Just another free Blogger theme

Sabtu, 17 Juli 2021

 

Boima Hengki Banurea

Hospitalitas Allah

(Teologi Kontekstual dan Kontemporer)

I.          Pendahuluan

Hospitalitas pernah menjadi nilai yang penting dalam kehidupan Kristen. Namun, hospitalitas telah menjadi nilai yang terlupakan dalam dunia masa kini. Padahal, praktek panjang hospitalitas Kristen dalam tradisi Kristen telah membentuk misi gereja. Praktek panjang tersebut telah membuktikan kepada kita betapa pentingnya sikap hospitalitas bagi orang Kristen di tengah pergumulannya untuk hidup Bersama di tengah masyarakat yang plural. Hospitalitas menawarkan jalan masuk baru untuk hidup bersama dalam pergumulan perbedaan etnis, pendidikan dan latarbelakang sosial, agama, isu gender, orientasi politik dan lain sebagainya. Hospitalitas adalah sebuah praktek yang mendesak bagi masyarakat masa kini karena hospitalitas tidak hanya menyediakan kebutuhan bagi yang membutuhkan, tetapi juga menciptakan ruang dan waktu bagi orang lain. Hospitalitas sangat berhubungan dengan hati karena hospitalitas mendorong relasi dari seorang tamu menjadi tuan rumah dan permusuhan menjadi persahabatan. Oleh karena hospitalitas membuka pintu untuk hidup bersama dalam konteks masyarakat yang telah tercemar oleh kekerasan, kekasaran, kecurigaan terhadap orang lain atas nama perbedaan, maka hospitalitas bukanlah toleransi. Hospitalitas lebih dari sekadar toleransi karena hospitalitas menawarkan ruang untuk melampaui batas perbedaan dan berusaha untuk belajar satu sama lain, serta mengenali otentisitas satu sama lain.

II.          Pembahasan

2.1. Pengertian Hospitalitas

Kata ‘hospitality’ berasal dari kata Latin “hospes” yang berarti tamu.[1] Kata “hospes” sendiri adalah gabungan dua kata Latin lain, “hostis” dan “pets”. Kata “hostis” berarti “orang asing,” namun juga memiliki konotasi “musuh”. Di sini muncul ambiguitas makna kata: “ia dapat menjadi musuh atau menjadi tamu”. Asosiasi makna “orang asing” dan “musuh” di dalam kata “hostis” mungkin muncul karena kemenduaan atau ambiguitas dari orang asing itu sendiri. Dari kata “hostis” itu dikenal kata dalam Bahasa Inggris “hostile” dan “hostility”, sedangkan kata “pets” (potis, potes, potentia) berarti “memiliki kuasa.” Dari penggalian makna kata “hospes” dapat diartikan bahwa baik tuan rumah maupun tamu memiliki kuasa yang sama. Keduanya layak diperlakukan sekaligus memperlakukan hal-hal yang semestinya.[2]

Kata “hospitalitas” ini juga dipengaruhi oleh kata Yunani philoxenia (φιλοξενία) yang terdiri atas dua kata, philos atau philia (kasih persahabatan) dan xenos (orang asing). Kata “xenos” menunjuk pada orang asing yang menerima sambutan atau tuan rumah yang melakukan penyambutan terhadap orang lain. Dalam Encyclopedia of Religion and Ethics dipakai kata xenodocheō (xenos dan dechomai) yang berarti “menerima orang asing”, “mengasihi orang asing sebagai sahabat” atau “menyahabati orang asing”.[3] Maria Harris mendefinisikan hospitalitas sebagai perbuatan menerima yang lain sebagaimana diri mereka sendiri.[4] Secara sederhana, bisa juga dikatakan bahwa hospitalitas merupakan keterbukaan bagi yang berbeda serta merupakan lawan dari sikap defensif atau eksklusif terhadap yang berbeda. Dalam hal ini, hospitalitas merupakan perwujudan dari ungkapan rasa kehangatan dalam menerima orang lain, rasa hormat, serta persahabatan dan persaudaraan kepada orang lain, terutama kepada tamu yang datang. Jadi, hospitalitas merupakan kesediaan dan sikap membuka diri terhadap kehadiran orang asing/tamu atau kerelaan untuk menerima tamu. Ringkasnya, hospitalitas adalah cinta yang diberikan seseorang kepada orang asing.[5] Kata “hospitalitas” dalam bahasa Indonesia pada umumnya sama arti dan maknanya dengan “keramahtamahan”. “Ramah” berarti “baik hati dan menarik budi bahasanya; manis tutur kata dan sikapnya; suka bergaul dan menyenangkan dalam pergaulan. “Keramahan berarti “sifat ramah; kebaikan hati dalam keakraban. “Ramah-tamah” berarti “amat ramah; pertemuan kekeluargaan (untuk perkenalan dan sebagainya)”. Keramahtamahan berarti “hal-hal yang ramah.”[6]

 

2.2. Hospitalitas Dalam Alkitab

2.2.1.   Perjanjian Lama

1)      Hospitalitas dalam Tradisi Yahudi

Orang-orang Yahudi dalam Perjanjian Lama menyebut tradisi menerima tamu baik kepada sesama warga maupun kepada orang asing dengan sebutan “hakhnasat orkhim”, artinya “membawa masuk para tamu, menjamu para tamu di dalam rumah”.[7] Orang asing yang mau menumpang (menginap) adalah kebal; ia tidak boleh dirugikan, diakali, dan diperdayai. Tuan rumah harus menjamin dan menjaga jiwa dan raga, kehormatan dan nama, tubuh dan nyawa tamunya. Bahkan jikalau orang asing itu musuh, haruslah dihormati, supaya jangan ia bertindak sebagai musuh. Dengan begitu, mungkin terjadi dari lawan menjadi kawan karena mungkin saja orang asing itu tidak datang sebagai sahabat dan mau menggunakan kuasa saktinya untuk mengutuk seisi keluarga. Barangkali ia seorang dewa yang menyamar sebagai manusia, supaya jangan dikenal, dengan maksud untuk memeriksa dan meneliti seperti pengintai. Tuan rumah wajib menghormati, menguduskan dan memelihara hak dan kebutuhan orang asing. Kekebalan tamu merupakan kewajiban bagi tuan rumah. Rumah yang menerima tamu adalah suatu tempat suaka untuk tamu itu selama mereka berada di dalamnya. Mereka harus menerima perlakuan setia kawan dari tuan rumah. Orang asing harus menikmati perlindungan hukum yang sama dengan tuan rumah/tuan tanah sebagai anak-anak negeri.[8] Di kemudian hari, hospitalitas diperluas maknanya dari menerima tamu menjadi kepada siapapun, termasuk orang miskin, orang-orang tersisih dan terabaikan, orang asing, dan orang lain yang memiliki status sosial lebih rendah dari pada tuan rumah.[9]

2)      Hospitalitas Abraham, Lot, dan Rahab

Salah satu model pengalaman perjumpaan dengan orang asing yang dicatat dalam Perjanjian Lama adalah pengalaman Abraham berjumpa dengan ketiga orang asing (Kej. 18:1-8). Abraham pernah melayani tiga orang asing itu di kemahnya yang dilakukan dengan penuh rasa iklas. Abraham beserta Sara memberikan hospitalitas yang luar biasa kepada orang asing yang menguji mereka.[10] Abraham insaf akan kedatangan ketiga orang asing yang tidak dikenalnya. Abaraham tidak mengetahui siapa mereka; Abraham menganggap mereka itu adalah musafir biasa dari negeri yang jauh. Walaupun ia tidak mengenali mereka, meskipun mereka mengganggu waktu istirahatnya pada siang hari, kendatipun Abraham sekali-kali tidak punya kewajiban adat-istiadat terhadap mereka, namun dengan tidak menimbang sekejap mata juga Abraham bangkit dengan segera dari pintu kemahnya, yakni dari tempat duduknya untuk menyambut para tamunya itu. Abraham menerima dengan baik serta menunjukkan penghormatan yang tertinggi kepada mereka; Abraham sujud dengan wajahnya menyentuh tanah. Sikap itu ia tunjukkan karena dalam kebiasaan masyarakat pengembara bahwa orang asing mempunyai kesaktian; dapat membawa bahaya yang mengancam. Abraham menerima orang asing itu dan memperlakukannya dengan baik sekali, supaya jangan orang asing itu mempraktikkan kuasanya dan merugikan Abraham. Abraham menggelari (menyapa) orang-orang asing itu dengan “tuantuanku” yang bersambutan dengan “hambamu” sebagai gelar untuk dirinya sendiri. Dengan ini Abraham menyatakan dirinya siap sedia memberi pertolongan apa saja dan pelayanan kepada orang asing itu. Bentuk jamak dari kata “tuan-tuanku” dalam bahasa Ibrani bersamaan dengan sapaan “Tuhanku”. Dengan mengundang dan mempersilahkan orang melarat dan yang haus dahaga itu ke dalam rumah tangganya, maka dengan tidak sengaja Abraham mengundang Tuhan sendiri. [11]

Abraham memberikan minuman dan makanan. Air itu ditawarkan oleh Abraham untuk diminum dan mencuci kaki yang panas dan berdebu. Itulah adat penghormatan yang pertama untuk seorang tamu. Kemudian memberikan tiga sukat makanan. Ukuran itu adalah ukuran untuk raja. Menurut perhitungan biasa, hal itu berarti tiga puluh enam liter tepung, suatu jumlah atau ukuran yang luar biasa besarnya, jika makanan hanya disediakan untuk tiga orang saja.[12] Mereka menerima makanan itu, dan dengan demikian mereka menerima baik persahabatan tamu yang ditawarkan Abaraham. Bersama itu mereka mengikat dan mewajibkan diri mereka kepada Abraham dan kaum keluarganya. Mereka sekarang tidak dapat lagi bertindak sebagai musuh, seteru, hantu atau jin, karena mereka sudah pernah makan di dalam rumah tangga Abraham. Persekutuan makan mengadakan dan mendirikan kesejahteraan, keamanan, perdamaian atau perjanjian di antara dua partai. “Lawan” (hostis) telah menjadi “kawan” (hospes). Perseteruan menjadi persahabatan; konfrontasi menjadi konfederasi; pukulan menjadi panduan; perang menjadi damai. Makanan itu bukanlah hanya pengisi perut yang disertai percakapan yang enak, melainkan upacara adat untuk mendirikan persahabatan yang tetap atau untuk mengikat perjanjian. Yahwe Allahnya Israel, yang tersembunyi dalam ketiga orang itu menerima korban Abraham sambil memakan dan meminum apa yang dihidangkan. Allah memperkenankan korban Abraham dan mengaruniakan perjanjian-Nya kepadanya, yaitu keselamatan.[13]

 Lot mempraktekkan hal yang sama ketika ia menerima dua orang tamu (Kej. 19:1-29). Sedari jauh ketika Lot melihat kedua orang itu, ia mengundang tetamu itu untuk menginap di rumahnya karena hari sudah senja menjelang malam. Lot memberikan air pembasuhan kaki dan juga menyediakan makanan dan minuman. Bahkan Lot sampai merelakan kedua anaknya kepada para perusuh yang akan menghardik tamunya. Hospitalitas Lot dalam menerima tamu sangat teruji. Karena itulah, Lot dan keluarganya (kecuali istrinya menjadi tiang garam karena menoleh ke belakang) diselamatkan dari pembumi-hangusan kota Sodom dan Gomora. Hospitalitas Lot disambut Allah dengan memberikan keselamatan.[14] Hospitalitas lainnya ditunjukan oleh salah seorang perempuan dalam Perjanjian Lama, yaitu Rahab orang Yeriko (Yos. 2:1-24). Rahab mempunyai pekerjaan yang tidak pantas, yaitu perempuan sundal. Dalam profesi seperti itu, melayankan hospitalitas kepada tamu adalah hal yang lumrah. Tentu sebagai balasannya adalah uang. Tetapi ketika dua orang tamu yang datang dari Israel bermalam di penginapannya, Rahab memperlihatkan hospitalitasnya secara berlebihan. Ia melindungi tamunya dari orang-orang Yeriko yang hendak menangkap tamu tersebut. Padahal Rahab tidak mempunyai kewajiban sedikit pun untuk melakukan hal itu. Kewajiban dan haknya adalah melayani tamu lalu mendapat uang. Tetapi hospitalitas Rahab tidak sebatas transaksi. Ia menyadari bahwa tamu adalah orang yang harus dilindungi, walaupun kekuatannya sebagai perempuan tidak cukup untuk itu. Bahkan ada dalam keyakinanya bahwa tamu yang datang dari Israel itu adalah utusan Allah Israel. Benar saja, hospitalitas perempuan sundal yang menyembah berhala ini disambut oleh Allah dengan memberikan anugerah keselamatan kepada Rahab dan keluarganya.[15] Hospitalitas yang dramatis dan heroik itulah yang mencatatkan nama Rahab sebagai salah satu nenek dari keturunan Sang Juruselamat, Yesus (Mat. 1:5).

 

 

2.2.2.   Perjanjian Baru

1)      Hospitalitas dalam Kata Philoxenia  

Hospitalitas dalam Perjanjian Baru berasal dari kata philoxenia (φιλοξενία). Beberapa teks Alkitab yang dapat kita jadikan rujukan, yang secara eksplisit berbicara mengenai hospitalitas pada orang asing. “Bantulah dalam kekurangan orangorang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan– philoxenia” (Rm. 12:13). “Peliharalah kasih persaudaraan–philadelphia. Jangan kamu lupa memberi tumpangan– philoxenias kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat” (Ibr. 13:1-2). “Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tidak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan –philoxenos, cakap mengajar orang” (1Tim. 3:2). Suka memberi tumpangan–philoxenos, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri” (Tit. 1:8). “Berilah tumpangan–philoxenos seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut” (1Ptr. 4:9). “Tidak jauh dari tempat itu ada tanah milik gubernur pulau itu. Gubernur itu namanya Publius. Ia menyambut kami dan menjamu–xenizō kami dengan ramahnya selama tiga hari” (Kis. 28:7). Salam kepada kamu dari Gayus, yang memberi tumpangan–xenos kepadaku, dan kepada seluruh jemaat. Salam kepada kamu dari Erastus, bendahara negeri, dan dari Kwartus, saudara kita” (Rm. 16:23). “Dan yang terbukti telah melakukan pekerjaan yang baik, seperti mengasuh anak, memberi tumpangan–xenodocheō, membasuh kaki saudara-saudara seiman, menolong orang yang hidup dalam kesesakan. Pendeknya mereka yang telah menggunakan segala kesempatan untuk berbuat baik” (1Tim. 5:10). Kata-kata tersebut di atas merujuk pada suatu relasi yang memperkaya atau membangun dari yang asing.[16]

2)      Yesus dan Hospitalitas

Yesus sebagai paradigma hospitalitas melambangkan dan mewujudkan keramahan  Allah, sebagai pribadi yang menghadirkan hospitalitas penyelamatan Allah, Yesus dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus. Dalam perspektif Lukas Yesus adalah pribadi yang diurapi dan dipenuhi dengan Roh kudus, seluruh kehidupan dan pelayan-Nya yang ramah diinspirasi dan diberdaya oleh Roh Kudus. Menurut Yong ada tiga motif hospitalitas tentang Yesus.

Pertama, Yesus mencirikan hospitalitas Allah dan penerima hospitalitas yang patut dicontoh. Ia mengandalkan niat baik banyak orang, tinggal di rumah mereka dan menerima apa pun yang mereka sediakan (10: 5-7). Selama pelayanan publiknya, dia adalah tamu Simon Petrus (4: 38-39), Lewi (5:29), Marta (10:38), Zakheus (19: 5), dan berbagai Farisi dan pemilik rumah yang tidak disebutkan namanya (5 : 17; 7:36; 11:37; 14: 1; 22: 10-14).[17] Dalam peran-Nya sebagai tamu ia mengumumkan dan mengesahkan hospitalitas Allah melalui Roh Kudus, hal ini dibuktikan dalam kisah perjalanan dua murid Yesus ke Emaus (Luk. 24, 29). Pada peristiwa tersebut, alih-alih dua murid melayani Yesus namun setelah pegambilan, pemberkatan, pemecahan dan pembagian roti yang dilakukan oleh Yesus dua murid tersadar dan mengakui bahwa merekalah yang menjadi tamu di hadapan Ilahi sepanjang waktu itu. Dengan demikian, diseluruh pelayanan publik-Nya Yesus sebagai penerima hospitalitas membawa dan melambangkan keramahan Allah yang menyelematkan. Mereka yang menyambut Yesus ke dalam rumah mereka menjadi tamu dari hospitalitas penebusan Allah.

Kedua, berbagai adegan makan yang ada dalam Injil, penerima yang paling bersemangat menerima keramahan Ilahi adalah para orang miskin dan tertindas bukan para pemimpin. Adegan makan dalam Injil  dapat dipahami sebagai kata-kata pneumatis yang mana Yesus memanggil para pemimpin agama untuk bertobat dari kepentingan melayani diri dan mengajak mereka untuk “berbagi dalam persekutuan makan dengan para pendosa yang bertobat dan diampuni.” Lukas menunjukkan bahwa Yesus merupakan perantara otoritas Allah, melalui kuasa Roh Yesus menegakkan hospitalitas Kerajaan Surga kepada semua orang, yaitu wanita, anak-anak, budak, orang lumpuh, orang miskin, orang buta dan orang-orang yang terpinggirkan (Luk. 14: 21).

Ketiga, dalam perumpamaan orang samaria yang baik (Luk. 10: 25-37). Yesus menghadirkan orang Samaria sebagai orang yang memenuhi hukum, mengasihi tetangganya dan mewujudkan hospitalitas Ilahi. Perumpamaan orang samaria yang baik ini ingin mengatakan bahwa mungkinkah orang-orang dari agama lain tidak hanya menjadi alat yang mana melaluinya wahyu Allah hadir kembali kepada umat Allah tetapi juga mungkin dapat memenuhi persyaratan untuk mewarisi kehidupan kekal (Luk. 10: 25) melalui hospitalitas yang mereka tunjukkan kepada tetangga mereka (termasuk orang Kristen).[18]

2.3. Hospitalitas Kristiani

Hospitalitas Kristiani secara singkat berarti menyambut orang asing dengan tangan terbuka, sama seperti yang sudah dicontohkan oleh Yesus dalam Alkitab, begitu juga dengan kisah-kisah para nabi dan murid-murid Kristus ketika mereka harus bersinggungan langsung dengan orangorang asing yang berada disekitar mereka, bagi orang orang-orang terkucilkan dalam masyarakat, serta menyatakan kasih Allah yang terbuka bagi siapa saja, tanpa terkecuali. Diana Butler Bass dalam bukunya Christianity for the Rest of Us mengatakan: “Christians welcome strangers as we ourselves has been welcomed into God through the love of Jesus Christ. Through hospitality, Christians imitate God’s welcome”.[19] Orang-orang Kristen menyambut orang-orang asing sebagaimana kita sendiri telah disambut ke dalam Allah melalui cintakasih Yesus Kristus. Melalui hospitalitas, orang-orang Kristen meneladani penyambutan Allah! Ungkapan ini kemudian menjadi landasan dasar untuk membawa tulisan ini lebih dalam lagi. Penghayatan dan praktek hospitalitas dalam sejarah Kekristenan secara terus menerus mengalami perkembangan. Hanya saja pada prakteknya di dunia modern, hospitalitas menjadi hal yang tidak begitu dikenal sebagai warisan besar dari Kekristenan.Gereja-gereja menjadi tidak hospitable terhadap orang asing, pengkotak-kotakan dalam pelayanan pun masih sering kita temui. Untuk itu, seperti yang penulis sampaikan sebelumnya, perlu bagi kita untuk melihat kembali konsep hospitalitas ini sebagai warisan tradisi Kekristenan, untuk selanjutnya dipraktekan dalam kehidupan pelayanan gereja masa kini, menyatakan kasih Allah yang inklusif bagi semua orang.

Untuk sampai pada hal tersebut, Henry Brinton berupaya menyajikan kepada kita mengenai bentuk-bentuk praktek hospitalitas bagi gereja masa kini:

-          Tempat penerimaan

 Gereja perlu menjadi tempat yang terbuka bagi akses “orang asing” untuk masuk ke dalamnya. Dalam hal ini Brinton membaginya dalam 2 bentuk: pertama adalah physical site dan yang kedua adalah virtual site. Sebagai gereja yang ada di zaman modern, sudah saatnya kita memikirkan tidak hanya tempat secara fisik, melainkan juga bagi akses virtual bagi orang-orang asing dapat menjangkau informasi tentang gereja.

-          Sebuah Pelayanan Kebaktian (Worship)

Dalam hal ini, gereja perlu mengatur ibadah yang ada di gereja dengan ibadah yang memudahkan siapa saja berpartisipasi dalam ibadah, menggunakan liturgi dan himne yang mudah diikuti oleh siapa saja, serta tidak memungkinkan siapa saja (termasuk tamu) untuk masuk dalam hadirat Allah.

-          Hidangan (Meals)

Hidangan (meals) hendaknya tidak menjadi strategi gereja untuk menarik orang baru untuk beribadah di gereja kita.Melainkan jauh daripada itu, hendaklah hal ini dipahami sebagai bentuk penyataan kebersamaan kita dalam satu meja bersama dengan Kristus. Melalui makan bersama, setiap orang saling mengenal satu sama lain, duduk bersama, meruntuhkan tembok tembok pemisah sosial antar satu dengan yang lain.

-          Kelompok kecil

Dalam gereja besar, keberadaan small group sangatlah penting karena dibutuhkan personal touch di sana. Jika hal ini dilakukan dalam skala gereja besar, unsur sentuhan personal akan tidak efektif. Untuk itu, sebagai gereja yang hospitable perlu bagi gereja untuk menciptakan kelompok-kelompok kecil ini dengan edukasi tentang bagaimana sebuah kelompok kecil juga bisa berperan sebagai agen hospitalitas dalam gereja.

-          Tindakan rekonsiliasi

Gereja juga perlu menjadi sarana rekonsiliasi jika disekitarnya sedang terjadi ketegangan antar kelompok.Lebih dari itu, hal ini juga perlu sebagai tindakan preventif terjadinya perpecahan. Hal ini juga berlaku tidak hanya dalam kelompok masyarakat, golongan, atau politik saja, tetapi juga untuk antar agama.    

-          Penjangkauan (outreach)

Sebagai gereja yang hospitable, perlu memperhatikan bentuk penjangkauan bagi siapa saja secara terbuka.Penjangkauan ini tidak saja terjadi di gereja, tetapi juga di rumah-rumah jemaat. Hal ini meniru tindakan hospitalitas dalam prakteknya di dalam Alkitab, bahwa praktek hospitalitas yang sesungguhnya berawal dari rumah! 

-          Persepsi baru pada Kasih Allah yang inklusif.

Diakhir keenam praktek yang di atas, munculah persepsi baru dalam jemaat tentang kasih Allah yang inklusif.Bahwa kasih Allah tidak hanya dinikmati oleh golongan tertentu saja, tetapi jauh daripada itu gereja sebagai agen hospitalitas Allah dapat menghadirkan justice dan kasih Allah yang nyata bagi semua orang. Dengan melakukan hal di atas, kita menjadi tamu sekaligus tuan rumah dalam komunitas gereja. Yesus yang hadir dalam komunitas tersebut pun adalah tamu sekaligus tuan rumah bagi kita. Apa yang dilakukan oleh kita kepada orang asing, di saat yang sama telah melakukannya juga untuk Yesus. [20]

 

2.4. Hospitalitas dan Gereja Awal

Hospitalitas Allah yang dinyatakan dalam Yesus yang diurapi di dalam Injil Lukas  diperluas melalui Gereja awal dalam Kisah Para Rasul oleh kuasa Roh Kudus. Roh Kudus adalah tamu Ilahi yang telah dicurahkan Allah dalam hati dan hidup semua umat-Nya. Roh Kudus memberdayakan dari dalam tubuh Kristus yang diurapi untuk menjadi saksi hospitalitas Allah sampai ke ujung dunia. Dalam Kisah Para Rasul pemberdayaan Roh Kudus kepada seseorang untuk menjadi saksi hospitalitas Allah tampak dan sangat menonjol dalam perjalanan hidup misionaris santo Paulus.

Selain Yesus dan Petrus, Paulus merupakan penerima dan penyalur hospitalitas Allah. Dia adalah orang pertama yang menerima manfaat hospitalitas Allah melalui orang-orang yang menuntunnya, melalui Yudas, Ananias, pengikut Yesus lainnya yang membantunya untuk melarikan dari persekongkolan musuh dan Barnabas (Kis. 9: 8, 11, 17) -19, 25, 27, 30; lih. 11: 25-26). Kemudian, selama perjalanan misionarisnya, dia “dipegang” oleh Lidia, seorang petobat baru, untuk tinggal di rumahnya (16: 15b), dan kemudian ketika seorang kepala penjara Filipi merawat luka-lukanya (16: 32-34). Paulus juga adalah tamu Jason dari Tesalonika (17: 7), Prisca, Aquilla dan Titius Justus di Korintus (18: 3, 7), Filipus penginjil di Kaisarea (21: 8), Mnason in Yerusalem (21:16), dan murid-murid yang tidak disebutkan namanya di Troas, Tirus, Ptolemais, dan Sidon (20: 8; 21: 4, 7; 27: 3), yang tinggal bersama Paulus dengan waktu yang berbeda-beda.[21] Kitab Kisah Para Rasul ditutup dengan Paulus sebagai tuan rumah yamg menyambut semua orang yang terbuka untuk menerima hospitalitas Allah (28: 23-30). Pemberian dan penerimaan hospitalitas yang dialami Paulus juga terwujud di seluruh Gereja abad pertama. Dalam Kisah Para Rasul adegan makan menandai rekonsiliasi orang Yahudi, Samaria, dan bukan Yahudi, pria dan wanita, muda dan tua, budak dan bebas (Kis. 2:17 -18) dalam kehidupan Gereja saat ini. Mereka peduli satu sama lain dalam pembagian makanan harian (Kis. 6: 1).

 

 

2.5. Hospitalitas dan Orang Asing

Gagasan kuno mengenai orang asing sebagai wakil Allah berbeda dengan gambaran orang asing masa kini. Beberapa orang asing memang mengancam kita. Beberapa manusia memiliki pengalaman seperti perkosaan, perampokan, atau ancaman-ancaman lain akibat kekerasan orang asing. The American Heritage Dictionary (1979) mendefinisikan orang asing sebagai “seorang yang bukan teman atau kenalan” atau sebagai “pendatang baru, atau orang dari luar”. Orang asing bukan hanya sosok pribadi yang belum pernah bertemu sebelumnya, melainkan juga sosok pribadi yang kita ketahui, tetapi dianggap sebagai orang luar.pandangan orang asing yang lazim ini tidak perlu dilihat secara negative kalau kitaa mengikuti panggilan Tuhan untuk mencintai orang asing dan jika kita menerima konsep kuno tentang orang asing sebagai seorang yang membawa penghiburan dan kegembiran yang mengejutkan. Namun, kerap kali kita memilih untuk menganggap orang asing yang tidak kita kenal atau berbeda dengan kita sebagai anncaman, sebagai orang yang menakutkan. Sering kali hospitalitas kepada orang asing berubah menjadi permusuhan (hostilitas). Lingkaran permusuhan itu harus diputuskan. Lingkaran itu dapat diputuskan melalui hospitalitas.[22]

Kita telah belajar bahwa kita harus bersedia memberi tumpangan, yaitu kita harus mencintai orang asing, tetapi sangat sulit untuk melakukannya dan hidup dengan cara seperti itu. Kadang-kadang kita tidak ingin memberi tumpangan karena takut. Bukan hanya takut dengan sifat orang asing yang tak terduga, melainkan kita takut terhadap perlakuan kita sendiri. Pada kesempatan lain, kita ragu-ragu untuk memberi tumpangan, karena pelayanan yang mungkin amat banyak, jika kita menerima satu orang asing, bisa jadi akan datang lebih banyak lagi. Bahkan satu orang asing yang sungguh-sungguh membutuhkan uluran tangan kita dapat membuat kita tertekan. Setiap orang asing, karena kita tidak mengenalnya, mewakili tugas tugas membuka diri kita atas ide-ide baru, cara baru berkomunikasi, dan cara baru untuk memecahkan masalah dan konflik. Orang asing mengancam kenyamanan kita, bukan karena mereka mungkin menyakiti kita, melainkan karena mereka memampukan kita untuk memandang dunia melalui dua pasang mata yang berbeda-mata mereka, dan mata Allah juga. barang kali hal itu merupakan berkat yang paling sering diberikan oleh orang asing. Menyambut orang asing merupakan suatu sarana pertumbuhan menuju kehidupan yang utuh. Dalam pengalaman hospitalitas baik tamu maupun tuan rumah menerima sesuatu yang mereka butuhkan yang hanya dapat diperoleh hubungan yang unik dalam pelayanan hospitalitas. Allah selalu lebih besar, lebih rumit daripada kita. Oleh karena itu, kita tidak dapat bertemu Tuhan hanya dalam diri orang-orang yang kita kenal. Selalu ada bagian dalam Allah yang baru bagi kita, suatu kejutan bagi kita, sekaligus asing bagi kita. Kita berhubungan dengan sisi yang baru dari Allah ketika kita berhubungan dengan orang asing.[23]

 

2.6. Membentuk Kembali Teologi Hospitalitas di tengah Kemajemukan

Hospitalitas pada dasarnya adalah suatu praktik yang harus dilakukan secara sengaja. Artinya hospitalitas adalah bagian dari gaya hidup murid Yesus. Berkaitan dengan ini, maka Gereja seharusnya menjadi promotor dalam mengembangkan semangat hospitalitas Allah. Menariknya, keadaan kemanusiaan itu sebenarnya selalu bergerak dari orang asing-tamu kepada orang asing/tamu, dan keduanya sebenarnya setara. Karena memang tidak ada posisi dalam hidup di mana masing-masing kondisi itu permanen. Manusia selalu bergerak dari masuk dan keluar dari situasi tersebut di mana kadang-kadang mereka menjadi tuan rumah dan di waktu lain mereka dapat menjadi orang asing. Hospitalitas menjadi sarana yang olehnya kewajiban moral yang sama ditunjukkan. 

Jikalau hospitalitas Kristen yang transformatif dalam gereja perdana memberikan kontribusi penting dalam kesaksian Kristen, maka hospitalitas tetap menjadi pengikat kesaksian dalam gereja sepanjang masa terhadap dunia sekitarnya, termasuk dalam kehidupan gereja pada hari ini. Konteks zaman pada hari ini menunjukkan bahwa menjadi orang percaya bukan lagi karena logika argumentasi yang sangat persuasif semata, melainkan juga dibutuhkan suatu pengalaman disambut Allah dalam suatu komunitas yang ramah dan penuh kasih.[24] Dalam hal ini maka hospitalitas itu bukanlah sekadar suatu strategi sesaat, melainkan suatu tindakan yang menyatu dalam suatu gaya hidup sepanjang masa dalam hidupnya gereja. 

Hospitalitas dalam pengertian Kristen di tengah situasi hari ini adalah suatu hospitalitas yang ―counter-cultural. Di tengah banyaknya hostilitas, para pengungsi, kelompok marjinal, dan tuna wisma, maka perwujudan dari tindakan hospitalitas kristiani dalam dunia kontemporer menjadi suatu tantangan tersendiri. Itulah sebabnya, Derrida dan Levinas, sebagaimana dikutip oleh Shepherd, menegaskan bahwa hospitalitas itu seharusnya menjadi bagian yang nyata dari seorang manusia. [25]

Dengan kata lain, seharusnya praktik hospitalitas ini tidak menjauh dari manusia karena tindakan hospitalitas menjadi unsur penting dalam membangun kemanusiaan, karena tindakan hospitalitas menolak batasan-batasan yang dapat membahayakan kehidupan manusia akibat pengasingan secara sosial. Justru dengan tindakan menerima, maka visi dari suatu masyarakat secara menyeluruh dinyatakan dalam membangun suatu masyarakat yang transformatif. Orang Samaria yang murah hati bertindak dalam keramahannya dengan melewati batas etnik, meskipun itu menyebabkan dia harus membayar harga dan ketidaknyamanan diri demi terselamatnya suatu kehidupan. Kala manusia melihat sesamanya yang lain, maka sebenarnya mereka melihat gambar Allah yang sama dan kemanusiaan yang sama, yang menjadi dasar dalam martabat dan rasa hormat serta tali silaturahmi untuk membangun kehidupan bersama.

Perwujudan perilaku hospitalitas ini mencakup etnik, agama, kondisi ekonomi, orientasi politik, status gender, pengalaman sosial, latar belakang pendidikan, dan sebagainya, dengan menjadi terbuka dan menyambut sesama. Artinya lokasi dari praktik hospitalitas ini pada dasarnya dikaitkan dengan rumah, gereja, institusi, wilayah, ekonomi, dan politik.[26] Tanpa komunitas yang ramah seperti ini, dunia tentu saja tidak memiliki akses untuk mengenal bahwa seluruh ciptaan Allah itu selayaknya hidup dalam damai.[27] Karena itu, hospitalitas ini bukan sekadar jamuan pribadi di rumah melainkan suatu cara hidup bersama dalam kehidupan publik, di mana hospitalitas ini mencakup semua dimensi hidup, sehingga tubuh Kristus itu menjadi nyata kepada dunia.[28]

Selanjutnya hospitalitas itu akan diteruskan dalam kehidupan sehari-hari sepanjang minggu kepada sesama, orang asing, dan bahkan musuh. Dalam konteks ini, hospitalitas itu bersifat ekonomis dan politis (dalam pengertian secara etimologis) bahwa hospitalitas itu adalah ungkapan memberi dan menerima yang pada akhirnya memampukan suatu rumah bersemi dalam kasih. Karena itu dalam pengertian ekonomi, hospitalitas menjadi jiwa yang memberikan nuansa tentang bagaimana seperangkat aturan itu mengatur praktik kehidupan bersama dalam suatu rumah. Sedangkan secara politis, hospitalitas itu merujuk kepada bagaimana komunitas itu diatur untuk menghasilkan kebaikan bersama. Dalam konteks demikian, maka sebenarnya kita sedang bermimpi kepada suatu rumah bersama di mana perbedaanperbedaan itu disikapi dengan tindakan keramahan.[29]

Dengan membagi waktu dan ruang bagi tamu, maka sebenarnya kita memberikan kesempatan bagi tamu untuk berbagi kehidupan mereka. Sebagaimana Nouwen menyebutkan bahwa kita tidak akan dapat memberi sesuatu jikalau tidak ada orang yang dapat menerima. Sesungguhnya, kita menemukan pemberianpemberian kita di hadapan sang penerima. Seorang tuan rumah memberikan dorongan, afirmasi, dan peneguhan daripada sekadar memberi kritik. Sang tuan rumah bukan hanya menolong sang tamu melihat karunianya yang tersembunyi, namun juga dapat menolong mereka mengembangkan dan memperdalam karunia ini sehingga sang tamu dapat melanjutkan perjalanannya dengan keyakinan diri yang sudah dibaharui.[30] Hospitalitas membuka babak baru dalam kehidupan dan dalam perarakan bersama di tengah perbedaan dalam dunia yang sangat rentan dengan hostilitas akibat dosa.

 

III.             Kesimpulan

Gereja, sebagai penerima hospitalitas Allah, seharusnya berjalan di depan sebagai promotor tentang bagaimana masyarakat dapat hidup bersama. Sebagai tampilan atas karya Allah, Gereja dari dalam dirinya membangun model masyarakat seperti ini, yang tampak pertama-tama dalam ibadah secara komunal maupun pribadi, pelayanan sosial dan usaha keras dalam mewujudkan perdamaian. Dengan cara yang sama, institusi Kristen juga seharusnya bekerja dengan keras ke arah visi ini dengan maksud untuk menunjukkan betapa dalamnya Kerajaan Allah yang penuh damai. Toleransi tidak dapat berdiri sendiri untuk membangun sebuah masyarakat yang baik. Masyarat yang baik perlu nilai yang lebih besar karena toleransi adalah syarat minimum untuk mencapai suatu masyarakat yang baik. Hospitalitas adalah nilai kunci tersebut karena menciptakan ruang penerimaan, saling menghormati, dan pengenalan serta perayaan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Oleh karena itu, daripada toleransi, hospitalitas adalah nilai yang utama untuk mewujudkan suatu masyarakat yang baik dalam meghadapi kemajemukan.

 

IV.             Daftar Pustaka

Sumber Buku:

Bass, Diana Butler, Christianity for The Rest of Us, 2008. Dalam Henry G. Brinton, Welcoming Congregation: Roots and Fruits of Christian Hospitality, Westminster: John Knox Press, 2012

Brinton, Henry G., Welcoming Congregation: Roots and Fruits of Christian Hospitality, Westminster: John Knox Press, 2012

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ke-IV, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008

Harris, Ian M., Fashion Me A People, Louisvelle: John Knox Press, 1989

Hastings, James, Encyclopedia of Religion and Ethics Vol. VI, New York: Charles Scribner’s Sons, 1951

Hershberger, Michele, Hospitalitas—Orang Asing: Teman atau Ancaman?, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009

J., King Philip, & Lawrence E. Stager, Library of Ancient Israel: Life in Biblical Israel, London: Westminster John Knox Press, 2001

Kruschwitz, Roberth B., Introduction, Waco: Baylor University, 2007

Lempp, Walter, Tafsiran Alkitab Perjanjial Lama Jilid 3, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989

Mulder, D.C., Tafsiran Kitab Yosua, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1990

Newman, Elizabeth, Untamed Hospitality, Waco: Baylor University, 2007

Nouwen, Reaching Out: The Three Movementas of the Spiritual Life, New York: Image Books Double Day, 1986

Pohl, Christine D., Making Room, Recovering Hospitality as a Christian Tradition, Grand Rapids: W.B. Eerdmans, 1999

Simarmata, Harun Darmawanto, Hospitalitas: Warisan Tradisi Kristen: Meretas sebuah Model Pendidikan Kristiani bagi Kehidupan Bergereja di Dunia yang Penuh Perbedaan, Tesis M.Th., STT Jakarta, 2010

Telushkin, Rabbi Joseph, Jewish Literacy, USA: HarperCollins Publisher, 2001

Wrobleski, Jesica, The Limits of Hospitality, Minnesota: Liturgical Press, 2012

Yong, Amos, Hospitality and the Other, New York, Orbis Books: 2008

Sumber Internet:

http://www.catalystresources.org/the-healthy-churchembodying-hospitality/ diakses pada 19 November 2020, pukul 20.21 WIB.



[1] James Hastings, Encyclopedia of Religion, (Provo, Utah: Macmillan Publishing, 1955), 471

[2] Jesica Wrobleski, The Limits of Hospitality, (Minnesota: Liturgical Press, 2012),15

[3] James Hastings, Encyclopedia of Religion and Ethics Vol. VI, (New York: Charles Scribner’s Sons, 1951), 808

[4] Ian M. Harris, Fashion Me A People, (Louisvelle: John Knox Press, 1989), 87

[5] Michele Hershberger, Hospitalitas—Orang Asing: Teman atau Ancaman?, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 10.

[6] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ke-IV, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008), 1136-1221

[7] Harun Darmawanto Simarmata, Hospitalitas: Warisan Tradisi Kristen: Meretas sebuah Model Pendidikan Kristiani bagi Kehidupan Bergereja di Dunia yang Penuh Perbedaan, (Tesis M.Th., STT Jakarta, 2010), 37

[8] Walter Lempp, Tafsiran Alkitab Perjanjial Lama Jilid 3: Kejadian 12:4-15:18, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989), 201-202

[9] Rabbi Joseph Telushkin, Jewish Literacy, (USA: HarperCollins Publisher, 2001), 589

[10] King Philip J. & Lawrence E. Stager, Library of Ancient Israel: Life in Biblical Israel, (London: Westminster John Knox Press, 2001), 62

[11] Walter Lempp, Tafsiran Alkitab Perjanjial Lama Jilid 3, 200-201

[12] Ibid, 204-205

[13] Ibid, 206-207

[14] Walter Lempp, Tafsiran Alkitab Perjanjial Lama Jilid 3, 232-239

[15] D.C. Mulder, Tafsiran Kitab Yosua, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1990), 22-25.

[16] Wrobleski, Op. Cit.,15

[17] Amos Yong, Hospitality and the Other, (New York, Orbis Books: 2008), 101

[18] Amos Yong, Hospitality and the Other, 102

[19] Diana Butler Bass, Christianity for The Rest of Us, 2008. Dalam Henry G. Brinton, Welcoming Congregation: Roots and Fruits of Christian Hospitality, (Westminster: John Knox Press, 2012), 15

[20] Henry G. Brinton, Welcoming Congregation: Roots and Fruits of Christian Hospitality (Westminster: John Knox Press, 2012), 15

[21] Amos Yong, Hospitality and the Other, 104

[22] Michele Hershberger, Hospitalitas-Orang Asinh: Teman atau Amcaman, (Jakarta: Gunung Mulia, 2009), 10-12.

[23] Ibid, 38-39.

[25] Ibid.

[26] Christine D. Pohl, Making Room, Recovering Hospitality as a Christian Tradition, (Grand Rapids: W.B. Eerdmans, 1999),  39.

[27] Roberth B. Kruschwitz, Introduction, (Waco: Baylor University, 2007), 8.

[28] Elizabeth Newman, Untamed Hospitality, (Waco: Baylor University, 2007), 12.

[29] Ibid, 14-15.

[30] Nouwen, Reaching Out: The Three Movementas of the Spiritual Life, (New York: Image Books Double Day, 1986), 87-88.


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar