Penafsiran Kitab Mazmur 23:1-6
Menggunakan Metode Tafsir Kanonikal
(Boima Hengki Banurea)
I. Pendahuluan
Di sini akan dipaparkan hasil tafsiran pada kitab Mazmur 23:1-6 menggunakan metode
kanonikal. Pasal dan ayat kitab Mazmur ini saya pilih untuk saya tafsir karena
saya ingin menggali makna yang terkandung dalam judul perikop “Tuhan, gembala
yang baik”. Saya ingin menemukan makna Tuhan sebagai gembala yang baik dan
bagaimana menjadi gembala yang baik serta bagaimana cara Tuhan mengembalakan
domba-dombaNya. Sehingga dalam sajian kali ini kita akan semakin memahami
bagaimana Tuhan sebagai gembala yang baik dan ideal. Semoga dapat menambah
wawasan kita bersama.
II. Pembahasan
2.1.Pengertian Metode Kanonikal
Kata kanonikal berasal dari kata “qaneh” yang
berarti tolak ukur.[1]
Dalam bahasa Yunani kata kanonikal berasal dari kata kanonik yang berarti
“penggaris” atau “ukuran” yang dikenakan pada kitab-kitab dalam Alkitab yang
dianggap otoritatif.[2]
Maka metode kanonikal merupakan suatu metode pendekatan terhadap Akitab dimana
teks-teks Alkitab diakui dan dihargai sebagai kanon sehingga kewibawaan Firman
tidak diragukan. Metode kanonikal adalah suatu metode penafsiran yang
memperhatikan teks secara menyeluruh dan memandang Alkitab sebagai suatu
kesatuan yang utuh.[3]
Sifat dari kritik ini adalah sinkronik, dimana setiap kata dicari maknanya
dalam konteks saat ini.[4]
2.2. Tujuan Penafsiran Metode
Kanonikal
Penafsiran kanonikal bertujuan untuk memperoleh
pesan-pesan dan kebenaran-kebenaran dari akitab sebagai satu kesatuan serta
melaksanakan tugas teologis dari penafsiran secara lebih baik dengan
berpangkal dari Alkitab sebagai satu
kesatuan yang utuh. Untuk mencapai hal tersebut, pendekatan ini menafsir
masing-masing teks alkitabiah dalam terang kanon Kitab Suci. Pendekatan kanonik
mencoba meletakkan masing-masing teks dalam rencana tunggal Allah dengan tujuan
untuk sampai kepada pemaparan Kitab Suci yang sungguh-sungguh valid untuk zaman
saat ini.[5]
2.3. Kelebihan dan Kekurangan Metode
Kanonikal[6]
2.3.1. Kelebihan Metode kanonikal
1. Dalam kritik kanonikal, Alkitab
dipandang sebagai Firman Allah dan sejarah pembentukanannya sebagai karya pekerjaan
yang dilakukan oleh Allah yang berkarya dan berkomunikasi di dalam, melalui dan
kepada umayNya. Metode kanonikal berhubungan, berkaitan, sinkron dengan
teks-teks lain dalam Alkitab.
2. Menafsir dengan cara kanonikal,
maka teks dapat dilihat secara keseluruhan. Hal ini karena tidak adanya
pemenggalan-pemenggalan teks dalam proses penafsiran sehingga makna yang
ditimbulkan oleh penulis Alkitab dapat dimengerti.
3. Berfokus pada penyampaian pesan
hasil penafsiran (arti teks) yang lebih tepat bagi situasi pembaca masa kini,
daripada teks masa lampau.
2.3.2. Kekurangan Metode kanonikal
1. Metode kanonikal kurang bersifat
historis. Hal yang menjadi perhatian khusus seperti pendekatan terhadap nats
mula-mula menurut tradisi, maksud semula penulisnya, peristiwa dan pengalaman
yang ada dibalik teks atau konteks psikologi maupun sosiologis historis yang
melahirkan tek kurang diperhatikan.
2. Adanya pembedaan kanon antara umat
beriman pemeliharaan kitab (Yahudi, katolik, dan Protestan) membuat metode ini
mempunyai unsur subyektifitas dan realitas.
2.4.Pengantar Kitab Mazmur
2.4.1. Pengertian Nama Kitab
Dalam bahasa Ibrani ada kata “mizmor” yang artinya
“sebuah nyanyian dengan iringan musik”, namun judul kitab Mazmur dalam bahasa
Ibrani adalah tehilim artinya “puji-pujian atau nyanyian pujian.[7]
Namun, tehilim dengan jelas menujukkan bahwa kitab Mazmur dipakai
sebagai buku nyanyian dan doa seperti permohonan, pernyataan kepercayaan dan
renungan.[8]
Nama kitab ini dalam LXX adalah psalmoi. Kata Yunani (dari kata kerja psallo
yang artinya “memetik atau mendentingkan”) mula-mula digunakan untuk alat musik
petik. Kemudian kata itu menunjukkan nyanyian (psalmos) atau kumpulan
nyanyian (psalterion).[9]
Sehingga mazmur adalah nyanyian pujian orang percaya kepada Tuhan baik secara
pribadi maupun kelompok, dengan musik atau tanpa musik baik suka maupun duka, umat
tidak bisa lepas dari kegiatan bernyanyi dan bermazmur.[10]
Kitab Mazmur adalah kitab terpanjang dalam Alkitab, syairnya menyatakan
kepercayaan umat pada Allah dan meyatakan berbagai keadaan perasaan yang
dialami. Kitab Mazmur ini juga mengajak para pembaca untuk berbagi dengan Allah
setiap bagian dari hidup mereka.[11]
2.4.2. Latar Belakang Kitab Mazmur
Mazmur merupakan kumpulan puji-pujian dan doa yang
dikumpulkan selama kurun waktu yang panjang dalam sejarah umat Israel, paling
tidak sejak zaman Daud sampai sesudah pembuangan ke Babel.[12]
Kitab Mazmur dibagi atas 5 bagian, Mazmur 1-41, 42-72, 73-89, 90-106, dan
107-150. Alasan pembagian kitab ini diperlukan untuk kebutuhan atau sesuai
giliran tertentu. Tetapi juga mengutuki pola kitab taurat yang terdiri dari 5
kitab. Nama-nama yag digunakan pada kepala Mazmur kadang-kadang bermaksud
memberikan kewibawaan kepada Mazmur tersebut sudah biasa dalam tulisan PL
readaktor mencantumkan nama-nama yang dihormati dalam komunitas umat Allah.
Misalnya nama Daud, Musa dan Salomo.[13]
Mazmur-mazmur dalam Alkitab dapat digolongkan atas tiga
kategori umum yaitu, pujian, ratapan dan hikmat dengan sejumlah kategori
tambahan juga. Hampir setiap Mazmur berada dalam satu golongan saja, tapi ada
satu kekecualian yaitu Mazmur 22, dimana ayat 21 adalah Mazmur Ratapan,
sedangkan ayat 22-31 adalah satu Mazmur pujian. Mazmur-mazmur ratapan pada
umumnya berisi kalimat seruan di baris pertama “Ya Tuhan” pada Mazmur 3-7
adalah Mazmur-mazmur pujian jemaat hampir selalu dimulai dengan suatu kalimat
perintah (seperti nyanyian baru bagi Tuhan pada Mazmur 96-98). Mazmur ratapan
meliputi unsur seperti keluhan, petisi, kepercayaan dan nazar pujian.[14]
2.4.3. Penulis dan Waktu Penulisan Kitab
Mazmur
Daud disebut sebagai penulis Mazmur. Dalam tradisi, Daud
dikenal sebagai seorang penyair dan dalam kitab ini nama Daud adapun disebut
sebanyak 73 kali.[15]
Ada penulis lain adalah: Musa, Salomo, Asaf, Heman, Etan, dan satu kelompok
yang disebut bani korah.[16]
Waktu penulisan kitab ini diperkirakan mulai tahun 1000-500 SM.[17]
Kitab ini meliputi kisah mulai dari zaman Daud hingga zaman pembuangan,
sehingga diperkirakan masa peristiwa hampir 500 tahun.[18]
2.4.4. Ciri-Ciri Kitab Mazmur[19]
Adapun ciri-ciri khas dalam kitab Mazmur
antara lain:
1.
Merupakan kitab terpanjang dalam alkitab dan
berisi pasal yang terpanjang (119:1-176), yang terpendek (171:1-2) dan ayat
tengah (118:8).
2.
Sebagai kitab nyanyian dan ibadah Ibrani,
kerohaniannya yang dalam dan luas itu menjadikan kitab ini bagian PL yang
paling digemari dan dibaca oleh orang percaya.
3.
Sekitar separuh kitab Mazmur mencakup doa
iman di tengah kesengsaraan.
4.
Tidak ada kitab lain di Alkitab yang demikian
terang-terangan mengungkapkan perasaan dan kebutuhan manusia dalam hubungan dengan
Allah dan kehidupan ini. Nyanyian pujian dan pengabdian mengalir dari
gunung-gunung tertinggi dan seru-seruan keptusasaannya timbul dari
lembah-lembah terdalam.
5.
Ciri sastranya yang paling menonjol adalah
gaya syair yang disebut pararelisme, mencakup irama pemikiran dan bukan
6.
irama sajak atau mantra.
2.4.5. Tujuan Penulisan Kitab Mazmur
Kitab Mazmur sebagai doa dan pujian yang diilhamkan Roh,
dan ditulis secara umum untuk mengungkapkan perasaan yang mendalam dari hati
sanubari manusia dalam hubungannya dengan Allah. Mazmur juga ditulis untuk
dinyanyikan dan dipakai oleh jemaat mula-mula sebagai puji-pujian yang telah
menjadi sumber bahan musik gerejani. Pujian, pengucapan syukur, pengharapan,
dukacita karena dosa, kesetiaan dan pertolongan Allah adalah gagasan utama di
dalam Alkitab. Gagasan ini bergaung di dalam kitab Mazmur. Mazmur-mazmur ini
ditulis dan dikumpulkan untuk digunakan dalam ibadah umat. Kitab Mazmur menjadi
kitab pujian atau buku doa yang pertama kali digunakan dalam ibadah umat, dipergunakan
juga dalam rumah ibadah orang Yahudi (sinagoge).[20]
2.4.6. Tema-Tema Teologis[21]
1.
Mazmur adalah kitab nyanyian yang berisi tentang refleksi iman bangsa Israel
terhadap Tuhan. Orang yang hidup di
dalam Tuhan senantiasa bernyanyi dan bermazmur. Mazmur tetap berkumandang meski
dalam suasana duka, itu sebabnya ada Mazmur ratapan. Umat Allah senantiasa
bernyanyi dalam rangkaian ibadah dan doa.
2.
Inti kitab Mazmur adalah mengagungkan karya
Allah dalam hubungan antara Allah dengan Israel. Mereka senantiasa bernyanyi
sebab Allah terus-menerus berkarya ditengah-tengah mereka. Mereka selalu heran
dan takjub jika berjalan di jalan Tuhan. Seorang ahli di bidang Mazmur pernah
berkata bahwa Mazmur adalah bukti iman yang Alkitabiah di tengah-tengah umat
yang tanpa Alkitab.
3.
Mazmur bukan sekedar respon atau aksi dari
karya perbuatan Tuhan, tetapi suatu tekad bulat untuk selalu hidup di jalan
Tuhan, sepanjang hidupnya. Nyanyian adalah pengakuan iman sehingga di dalamnya
ada panggilan\ kesetiaan.
2.5. Struktur Kitab Mazmur
2.5.1.
Struktur Kitab Menurut Kitab Ilahi
1.
Dari segi waktu/sejarah dapat dibagi 3 yaitu:
·
Pre exilis/sebelum pembuangan: pasal 29
·
Exilis: pasal 137
·
Post exilis: pasal 150 pembuangan.
2.
Dari segi sumber Pemazmur, 5 jilid:
·
Mazmur Daud (1-4), kecuali pasal 1-2
diperkirakan tambahan redaktor untuk pengantar Mazmur hikmat
·
Mazmur pujian
Mazmur Bani Korah (42-47)
·
Dari bani Asaf (73-89)
·
Mazmur tanpa nama (noname) (90-106)
·
Mazmur dari Daud (107-150), nyanyian ziarah
(120-134), nyanyian “haleluya” (111-117, 135, 146-150), Yedutun (39:1,
62:1,77).
3.
Dari segi Mazmur
·
Mazmur Pujian: Mzm. 8, 19, 46, 100, dll
·
Mazmur Keluhan umat atau pribadi: Mzm. 74,
79, dll dan Mzm. 22, 38, dll
·
Mazmur Kerajaan (Tuhan Raja Israel dan
mesias): Mzm. 93, 45, 2
·
Mazmur Hikmat: Mzm: 1, 32, 49
·
Mazmur Ziarah: Mzm. 84, 122
·
Mazmur Ratapan: pribadi 6, 13, 22 dan
kelompok 44, 74, 79, 80
·
Mazmur berkat dan kutuk: 1, 28, 134, 137.
4.
Dari segi tradisi Yahudi, pembacaan kitab
Mazmur sering dihubungkan dengan kitab Musa sehingga kitab Mazmur dapa dibagi
atas lima kelompok, yaitu:
·
Psl. 1-41 :
berhubungan dengan kitab Kejadian berisi pemberitaan tentang manusia dan
ciptaan.
·
Psl. 412-72 :
berhubungan dengan kitab Keluaran berisi pembebasan dan penebusan.
·
Psl. 73-89 :
berhubungan dengan kitab Imamat berisi penyembahan dan tempat ibadah
·
Psl. 90-106 :
berhubungan dengan kitab Bilangan berisi perjalanan di padang gurun.
·
Psl. 107-150 :
berhubungan dengan kitab Ulangan berisi otoritas Firman dan puji-pujian.[22]
2.5.2.
Struktur kitab Menurut Buku Survey Perjanjian
Lama
1.
Berdasarkan Penulis
·
Daud (Mazmur 3:41; 51-71)
·
Khorah (Mazmur 42-49)
·
Asaf (Mazmur 50: 73-83)
·
Nyanyian Ziarah (Mazmur 120-134)
·
Ungkapan Haleluya (Mazmur 146-150)
2.
Garis Besar Kitab Mazmur
·
Pendahuluan (1-2)
·
Pertentangan daud dengan Saul (3-41)
·
Jabatan raja Daud (42-72)
·
Krisis Asyur (73-89)
·
Intropeksi mengenai kehancuran Bait Suci dan
Pembuangan (90-106)
·
Pujian dan pemikiran tentang pulangnya orang
Israel dari pembuangan zaman yang baru (107-145)
·
Pujian Penutup (146-150).[23]
Kesimpulan: Penafsir lebih menerima struktur
Kitab yang disajikan dalam Kitab Ilahi karena lebih jelas dan mudah
untuk dianalisis serta dipahami.
2.6. Kedudukan Kitab Mazmur dalam
Kanon
Dalam Alkitab Ibrani, kitab Mazmur terdapat pada bagian
awal kitab-kitab. Para rabi menempatkannya sebelum kitab Amsal dan tulisan
hikmat lainnya, dengan alsan bahwa kumpulan tulisan Daud harus mendahului
tulisan anaknya, Salomo. Septuaginta menempatkan kitab Mazmur pada permulaan
dari kitab-kitab puisi. Susunan dalam Alkitab Latin dan bahasa modern termasuk
bahasa Indonesia, menempatkan kitab Ayub sebelum kitab Mazmur, mungkin
didasarkan pada dugaan bahwa kitab Ayub ditulis sebelum kitab Mazmur.[24]
Kitab Mazmur mau dibuat dalam lima kelompok, itu mau dibuat sejalan dengan
Pentateukh menjadi lima kitab Musa. Dalam sinagoge-sinagoge Yahudi, pembacaan
tiap-tiap bagian masing-masing kitab Pentateukh disusul sebuah Mazmur.
Begitulah muncul lima kelompok Mazmur sejalan dengan lima kitab Musa. Tetapi
yang jelas adalah kitab Mazmur bukanlah
kumpulan lagu-lagu yang pertama, namun kitab Mazmur adalah kumpulan yang
terakhir.[25]
2.7.Analisa Teks
2.7.1.
Perbandingan Bahasa
Ayat 1
Keputusan : Tidak
ada perbedaan yang signifikan
Ayat 2
LAI : Tenang
BDE : Hasonangan (Kebahagiaan)
NIV : Quiet (Hening)
TM : מְנֻח֣וֹת (Keheningan)
Keputusan: Yang
mendekati TM adalah NIV
Ayat 3
LAI : Menuntun
BDE : Ditogu (Dituntun)
NIV : Guides (Memandu)
TM : יַֽנְחֵ֥נִי (Memimpin)
Kesimpulan: Tidak
ada yang mendekati TM
Ayat 4
Keputusan: tidak
ada perbedaan yang signifikan
Ayat 5
Keputusan: Tidak
ada perbedaan Signifikan
Ayat 6
Keputusan: Tidak
ada perbedaan yang signifikan
2.7.2.
Kritik Apparatus
Ayat
4
Dalam
teks Masora terdapat kata יְנַֽחֲמֻֽנִי yang artinya “besertaku”. Kata
tersebut diusulkan oleh peneliti modern unutk menggantikannya dengan kata יַנְחֻנִי
yang artinya “kami akan pergi”.
Keputusan: Penafsir menolak usulan apparatus karena memperkabur makna
teks.
Ayat
5a
Dalam
teks Masora terdapat kata שֻׁלְחָ֗ן yang artinya “meja”. Kata
tersebut diusulkan oleh peneliti modern ditulis dua kali ganda untuk kata ב yaitu
kata שֶלַח yang
artinya “kirim”.
Keputusan: Penafsir menolak usulan apparatus karena memperkabur makna
teks.
Ayat
5b
Dalam
teks Masora terdapat kata כּוֹסִ֥י yang artinya “cangkir saya”.
Kata tersebut diusulkan dengan kata וְכוסְנִ yang
sama artinya dengan teks Yunani asli yaitu και τό ποτήριόυ σου yang
artinya “dia diam”.
Keputusan: Penafsir menolak usulan apparatus karena memperkabur makna
teks.
2.7.3.
Terjemahan Akhir
Ayat 1
Mazmur Daud. Tuhan adalah gembalaku takkan kekurangan aku.
Ayat 2
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau. Ia memimpin aku ke air
yang tenang.
Ayat 3
Ia memulihkan jiwaku. Ia menununtun aku di jalan yang benar demi
nama-Nya.
Ayat 4
Meskipun aku berjalan melalui bayangan kematian, aku tidak takut
kejahatan, sebab Engkau besertaku, gadamu dan tongkatmu itulah yang membuatku
nyaman.
Ayat 5
Engkau menyediakan hidangan bagiku, dihadapan musuhku, Engkau sudah pasti
mengurapi kepalaku dengan minyak, pialaku penuh melimpah.
Ayat 6
Kebajikan dan kemurahan akan mengikutiku, setiap hari dalam hidupku dan
akau akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa.
2.8.Tafsiran
Ayat 1
Mazmur adalah kumpulan nyanyian bagi Allah (Mzm.
30:13). Mazmur dalam bahasa Ibrani adalah “mizmor” yang artinya
nyanyi-nyanyian dengan alat petik. Orang-orang Yahudi menamakan Mazmur ini “tehilim”
yang artinya nyanyian-nyanyian pujian (Kel. 15:1-27; Hak. 5:1). Mazmur juga
diartikan sebagai nyanyian syukur bagi Allah akan perbuatan-Nya yang mulia
(Kolose 3:16). Mazmur bukan hanya merupakan karya Daud tetapi juga ada pemazmur
lainnya seperti, Asaf (Mzm. 73), Kurasi (Mzm. 85), Salomo (Mzm. 72), Am Etan
(Mzm 89), serta Musa (Mzm. 90).
Daud adalah anak Isai (Rut 4:22) seorang raja
Israel yang diurapi oleh Samuel (1 Samuel 16: 1-13). Daud pandai bermain kecapi
(Amos 6:5), ia juga memainkan kulcapi bagi Saul (1 Sam. 16:14-23). Daud juga
seorang penyair (2 Sam. 1: 17-27). Di dalam 1 Samuel 17 juga diartikan bahwa
Daud lah yang mengalahkan Goliat. Dia adalah raja atas Yehuda (2 Samuel 2:
1-7), yang menghancurkan orang Amalek (1Samuel 28:2), Daud adalah suami dari
Betsyeba (2 Samuel 11:27), dan ia dipilih oleh Tuhan untuk memerintah Israel
supaya menumbuhkan tunas kerajaan Allah (Yer. 23:5). Mesias yang juga datang ke
dunia juga merupakan keturunan Daud (Yoh. 7:42).
Tuhan adalah gembalaku. Pada ayat 1 ini adalah adalah
secara khusus mengenai tentang gembala yang baik. Gembala yang dimaksud disini
adalah ποιμεν (Yunani) yang berarti pedoman atau penuntun. Dalam bahasa Ibrani רֹעִי (gembala). Gembala juga suatu pekerjaan yang amat mulia di
kalangan kaum Yahudi. Pekerjaan gembala juga pekerjaan yang berat dan berbahaya
(bdk. Kej 31:40; 1 Sam 17:34; Yes 31:4, Luk. 16:15). Sebutan gembala ini mengungkapkan
perhatian kepada umat, yakni Israel dalam pimpinan selama keluaran (bdk. Mzm
78:52-55; 80; Yes 40:11; dan Yer 31:10). Gembala merupakan pemimpin atau
pimpinan kawanan domba (bdk. Yer 23:3). Dapat didefenisikan dalam hal ini
gembala merupakan seorang pembimbing dan pemelihara kawanan domba atau kambing.
Ia bertanggungjawab atas domba-dombanya, sering menghitungnya dan juga
melindunginya dari bahaya luar (Yeh. 37:24). Gembala dalam arti harafiah pada
zaman dahulu dan sekarang mengemban panggilan tugas yang banyak tuntutannya
(Kej. 4:3) dia harus mencari rumput dan air di daerah yang kering dan
berbatu-batu, harus melindungi kawanan dombanya terhadap cuaca buruk dan
binatang buas (1 Sam. 17:34-35, Ams. 3:12), serta memberi minum domba-dombanya
(Kej. 29:3). Gembala yang baik dan ideal harus kuat, rela berkorban dan tidak
mementingkan diri sendiri (Yeh. 34:23) serta gembala yang baik mengenal
domba-dombanya dan domba-dombanya mengenal gembalanya (Yoh. 10:140). Seorang gembala
berjalan didepan dan menuntun domba-dombanya (Mzm. 77:20, 78:52, 8-:2). Pengharapan
orang Israel kepada Allah sungguh besar sehingga bangsa Isrel selalu ingin
dituntun oleh Allah (Maz. 34:10). Daud memberikan suatu penegasan bahwa dalam
hidupnya, Tuhan digambarkan sebagai sosok gembala (Yes. 40:11-12). Daud
menyadari bahwa hubungannya dengan Tuhan bukanlah hubungan yang simbiosis
mutualisme, sebuah hubungan yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak.
Hubungan Daud jauh melebihi kebutuhan-kebutuhan dalam Daud sendiri (keintiman).
Daud mau menjelaskan bahwa Tuhan yang selalu menuntun hidup Daud dan selalu
bersamanya.
Tuhanlah yang menjadi gembala Daud. Gembala berarti
pemelihara jiwa (1 Petrus 2:25) yang tidak akan membuat dombanya menderita,
sengsara (Zak. 10:2). Allah adalah gembala dan Daud adalah dombaNya menggambarkan
hubungan yng dekat antara Allah Israel. Israel adalah umat gembalaan Allah,
sama seperti Daud (Mat. 2:6). Takkan kekurangan aku. Allah tidak akan
membiarkan domba-dombaNya menderita (1 Ptr. 2, Mzm. 34:11). Hal ini terlihat
dari kasih setia Tuhan yang selalu mendampingi umat pilihanNya Israel (Kej.
12), Ia selalu memenuhi kebutuhan umatNya, mulai dari pemberian janji yang baru
kepada Abraham (Kej. 13:14-18), ketika Allah menyelamatkan Israel dari
perbudakan di Mesir dengan memberikan tulah (Kej. 7:14-11:1), Allah juga
memberikan perlindungan dengan menyuruh para hakim-hakim (Habakuk 1: 1-4).
Dimana Tuhan sendiri menyertai umat-Nya, “Semuanya itu ditambahkan kepadamu”
(Mat. 6:33).
Ayat 2
Ia membaringkan aku di padang rumput yang hijau. Digambarkan Allah membaringkan
Daud. Allah membuktikan diriNya bahwa Ia adalah tempat bersandar umatNya. Sama
seperti Ayub yang membaringkan tubuhnya untuk meringankan keluhnya (ayub 7:13).
Di padang rumput hijau. Padang adalah tempat yang sering disoroti di
dalam Alkitab. Dijelaskan dalam Kej. 4:8, padang yang dijadikan tempat pembunuhan
Habel oleh Kain. Umat Israel juga dalam perjalanan dari Mesir menuju tanah
Kanaan melewati padang (Ul. 8:2). Tetapi pemazmur menggambarkan padang berumput
hijau yang merupakan tempat penyediaan makanan bagi hewan ternak (Kej. 47:4),
artinya Allah mencakup kebutuhan Daud (Mzm. 107:33), dimana padang rumput hijau
ini sebagai tempat pemeliharaan dan perbekalan Allah bagi umat-Nya (Yeh. 34:14,
18). Ia memimpin aku ke air yang tenang. Allah merupakan pimpinan umat
Israel (2 taw. 13:12), Allah yang juga memimpin umat Israel di padang (Yer
2:6), selama 40 tahun (Amsal 2:10), tetapi dalam beberapa catatan sejarah
kehidupan Israel, Allah memimpin umatNya dengan berbagai perwakilan seperti Musa
yang diutus oleh Allah sebagai pemimpin (Kis 7:35). Allah memimpin pemazmur
kepada air yang tenang. Air merupakan sesuatu yang dibutuhkan dalam bidang
kehidupan seperti untuk ibadah umat Israel, seorang imam harus membawa air
kudus (Bil. 5:7), dan Allah digambarkan sebagai sumber air yang hidup (Yer.
2:13). Pemazmur menggambarkan air yang tenang, ketenangan adalah hal yang
menyegarkan sama seperti Amsal 14:30, bahwa hati yang tenang menyegarkan tubuh.
Ayat 3
Ia memulihkan jiwaku. Allah adalah pribadi yang
memulihkan jiwa Daud. Hal ini membuktikan bahwa Allah menyelamatkan Daud dari
keterpurukan, sama seperti Mazmur 34:19, yang tertulis bahwa Allah meyelamatkan
orang-orang yang remuk hatinya. Allah juga berkuasa untuk menyelamatkan jiwa
umatNya (Yak. 1:21). Ia menuntun aku di jalan yang benar demi nama-Nya. Allah
selalu menuntun, menunjukkan jalan yang benar kepada umatNya sama seperti ayat
2 dalam Mazmur ini. Dalam bahasa Ibrani “nahal” yang berarti menuntun . Hal
ini juga terdapat dalam kisah perjalanan bangsa Israel, ketika Allah menuntun
mereka untuk keluar dari tanah Mesir menuju tanah Kanaan (Kel. 13:21; Kel. 15:13;
Ul. 32:12 ; Ul. 32:12; Mzm. 78:14,53; Neh. 9:12,19 dengan perantaraan Musa Kel.
32:34), seperti juga dibimbing-Nya hamba-Nya Abraham (Kej. 24:27, 48) dan
dipimpin-Nya sekalian orang yang mengharapkan-Nya (Mzm. 5:9; 27:11; 31:4; 43:3;
60:11; 73:24; 78:72; 109:30).
Ayat 4
Sebab engkau besertaku. Allah senantiasa menyertai
kehidupan pemazmur, itu membuktikan Allah selalu menyertai kehidupan umat-Nya,
sama seperti ketika Allah menyertai Israel dan Mesir (Kej. 15:13). Di dalam PB
juga Allah menyatakan diriNya sebagai “Immanuel” yang artinya Allah beserta
umatNya (Mat. 1:23). Tongkat dan gadamu itulah yang membuat aku nyaman. Tongkat
Allah adalah tongkat kebenaran (Ibr. 1:8), dan gada Allah yang menggembalakan
umat pilihan-Nya (Wahyu 12:5). Demikianlah Allah menghibur umat yang
dibawaNya pulang dari pembuangan (Yes. 40:1dan 10-11). Demikian pula Yesus
menyebut Roh, yang akan diutus-Nya, Penghibur (Yoh. 16:7; bnd. Ay. 7 Ia
memimpin kita)
Ayat 5
Engkau menyediakan hidangan bagiku dihadapan musuhku. Allah senantiasa mencakup
kebutuhan umat pilihan-Nya. Sama seperti Allah mencukupi kebutuhan manna dan
burung puyuh (Kel. 16:31). Engkau sudah pasti mengurapi kepalaku dengan
minyak. Daud menjadi raja atas urapan Samuel ditengah-tengah saudaranya
(Mzm. 16:13). Kepalanya diurapi dengan minyak zaitun (Kel. 30:24; Im. 24:2),
sesuai dengan adat kebiasaan pada hari raya (Pkh. 9:8; Mzm. 133:2; Mat. 26:7;
adat yang sama dikenal di Mesir kuno). Mengurapi dengan minyak merupakan suatu
tanda penghargaan dan penghormatan, pun dalam pelantikan untuk menjabat sesuatu
jabatan (Bil. 3:3). Pengurapan juga digunakan sebagai pengobatan (Luk. 10:34; Mrk. 6:13) dan sebagai iisyarat
kasih sayang (Luk. 7:38). Melalui pengurapan anak kepada Daud, Allah membuatkan
Daud menjadi raja Israel (2 raja-raja 9:3), sebab dialah orang yang dipilih
Tuhan (1 Sam. 1:14), sebab kasih Tuhan melekat padanya (1 Sam. 26:9).
Ayat 6
Kebajikan dan kemurahan akan mengikutiku. Kemurahan dalam bahasa Ibrani
adalah “hesed“ yang artinya Allah adalah kasih setia dan mencakup
pengertian kesetiaan Allah pada Perjanjian-Nya. Allah yang melawat umat-Nya
dengan kasih dan kemurahan hati (Yer. 3:12). Itu terlihat dari penyertaan Tuhan
kepada bangsa Israel (Kej. 15), Allah menyertai Daud (1 Sam. 26:9), sebab Allah
umat percaya adalah Allah yang mahakasih (1 Kor. 13:14). Daud membuktikan
kesetiaanNya kepada Tuhan sehingga dalam nyanyian syukurnya terdapat ungkapan
“lebih baik satu hari dipelataranMu daripada seribu hari di tempat lain (Mzm.
84:11).
2.9.Refleksi Teologis
Dalam sajian ini kita lihat dan dijelaskan bahwa gembala
yang baik dan ideal adalah gembala yang kuat, rela
berkorban dan tidak mementingkan diri sendiri (Yeh. 34:23). Gembala yang baik memberikan kenyamanan dan
kebahagiaan serta peduli dengan dombanya. Sama seperti Allah yang memberikan
ketenangan, seperti dalam Yohanes 10:11, dikatakan bahwa “Akulah Gembala yang
baik, Gembala yang baik memberikan nyawanya kepada domba-dombanya. Sehingga
kita dapat melihat bahwa dalam ayat tersebut sangat jelas dikatakan bahwa Allah
memberikan yang terbaik bukan yang diinginkan oleh manusia sebagai domba Allah.
Kasih, anugerah, dan keselamatan yang diberikan oleh Tuhan serta juga damai
sejahtera daripada Tuhan untuk umat-Nya manusia. Dalam ayat 6 juga dikatakan
bahwa “aku akan diam di rumah Bapa sepanjang masa” yang artinya ketika kita
berada di dalam rumah Bapa maka kita akan merasakan ketenangan. Jika kita
selalu menyerahkan pergumulan dan kekhawatiran kita kepada Tuhan maka kita akan
merasakan kedamaian yang datang dari pada Tuhan. Tuhan akan memberikan yang
terbaik kepada seluruh umatNya. Jika kita selalu mengandalkan Tuhan dan
memprioritaskan Tuhan dalam kehidupan kita maka kemualiaan Tuhan akan terpancar
dan terlihat dalam kehidupan kita manusia, sama seperti Yesaya 40:5 yang
mengatakan “maka kemuliaan Tuhan akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan
melihatnya”. Jadi seluruh umat manusia akan melihat karya Allah dan kekuasaan
Allah.
III. Kesimpulan
Saya sebagai penafsir dapat mengambil kesimpulan bahwa
penafsiran kanonikal yang bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran-kebenaran
dalam Alkitab sebagai satu kesatuan yang utuh. Dalam tafsiran saya pada Mazmur
23:1-6 ini menceritakan tentang seorang
gembala yang baik yang membimbing dan menuntun domba-dombanya dengan baik.
Allah adalah gembala yang baik dan ideal dimana Allah selalu memberikan yang
terbaik bagi domba-dombaNya dan selalu memberikan ketenangan serta penghiburan
dalam setiap keadaan. Allah tidak pernah membiarkan domba-dombaNya berjalan
sendiri karena Allah sangat peduli, rela berkorban dan
tidak mementingkan diri sendiri sehingga Allah dan tak akan membiarkan
dombaNya kekurangan sedikit pun.
IV. Daftar Pustaka
...., Alkitab Edisi Studi, Jakarta: LAI, 2011.
Blommendal J. Pengantar Kepada Perjanjian Lama, Jakarta:
BPK-GM, 1999.
Browing W. R. F. Kamus Alkitab, Jakarta: BPK-GM, 2014.
Clarie Marie, Barth Frommel & B. A. Pareira, Kitab
Mazmur1-72 Pembimbing dan Tafsiran, Jakarta: BPK-GM, 2015.
Harton Stanley M., Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan,
Malang: Gandim Mas, 2000.
Hayes John H. Carl R. Holladay, Pedoman Penafsiran
Alkitab, Jakarta: BPK-GM, 2005.
Hill Andrew E. & Jhon Walton, Survey Perjanjian Lama,
Malang: Gandum Mas, 2008.
Karman Yonky, Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama, Jakarta:
BPK-GM, 2007.
Komisi Kitab Kepausan, Penafsiran Alkitab dalam Gereja,
Yogyakarta: Kanisius, 2001.
Lasor W. S. Pengantar Perjanjian Lama 2, Jakarta: BPK-GM,
2012.
Ludji Barnabas, Pemahaman Dasar Perjanjian Lama, Bandung:
Bina Medis Informasi, 2009.
Ofm C. Groenen, Pengantar dalam Perjanjian Lama,
Yogayakarta: Kanisius 1991.
S Lukas Adi, Smart Book Of Christianity Perjanjian Lama,
Yogyakarta: ANDI, 2015.
Saragih Agus Jetron, Kitab llahi, Medan: Bina Media
Perintis, 2016.
Sitompul A. A. & Ulrich Beyer, Metode Penafsiran Alkitab,
Jakarta: BPK-GM, 2006.
[1] A. A. Sitompul & Ulrich Beyer, Metode Penafsiran Alkitab,
(Jakarta: BPK-GM, 2006), 214.
[2] W. R. F. Browing, Kamus Alkitab, (Jakarta: BPK-GM, 2014), 170.
[3] A. A. Sitompul & Ulrich
Beyer, Metode Penafsiran Alkitab, (Jakarta: BPK-GM, 2006), 214.
[4] Yonky Karman, Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama, (Jakarta:
BPK-GM, 2007), 15.
[5] Komisi Kitab Kepausan, Penafsiran Alkitab dalam Gereja,
(Yogyakarta: Kanisius, 2001), 65-66.
[6] John H. Hayes, Carl R.
Holladay, Pedoman Penafsiran Alkitab, (Jakarta: BPK-GM, 2005),
155-156.
[7] W. S. Lasor, Pengantar Perjanjian Lama 2, (Jakarta: BPK-GM,
2012), 41.
[8] Marie Clarie, Barth Frommel & B. A. Pareira, Kitab
Mazmur1-72 Pembimbing dan Tafsiran, (Jakarta: BPK-GM, 2015), 22.
[9] W. S. Lasor, Pengantar Perjanjian Lama 2, (Jakarta: BPK-GM,
2012), 41.
[10] Agus Jetron Saragih, Kitab llahi, (Medan: Bina Media Perintis,
2016), 129.
[11]...., Alkitab Edisi Studi, (Jakarta: LAI, 2011), 867.
[12] Lukas Adi S, Smart Book Of Christianity Perjanjian Lama,
(Yogyakarta: ANDI, 2015), 69.
[13] Barnabas Ludji, Pemahaman Dasar Perjanjian Lama, (Bandung: Bina
Medis Informasi, 2009), 106.
[14] Andrew E. Hill & Jhon Walton, Survey Perjanjian Lama, (Malang:
Gandum Mas, 2008), 449.
[15] J. Blommendal, Pengantar Kepada Perjanjian Lama, (Jakarta:
BPK-GM, 1999), 148.
[16] Andrew E. Hill & Jhon
Walton, Survey Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 2008), 446.
[17] Stanley M. Harton, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan,
(Malang: Gandim Mas, 2000), 813.
[18] Agus Jetron Saragih, Kitab llahi, (Medan: Bina Media Perintis,
2016), 131.
[19] Stanley M. Harton, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan,
(Malang: Gandim Mas, 2000), 815.
[20] ...., Alkitab Edisi Studi, (Jakarta: LAI, 2011), 814.
[21] Agus Jetron Saragih, Kitab llahi, (Medan: Bina Media Perintis,
2016), 133-134.
[22] Agus Jetron Saragih, Kitab llahi, (Medan: Bina Media Perintis,
2016), 132-133.
[23] Andrew E. Hill & Jhon Walton, Survey Perjanjian Lama,
(Malang: Gandum Mas, 2008), 451.
[24] W. S. Lasor, Pengantar Perjanjian Lama 2, (Jakarta: BPK-GM,
2012), 41.
[25] C. Groenen Ofm, Pengantar dalam Perjanjian Lama, (Yogayakarta:
Kanisius 1991), 220-221.
0 comments:
Posting Komentar