Just another free Blogger theme

Sabtu, 17 Juli 2021

 Boima Hengki Banurea


Kontraversi Doktrin Sakramen

 

a. Apa dan bagaimana sakramen menurut: GKR, Luther, Zwingli, dan Calvin

b. Baptisan

(1) GKR, Luther, dan Zwingli

(2) Lutheranisme, Calvinisme  ,  dan Anabaptisme

 

I. Pengantar

            Menjelang awal tahun 1520-an, tampak jelas bahwa sistem sakramental dari gereja abad pertengahan sedang menjadi subyek kritik yang hebat dari kelompok-kelompok pembaharuan. Para reformator itu menyusun suatu serangan gencar atas berbagai pengertian Abad Pertengahan tentang jumlah, hakikat, dan fungsi sakramen-sakramen serta mengurangi jumlah sakramen-sakramen yang otentik dari tujuh menajadi dua (Baptisan dan ekatristi).

Pada awal zaman Perjanjian Baru, orang-orang Kristen menghubungkan baptisan dengan berbagai karunia Roh Kudus, pembasuhan dosa, kematian, dan kebangkitan, dan dengan inisiasi ke dalam persekutuan para pengikut Kristus, gereja. Kemudian ketiak orang-orang Kristen mulai menekankan dosa asal, mereka pun percaya bahwa baptisan menyingkirkan dosa asali dan juga dosa-dosa aktual. Para reformator menjelaskan baptisan sebagaimana dilakukan oleh Ecclesia Primitive (Gereja Mula-Mula).


II. Pembahasan

2.1. Makna Sakramen Secara Etimologis

            Sebagai istilah teknis dalam teologi Katolik modern dan dalam arti ketat, sakramen berarti tanda lahir yang ditetapkan Kristus dan yang menunjukkan rahmat batin yang diberikan kepada si penerima dalam melaksanakan tanda suci tersebut. Tradisi Kristiani di Timur menamakan tanda-tanda keselamatan yang dalam Gereja itu musterion, Tradisi di Barat menyebutnya sacramentum. Kedua istilah ini sudah mempunyai arti tertentu dalam budaya klasik Yunani dan Latin yang pra-kristiani.[1]

            2.1.1.  Musterion

            Perkataan misteri memiliki arti rahasia. [2]Musterion (bentuk jamaknya : musteria), umunya dipakai dalam budaya klasik Yunani untuk menunjukkan upacara ibadat kepada dewa-dewi. Bila dipakai dalam arti religius maka ditunjukkannyalah rencana keselamatan Allah demi manusia. Dalam kitab Daniel, sebagimana telah kita lohat, itilah raz diterjemahkan dalam Alkitab Yunani dengan kata musterion. Di sini kata ini menapat makna tersendiri, yakni rahasia eskatologis, artinya kabar terselubung mengenai kejadian-kejadian mendatang yang telah ditentukan oleh Allah dan hanya oleh Allah saja dan oleh orang yang diilhami Roh Allah boleh disingkapkan dan ditafsirkan (Dan 2: 18, 4:9). Pemberitaannya sendiri pun terjadi scara teka-teki dalam selubung firman-firman yang merupakan musteria karena penyingkapan penuh boleh terjadi di akhir zaman. Peristiwa-peristiwa apokaliptik harus disimpan dengan saksama oleh para pelihat dan hanya boleh diteruskan kepada para bijak. [3]

Dalam gereja purba, selain untuk menunjukkan rencana Allah menyelamatkan manusia, istilah ini tetap dipakai untuk karya Allah yang mewahyukan diri dalam bentuk manusiawi. [4] Bila gereja disebut misteri keselamatan maka sebutan ini mengungkapkan pandangan bahwa di satu pihak Gereja memang suatu kumpulan atau perhimpunan orang-orang yang menjadi anggotanya yang memperoleh karya keselamatan dari Allah. [5] Sekali lagi ditandaskan bahwa Musterion (bentuk jamaknya : musteria), umunya dipakai dalam budaya klasik Yunani untuk menunjukkan upacara ibadat kepada dewa-dewi. Sebagaimana misteri-misteri kafir dalam perbuatan-perbuatan sakral mengahdirkan secarareal perihal dewa-dewinya, begitu pula dalam ritus simbolis sakramen-sakramen gereja berlangsunglah pengulangan Kultis dan dengan demikian penghadiran tindakan penebusan Krsitus yang secara historis tak dapat diulangi. [6]

            2.1.2. Sacramentum

Istilah sakramen berasal dari bahasa Latin  sacramentum berarti sumpah, seperti yang dilakukan anak muda yang bergabung dengan angkatan darat Romawi. Vulgata menerjemahkan  kata Yunani mysterion dengan sacramentum, yang menyebabkan baptisan dan Perjamuan Kudus menjadi sakramen, [7]yang sudah dilazimkan oleh Tertulianus (sekitar tahun 200) menjadi istilah theologia.[8] Kata sakramen tidak diambil dari Alkitab, melainkan dari adat istiadat Roma, yaitu dari kata sacramentum. Kata ini memiliki dua arti (a) sumpah prajurit, yaitu sumpah kesetiaan yang harus diucapkan oleh seorang prajurit di hadapan panji-panji kaisar, dan (b) uang tanggungan yang harus diletakkan di kuil oleh dua golongan yang sedang berpekerkara. Siapa yang kalah di dalam perkara itu akan kehilangan uangnya. Oleh karena itu maka kata sakremen (yang dijabarkan dari kata sacer = kudus) mengandung juga arti perbuatan atau perkara yang rahasia, yang kudus, yang berhubungan dengan para dewa. Berhubung dengan itu, maka kata sacramentum kemudian dipandang sebagai terjemahan dari kata Yunani mysterion. Di dalam gereja semula yang disebut sakramen adalah segala rahasia yang bersangkutan dengan Tuhan Allah serta pernyataan-Nya , yaitu: upacaar-upacara kebaktian, dan lain-lainnya. Oleh karena itu lama-kelamaan pengertian sakramen itu mencakup segala hal yang bersangkutan dengan hidp kekristenan. [9] Van Boland dalam buku Dogmatika masa Kini juga menyatakan bahwa di kalangan ketentaraan Romawi, istilah sacramentum digunakan untuk menyatakan sumpah setia. Timbulnya selaku sitilah theologia, mungkin dapat dimengerti dengan mengingat kepada penggunaannnya di lapangan hukum dan pengadilan. Misalnya dalam bidang hukum, kata sacramentum telah dipakai untuk barang atau kepunyaan yang menjadi petaruh atau jaminan, padawaktu dua pihak mengadakan suatu perjanjian. Lebih jelas lagi : bila dua orang berselisih, lalu membawa perkaranya ke hadapan pengadilan, maka keua pihak wajib terlebih dahulu menyetor kan uang jaminan; uang kepunyaan orang yang kalah, kemudiannya disita. Uang jaminan itulah yang disebut sacramentum , sebab orang harus menyetorkannya kepada perbendaharaan sebuah kuil (Latinnya : sacrum). Dengan mengingat latar belakang ini sakramen diartikan sebagai jaminan yang diberikan Allah dalam mengadakan PerjanjianNya. [10]

Yang memungkinkan Tertulianus untuk menerapkan kata sacramentum pada ritus inisiasi Kristiani hanyalah kenyataan bahwa sacramentum dalam arti sumpah setia prajurit merupakan ritus penerimaan ke dalam kalanangan militer. Apa yang dilangsungkan dalam misteri-misteri kekafiran dan dalam bidang militer itu justru dipenuhi dengan sesungguhnya dalam sakramen agama Krsitiani dan karena itu juga memperoleh artinya yang sejati dalam sakramen-sakramen agama kami (sacramenta nostrae religionis). Hal itu dijelaskannya dengan Sakramen Baptis menjadi prajurit Kristus (Miles Christie) dan menerima kewajiban-kewajiban iman Kristiani, pembaptisan adalah sacramentum dalam arti yang sebenarnya. Arti etimologis yang aktif dari kata sacramentum adalah menyucikan, menahbiskan, dan itulah yang terjadi dalam pembaptisan sehingga tepatlah upacara Kristiani ini disebut sacramentum. [11]

2.2. Makna Sakramen

            2.2.1.  Menurut Gereja Katolik Roma

                        Menurut Gereja Katolik Roma, hakekat sakramen terletak di dalam hal berikut, yaitu bahwa sakramen mencurahkan karunia yang adikodrati ke dalam eksistensi manusia, [12]Dalam Gereja Katolik Roma, terdapat tujuh sakramen. Penentuan mengenai tujuh sakramen ini bukan disebabkan karena tradisi. Bagi Gereja Rom Katolik, ketujuh sakramen tidak dapat diganggu gugat. Pertama-tama angka 7 adalah suatu angka yang menunjukkan gambaran angka kudus 3 dan 4, yaitu angka ilahi dan angka insani. Selanjutnya ketujuh sakramen ini dipandang sebagai sejajar dengan tujuh tahapan jalan hidup manusia menurut kodrat, sehingga hidup kodrati manusia, sejak awal hingga akhirnya, diliputi dan diberkati oleh ketujuh sakramen itu.[13]

            Dekrit Orange menghasilkan dua puluh lima kanan atau pernyataan doktrinal diikuti kesimpulan. Kasih karunia yang mendahului perlu kalau manusia mau hidup sebagai orang Krsiten, dan kasih karunia yang bekerja sama perlu kalau kita mau jalan terus. Kanon-kanon membenarkan kebutuhan kita akan kasih karunia, tetapi kasih karunia terikat pada sakramen-sakramen.[14]

            Ajaran Gereja Katolik Roma mengenai sakramen ini berpusat kepada penegertian sacramentum atau mysterion atau rahasia. Sakramen adalah suatu mysterion, suatu rahasia, sebab di dalam sakramen itu senantiasa ada karunia yang baru yang dicurahkan. Demikianlah sakramen dijadikan perkara yang berdiri sendiri, menjadi suatu rahasia tersendiri. [15]

            Ketujuh sakramen dalam Gereja Katolik Roma  adalah : baptisan¸yang dihubungkan dengan kelahiran manusia, penguatan iman, yang dihubungkan dengan pertumbuhan dengan pertumbuhan tubuh, waktu perpindahan dari kanak-kanak ke puber, ekaristi (perjamuan kudus) yang dihubungkan dengan gizi, pengakuan dosa dan perminyakan yang dihubungkan dengan penyembuhan, penahbisan imam atau imamat dan perkawinan yang dihubungkan dengan penyempurnaan bagi persekutuan. [16]

a. Perjamuan (misa). Sifat sakramen ini: mengajarkan perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus, ketika ditahbiskan oleh imam,inilah ajaran transubtansiasi.[17]

b. Baptisan, bagi Gereja Romawi baptisan itu bukan kiasan dari pembasuhan dosa manusia oleh darah Kristus, melainkan baptisan itu sungguh-sungguh mengahpuskan dosa turunan dan segal dosa yang diperbuat oleh orang itu sendiri. Sebelum manusia dibaptiskan, dosa turunanya masih melekat kepadanya, sehingga ia berada di luar lingkungan rahmat dan keselamatan, dan pasti akan binasa.

c. Konfirmasi (sakramen penguatan). Sakramen ini menyusul baptisan dan berdasar pada Kis. 8: 14-17. Maksudnya ialah menguatakan niman dan mengaruniakan Roh Kudus. Konfirmasi itu dilakukan dengan membuat tanda salib pada dahi dengan minyak suci dan dengan meletakkan tangan pada orang yang menyambutnya.

d. Pengakuan dosa. Sakramen itu terdiri atas tiga bagian :

1. penyesalan batin yang sungguh. 2. Pengakuan dosa dengan mulut di hadapan imam , menurut Mat 16 : 19. 3. Penebusan dosa dengan amal, atau yang memberikan absolusi atas nama Tuhan, karena ia mendapat kuasa anak kunci itu dari tangan Tuhan sendir menurut Mat 16 ; 19, 3. Penebusan dosa dengan amal, atau penintensia.

e. perminyakan (sakramen orang sakit) berdasar pada suatu kebiasaan dalam jemaat yang mula-mula,yaitu orang sakit didoakan dan diurapi oleh ketua-ketua (Yak. 5:14).

f. Perkawinan, Oleh karena pengaruh pandangan kafir yang dialistis, d=maka dari ulahya Gereja menganggap tubuh dan segala hal yang berhubungan dengan tubuh itu sebgai pekara najis saja. Seorang Krsiten yang  mau menuju kepada kesempurnaan, sudah barang tentu harus mematikan tuubhnya dan bertarak sedapat-dapatnya.

g. Tahbisan imam, segal sakramen tadi disampaikan kepada jemaat dengan tangan imam, karena dilah yang disanggupi untuk jabatan suci itu dengan suatu tahbisan istimewa. Oleh tahbisan itu iamenjadi satu-satunya pengantara, yang dipakai oleh Tuhan untuk menyampaikan rahmat-Nya kepada manusia. [18]

            Menurut ajaran Gereja Roma, rahmat dan keselamatan hanya boleh disambut manusia dengan menerima sakramen. Sakramen-sakramen itu merupakan saluran-saluran yang ke dalmnya dicurahkan zat rahmat dari atas,untuk memasuki, memenuhi, menyucikan, dan meynelamatkan manusia lahiriah-batiniah. [19]

            2.2.2.  Luther

            Menurut gereja-gereja Reformasi hakekat sakramen adalah tanda dan materai yang ditetapkan oleh Tuhan Allah untuk menandai dan mematerikan janji-janji Allah di dalam Injil, bahwa karena korban Kristus di kayu salib kita dianugerahi keampunan dosa dan hidup kekal. [20] Bagi Luther, sakramen-sakramen dikaitkan dengan pertumbuhan dan pemeliharaan iman dari umat Allah, sementara gereja abad pertengahan cenderung memperlakukannya sebagai semacam komoditas yang dapat diperdagangkan, yang mampu mendatangkan penghasilan.[21]  Luther menolak ide yang berasal dari abad pertengahan, bahwa sakramen-sakramen memberi keselamatan seperti obat atau suntikan memberi penyembuhan, asalkan dari si penerima sakramen tidak ada rintangan [22] De Captivitate Babylonica Ecclesiae Praeludium (Pembuangan Babel Gereja). Dalam karya ini Luther menyerang ketujuh sakramen Gereja Katolik Roma. Ia mengurangi jumlah sakramen menjadi dua, yaitu yang ditetapkan oleh Yesus sendiri : baptisan dan perjamuan kudus. [23] Bagi Luther, sakramen terutama merupakan suatu janji akan pengampunan dosa yang diterima melalui iman oleh jemaat. [24]

            2.2.3.  Zwingli

            Harus diingat bahwa Zingli adalah seorang pendeta untuk tentara Konfederasi Swiss. Dengan menarik dari penggunaan sumpah di dalam kemiliteran Zwingli berpendapat bahwa suatu “sakramen” pada dasarnya merupakan suatu deklarasi kesetiaan dari seseorang kepada suatu kelompok. Sama seperti seorang serdadu bersumpah setia pada pasukannya (dalam diri seorang jenderal), demikian pula orang Krsiten bersumpah kepada saudara-saudarnya sesama orang Krsiten. Menurutnya, suatu sakramen adalah cara yang memungkinkan seseorang dapat membuktikan kepada gereja bahwa ia bermaksud, atau sudah menjadi seorang tentara Kristus dan yang menginformasikan kepada seluruh gereja, daripada hanya kepada dirinya sendiri, tentang imannya”. Dalam baptisan, orang percaya itu berjanji untuk setia pada persektuan gereja, di dalam ekaristi, ia mendemostraikan kesetiaan itu kepada masyarakat umum.[25]Bagi Zwingli, istilah sakramen mempunyai pengertian dasar “sumpah” dan mula-mula menganggap sakramen-sakramen baptisan dan ekaristi sebagai tanda-tanda kesetiaan Allah kepaad umat-Nya dan janji anugerah-Nya untuk keampunan. Pada tahun 1523 ia menulis bahwa kata sakramen dapat dipergunakan untuk merujuk pada perkara-perkara yang telah Allah lembagakan, perintahkan, dan tahbiskan melalui firman-Nya, yang adalah sama kokohnya dan sama pastinya bila Ia telah berjanji mengucapkan kesamaan pada tingkat tertentu anatara pandangan-pandangan Luther dan Zwingli mengenai fungsi sakramen-sakramen. [26]

Ulrich Zwingli, reformator kota Zurich di Swis, dengan cara yang lebih radikal menolak teologi sakramen yang dikembangkan dalam Gereja Katolik Roma Abad Pertengahan. Bagi Zwingli sakramen adalah tindakan simbolis yang mennujuk kepada keselamatan yang diperoleh Kristus dan yng dipakai oleh orang-orang percaya untuk memperingati apa yang dibuat Krsitus dan untuk menyatakan iman mereka. Walaupun Kristus yang menetapkan saakramen, tidak dapat dikatakan bahwa Kristus atau Allah yang bertindak di alamnya untuk menyelamtkan manusia atau untuk memperkuat imannya. Yang bertindak adalah orang-orang percaya, yang memakai sakramen untuk membuktikan iman yang sudah dimiliki. [27]

            2.2.4.  Calvin

            Calvin mengartikan sakramen itu sebagai suatu materai (Latinnya: sigillum, bandingkan segel), yang lazimnya dikenakan atas suatu piagam untuk mensahkan isinya (bandingkan Rm. 4 :11). Dapat juga kita katakan : sakramen itu adalah seumpama cap yang tertera pada kertas materai. Dengan menggunakan kertas yang dicap ini, maka perjanjian anatara dua pihak disahkan secara hukum. Maksudnya Tuhan telah memberikan sakramn itu selaku tanda yang kelihatan, untuk menguatkan dan memateraikan Perjanjian yang telah diikat-Nya dengan kita manusia di bukit Gologota, ketika Yesus mati di kayu salib. Atau dengan berbagai perbandingan lain : di dalam berbagai sakramen itu Allah seakan-akan berjabat tangan dengan manusia untuk meneguhkan Perjanjian-Nya, sakramen adalah bagiakan cermin, di mana kita dapat meilhat rahmat Allah dengan mata kepala kita, sakramen adalah sebagai suatu lukisan, di mana janji-janji Allah telah digambarkan di hadapan mata kita. [28]

            Dalam ajaran tentang sakramen, Calvin menekankan bahwa sakramen adalah pemberian Alah, bukan sekedar tindakan pengakuan manusia, tetapi ia menolak pemahaman bahwa sakramen berarti sesuatu apa pun terlepas dari iman orang yang menerimanya. Bagi Calvin, sakramen adalah suatu tanda lahiriah (symbolum) yang dipakai Allah untuk memateraikan dalam batin kita janji-janji akan kerelaan-Nya terhadap kita dengan maskud untuk memperkuat iman dan mengundang respons manusia.[29] Jelaslah bahwa prakarsa dalam sakramen ada pada Allah, tetapi bahwa segi pengakuan iman oleh manusia, yang diutamakan Zwingli, ditekankan pula. Menurut Calvin, sakramen tidak berati apa-apa apabila terlepas dari pemberitaan Firman. Tanpa penjelasan tentang apa yang dijanjikan Allah, tidak ada sesuatu  untuk dilambangkan atau dmateraikan[30]

2.3. Baptisan

            Istilah baptisan kata Yunani untuk ritus baptisan, yaitu baptizomai, berarti memandikan atau membasuh. Namun, dalam Septuaginta ditemukan arti klasik, menenggelamkan atau menyelamkan. (Yes. 21 :40. Ada dugaan bahwa dala  m PB dengan arti inilah Yesus meramalkan baptisan kematian-Nya yang akan segera terjadi (Mrk. 10 :38-39), demikian pula ketika Paulus menunjuk baptisan Israel di Laut Merah (1 Kor 10 : 2). Dua perikop ini merupakan pemahaman terhadap baptisan Kristen. Bagi Paulus, baptisan disetarakan dengan peristiwa keluaranya Israel melintasi laut. Dalam baptisan secara simbolis umat Kristen  ikut ambil bagian dalam kematian dan kebangkitan Yesus. Mereka dikuburkan bersama-Nya dan bangkit dalam kehidupan baru. Jadi, baptisan juga dianggap sebagai permulaan kehidupan baru. (Yoh. 3 :4-5). [31]

2.4. Makna Baptisan

            2.4.1. Gereja Katolik Roma, Luther, dan Zwingli

                        a. Gereja Katolik Roma

            Dalam doktrin Gereja Katolik Roma, pembaptisan (pemandian ) merupakan kelahiran alam hidup baru di dalam Kristus.Sakramen ini ibarat pintu gereja, orang yang masuk gereja melalui pembaptisan dapat hidup di dalam Roh. Pada prinsipnya mereka dapat juga menerima berbagai sakramen lainnhya demi pemeliharaan hidup rohani tersebut. Kristus sendiri telah menghendaki semua orang dibaptis dalam Matius 28 : 19. Konsili Trente menyatakan bahwa baptisan adalah sarana regenarasi (kelahiran kembali) dari dosa asali dan juga satu karunia Roh Kudus dan penyatuan ke dalam tubuh Krsitus. [32]

            Untuk menjamin masuk kepada kebahagiaan abadi, Gereja tidak mengenal cara lain daripada pembaptisan,Allah telah mengaitkan keselamatan dengan pembaptisan, tetapi Allah sendiri tidak terikat pada sakramen-sakramen –Nya. [33] Mengenai perayaan sakramen Baptis, perlu diingat bahwa sejak zaman rasuli ditempuh dalam waktu lebih singkat ataupun lebih panjang, namun unsur-unsurnya yang hakiki harus selalu ada, yaitu pewartaan sabda, penerimaan Injil yang membawa pertobatan, pengakuan iman, acara pembaptisan ke dalam arti ketat, dicurahkannya Roh Kudus, dan komuni ekaristi yang pertama. Pembaptisan sendiri dilangsungkan dengan membenamkan calon baptis ke dalam air, atau dengan menuangkan air di atas kepalanya sambil menyerukan nama Allah Tritunggal Mahakudus, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus. [34]

            Dalam doktrin Gereja Katolik Roma, manfaat baptisan adalah :

1. pengampunan dosa aal serat semua dosa pribadi maupun hukuman dosa

2. kelahiran dalam hidup baru yang membuat manusia menjadi ciptaan baru ( 2 Kor 5 : 17), yaitu:

            a. anak angkat Allah, yang boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi (2 Ptr 1: 4)

            b. anggota Kristus (bdk. 1 Kor 6 : 15, 12 ;27) dan ahli waris bersama dengan Dia (Rm. 8 : 170,

            c. kenisah Roh Kudus

3. anggota Gereja, tubuh Krsitus yang mistik, sehingga “ kita adalah sesama anggota (Ef. 4; 25), “batu-batu hidup’, untuk pembangunan suatu rumah rihani, bagi suatu imamat kudus’ 91 Ptr 2 : 5), peserta dalam imamat Krsitus ; karena pembaptisannya orang yang telah dibaptis itu mengambil bagian dalam imamat kaum beriman. [35]

            Bagi gereja Romawi, baptisan itu bukan kiasan pembasuhan dosa manusia oleh darah Kristus, melainkan baptisan itu sungguh-sungguh menghapuskan dosa turunan dan segala dosa yang diperbuat oleh orang itu sendiri. Sebelum manusia dibaptiskan, dosa turunannya masih melekat kepadanya, sehingga ia berada di luar lingkungan rahmat dan keselmatan, dan pasti akan binasa. Berkenaan dengan anggapan itu gereja Roma mengizinkan baptisan darurat,  jikalau seseorangnmau meninggal dunia dan imam tak dapat dipanggil lagi. Dalam hal yang demikian umpamanya seorang bayi yang baru lahir tetapi barangkali akan mati sebentar, maka seorang awam boleh melakukan baptisan itu. [36]

                        b. Martin Luther

Bagi Luther, baptisan adalah tanda yang ditetapkan oleh Allah untuk memateraikan janji-Nya .Oleh sebab itu, bagi manusia bukan hanya mustahil untuk menolak tanda lahiriah ini, tetapi juga tidak mungkin untuk menerima apa yang dijanjikan Allah terlepas dari tanda yang ditetapkan Allah. Akan tetapi, Luther tetap percaya akan janji Allah perlu, karena hanaya dalam iman orang dapat menikmati pengamounan yang dijanjikan dalam baptisan.  Demikianlah Luther mencoba menjamin objektivitas sakramen (yaitu bahwa sakramen efektif bukan karena manusia melainkan karena Allah), tanpa mengorbankan pendapat yang hakiki bagi Reformasi, yakni hanya karena iman saja, yang ditimbulkan Allah dengan Firman, manusia diselamatkan. Tekanan pada obyektivitas ini membawa Melancthon dan tulisan-tulisan pengakuan Luther kemudian sampai pada kesimpulan, baptisan perlu untuk keselamatan, sebab tanpa baptisan orang tidak mendapat bagian dalam keselamatan yang dijanjikan di dalamnya. [37]

De Captive Babylonica Ecclesiae  (Pembuangan Babel untuk Gereja). Tulisan ini erupakan karya polemik-teologis. Ia membahs sakramen-sakramen. Menurut Luther, ketujuh sakramen yang ada dalam Gereja Katolik Roma menawan seorang Krsiten sejak ia lahir hingga masuk kubur. Padahal,menurut kesaksian Alkitab, hanaya dua sakramen yang diperintahkan menurut kesaksian Alkitab, yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus, yaitu Babptisan Kudus dan Perjamuan Kudus. [38] Ini berisi uraian uraian tentang sakramen. Di sini ditegaskan bahwa hanya ada dua sakramen yang ditetapkan Krsitus endiri dan yang ditemukan dasarnya di dalam Alkitab, yaitu Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus. Makna sakramen serta hubungannya dengan Firman Tuhan juga dirumsukan secara baru; sakramen bukanlah saluran anugerah sebagi penjamin keselamatan atas diri kita, melainkan tanda dari apa yang dinyatakan firman itu. Dengan kata lain; sakramen adalah firman dalam tanda rupa, dan sambutan kita dalam menerima sakramen itu hanyalah iman. [39]

Sekaligus pemahaman di atas memungkinkan Luther untuk mempertahankan baptisan bayi, yang tengah diragukan oleh orang-orang Protesatan di Swis. Menurut Luther bukan imanlah yang menjadikan baptisan menjadi efektif , melainkan janji Allah. Orang tua yang memberi bayi mereka untuk dibaptis boleh percaya bahwa Allah akan memberi anak mereka iman yang diperlukan untuk menikmati rahmat baptisan, bahkan mereka boleh percaya bahwa benih iman sudah ditanamkan Allah dalam anak mereka. [40]

                        c. Ulrich Zwingli

Bagi Zwingli sakramen adalah tindakan simbolis yang menunjuk kepada keselamatan yang diperoleh Krsitus dan yang dipakai oleh orang-orang percaya untuk memperingati apa yang dibuat Krsitus dan untuk menyetakan iman mereka. [41]Zwingli mengembangkan ide bahwa sakramen-sakramen itu berada di abwah atau lebih rendah dari pemberitaan Firman Allah. Khotbah inilah yang melahirkan iman, sakramen-sakramen hanya menyediakan kesempatan yang dengannya iman ini dapat didemonstrasikan di hadapan umum. [42] Menurut Zwingli dalam baptisan, orang percaya itu berjanji untuk setia pada persekutuan gereja. [43]Yang bertindak adalah orang-orang percaya, yang memakai sakramen untuk membuktikn iman yang sudah dimiliki. Sesuai dengan pemahaman ini, ia melihat baptisan sebagai tanda yang dipakai orang-orang percaya untuk berjanji setia kepada Krsitus dan untuk mengikat diri kepada-Nya. [44] (Perhatikan pengaruh konteks Swis, yang adalah persekutuan negara-negara bagian dan kota-kota yang saling terkat dalam persekutuan sumpah. Dapat dimenegerti bahwa di kalangan Zwingli timbul pertnayaan : kalau demikian, apakah tepat untuk membaptiskan bayi, yang dengan jelas belum dapat menyatakan iman mereka. Bahkan Zwingli sendiri untuk beberapa waktu memepertanyakan baptisan bayi dan cenderung untuk membaptis anak-anak yang lebih tua,yang sudah mendapat pengajaran iman (sesuai kebiasaan kuno). [45]

Zwingli pada tahun 1525 menulis buku yang berjudul von dem Touff, vom Widertouff und vom Kinderouf (Baptisan, Baptisan ulang, dan Baptisan Anak). Dalam tulisan ini ia membela baptisan anak atas dasarbahwa itu adalah tanda perjanjian, dan perjanjian meliputi selueruh keluarga bukan hanya oknum-oknum tertentu. [46] Zwingli menekankan bahwa baptisanlah yang menjadikan seseorang anggota persektuan jemaat dan jemaatlah secara menyeluruh dalm iman terikat dalam perjanjian dengan Allah. Bahwa bayi dibaptis adalah tepat, sebab melalui orang tuanya ia menjadi anggota persektuan perjanjian, sama seperti bayi-bayi (laki-laki) Israel disunat sebagai tanda bahwa mereka termasuk bangsa perjanjian. [47]

            2.4.2. Lutheranisme, Calvinisme, dan Anabaptisme

                        a. Lutheranisme

Bagi Luther, baptisan adalah tanda yang ditetapkan oleh Allah untuk memateraikan janji-Nya.[48] Dalam risalahnya yang ditulis tahun 1520, The Babylonian Captivity of The Church, Luther mulai melaksanakan berbagai implikasi dari pandangannya bahwa kita diselamatkan oleh anugerah iman. Dalam satu teks dari Markus, ia menemukan suatu penekanan yaitu : “Siapa yang percaya dan dibaptis  akan diselamatkan (Mrk. 16 :16). [49] Sebagaimana yang dikatakan Luther, “Anak dibantu oleh iman dari orang-orang lain, yaitu mereka yang membawa anak itu untuk dibaptis. Karena Firman Allah itu cukup berkuasa, ketika diucapkan untuk mengubah segala sesuatu, bahkna hati yang tidak ber-ilah sekalipun, yang tak berbeda dengan bayi mana pun dalam hal ketiadaan respons dan ketidak berdayaannya. [50]

                        b. Calvinisme

            Menurut Calvin, baptisan merupakan tanda pengampunan dan hidup baru. Lebih lanjut, baptisan menandakan bahwa kita telah ikut serta dalam kematian dan kebangkitan Kritus dan bahwa kita juga telah menjadi satu dengan Dia. Baptisan sekaligus merupakan tanda bahwa kita masuk ke dalam persekutuan gereja. Jadi, di sini baptisan dihubungkan Calvin ke dalam keanggotaan di dalam gereja. [51] Ini sekaligus mengungkapkan penolakan Calvin terhadap anggapan bahwa baptisan merupakan syarat untuk beroleh keselamatan. Menurut Calvin, baptisan bukan syarat untuk memperoleh keselamatan, melainkan materai yang menandakan bahwa sesorang telah memperoleh pengampunan dosa dan keselamatan pada salib Kristus. [52]

Atau dengan kalimat lain, Calvin menyatakan keenganannya untuk menjadika nbaptisan sebagai syarat untuk keselamatan. Baptisan adalah tanda dan materai pengampunan dosa yang diproleh Kristus pada kayu salib. Pengampunan ini diberikan Allah kepada manusia sebelum ia lahir, sehingga tidak fapat diikat pada pelayanan baptisan, apalagi tidak pada air baptisan.  [53]Jadi Calvin menolak bahwa oleh baptisan itu kita dilepaskan dan dibebaskan dari dosa turunan dan dari kerusakan yang diteruskan dari Adam ke seluruh keturunannya, dan bahwa olehnya kita dipulihkan dalam kebenaran dan kemurnian tabiat yang sama seperti yang kan dimiliki Adam sekiranya ia teta bertahan dalam keutuhan yang ada padanya ketika ia diciptakan. [54] 

            Bagi Calvin, baptisan seperti sunat, adalah suatu tanda perjanjian.[55] Menurutnya baptisan  adalah tanda yang diberikan Kristus untuk menunjuk pada penyelamatan manusia, yang memateraikan keselamatan uni dalam diri orang percaya. [56]Calvin percaya bahwa pengakuan percaya dapat memainkan suatu peranan yang bermanfaat dalam perkembangan rohani dari mereka yang dibaptis ketika kanak-kanak. Ia melhat kebutuhan untuk suatu latihan katekis, yang melaluinya anak-anak atau kaum muda  akan menyampaikan pertanggungjawaban iman mereka di hadapan gereja. [57]Baptisan bukan syarat, melainkan pengampunan dosa dan keselamatan pada salib Krsitus. Pengampunan itu telah dikaruniakan Allah pada kita sebelum kita lahir, sehingga tidak ditentukan oleh Baptisan. [58]

c. Anabaptisme

            Kaum Anabaptis adalah mereka yang tidak setuju dengan pandangan Katolik Abad Pertengahan bahwa negara Krsiten ideal adalah tempat semua warganya dibaptis sebagai anggota satu gereja dengan satu pengakuan iman. Kaum ini memiliki pemahaman bahwa Reformasi Proterstan belum cukup radikal. [59] Kelompok baptis bersifat anti-liturgi dan tidak memiliki sakramen (mereka hanya menyebutnya ketetapan Tuhan; ordinances. Baptisan hanya mengakui kedua upacara suci itu. Namun, mereka tidak menyebutnya sakramen, karena menurut mereka istilah sakramen tidak terdapat di dalam Alkitab dan berasal dari kosakata sehari-hari yang artinya bisa lain yang dimaksud gereja. Ada dua tanda penetapan, karena hanya yang dua itulah yang ditetapkan oleh Kristus dan dipraktikkan gereja Perjanjian Baru. [60] Baptisan anak adalah pokok perselisihan yang nyata, tetapi sebenarnya ada persoalan-persoalan yang lebih mendasar.[61]

Bagi orang baptis kekudusan itu bukanlah karunia Kristus, melainkan tugas manusia yang beriman. Kekudusan itu dikejarnya dengan menggenapi segala hukum Tuhan, teristimewa segala syariat untuk hidup Kristen yang terpapar dalam khotbah Yesus di Bukit, yang dianggap seperti kitab undang-undang. Sydah tentu orang-orang percaya yang suka dan sanggup memenuhi segala syariat itu, adalah segolongan kecil saja dalam dunia yang jahat ini. Oleh karena itu orang Baptis menolak Gereja negara, baik yang Katolik Roma maupun yang Protestan. Itulah sebabnya mereka menolak baptisan kanak-kanak, yang menyatakan bahwa rahmat Allah adalah pendahuluan dan dasar iman. [62]Para anabaptis menentang gereja negara yang dipaksakan kepada semua orang. Bagi mereka iman Krsiten itu bebas dan dianut atas kemauannnya sendiri, bukan dipaksakan. Kaum anabaptis berpendapat bahwa gereja itu seharusnya hanya terdiri dari orang-orang yang percaya sesungguhnya, murid-murid yang terikat pada tujuan bersama. [63]Mereka menganggap baptisan sebagai sesuatu ketetapan yang dihususkan bagi orang dewasa, dan tidak disediakan bagi anak-anak. [64]

            Sekali lagi ditandaskan bahwa menurut Anabaptis, bahwa baptisan bukan untuk anak-anak, namun bagi mereka yang secara sadar memilih menjadi Krsiten. [65] Kaum Anabaptis mengacu pada Markus 16:16 sebagi ayat yang menentukan, berpegang teguh bahwa hanya orang-orang yang percaya yang dapat dibaptis ketika masih bayi atau kanak-kanak. [66]Baptisan harus dilakukan dengan cara selam dan hanya dilayankan bagi orang dewasa yang sudah mempu memahami dan menyatakan imannya (kolam baptisan dibuat di dalam gdung dan terletak di belakang mimbar),karena memang begitulah dinyatakan di dalam Alkitab. Baptisan dilayankan di dalam nama Allah Tritunggal; Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Di samping melambnagkan kelahiran kembali atau hidup baru, baptisan juga melambangkan iman dan ketaatan kepada Kristus. Kendati kebanyakan kalanagan Baptisan tidak percaya bahwa Baptisan meruapakn syarat mutlak agar selamat, mereka pada umumnya mengajarkan bahwa iman kepada Kristus, yang dinyatakan pada waktu Baptisan merupakan hal yang hakiki. [67]

            Pembaptisan akan diberikan kepada mereka yang telah belajar untuk bertobat dan memperbaiki hidupnya, mereka yang sungguh-sungguh percaya bahwa dosanya sudah ditanggung oleh Krsitus dan mau dikuburkan dengan Dia, begitu juga bagi mereka yang oleh karena makna ini memohon agar mereka sendiri dibaptis. [68] Baptisan yang diberi kepada orang dewasa saja tentulah mengutamakan manusia yang harus mengusahakan imannya dahulu, barulah dipandang layak menerima tanda belas kasihan Allah. Sebab itu baptisan orang akil balig menjadi tanda mutlak dari segala sekta yang bersifat taurat. [69]

III. Kesimpulan

1. Istilah sakramen berasal dari istilah :

a. Musterion (bentuk jamaknya : musteria), umunya dipakai dalam budaya klasik Yunani untuk menunjukkan upacara ibadat kepada dewa-dewi. Bila dipakai dalam arti religius maka ditunjukkannyalah rencana keselamatan Allah demi manusia. Sebagaimana misteri-misteri kafir dalam perbuatan-perbuatan sakral mengahdirkan secarareal perihal dewa-dewinya, begitu pula dalam ritus simbolis sakramen-sakramen gereja berlangsunglah pengulangan Kultis dan dengan demikian penghadiran tindakan penebusan Krsitus yang secara historis tak dapat diulangi.

b. Istilah sakramen berasal dari bahasa Latin  sacramentum berarti sumpah, seperti yang dilakukan anak muda yang bergabung dengan angkatan darat Romawi. di kalangan ketentaraan Romawi, istilah sacramentum digunakan untuk menyatakan sumpah setia. Timbulnya selaku sitilah theologia, mungkin dapat dimengerti dengan mengingat kepada penggunaannnya di lapangan hukum dan pengadilan. Arti etimologis yang aktif dari kata sacramentum adalah menyucikan, menahbiskan, dan itulah yang terjadi dalam pembaptisan sehingga tepatlah upacara Kristiani ini disebut sacramentum

2. Menurut Gereja Katolik Roma, hakekat sakramen terletak di dalam hal berikut, yaitu bahwa sakramen mencurahkan karunia yang adikodrati ke dalam eksistensi manusia. Dalam Gereja Katolik Roma, terdapat tujuh sakramen. a. Perjamuan (misa), Baptisan,  Konfirmasi, Pengakuan dosa. perminyakan ,Perkawinan, Tahbisan imam .Menurut ajaran Gereja Roma, rahmat dan keselamatan hanya boleh disambut manusia dengan menerima sakramen. Sakramen-sakramen itu merupakan saluran-saluran yang ke dalamnya dicurahkan zat rahmat dari atas,untuk memasuki, memenuhi, menyucikan, dan meynelamatkan manusia lahiriah-batiniah. Hal ini disarkan pada hasil keputusan dekrit Orange. Dekrit Orange menghasilkan dua puluh lima kanan atau pernyataan doktrinal diikuti kesimpulan. Kasih karunia yang mendahului perlu kalau manusia mau hidup sebagai orang Krsiten, dan kasih karunia yang bekerja sama perlu kalau kita mau jalan terus. Kanon-kanon membenarkan kebutuhan kita akan kasih karunia, tetapi kasih karunia terikat pada sakramen-sakramen.

3. Menurut gereja-gereja Reformasi hakekat sakramen adalah tanda dan materai yang ditetapkan oleh Tuhan Allah untuk menandai dan mematerikan janji-janji Allah di dalam Injil, bahwa karena korban Kristus di kayu salib kita dianugerahi keampunan dosa dan hidup kekal

4. Bagi Luther, sakramen-sakramen dikaitkan dengan pertumbuhan dan pemeliharaan iman dari umat Allah. Luther menolak ide yang berasal dari abad pertengahan, bahwa sakramen-sakramen memberi keselamatan seperti obat atau suntikan memberi penyembuhan, asalkan dari si penerima sakramen tidak ada rintangan. Bagi Luther, sakramen terutama merupakan suatu janji akan pengampunan dosa yang diterima melalui iman oleh jemaat

5. Zwingli berpendapat bahwa suatu “sakramen” pada dasarnya merupakan suatu deklarasi kesetiaan dari seseorang kepada suatu kelompok. Sama seperti seorang serdadu bersumpah setia pada pasukannya (dalam diri seorang jenderal), demikian pula orang Krsiten bersumpah kepada saudara-saudarnya sesama orang Krsiten. Menurutnya, suatu sakramen adalah cara yang memungkinkan seseorang dapat membuktikan kepada gereja bahwa ia bermaksud, atau sudah menjadi seorang tentara Kristus dan yang menginformasikan kepada seluruh gereja, daripada hanya kepada dirinya sendiri, tentang imannya”.

6. Calvin mengartikan sakramen itu sebagai suatu materai. Bagi Calvin, sakramen adalah suatu tanda lahiriah (symbolum) yang dipakai Allah untuk memateraikan dalam batin kita janji-janji akan kerelaan-Nya terhadap kita dengan maskud untuk memperkuat iman dan mengundang respons manusia

7.  Mengenai baptisan, Gereja Katolik Roma berlandaskan konsili Trente menyatakan bahwa baptisan adalah sarana regenarasi (kelahiran kembali) dari dosa asali dan juga satu karunia Roh Kudus dan penyatuan ke dalam tubuh Krsitus. Dalam doktrin Gereja Katolik Roma, manfaat baptisan adalah :

a. pengampunan dosa aal serat semua dosa pribadi maupun hukuman dosa

b. kelahiran dalam hidup baru yang membuat manusia menjadi ciptaan baru ( 2 Kor 5 : 17)

c. menjadi anggota Gereja

8. Bagi Luther, baptisan adalah tanda yang ditetapkan oleh Allah untuk memateraikan janji-Nya. sakramen bukanlah saluran anugerah sebagi penjamin keselamatan atas diri kita, melainkan tanda dari apa yang dinyatakan firman itu. Dengan kata lain; sakramen adalah firman dalam tanda rupa, dan sambutan kita dalam menerima sakramen itu hanyalah iman

9. Bagi Zwingli sakramen adalah tindakan simbolis yang menunjuk kepada keselamatan yang diperoleh Krsitus dan yang dipakai oleh orang-orang percaya untuk memperingati apa yang dibuat Krsitus dan untuk menyetakan iman mereka.

10. Menurut Calvin, baptisan merupakan tanda pengampunan dan hidup baru. Lebih lanjut, baptisan menandakan bahwa kita telah ikut serta dalam kematian dan kebangkitan Kritus dan bahwa kita juga telah menjadi satu dengan Dia. Baptisan sekaligus merupakan tanda bahwa kita masuk ke dalam persekutuan gereja

11. Menurut Kaum Anabaptis,  baptisan sebagai sesuatu ketetapan yang dihususkan bagi orang dewasa, dan tidak disediakan bagi anak-anak. Sekali lagi ditandaskan bahwa menurut Anabaptis, bahwa baptisan bukan untuk anak-anak, namun bagi mereka yang secara sadar memilih menjadi Krsiten.

IV. Kepustakaan

Aritonang, Jan Sihar .,Berbagai Aliran di dalamdan di sekitar Gereja, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2016

Browning, W.R.F.,  Kamus Alkitab, A Dictionary of the Bible, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2015

Dister , Nico Syukur., Yogyakarta: Kanisius, 2004

de Jonge, Chrsitian ., Apa itu Calvinisme, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1998

de Jonge, Christian Gereja Mencari Jawab Kapita Selekta Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2013

Enklaar Hendrius Berkhof dan I.H.,  Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1986

Hadiwijono, Harun., Iman Kristen, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2016

Lane, Tony., Runtut Pijar Tokoh dan Pemikiran Krsiten dari Masa ke masa, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2016

McGrath, Alister E., Sejarah Pemikiran Reformasi, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2016

Urban, Lindwood.,  Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2003

Van Niftrik, G.C., Dogmatika Masa Kini, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2016

Wellem, F.D., Riwayat Singkat tokoh-tokoh, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2003

 

 

 

 

 

 



[1]Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika : Ekonomi Keselamatan , (Yogyakarta: Kanisius, 2004),  416

[2] Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika : Ekonomi Keselamatan , 202

[3] Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika : Ekonomi Keselamatan 416

[4] Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika : Ekonomi Keselamatan 202

[5] Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika : Ekonomi Keselamatan 205

[6] Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika : Ekonomi Keselamatan 332

[7] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, A Dictionary of the Bible, (Jakarta: BPK-GM, 2015),  394

[8] G.C. van Nitrik dan B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini,  (Jakarta ; BPK-GM, 2016), 436.

[9]Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta: BPK-GM, 2016), 425

[10]G.C. van Nitrik dan B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini,  437

[11] Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika : Ekonomi Keselamatan , 342-343

[12] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, 426

[13] Harun Hadiwijono, Iman Kristen,426

[14]Tony Lane, Runtut Pijar, 81

[15] Harun Hadiwijono, Iman Kristen,428

[16] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, 426

[17]Hendirus Berkhof, Sejarah Gereja, 67-110

[18]Hendrius Berkhof, Sejarah Gereja,  112-113

[19]Hendrius Berkhof, Sejarah Gereja, 111

[20]Harun Hadiwijono, Iman Kristen, 426

[21]Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, (Jakarta: BPK-GM, 2016), 218

[22]Tony Lane, Runtut Pijar, 137

[23]Runtut Pijar, 134

[24]Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, (Jakarta: BPK-GM, 2016), 216

[25] Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, (Jakarta: BPK-GM, 2016), 222

[26] Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, (Jakarta: BPK-GM, 2016), 221

[27] Chrsitian de Jonge, Apa itu Calvinisme, (Jakarta: BPK-GM, 1998), 192

[28]G.C. van Nitrik dan B.J. Boland., Dogmatika Masa Kini, 439

[29]Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme? , 192

[30]Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?, 192

[31]W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, A Dictionary of the Bible, 47

[32]Lindwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Krsiten, 384

[33]Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika : Ekonomi Keselamatan, 381

[34]Nico Syukur Dister, Teologi Ssitematika : Ekonomi Keselamatan, 382

[35] Nico Syukur Dister, Teologi Ssitematika : Ekonomi Keselamatan,382

[36]Hendrius Berkhof, Sejarah Gereja 112

[37]Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?,191

[38]F.D. Wellem, Riwayat Singkat tokoh-tokoh, (Jakarta: BPK-GM, 2003), 127-128

[39]Jan. S. Aritonang, Berbagai Aliran di dalam dan di sekitar Gereja, 31

[40]Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?,191-192

[41] Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?, 192

[42] Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, (Jakarta: BPK-GM, 2016), 222

[43]Alister E.McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, 222

[44] Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?, 192

[45] Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?, 192

[46] Tony Lane, Runtut Pijar, 146

[47] Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?, 192

[48]Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?, (Jakarta: BPK-GM, 1998), 191 

[49]Lindwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 380

[50]Lindwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 382    

[51]Jan SiharAritonang, Berbagai Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja, (Jakarta : BPK-GM, 2016), 91.

[52] Jan SiharAritonang, Berbagai Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja, 91

[53]Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?, 195

[54]Lindwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen,  380

[55] Lindwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 382

[56]Christian de Jonge, Gereja Mencari Jawab Kapita Selekta Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK-GM, 2013),  31

[57]Lindwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 383

[58]Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi,  77

[59]Runtut Pijar, 161

[60] Jan SiharAritonang, Berbagai Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja, 173

[61]Jan SiharAritonang, Berbagai Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja ,173

[62]Hendrius Berkhof, Sejarah Gereja, 153

[63] Tony Lane, Runtut Pijar, 161

[64] Jan SiharAritonang, Berbagai Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja, 72

[65]Tony Lane,  Runtut Pijar, 162

[66]Linwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Krsiten, 382

[67] Jan SiharAritonang, Berbagai Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja, 173

[68] Tony Lane, Runtut Pijar, 162

     [69]Hendrius Berkhof, Sejarah Gereja, 153


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar