Boima Hengki Banurea
Hospitalitas Allah
(Teologi Kontekstual dan Kontemporer)
I.
Pendahuluan
Hospitalitas
pernah menjadi nilai yang penting dalam kehidupan Kristen. Namun, hospitalitas
telah menjadi nilai yang terlupakan dalam dunia masa kini. Padahal, praktek
panjang hospitalitas Kristen dalam tradisi Kristen telah membentuk misi gereja.
Praktek panjang tersebut telah membuktikan kepada kita betapa pentingnya sikap
hospitalitas bagi orang Kristen di tengah pergumulannya untuk hidup Bersama di
tengah masyarakat yang plural. Hospitalitas menawarkan jalan masuk baru untuk
hidup bersama dalam pergumulan perbedaan etnis, pendidikan dan latarbelakang
sosial, agama, isu gender, orientasi politik dan lain sebagainya. Hospitalitas
adalah sebuah praktek yang mendesak bagi masyarakat masa kini karena
hospitalitas tidak hanya menyediakan kebutuhan bagi yang membutuhkan, tetapi
juga menciptakan ruang dan waktu bagi orang lain. Hospitalitas sangat
berhubungan dengan hati karena hospitalitas mendorong relasi dari seorang tamu
menjadi tuan rumah dan permusuhan menjadi persahabatan. Oleh karena
hospitalitas membuka pintu untuk hidup bersama dalam konteks masyarakat yang
telah tercemar oleh kekerasan, kekasaran, kecurigaan terhadap orang lain atas
nama perbedaan, maka hospitalitas bukanlah toleransi. Hospitalitas lebih dari
sekadar toleransi karena hospitalitas menawarkan ruang untuk melampaui batas
perbedaan dan berusaha untuk belajar satu sama lain, serta mengenali
otentisitas satu sama lain.
II.
Pembahasan
2.1.
Pengertian Hospitalitas
Kata
‘hospitality’ berasal dari kata Latin “hospes”
yang berarti tamu.[1]
Kata “hospes” sendiri adalah gabungan
dua kata Latin lain, “hostis” dan “pets”. Kata “hostis” berarti “orang asing,” namun juga memiliki konotasi “musuh”.
Di sini muncul ambiguitas makna kata: “ia dapat menjadi musuh atau menjadi
tamu”. Asosiasi makna “orang asing” dan “musuh” di dalam kata “hostis” mungkin muncul karena kemenduaan
atau ambiguitas dari orang asing itu sendiri. Dari kata “hostis” itu dikenal kata dalam Bahasa Inggris “hostile” dan “hostility”,
sedangkan kata “pets” (potis, potes,
potentia) berarti “memiliki kuasa.” Dari penggalian makna kata “hospes” dapat diartikan bahwa baik tuan
rumah maupun tamu memiliki kuasa yang sama. Keduanya layak diperlakukan
sekaligus memperlakukan hal-hal yang semestinya.[2]
Kata
“hospitalitas” ini juga dipengaruhi oleh kata Yunani philoxenia (φιλοξενία) yang terdiri atas dua kata, philos atau philia (kasih persahabatan) dan xenos
(orang asing). Kata “xenos” menunjuk
pada orang asing yang menerima sambutan atau tuan rumah yang melakukan
penyambutan terhadap orang lain. Dalam Encyclopedia
of Religion and Ethics dipakai kata xenodocheō
(xenos dan dechomai) yang berarti “menerima orang asing”, “mengasihi orang
asing sebagai sahabat” atau “menyahabati orang asing”.[3]
Maria Harris mendefinisikan hospitalitas sebagai perbuatan menerima yang lain
sebagaimana diri mereka sendiri.[4]
Secara sederhana, bisa juga dikatakan bahwa hospitalitas merupakan keterbukaan
bagi yang berbeda serta merupakan lawan dari sikap defensif atau eksklusif
terhadap yang berbeda. Dalam hal ini, hospitalitas merupakan perwujudan dari
ungkapan rasa kehangatan dalam menerima orang lain, rasa hormat, serta
persahabatan dan persaudaraan kepada orang lain, terutama kepada tamu yang
datang. Jadi, hospitalitas merupakan kesediaan dan sikap membuka diri terhadap
kehadiran orang asing/tamu atau kerelaan untuk menerima tamu. Ringkasnya,
hospitalitas adalah cinta yang diberikan seseorang kepada orang asing.[5] Kata
“hospitalitas” dalam bahasa Indonesia pada umumnya sama arti dan maknanya
dengan “keramahtamahan”. “Ramah” berarti “baik hati dan menarik budi bahasanya;
manis tutur kata dan sikapnya; suka bergaul dan menyenangkan dalam pergaulan.
“Keramahan berarti “sifat ramah; kebaikan hati dalam keakraban. “Ramah-tamah”
berarti “amat ramah; pertemuan kekeluargaan (untuk perkenalan dan sebagainya)”.
Keramahtamahan berarti “hal-hal yang ramah.”[6]
2.2.
Hospitalitas Dalam Alkitab
2.2.1. Perjanjian Lama
1)
Hospitalitas
dalam Tradisi Yahudi
Orang-orang
Yahudi dalam Perjanjian Lama menyebut tradisi menerima tamu baik kepada sesama
warga maupun kepada orang asing dengan sebutan “hakhnasat orkhim”, artinya “membawa masuk para tamu, menjamu para
tamu di dalam rumah”.[7]
Orang asing yang mau menumpang (menginap) adalah kebal; ia tidak boleh
dirugikan, diakali, dan diperdayai. Tuan rumah harus menjamin dan menjaga jiwa
dan raga, kehormatan dan nama, tubuh dan nyawa tamunya. Bahkan jikalau orang
asing itu musuh, haruslah dihormati, supaya jangan ia bertindak sebagai musuh.
Dengan begitu, mungkin terjadi dari lawan menjadi kawan karena mungkin saja
orang asing itu tidak datang sebagai sahabat dan mau menggunakan kuasa saktinya
untuk mengutuk seisi keluarga. Barangkali ia seorang dewa yang menyamar sebagai
manusia, supaya jangan dikenal, dengan maksud untuk memeriksa dan meneliti
seperti pengintai. Tuan rumah wajib menghormati, menguduskan dan memelihara hak
dan kebutuhan orang asing. Kekebalan tamu merupakan kewajiban bagi tuan rumah.
Rumah yang menerima tamu adalah suatu tempat suaka untuk tamu itu selama mereka
berada di dalamnya. Mereka harus menerima perlakuan setia kawan dari tuan rumah.
Orang asing harus menikmati perlindungan hukum yang sama dengan tuan rumah/tuan
tanah sebagai anak-anak negeri.[8] Di
kemudian hari, hospitalitas diperluas maknanya dari menerima tamu menjadi
kepada siapapun, termasuk orang miskin, orang-orang tersisih dan terabaikan,
orang asing, dan orang lain yang memiliki status sosial lebih rendah dari pada
tuan rumah.[9]
2)
Hospitalitas
Abraham, Lot, dan Rahab
Salah
satu model pengalaman perjumpaan dengan orang asing yang dicatat dalam
Perjanjian Lama adalah pengalaman Abraham berjumpa dengan ketiga orang asing
(Kej. 18:1-8). Abraham pernah melayani tiga orang asing itu di kemahnya yang
dilakukan dengan penuh rasa iklas. Abraham beserta Sara memberikan hospitalitas
yang luar biasa kepada orang asing yang menguji mereka.[10]
Abraham insaf akan kedatangan ketiga orang asing yang tidak dikenalnya.
Abaraham tidak mengetahui siapa mereka; Abraham menganggap mereka itu adalah
musafir biasa dari negeri yang jauh. Walaupun ia tidak mengenali mereka,
meskipun mereka mengganggu waktu istirahatnya pada siang hari, kendatipun
Abraham sekali-kali tidak punya kewajiban adat-istiadat terhadap mereka, namun
dengan tidak menimbang sekejap mata juga Abraham bangkit dengan segera dari
pintu kemahnya, yakni dari tempat duduknya untuk menyambut para tamunya itu.
Abraham menerima dengan baik serta menunjukkan penghormatan yang tertinggi
kepada mereka; Abraham sujud dengan wajahnya menyentuh tanah. Sikap itu ia
tunjukkan karena dalam kebiasaan masyarakat pengembara bahwa orang asing
mempunyai kesaktian; dapat membawa bahaya yang mengancam. Abraham menerima
orang asing itu dan memperlakukannya dengan baik sekali, supaya jangan orang
asing itu mempraktikkan kuasanya dan merugikan Abraham. Abraham menggelari
(menyapa) orang-orang asing itu dengan “tuantuanku” yang bersambutan dengan
“hambamu” sebagai gelar untuk dirinya sendiri. Dengan ini Abraham menyatakan
dirinya siap sedia memberi pertolongan apa saja dan pelayanan kepada orang
asing itu. Bentuk jamak dari kata “tuan-tuanku” dalam bahasa Ibrani bersamaan
dengan sapaan “Tuhanku”. Dengan mengundang dan mempersilahkan orang melarat dan
yang haus dahaga itu ke dalam rumah tangganya, maka dengan tidak sengaja
Abraham mengundang Tuhan sendiri. [11]
Abraham
memberikan minuman dan makanan. Air itu ditawarkan oleh Abraham untuk diminum
dan mencuci kaki yang panas dan berdebu. Itulah adat penghormatan yang pertama
untuk seorang tamu. Kemudian memberikan tiga sukat makanan. Ukuran itu adalah
ukuran untuk raja. Menurut perhitungan biasa, hal itu berarti tiga puluh enam
liter tepung, suatu jumlah atau ukuran yang luar biasa besarnya, jika makanan
hanya disediakan untuk tiga orang saja.[12]
Mereka menerima makanan itu, dan dengan demikian mereka menerima baik
persahabatan tamu yang ditawarkan Abaraham. Bersama itu mereka mengikat dan
mewajibkan diri mereka kepada Abraham dan kaum keluarganya. Mereka sekarang
tidak dapat lagi bertindak sebagai musuh, seteru, hantu atau jin, karena mereka
sudah pernah makan di dalam rumah tangga Abraham. Persekutuan makan mengadakan
dan mendirikan kesejahteraan, keamanan, perdamaian atau perjanjian di antara
dua partai. “Lawan” (hostis) telah menjadi “kawan” (hospes). Perseteruan
menjadi persahabatan; konfrontasi menjadi konfederasi; pukulan menjadi panduan;
perang menjadi damai. Makanan itu bukanlah hanya pengisi perut yang disertai
percakapan yang enak, melainkan upacara adat untuk mendirikan persahabatan yang
tetap atau untuk mengikat perjanjian. Yahwe Allahnya Israel, yang tersembunyi
dalam ketiga orang itu menerima korban Abraham sambil memakan dan meminum apa
yang dihidangkan. Allah memperkenankan korban Abraham dan mengaruniakan
perjanjian-Nya kepadanya, yaitu keselamatan.[13]
Lot mempraktekkan hal yang sama ketika ia
menerima dua orang tamu (Kej. 19:1-29). Sedari jauh ketika Lot melihat kedua
orang itu, ia mengundang tetamu itu untuk menginap di rumahnya karena hari
sudah senja menjelang malam. Lot memberikan air pembasuhan kaki dan juga
menyediakan makanan dan minuman. Bahkan Lot sampai merelakan kedua anaknya
kepada para perusuh yang akan menghardik tamunya. Hospitalitas Lot dalam
menerima tamu sangat teruji. Karena itulah, Lot dan keluarganya (kecuali
istrinya menjadi tiang garam karena menoleh ke belakang) diselamatkan dari
pembumi-hangusan kota Sodom dan Gomora. Hospitalitas Lot disambut Allah dengan
memberikan keselamatan.[14]
Hospitalitas lainnya ditunjukan oleh salah seorang perempuan dalam Perjanjian
Lama, yaitu Rahab orang Yeriko (Yos. 2:1-24). Rahab mempunyai pekerjaan yang
tidak pantas, yaitu perempuan sundal. Dalam profesi seperti itu, melayankan
hospitalitas kepada tamu adalah hal yang lumrah. Tentu sebagai balasannya
adalah uang. Tetapi ketika dua orang tamu yang datang dari Israel bermalam di
penginapannya, Rahab memperlihatkan hospitalitasnya secara berlebihan. Ia
melindungi tamunya dari orang-orang Yeriko yang hendak menangkap tamu tersebut.
Padahal Rahab tidak mempunyai kewajiban sedikit pun untuk melakukan hal itu.
Kewajiban dan haknya adalah melayani tamu lalu mendapat uang. Tetapi
hospitalitas Rahab tidak sebatas transaksi. Ia menyadari bahwa tamu adalah
orang yang harus dilindungi, walaupun kekuatannya sebagai perempuan tidak cukup
untuk itu. Bahkan ada dalam keyakinanya bahwa tamu yang datang dari Israel itu
adalah utusan Allah Israel. Benar saja, hospitalitas perempuan sundal yang
menyembah berhala ini disambut oleh Allah dengan memberikan anugerah
keselamatan kepada Rahab dan keluarganya.[15]
Hospitalitas yang dramatis dan heroik itulah yang mencatatkan nama Rahab
sebagai salah satu nenek dari keturunan Sang Juruselamat, Yesus (Mat. 1:5).
2.2.2.
Perjanjian
Baru
1)
Hospitalitas
dalam Kata Philoxenia
Hospitalitas
dalam Perjanjian Baru berasal dari kata philoxenia
(φιλοξενία). Beberapa teks Alkitab yang dapat kita jadikan rujukan, yang secara
eksplisit berbicara mengenai hospitalitas pada orang asing. “Bantulah dalam
kekurangan orangorang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan
tumpangan– philoxenia” (Rm. 12:13). “Peliharalah kasih
persaudaraan–philadelphia. Jangan kamu lupa memberi tumpangan– philoxenias
kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak
diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat” (Ibr. 13:1-2). “Karena itu
penilik jemaat haruslah seorang yang tidak bercacat, suami dari satu isteri,
dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan –philoxenos, cakap
mengajar orang” (1Tim. 3:2). Suka memberi tumpangan–philoxenos, suka akan yang
baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri” (Tit. 1:8). “Berilah
tumpangan–philoxenos seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut”
(1Ptr. 4:9). “Tidak jauh dari tempat itu ada tanah milik gubernur pulau itu.
Gubernur itu namanya Publius. Ia menyambut kami dan menjamu–xenizō kami dengan
ramahnya selama tiga hari” (Kis. 28:7). Salam kepada kamu dari Gayus, yang
memberi tumpangan–xenos kepadaku, dan kepada seluruh jemaat. Salam kepada kamu
dari Erastus, bendahara negeri, dan dari Kwartus, saudara kita” (Rm. 16:23).
“Dan yang terbukti telah melakukan pekerjaan yang baik, seperti mengasuh anak,
memberi tumpangan–xenodocheō, membasuh kaki saudara-saudara seiman, menolong
orang yang hidup dalam kesesakan. Pendeknya mereka yang telah menggunakan
segala kesempatan untuk berbuat baik” (1Tim. 5:10). Kata-kata tersebut di atas
merujuk pada suatu relasi yang memperkaya atau membangun dari yang asing.[16]
2) Yesus dan
Hospitalitas
Yesus sebagai
paradigma hospitalitas melambangkan dan mewujudkan keramahan Allah,
sebagai pribadi yang menghadirkan hospitalitas penyelamatan Allah, Yesus dipenuhi
dengan kuasa Roh Kudus. Dalam perspektif Lukas Yesus adalah pribadi yang
diurapi dan dipenuhi dengan Roh kudus, seluruh kehidupan dan pelayan-Nya yang
ramah diinspirasi dan diberdaya oleh Roh Kudus. Menurut
Yong ada tiga motif hospitalitas tentang Yesus.
Pertama, Yesus
mencirikan hospitalitas Allah dan penerima hospitalitas yang patut dicontoh. Ia mengandalkan
niat baik banyak orang, tinggal di rumah mereka dan menerima apa pun yang
mereka sediakan (10: 5-7). Selama pelayanan publiknya, dia adalah tamu Simon
Petrus (4: 38-39), Lewi (5:29), Marta (10:38), Zakheus (19: 5), dan berbagai
Farisi dan pemilik rumah yang tidak disebutkan namanya (5 : 17; 7:36; 11:37;
14: 1; 22: 10-14).[17]
Dalam peran-Nya sebagai tamu ia mengumumkan dan mengesahkan hospitalitas Allah
melalui Roh Kudus, hal ini dibuktikan dalam kisah perjalanan dua murid Yesus ke
Emaus (Luk. 24, 29). Pada peristiwa tersebut, alih-alih dua murid melayani
Yesus namun setelah pegambilan, pemberkatan, pemecahan dan pembagian roti yang
dilakukan oleh Yesus dua murid tersadar dan mengakui bahwa merekalah yang
menjadi tamu di hadapan Ilahi sepanjang waktu itu. Dengan demikian, diseluruh
pelayanan publik-Nya Yesus sebagai penerima hospitalitas membawa dan
melambangkan keramahan Allah yang menyelematkan. Mereka yang menyambut Yesus ke
dalam rumah mereka menjadi tamu dari hospitalitas penebusan Allah.
Kedua, berbagai
adegan makan yang ada dalam Injil, penerima
yang paling bersemangat menerima keramahan Ilahi adalah para orang miskin dan
tertindas bukan para pemimpin. Adegan makan dalam Injil dapat
dipahami sebagai kata-kata pneumatis yang mana Yesus memanggil para pemimpin
agama untuk bertobat dari kepentingan melayani diri dan mengajak mereka untuk
“berbagi dalam persekutuan makan dengan para pendosa yang bertobat dan
diampuni.” Lukas menunjukkan bahwa Yesus merupakan perantara otoritas
Allah, melalui kuasa Roh Yesus menegakkan hospitalitas Kerajaan Surga kepada
semua orang, yaitu wanita, anak-anak, budak, orang lumpuh, orang miskin, orang
buta dan orang-orang yang terpinggirkan (Luk. 14: 21).
Ketiga, dalam
perumpamaan orang samaria yang baik (Luk. 10: 25-37). Yesus menghadirkan orang
Samaria sebagai orang yang memenuhi hukum, mengasihi tetangganya dan mewujudkan
hospitalitas Ilahi. Perumpamaan orang samaria yang baik ini ingin mengatakan
bahwa mungkinkah orang-orang dari agama lain tidak hanya menjadi alat yang mana
melaluinya wahyu Allah hadir kembali kepada umat Allah tetapi juga mungkin
dapat memenuhi persyaratan untuk mewarisi kehidupan kekal (Luk. 10: 25) melalui
hospitalitas yang mereka tunjukkan kepada tetangga mereka (termasuk orang
Kristen).[18]
2.3. Hospitalitas
Kristiani
Hospitalitas
Kristiani secara singkat berarti menyambut orang asing dengan tangan terbuka,
sama seperti yang sudah dicontohkan oleh Yesus dalam Alkitab, begitu juga
dengan kisah-kisah para nabi dan murid-murid Kristus ketika mereka harus
bersinggungan langsung dengan orangorang asing yang berada disekitar mereka,
bagi orang orang-orang terkucilkan dalam masyarakat, serta menyatakan kasih
Allah yang terbuka bagi siapa saja, tanpa terkecuali. Diana Butler Bass dalam
bukunya Christianity for the Rest of Us mengatakan:
“Christians welcome strangers as we
ourselves has been welcomed into God through the love of Jesus Christ. Through
hospitality, Christians imitate God’s welcome”.[19]
Orang-orang Kristen menyambut orang-orang asing sebagaimana kita sendiri telah
disambut ke dalam Allah melalui cintakasih Yesus Kristus. Melalui hospitalitas,
orang-orang Kristen meneladani penyambutan Allah! Ungkapan ini kemudian menjadi
landasan dasar untuk membawa tulisan ini lebih dalam lagi. Penghayatan dan
praktek hospitalitas dalam sejarah Kekristenan secara terus menerus mengalami
perkembangan. Hanya saja pada prakteknya di dunia modern, hospitalitas menjadi
hal yang tidak begitu dikenal sebagai warisan besar dari
Kekristenan.Gereja-gereja menjadi tidak hospitable
terhadap orang asing, pengkotak-kotakan dalam pelayanan pun masih sering kita
temui. Untuk itu, seperti yang penulis sampaikan sebelumnya, perlu bagi kita
untuk melihat kembali konsep hospitalitas ini sebagai warisan tradisi
Kekristenan, untuk selanjutnya dipraktekan dalam kehidupan pelayanan gereja
masa kini, menyatakan kasih Allah yang inklusif bagi semua orang.
Untuk
sampai pada hal tersebut, Henry Brinton berupaya menyajikan kepada kita
mengenai bentuk-bentuk praktek hospitalitas bagi gereja masa kini:
-
Tempat
penerimaan
Gereja perlu menjadi tempat yang terbuka bagi
akses “orang asing” untuk masuk ke dalamnya. Dalam hal ini Brinton membaginya
dalam 2 bentuk: pertama adalah physical site dan yang kedua adalah virtual
site. Sebagai gereja yang ada di zaman modern, sudah saatnya kita memikirkan
tidak hanya tempat secara fisik, melainkan juga bagi akses virtual bagi
orang-orang asing dapat menjangkau informasi tentang gereja.
-
Sebuah
Pelayanan Kebaktian (Worship)
Dalam
hal ini, gereja perlu mengatur ibadah yang ada di gereja dengan ibadah yang
memudahkan siapa saja berpartisipasi dalam ibadah, menggunakan liturgi dan
himne yang mudah diikuti oleh siapa saja, serta tidak memungkinkan siapa saja
(termasuk tamu) untuk masuk dalam hadirat Allah.
-
Hidangan
(Meals)
Hidangan
(meals) hendaknya tidak menjadi strategi gereja untuk menarik orang baru untuk
beribadah di gereja kita.Melainkan jauh daripada itu, hendaklah hal ini
dipahami sebagai bentuk penyataan kebersamaan kita dalam satu meja bersama
dengan Kristus. Melalui makan bersama, setiap orang saling mengenal satu sama
lain, duduk bersama, meruntuhkan tembok tembok pemisah sosial antar satu dengan
yang lain.
-
Kelompok
kecil
Dalam
gereja besar, keberadaan small group sangatlah penting karena dibutuhkan
personal touch di sana. Jika hal ini dilakukan dalam skala gereja besar, unsur
sentuhan personal akan tidak efektif. Untuk itu, sebagai gereja yang hospitable
perlu bagi gereja untuk menciptakan kelompok-kelompok kecil ini dengan edukasi
tentang bagaimana sebuah kelompok kecil juga bisa berperan sebagai agen
hospitalitas dalam gereja.
-
Tindakan
rekonsiliasi
Gereja
juga perlu menjadi sarana rekonsiliasi jika disekitarnya sedang terjadi
ketegangan antar kelompok.Lebih dari itu, hal ini juga perlu sebagai tindakan
preventif terjadinya perpecahan. Hal ini juga berlaku tidak hanya dalam
kelompok masyarakat, golongan, atau politik saja, tetapi juga untuk antar
agama.
-
Penjangkauan
(outreach)
Sebagai
gereja yang hospitable, perlu memperhatikan bentuk penjangkauan bagi siapa saja
secara terbuka.Penjangkauan ini tidak saja terjadi di gereja, tetapi juga di
rumah-rumah jemaat. Hal ini meniru tindakan hospitalitas dalam prakteknya di
dalam Alkitab, bahwa praktek hospitalitas yang sesungguhnya berawal dari
rumah!
-
Persepsi
baru pada Kasih Allah yang inklusif.
Diakhir
keenam praktek yang di atas, munculah persepsi baru dalam jemaat tentang kasih
Allah yang inklusif.Bahwa kasih Allah tidak hanya dinikmati oleh golongan
tertentu saja, tetapi jauh daripada itu gereja sebagai agen hospitalitas Allah
dapat menghadirkan justice dan kasih Allah yang nyata bagi semua orang. Dengan
melakukan hal di atas, kita menjadi tamu sekaligus tuan rumah dalam komunitas
gereja. Yesus yang hadir dalam komunitas tersebut pun adalah tamu sekaligus
tuan rumah bagi kita. Apa yang dilakukan oleh kita kepada orang asing, di saat
yang sama telah melakukannya juga untuk Yesus.
[20]
2.4. Hospitalitas
dan Gereja Awal
Hospitalitas
Allah yang dinyatakan dalam Yesus yang diurapi di dalam Injil
Lukas diperluas melalui Gereja awal dalam Kisah Para Rasul oleh
kuasa Roh Kudus. Roh Kudus adalah tamu Ilahi yang telah dicurahkan Allah dalam
hati dan hidup semua umat-Nya. Roh Kudus memberdayakan dari dalam tubuh Kristus
yang diurapi untuk menjadi saksi hospitalitas Allah sampai ke ujung dunia.
Dalam Kisah Para Rasul pemberdayaan Roh Kudus kepada seseorang untuk menjadi
saksi hospitalitas Allah tampak dan sangat menonjol dalam perjalanan hidup misionaris
santo Paulus.
Selain Yesus
dan Petrus, Paulus merupakan penerima dan penyalur hospitalitas Allah. Dia
adalah orang pertama yang menerima manfaat hospitalitas Allah melalui
orang-orang yang menuntunnya, melalui Yudas, Ananias, pengikut Yesus lainnya yang
membantunya untuk melarikan dari persekongkolan musuh dan Barnabas (Kis. 9: 8,
11, 17) -19, 25, 27, 30; lih. 11: 25-26). Kemudian, selama perjalanan
misionarisnya, dia “dipegang” oleh Lidia, seorang petobat baru, untuk tinggal
di rumahnya (16: 15b), dan kemudian ketika seorang kepala penjara Filipi
merawat luka-lukanya (16: 32-34). Paulus juga adalah tamu Jason dari Tesalonika
(17: 7), Prisca, Aquilla dan Titius Justus di Korintus (18: 3, 7), Filipus
penginjil di Kaisarea (21: 8), Mnason in Yerusalem (21:16), dan murid-murid
yang tidak disebutkan namanya di Troas, Tirus, Ptolemais, dan Sidon (20: 8; 21:
4, 7; 27: 3), yang tinggal bersama Paulus dengan waktu yang berbeda-beda.[21] Kitab Kisah
Para Rasul ditutup dengan Paulus sebagai tuan rumah yamg menyambut semua orang
yang terbuka untuk menerima hospitalitas Allah (28: 23-30). Pemberian dan
penerimaan hospitalitas yang dialami Paulus juga terwujud di seluruh Gereja
abad pertama. Dalam Kisah Para Rasul adegan makan menandai rekonsiliasi orang
Yahudi, Samaria, dan bukan Yahudi, pria dan wanita, muda dan tua, budak dan
bebas (Kis. 2:17 -18) dalam kehidupan Gereja saat ini. Mereka peduli satu sama
lain dalam pembagian makanan harian (Kis. 6: 1).
2.5. Hospitalitas dan Orang Asing
Gagasan
kuno mengenai orang asing sebagai wakil Allah berbeda dengan gambaran orang
asing masa kini. Beberapa orang asing memang mengancam kita. Beberapa manusia
memiliki pengalaman seperti perkosaan, perampokan, atau ancaman-ancaman lain
akibat kekerasan orang asing. The
American Heritage Dictionary (1979) mendefinisikan orang asing sebagai “seorang yang bukan teman atau kenalan” atau
sebagai “pendatang baru, atau orang dari luar”. Orang asing bukan hanya sosok
pribadi yang belum pernah bertemu sebelumnya, melainkan juga sosok pribadi yang
kita ketahui, tetapi dianggap sebagai orang luar.pandangan orang asing yang
lazim ini tidak perlu dilihat secara negative kalau kitaa mengikuti panggilan
Tuhan untuk mencintai orang asing dan jika kita menerima konsep kuno tentang
orang asing sebagai seorang yang membawa penghiburan dan kegembiran yang
mengejutkan. Namun, kerap kali kita memilih untuk menganggap orang asing yang
tidak kita kenal atau berbeda dengan kita sebagai anncaman, sebagai orang yang
menakutkan. Sering kali hospitalitas kepada orang asing berubah menjadi
permusuhan (hostilitas). Lingkaran permusuhan itu harus diputuskan. Lingkaran
itu dapat diputuskan melalui hospitalitas.[22]
Kita
telah belajar bahwa kita harus bersedia memberi tumpangan, yaitu kita harus
mencintai orang asing, tetapi sangat sulit untuk melakukannya dan hidup dengan
cara seperti itu. Kadang-kadang kita tidak ingin memberi tumpangan karena
takut. Bukan hanya takut dengan sifat orang asing yang tak terduga, melainkan
kita takut terhadap perlakuan kita sendiri. Pada kesempatan lain, kita
ragu-ragu untuk memberi tumpangan, karena pelayanan yang mungkin amat banyak,
jika kita menerima satu orang asing, bisa jadi akan datang lebih banyak lagi.
Bahkan satu orang asing yang sungguh-sungguh membutuhkan uluran tangan kita
dapat membuat kita tertekan. Setiap orang asing, karena kita tidak mengenalnya,
mewakili tugas tugas membuka diri kita atas ide-ide baru, cara baru
berkomunikasi, dan cara baru untuk memecahkan masalah dan konflik. Orang asing
mengancam kenyamanan kita, bukan karena mereka mungkin menyakiti kita,
melainkan karena mereka memampukan kita untuk memandang dunia melalui dua
pasang mata yang berbeda-mata mereka, dan mata Allah juga. barang kali hal itu
merupakan berkat yang paling sering diberikan oleh orang asing. Menyambut orang
asing merupakan suatu sarana pertumbuhan menuju kehidupan yang utuh. Dalam
pengalaman hospitalitas baik tamu maupun tuan rumah menerima sesuatu yang
mereka butuhkan yang hanya dapat diperoleh hubungan yang unik dalam pelayanan
hospitalitas. Allah selalu lebih besar, lebih rumit daripada kita. Oleh karena
itu, kita tidak dapat bertemu Tuhan hanya dalam diri orang-orang yang kita
kenal. Selalu ada bagian dalam Allah yang baru bagi kita, suatu kejutan bagi
kita, sekaligus asing bagi kita. Kita berhubungan dengan sisi yang baru dari
Allah ketika kita berhubungan dengan orang asing.[23]
2.6. Membentuk Kembali Teologi
Hospitalitas di tengah Kemajemukan
Hospitalitas pada dasarnya adalah suatu
praktik yang harus dilakukan secara sengaja. Artinya hospitalitas adalah bagian
dari gaya hidup murid Yesus. Berkaitan dengan ini, maka Gereja seharusnya
menjadi promotor dalam mengembangkan semangat hospitalitas Allah. Menariknya,
keadaan kemanusiaan itu sebenarnya selalu bergerak dari orang asing-tamu kepada
orang asing/tamu, dan keduanya sebenarnya setara. Karena memang tidak ada
posisi dalam hidup di mana masing-masing kondisi itu permanen. Manusia selalu
bergerak dari masuk dan keluar dari situasi tersebut di mana kadang-kadang
mereka menjadi tuan rumah dan di waktu lain mereka dapat menjadi orang asing.
Hospitalitas menjadi sarana yang olehnya kewajiban moral yang sama ditunjukkan.
Jikalau hospitalitas Kristen yang
transformatif dalam gereja perdana memberikan kontribusi penting dalam
kesaksian Kristen, maka hospitalitas tetap menjadi pengikat kesaksian dalam
gereja sepanjang masa terhadap dunia sekitarnya, termasuk dalam kehidupan
gereja pada hari ini. Konteks zaman pada hari ini menunjukkan bahwa menjadi
orang percaya bukan lagi karena logika argumentasi yang sangat persuasif
semata, melainkan juga dibutuhkan suatu pengalaman disambut Allah dalam suatu
komunitas yang ramah dan penuh kasih.[24]
Dalam hal ini maka hospitalitas itu bukanlah sekadar suatu strategi sesaat,
melainkan suatu tindakan yang menyatu dalam suatu gaya hidup sepanjang masa
dalam hidupnya gereja.
Hospitalitas dalam pengertian Kristen di
tengah situasi hari ini adalah suatu hospitalitas yang ―counter-cultural. Di tengah banyaknya hostilitas, para pengungsi,
kelompok marjinal, dan tuna wisma, maka perwujudan dari tindakan hospitalitas
kristiani dalam dunia kontemporer menjadi suatu tantangan tersendiri. Itulah
sebabnya, Derrida dan Levinas, sebagaimana dikutip oleh Shepherd, menegaskan
bahwa hospitalitas itu seharusnya menjadi bagian yang nyata dari seorang
manusia. [25]
Dengan kata lain, seharusnya praktik
hospitalitas ini tidak menjauh dari manusia karena tindakan hospitalitas
menjadi unsur penting dalam membangun kemanusiaan, karena tindakan hospitalitas
menolak batasan-batasan yang dapat membahayakan kehidupan manusia akibat
pengasingan secara sosial. Justru dengan tindakan menerima, maka visi dari
suatu masyarakat secara menyeluruh dinyatakan dalam membangun suatu masyarakat
yang transformatif. Orang Samaria yang murah hati bertindak dalam keramahannya
dengan melewati batas etnik, meskipun itu menyebabkan dia harus membayar harga
dan ketidaknyamanan diri demi terselamatnya suatu kehidupan. Kala manusia
melihat sesamanya yang lain, maka sebenarnya mereka melihat gambar Allah yang
sama dan kemanusiaan yang sama, yang menjadi dasar dalam martabat dan rasa
hormat serta tali silaturahmi untuk membangun kehidupan bersama.
Perwujudan perilaku hospitalitas ini
mencakup etnik, agama, kondisi ekonomi, orientasi politik, status gender,
pengalaman sosial, latar belakang pendidikan, dan sebagainya, dengan menjadi
terbuka dan menyambut sesama. Artinya lokasi dari praktik hospitalitas ini pada
dasarnya dikaitkan dengan rumah, gereja, institusi, wilayah, ekonomi, dan
politik.[26]
Tanpa komunitas yang ramah seperti ini, dunia tentu saja tidak memiliki akses
untuk mengenal bahwa seluruh ciptaan Allah itu selayaknya hidup dalam damai.[27]
Karena itu, hospitalitas ini bukan sekadar jamuan pribadi di rumah melainkan
suatu cara hidup bersama dalam kehidupan publik, di mana hospitalitas ini
mencakup semua dimensi hidup, sehingga tubuh Kristus itu menjadi nyata kepada
dunia.[28]
Selanjutnya hospitalitas itu akan
diteruskan dalam kehidupan sehari-hari sepanjang minggu kepada sesama, orang
asing, dan bahkan musuh. Dalam konteks ini, hospitalitas itu bersifat ekonomis
dan politis (dalam pengertian secara etimologis) bahwa hospitalitas itu adalah
ungkapan memberi dan menerima yang pada akhirnya memampukan suatu rumah bersemi
dalam kasih. Karena itu dalam pengertian ekonomi, hospitalitas menjadi jiwa
yang memberikan nuansa tentang bagaimana seperangkat aturan itu mengatur
praktik kehidupan bersama dalam suatu rumah. Sedangkan secara politis,
hospitalitas itu merujuk kepada bagaimana komunitas itu diatur untuk
menghasilkan kebaikan bersama. Dalam konteks demikian, maka sebenarnya kita
sedang bermimpi kepada suatu rumah bersama di mana perbedaanperbedaan itu
disikapi dengan tindakan keramahan.[29]
Dengan membagi waktu dan ruang bagi
tamu, maka sebenarnya kita memberikan kesempatan bagi tamu untuk berbagi
kehidupan mereka. Sebagaimana Nouwen menyebutkan bahwa kita tidak akan dapat
memberi sesuatu jikalau tidak ada orang yang dapat menerima. Sesungguhnya, kita
menemukan pemberianpemberian kita di hadapan sang penerima. Seorang tuan rumah
memberikan dorongan, afirmasi, dan peneguhan daripada sekadar memberi kritik.
Sang tuan rumah bukan hanya menolong sang tamu melihat karunianya yang
tersembunyi, namun juga dapat menolong mereka mengembangkan dan memperdalam
karunia ini sehingga sang tamu dapat melanjutkan perjalanannya dengan keyakinan
diri yang sudah dibaharui.[30]
Hospitalitas membuka babak baru dalam kehidupan dan dalam perarakan bersama di
tengah perbedaan dalam dunia yang sangat rentan dengan hostilitas akibat dosa.
III.
Kesimpulan
Gereja, sebagai penerima hospitalitas
Allah, seharusnya berjalan di depan sebagai promotor tentang bagaimana
masyarakat dapat hidup bersama. Sebagai tampilan atas karya Allah, Gereja dari
dalam dirinya membangun model masyarakat seperti ini, yang tampak pertama-tama
dalam ibadah secara komunal maupun pribadi, pelayanan sosial dan usaha keras
dalam mewujudkan perdamaian. Dengan cara yang sama, institusi Kristen juga seharusnya
bekerja dengan keras ke arah visi ini dengan maksud untuk menunjukkan betapa
dalamnya Kerajaan Allah yang penuh damai. Toleransi tidak dapat berdiri sendiri
untuk membangun sebuah masyarakat yang baik. Masyarat yang baik perlu nilai
yang lebih besar karena toleransi adalah syarat minimum untuk mencapai suatu
masyarakat yang baik. Hospitalitas adalah nilai kunci tersebut karena
menciptakan ruang penerimaan, saling menghormati, dan pengenalan serta perayaan
untuk hidup bersama dalam perbedaan. Oleh karena itu, daripada toleransi,
hospitalitas adalah nilai yang utama untuk mewujudkan suatu masyarakat yang
baik dalam meghadapi kemajemukan.
IV.
Daftar Pustaka
Sumber Buku:
Bass, Diana Butler, Christianity for The Rest of Us, 2008. Dalam
Henry G. Brinton, Welcoming Congregation: Roots and Fruits of Christian
Hospitality, Westminster: John Knox Press, 2012
Brinton, Henry G., Welcoming Congregation: Roots and Fruits of
Christian Hospitality, Westminster: John Knox Press, 2012
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ke-IV, Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama, 2008
Harris, Ian M., Fashion Me A People, Louisvelle: John Knox Press, 1989
Hastings, James, Encyclopedia of Religion and Ethics Vol. VI,
New York: Charles Scribner’s Sons, 1951
Hershberger, Michele, Hospitalitas—Orang
Asing: Teman atau Ancaman?, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009
J., King Philip, & Lawrence E. Stager, Library of Ancient Israel: Life in Biblical
Israel, London: Westminster John Knox Press, 2001
Kruschwitz, Roberth B., Introduction,
Waco: Baylor University, 2007
Lempp, Walter, Tafsiran
Alkitab Perjanjial Lama Jilid 3, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989
Mulder, D.C., Tafsiran Kitab Yosua, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1990
Newman, Elizabeth, Untamed Hospitality, Waco: Baylor
University, 2007
Nouwen, Reaching Out:
The Three Movementas of the Spiritual Life, New York: Image Books Double
Day, 1986
Pohl, Christine D., Making Room, Recovering Hospitality as a
Christian Tradition, Grand Rapids: W.B. Eerdmans, 1999
Simarmata, Harun Darmawanto, Hospitalitas: Warisan Tradisi Kristen:
Meretas sebuah Model Pendidikan Kristiani bagi Kehidupan Bergereja di Dunia
yang Penuh Perbedaan, Tesis M.Th., STT Jakarta, 2010
Telushkin, Rabbi Joseph, Jewish
Literacy, USA: HarperCollins Publisher, 2001
Wrobleski, Jesica, The Limits of Hospitality, Minnesota:
Liturgical Press, 2012
Yong, Amos, Hospitality and the Other, New York, Orbis Books: 2008
Sumber Internet:
http://www.catalystresources.org/the-healthy-churchembodying-hospitality/ diakses pada 19 November 2020,
pukul 20.21 WIB.
[1] James
Hastings, Encyclopedia of Religion, (Provo,
Utah: Macmillan Publishing, 1955), 471
[2] Jesica
Wrobleski, The Limits of Hospitality, (Minnesota:
Liturgical Press, 2012),15
[3] James
Hastings, Encyclopedia of Religion and
Ethics Vol. VI, (New York: Charles Scribner’s Sons, 1951), 808
[4] Ian M.
Harris, Fashion Me A People, (Louisvelle:
John Knox Press, 1989), 87
[5] Michele
Hershberger, Hospitalitas—Orang Asing:
Teman atau Ancaman?, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 10.
[6]
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus
Besar Bahasa Indonesia Edisi Ke-IV, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,
2008), 1136-1221
[7] Harun
Darmawanto Simarmata, Hospitalitas:
Warisan Tradisi Kristen: Meretas sebuah Model Pendidikan Kristiani bagi
Kehidupan Bergereja di Dunia yang Penuh Perbedaan, (Tesis M.Th., STT
Jakarta, 2010), 37
[8] Walter
Lempp, Tafsiran Alkitab Perjanjial Lama
Jilid 3: Kejadian 12:4-15:18, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989), 201-202
[9] Rabbi
Joseph Telushkin, Jewish Literacy, (USA:
HarperCollins Publisher, 2001), 589
[10] King
Philip J. & Lawrence E. Stager, Library
of Ancient Israel: Life in Biblical Israel, (London: Westminster John Knox
Press, 2001), 62
[11] Walter
Lempp, Tafsiran Alkitab Perjanjial Lama
Jilid 3, 200-201
[12] Ibid, 204-205
[13] Ibid, 206-207
[14] Walter
Lempp, Tafsiran Alkitab Perjanjial Lama
Jilid 3, 232-239
[15] D.C.
Mulder, Tafsiran Kitab Yosua, (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1990), 22-25.
[16]
Wrobleski, Op. Cit.,15
[17] Amos Yong, Hospitality and the Other, (New
York, Orbis Books: 2008), 101
[18] Amos Yong, Hospitality and the Other, 102
[19] Diana
Butler Bass, Christianity for The Rest of
Us, 2008. Dalam Henry G. Brinton, Welcoming Congregation: Roots and Fruits of
Christian Hospitality, (Westminster: John Knox Press, 2012), 15
[20] Henry G.
Brinton, Welcoming Congregation: Roots
and Fruits of Christian Hospitality (Westminster: John Knox Press, 2012),
15
[21] Amos Yong, Hospitality and the Other, 104
[22] Michele
Hershberger, Hospitalitas-Orang Asinh:
Teman atau Amcaman, (Jakarta: Gunung Mulia, 2009), 10-12.
[23] Ibid, 38-39.
[24] http://www.catalystresources.org/the-healthy-churchembodying-hospitality/ diakses pada 19 November 2020, pukul 20.21
WIB.
[25] Ibid.
[26] Christine D. Pohl, Making
Room, Recovering Hospitality as a
Christian Tradition, (Grand Rapids: W.B. Eerdmans, 1999), 39.
[27] Roberth B. Kruschwitz, Introduction, (Waco: Baylor University, 2007), 8.
[28] Elizabeth Newman, Untamed
Hospitality, (Waco: Baylor University, 2007),
12.
[29] Ibid, 14-15.
[30] Nouwen, Reaching Out: The
Three Movementas of the Spiritual Life, (New York: Image Books Double Day,
1986), 87-88.
0 comments:
Posting Komentar