua dosa pribadi maupun hukuman
dosa
2. kelahiran dalam hidup baru yang membuat manusia menjadi ciptaan
baru ( 2 Kor 5 : 17), yaitu:
a. anak angkat
Allah, yang boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi (2 Ptr 1: 4)
b. anggota Kristus
(bdk. 1 Kor 6 : 15, 12 ;27) dan ahli waris bersama dengan Dia (Rm. 8 : 170,
c. kenisah Roh
Kudus
3. anggota Gereja, tubuh Krsitus yang mistik, sehingga “ kita
adalah sesama anggota (Ef. 4; 25), “batu-batu hidup’, untuk pembangunan suatu
rumah rihani, bagi suatu imamat kudus’ 91 Ptr 2 : 5), peserta dalam imamat
Krsitus ; karena pembaptisannya orang yang telah dibaptis itu mengambil bagian
dalam imamat kaum beriman. [35]
Bagi gereja
Romawi, baptisan itu bukan kiasan pembasuhan dosa manusia oleh darah Kristus,
melainkan baptisan itu sungguh-sungguh menghapuskan dosa turunan dan segala
dosa yang diperbuat oleh orang itu sendiri. Sebelum manusia dibaptiskan, dosa
turunannya masih melekat kepadanya, sehingga ia berada di luar lingkungan
rahmat dan keselmatan, dan pasti akan binasa. Berkenaan dengan anggapan itu
gereja Roma mengizinkan baptisan darurat,
jikalau seseorangnmau meninggal dunia dan imam tak dapat dipanggil lagi.
Dalam hal yang demikian umpamanya seorang bayi yang baru lahir tetapi
barangkali akan mati sebentar, maka seorang awam boleh melakukan baptisan itu. [36]
b. Martin
Luther
Bagi Luther, baptisan adalah tanda yang ditetapkan oleh Allah untuk
memateraikan janji-Nya .Oleh sebab itu, bagi manusia bukan hanya mustahil untuk
menolak tanda lahiriah ini, tetapi juga tidak mungkin untuk menerima apa yang
dijanjikan Allah terlepas dari tanda yang ditetapkan Allah. Akan tetapi, Luther
tetap percaya akan janji Allah perlu, karena hanaya dalam iman orang dapat
menikmati pengamounan yang dijanjikan dalam baptisan. Demikianlah Luther mencoba menjamin objektivitas
sakramen (yaitu bahwa sakramen efektif bukan karena manusia melainkan karena
Allah), tanpa mengorbankan pendapat yang hakiki bagi Reformasi, yakni hanya
karena iman saja, yang ditimbulkan Allah dengan Firman, manusia diselamatkan.
Tekanan pada obyektivitas ini membawa Melancthon dan tulisan-tulisan pengakuan
Luther kemudian sampai pada kesimpulan, baptisan perlu untuk keselamatan, sebab
tanpa baptisan orang tidak mendapat bagian dalam keselamatan yang dijanjikan di
dalamnya. [37]
De Captive Babylonica Ecclesiae (Pembuangan Babel untuk
Gereja). Tulisan ini erupakan karya polemik-teologis. Ia membahs
sakramen-sakramen. Menurut Luther, ketujuh sakramen yang ada dalam Gereja
Katolik Roma menawan seorang Krsiten sejak ia lahir hingga masuk kubur.
Padahal,menurut kesaksian Alkitab, hanaya dua sakramen yang diperintahkan
menurut kesaksian Alkitab, yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus, yaitu Babptisan
Kudus dan Perjamuan Kudus. [38]
Ini berisi uraian uraian tentang sakramen. Di sini ditegaskan bahwa hanya ada
dua sakramen yang ditetapkan Krsitus endiri dan yang ditemukan dasarnya di
dalam Alkitab, yaitu Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus. Makna sakramen serta
hubungannya dengan Firman Tuhan juga dirumsukan secara baru; sakramen bukanlah
saluran anugerah sebagi penjamin keselamatan atas diri kita, melainkan tanda
dari apa yang dinyatakan firman itu. Dengan kata lain; sakramen adalah firman
dalam tanda rupa, dan sambutan kita dalam menerima sakramen itu hanyalah iman. [39]
Sekaligus pemahaman di atas memungkinkan Luther untuk mempertahankan
baptisan bayi, yang tengah diragukan oleh orang-orang Protesatan di Swis.
Menurut Luther bukan imanlah yang menjadikan baptisan menjadi efektif ,
melainkan janji Allah. Orang tua yang memberi bayi mereka untuk dibaptis boleh
percaya bahwa Allah akan memberi anak mereka iman yang diperlukan untuk
menikmati rahmat baptisan, bahkan mereka boleh percaya bahwa benih iman sudah
ditanamkan Allah dalam anak mereka. [40]
c. Ulrich
Zwingli
Bagi Zwingli sakramen adalah tindakan simbolis yang menunjuk kepada
keselamatan yang diperoleh Krsitus dan yang dipakai oleh orang-orang percaya
untuk memperingati apa yang dibuat Krsitus dan untuk menyetakan iman mereka. [41]Zwingli
mengembangkan ide bahwa sakramen-sakramen itu berada di abwah atau lebih rendah
dari pemberitaan Firman Allah. Khotbah inilah yang melahirkan iman,
sakramen-sakramen hanya menyediakan kesempatan yang dengannya iman ini dapat
didemonstrasikan di hadapan umum. [42] Menurut
Zwingli dalam baptisan, orang percaya itu berjanji untuk setia pada persekutuan
gereja. [43]Yang
bertindak adalah orang-orang percaya, yang memakai sakramen untuk membuktikn
iman yang sudah dimiliki. Sesuai dengan pemahaman ini, ia melihat baptisan
sebagai tanda yang dipakai orang-orang percaya untuk berjanji setia kepada
Krsitus dan untuk mengikat diri kepada-Nya. [44]
(Perhatikan pengaruh konteks Swis, yang adalah persekutuan negara-negara bagian
dan kota-kota yang saling terkat dalam persekutuan sumpah. Dapat dimenegerti
bahwa di kalangan Zwingli timbul pertnayaan : kalau demikian, apakah tepat
untuk membaptiskan bayi, yang dengan jelas belum dapat menyatakan iman mereka.
Bahkan Zwingli sendiri untuk beberapa waktu memepertanyakan baptisan bayi dan
cenderung untuk membaptis anak-anak yang lebih tua,yang sudah mendapat
pengajaran iman (sesuai kebiasaan kuno). [45]
Zwingli pada tahun 1525 menulis buku yang berjudul von dem
Touff, vom Widertouff und vom Kinderouf (Baptisan, Baptisan ulang, dan Baptisan
Anak). Dalam tulisan ini ia membela baptisan anak atas dasarbahwa itu adalah
tanda perjanjian, dan perjanjian meliputi selueruh keluarga bukan hanya
oknum-oknum tertentu. [46]
Zwingli menekankan bahwa baptisanlah yang menjadikan seseorang anggota persektuan
jemaat dan jemaatlah secara menyeluruh dalm iman terikat dalam perjanjian
dengan Allah. Bahwa bayi dibaptis adalah tepat, sebab melalui orang tuanya ia
menjadi anggota persektuan perjanjian, sama seperti bayi-bayi (laki-laki)
Israel disunat sebagai tanda bahwa mereka termasuk bangsa perjanjian. [47]
2.4.2.
Lutheranisme, Calvinisme, dan Anabaptisme
a.
Lutheranisme
Bagi Luther, baptisan adalah tanda yang ditetapkan oleh Allah untuk
memateraikan janji-Nya.[48] Dalam
risalahnya yang ditulis tahun 1520, The Babylonian Captivity of The Church,
Luther mulai melaksanakan berbagai implikasi dari pandangannya bahwa kita
diselamatkan oleh anugerah iman. Dalam satu teks dari Markus, ia menemukan
suatu penekanan yaitu : “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan (Mrk. 16 :16). [49]
Sebagaimana yang dikatakan Luther, “Anak dibantu oleh iman dari orang-orang
lain, yaitu mereka yang membawa anak itu untuk dibaptis. Karena Firman Allah
itu cukup berkuasa, ketika diucapkan untuk mengubah segala sesuatu, bahkna hati
yang tidak ber-ilah sekalipun, yang tak berbeda dengan bayi mana pun dalam hal
ketiadaan respons dan ketidak berdayaannya. [50]
b.
Calvinisme
Menurut Calvin, baptisan merupakan tanda pengampunan dan hidup
baru. Lebih lanjut, baptisan menandakan bahwa kita telah ikut serta dalam
kematian dan kebangkitan Kritus dan bahwa kita juga telah menjadi satu dengan
Dia. Baptisan sekaligus merupakan tanda bahwa kita masuk ke dalam persekutuan
gereja. Jadi, di sini baptisan dihubungkan Calvin ke dalam keanggotaan di dalam
gereja. [51]
Ini sekaligus mengungkapkan penolakan Calvin terhadap anggapan bahwa baptisan
merupakan syarat untuk beroleh keselamatan. Menurut Calvin, baptisan bukan
syarat untuk memperoleh keselamatan, melainkan materai yang menandakan bahwa
sesorang telah memperoleh pengampunan dosa dan keselamatan pada salib Kristus. [52]
Atau dengan kalimat lain, Calvin menyatakan keenganannya untuk
menjadika nbaptisan sebagai syarat untuk keselamatan. Baptisan adalah tanda dan
materai pengampunan dosa yang diproleh Kristus pada kayu salib. Pengampunan ini
diberikan Allah kepada manusia sebelum ia lahir, sehingga tidak fapat diikat
pada pelayanan baptisan, apalagi tidak pada air baptisan. [53]Jadi
Calvin menolak bahwa oleh baptisan itu kita dilepaskan dan dibebaskan dari dosa
turunan dan dari kerusakan yang diteruskan dari Adam ke seluruh keturunannya,
dan bahwa olehnya kita dipulihkan dalam kebenaran dan kemurnian tabiat yang
sama seperti yang kan dimiliki Adam sekiranya ia teta bertahan dalam keutuhan
yang ada padanya ketika ia diciptakan. [54]
Bagi Calvin,
baptisan seperti sunat, adalah suatu tanda perjanjian.[55] Menurutnya
baptisan adalah tanda yang diberikan
Kristus untuk menunjuk pada penyelamatan manusia, yang memateraikan keselamatan
uni dalam diri orang percaya. [56]Calvin
percaya bahwa pengakuan percaya dapat memainkan suatu peranan yang bermanfaat
dalam perkembangan rohani dari mereka yang dibaptis ketika kanak-kanak. Ia melhat
kebutuhan untuk suatu latihan katekis, yang melaluinya anak-anak atau kaum
muda akan menyampaikan
pertanggungjawaban iman mereka di hadapan gereja. [57]Baptisan
bukan syarat, melainkan pengampunan dosa dan keselamatan pada salib Krsitus.
Pengampunan itu telah dikaruniakan Allah pada kita sebelum kita lahir, sehingga
tidak ditentukan oleh Baptisan. [58]
c. Anabaptisme
Kaum Anabaptis adalah mereka yang tidak setuju dengan pandangan
Katolik Abad Pertengahan bahwa negara Krsiten ideal adalah tempat semua
warganya dibaptis sebagai anggota satu gereja dengan satu pengakuan iman. Kaum
ini memiliki pemahaman bahwa Reformasi Proterstan belum cukup radikal. [59]
Kelompok baptis bersifat anti-liturgi dan tidak memiliki sakramen (mereka hanya
menyebutnya ketetapan Tuhan; ordinances. Baptisan hanya mengakui kedua
upacara suci itu. Namun, mereka tidak menyebutnya sakramen, karena menurut
mereka istilah sakramen tidak terdapat di dalam Alkitab dan berasal dari
kosakata sehari-hari yang artinya bisa lain yang dimaksud gereja. Ada dua tanda
penetapan, karena hanya yang dua itulah yang ditetapkan oleh Kristus dan
dipraktikkan gereja Perjanjian Baru. [60]
Baptisan anak adalah pokok perselisihan yang nyata, tetapi sebenarnya ada
persoalan-persoalan yang lebih mendasar.[61]
Bagi orang baptis kekudusan itu bukanlah karunia Kristus, melainkan
tugas manusia yang beriman. Kekudusan itu dikejarnya dengan menggenapi segala
hukum Tuhan, teristimewa segala syariat untuk hidup Kristen yang terpapar dalam
khotbah Yesus di Bukit, yang dianggap seperti kitab undang-undang.
Sydah tentu orang-orang percaya yang suka dan sanggup memenuhi segala syariat
itu, adalah segolongan kecil saja dalam dunia yang jahat ini. Oleh karena itu
orang Baptis menolak Gereja negara, baik yang Katolik Roma maupun yang
Protestan. Itulah sebabnya mereka menolak baptisan kanak-kanak, yang menyatakan
bahwa rahmat Allah adalah pendahuluan dan dasar iman. [62]Para
anabaptis menentang gereja negara yang dipaksakan kepada semua orang. Bagi
mereka iman Krsiten itu bebas dan dianut atas kemauannnya sendiri, bukan
dipaksakan. Kaum anabaptis berpendapat bahwa gereja itu seharusnya hanya
terdiri dari orang-orang yang percaya sesungguhnya, murid-murid yang terikat
pada tujuan bersama. [63]Mereka
menganggap baptisan sebagai sesuatu ketetapan yang dihususkan bagi orang
dewasa, dan tidak disediakan bagi anak-anak. [64]
Sekali lagi
ditandaskan bahwa menurut Anabaptis, bahwa baptisan bukan untuk anak-anak,
namun bagi mereka yang secara sadar memilih menjadi Krsiten. [65]
Kaum Anabaptis mengacu pada Markus 16:16 sebagi ayat yang menentukan, berpegang
teguh bahwa hanya orang-orang yang percaya yang dapat dibaptis ketika masih
bayi atau kanak-kanak. [66]Baptisan
harus dilakukan dengan cara selam dan hanya dilayankan bagi orang dewasa yang
sudah mempu memahami dan menyatakan imannya (kolam baptisan dibuat di dalam
gdung dan terletak di belakang mimbar),karena memang begitulah dinyatakan di
dalam Alkitab. Baptisan dilayankan di dalam nama Allah Tritunggal; Bapa,
Putera, dan Roh Kudus. Di samping melambnagkan kelahiran kembali atau hidup
baru, baptisan juga melambangkan iman dan ketaatan kepada Kristus. Kendati
kebanyakan kalanagan Baptisan tidak percaya bahwa Baptisan meruapakn syarat
mutlak agar selamat, mereka pada umumnya mengajarkan bahwa iman kepada Kristus,
yang dinyatakan pada waktu Baptisan merupakan hal yang hakiki. [67]
Pembaptisan akan
diberikan kepada mereka yang telah belajar untuk bertobat dan memperbaiki
hidupnya, mereka yang sungguh-sungguh percaya bahwa dosanya sudah ditanggung
oleh Krsitus dan mau dikuburkan dengan Dia, begitu juga bagi mereka yang oleh
karena makna ini memohon agar mereka sendiri dibaptis. [68]
Baptisan yang diberi kepada orang dewasa saja tentulah mengutamakan manusia
yang harus mengusahakan imannya dahulu, barulah dipandang layak menerima tanda belas
kasihan Allah. Sebab itu baptisan orang akil balig menjadi tanda mutlak dari
segala sekta yang bersifat taurat. [69]
III. Kesimpulan
1. Istilah sakramen berasal dari istilah :
a. Musterion (bentuk jamaknya : musteria), umunya dipakai dalam
budaya klasik Yunani untuk menunjukkan upacara ibadat kepada dewa-dewi. Bila
dipakai dalam arti religius maka ditunjukkannyalah rencana keselamatan Allah
demi manusia. Sebagaimana misteri-misteri kafir dalam perbuatan-perbuatan
sakral mengahdirkan secarareal perihal dewa-dewinya, begitu pula dalam ritus
simbolis sakramen-sakramen gereja berlangsunglah pengulangan Kultis dan dengan
demikian penghadiran tindakan penebusan Krsitus yang secara historis tak dapat
diulangi.
b. Istilah sakramen berasal dari bahasa Latin sacramentum berarti sumpah, seperti yang
dilakukan anak muda yang bergabung dengan angkatan darat Romawi. di kalangan
ketentaraan Romawi, istilah sacramentum digunakan untuk menyatakan sumpah
setia. Timbulnya selaku sitilah theologia, mungkin dapat dimengerti dengan
mengingat kepada penggunaannnya di lapangan hukum dan pengadilan. Arti
etimologis yang aktif dari kata sacramentum adalah menyucikan, menahbiskan, dan
itulah yang terjadi dalam pembaptisan sehingga tepatlah upacara Kristiani ini
disebut sacramentum
2. Menurut Gereja Katolik Roma, hakekat sakramen terletak di dalam
hal berikut, yaitu bahwa sakramen mencurahkan karunia yang adikodrati ke dalam
eksistensi manusia. Dalam Gereja Katolik Roma, terdapat tujuh sakramen. a. Perjamuan
(misa), Baptisan, Konfirmasi,
Pengakuan dosa. perminyakan ,Perkawinan, Tahbisan imam
.Menurut ajaran Gereja Roma, rahmat dan keselamatan hanya boleh disambut
manusia dengan menerima sakramen. Sakramen-sakramen itu merupakan
saluran-saluran yang ke dalamnya dicurahkan zat rahmat dari atas,untuk
memasuki, memenuhi, menyucikan, dan meynelamatkan manusia lahiriah-batiniah.
Hal ini disarkan pada hasil keputusan dekrit Orange. Dekrit Orange menghasilkan
dua puluh lima kanan atau pernyataan doktrinal diikuti kesimpulan. Kasih karunia
yang mendahului perlu kalau manusia mau hidup sebagai orang Krsiten, dan kasih
karunia yang bekerja sama perlu kalau kita mau jalan terus. Kanon-kanon
membenarkan kebutuhan kita akan kasih karunia, tetapi kasih karunia terikat
pada sakramen-sakramen.
3. Menurut gereja-gereja Reformasi hakekat sakramen adalah tanda
dan materai yang ditetapkan oleh Tuhan Allah untuk menandai dan mematerikan
janji-janji Allah di dalam Injil, bahwa karena korban Kristus di kayu salib
kita dianugerahi keampunan dosa dan hidup kekal
4. Bagi Luther, sakramen-sakramen dikaitkan dengan pertumbuhan dan
pemeliharaan iman dari umat Allah. Luther menolak ide yang berasal dari abad
pertengahan, bahwa sakramen-sakramen memberi keselamatan seperti obat atau
suntikan memberi penyembuhan, asalkan dari si penerima sakramen tidak ada
rintangan. Bagi Luther, sakramen terutama merupakan suatu janji akan
pengampunan dosa yang diterima melalui iman oleh jemaat
5. Zwingli berpendapat bahwa suatu “sakramen” pada dasarnya
merupakan suatu deklarasi kesetiaan dari seseorang kepada suatu kelompok. Sama
seperti seorang serdadu bersumpah setia pada pasukannya (dalam diri seorang
jenderal), demikian pula orang Krsiten bersumpah kepada saudara-saudarnya
sesama orang Krsiten. Menurutnya, suatu sakramen adalah cara yang memungkinkan
seseorang dapat membuktikan kepada gereja bahwa ia bermaksud, atau sudah
menjadi seorang tentara Kristus dan yang menginformasikan kepada seluruh
gereja, daripada hanya kepada dirinya sendiri, tentang imannya”.
6. Calvin mengartikan sakramen itu sebagai suatu materai. Bagi
Calvin, sakramen adalah suatu tanda lahiriah (symbolum) yang dipakai
Allah untuk memateraikan dalam batin kita janji-janji akan kerelaan-Nya
terhadap kita dengan maskud untuk memperkuat iman dan mengundang respons manusia
7. Mengenai baptisan, Gereja
Katolik Roma berlandaskan konsili Trente menyatakan bahwa baptisan adalah
sarana regenarasi (kelahiran kembali) dari dosa asali dan juga satu karunia Roh
Kudus dan penyatuan ke dalam tubuh Krsitus. Dalam doktrin Gereja Katolik Roma,
manfaat baptisan adalah :
a. pengampunan dosa aal serat semua dosa pribadi maupun hukuman
dosa
b. kelahiran dalam hidup baru yang membuat manusia menjadi ciptaan
baru ( 2 Kor 5 : 17)
c. menjadi anggota Gereja
8. Bagi Luther, baptisan adalah tanda yang ditetapkan oleh Allah
untuk memateraikan janji-Nya. sakramen bukanlah saluran anugerah sebagi
penjamin keselamatan atas diri kita, melainkan tanda dari apa yang dinyatakan
firman itu. Dengan kata lain; sakramen adalah firman dalam tanda rupa, dan
sambutan kita dalam menerima sakramen itu hanyalah iman
9. Bagi Zwingli sakramen adalah tindakan simbolis yang menunjuk
kepada keselamatan yang diperoleh Krsitus dan yang dipakai oleh orang-orang
percaya untuk memperingati apa yang dibuat Krsitus dan untuk menyetakan iman
mereka.
10. Menurut Calvin, baptisan merupakan tanda pengampunan dan hidup
baru. Lebih lanjut, baptisan menandakan bahwa kita telah ikut serta dalam
kematian dan kebangkitan Kritus dan bahwa kita juga telah menjadi satu dengan
Dia. Baptisan sekaligus merupakan tanda bahwa kita masuk ke dalam persekutuan
gereja
11. Menurut Kaum Anabaptis,
baptisan sebagai sesuatu ketetapan yang dihususkan bagi orang dewasa,
dan tidak disediakan bagi anak-anak. Sekali lagi ditandaskan bahwa menurut
Anabaptis, bahwa baptisan bukan untuk anak-anak, namun bagi mereka yang secara
sadar memilih menjadi Krsiten.
IV. Kepustakaan
Aritonang, Jan Sihar .,Berbagai Aliran di dalamdan di
sekitar Gereja, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2016
Browning, W.R.F., Kamus
Alkitab, A Dictionary of the Bible, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2015
Dister , Nico Syukur., Yogyakarta: Kanisius, 2004
de Jonge, Chrsitian ., Apa itu Calvinisme, Jakarta: BPK-Gunung
Mulia, 1998
de
Jonge, Christian Gereja Mencari Jawab Kapita Selekta Sejarah Gereja, Jakarta:
BPK-GM, 2013
Enklaar Hendrius Berkhof dan I.H.,
Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1986
Hadiwijono, Harun., Iman Kristen, Jakarta: BPK-Gunung Mulia,
2016
Lane, Tony., Runtut Pijar Tokoh dan Pemikiran Krsiten
dari Masa ke masa, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2016
McGrath, Alister E., Sejarah Pemikiran Reformasi, Jakarta:
BPK-Gunung Mulia, 2016
Urban, Lindwood., Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen,
Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2003
Van Niftrik, G.C., Dogmatika Masa Kini, (Jakarta: BPK-Gunung
Mulia, 2016
Wellem, F.D., Riwayat Singkat tokoh-tokoh, Jakarta: BPK-Gunung
Mulia, 2003
[1]Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika : Ekonomi Keselamatan ,
(Yogyakarta: Kanisius, 2004), 416
[2] Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika : Ekonomi Keselamatan , 202
[3] Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika : Ekonomi Keselamatan
416
[4] Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika : Ekonomi Keselamatan 202
[5] Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika : Ekonomi Keselamatan 205
[6] Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika : Ekonomi Keselamatan 332
[7] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, A Dictionary of the Bible,
(Jakarta: BPK-GM, 2015), 394
[8] G.C. van Nitrik dan B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini, (Jakarta ; BPK-GM, 2016), 436.
[9]Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta: BPK-GM, 2016), 425
[10]G.C. van Nitrik dan B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini, 437
[11] Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika : Ekonomi Keselamatan , 342-343
[12] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, 426
[13] Harun Hadiwijono, Iman Kristen,426
[14]Tony Lane, Runtut Pijar, 81
[15] Harun Hadiwijono, Iman Kristen,428
[16] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, 426
[17]Hendirus Berkhof, Sejarah Gereja, 67-110
[18]Hendrius Berkhof, Sejarah Gereja, 112-113
[19]Hendrius Berkhof, Sejarah Gereja, 111
[20]Harun Hadiwijono, Iman Kristen, 426
[21]Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, (Jakarta:
BPK-GM, 2016), 218
[22]Tony Lane, Runtut Pijar, 137
[23]Runtut Pijar, 134
[24]Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, (Jakarta:
BPK-GM, 2016), 216
[25] Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, (Jakarta:
BPK-GM, 2016), 222
[26] Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, (Jakarta:
BPK-GM, 2016), 221
[27] Chrsitian de Jonge, Apa itu Calvinisme, (Jakarta: BPK-GM,
1998), 192
[28]G.C. van Nitrik dan B.J. Boland., Dogmatika Masa Kini, 439
[29]Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme? , 192
[30]Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?, 192
[31]W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, A Dictionary of the Bible, 47
[32]Lindwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Krsiten, 384
[33]Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika : Ekonomi Keselamatan, 381
[34]Nico Syukur Dister, Teologi Ssitematika : Ekonomi Keselamatan, 382
[35] Nico Syukur Dister, Teologi Ssitematika : Ekonomi Keselamatan,382
[36]Hendrius Berkhof, Sejarah Gereja 112
[37]Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?,191
[38]F.D. Wellem, Riwayat Singkat tokoh-tokoh, (Jakarta: BPK-GM,
2003), 127-128
[39]Jan. S. Aritonang, Berbagai Aliran di dalam dan di sekitar Gereja, 31
[40]Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?,191-192
[41] Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?, 192
[42] Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, (Jakarta:
BPK-GM, 2016), 222
[43]Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, 222
[44] Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?, 192
[45] Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?, 192
[46] Tony Lane, Runtut Pijar, 146
[47] Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?, 192
[48]Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?, (Jakarta: BPK-GM,
1998), 191
[49]Lindwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 380
[50]Lindwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 382
[51]Jan SiharAritonang, Berbagai Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja,
(Jakarta : BPK-GM, 2016), 91.
[52] Jan SiharAritonang, Berbagai Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja,
91
[53]Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?, 195
[54]Lindwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 380
[55] Lindwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 382
[56]Christian de Jonge, Gereja Mencari Jawab Kapita Selekta Sejarah
Gereja, (Jakarta: BPK-GM, 2013), 31
[57]Lindwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 383
[58]Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, 77
[59]Runtut Pijar, 161
[60] Jan SiharAritonang, Berbagai Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja,
173
[61]Jan SiharAritonang, Berbagai Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja
,173
[62]Hendrius Berkhof, Sejarah Gereja, 153
[63] Tony Lane, Runtut Pijar, 161
[64] Jan SiharAritonang, Berbagai Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja,
72
[65]Tony Lane, Runtut Pijar, 162
[66]Linwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Krsiten, 382
[67] Jan SiharAritonang, Berbagai Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja,
173
[68] Tony Lane, Runtut Pijar, 162
0 comments:
Posting Komentar