Nama : Boima Hengki Banurea
Mata Kuliah : Oikumenika
Dosen : Dr. Jan Jahaman
Damanik
John R. Mott.
Pemahaman dan
Kiprahnya Dalam Gerakan Oikumenika
I.
Pendahuluan
Arti sederhana dari Oikumenika
adalah suatu ilmu yang membahas usaha orang-orang Kristen dan yang berbeda
antar denominasi untuk menjadi esa. Untuk mewujudkan kesatuan ini dibutuhkan
gerakan. Dalam suatu gerakan pasti ada orang-orang yang memberi dirinya untuk
mengupayakan hal tersebut, hal yang dianggap perlu untuk diperjuangkan.
Berbicara tentang oikumenika akan memperkenalkan kita tentang seorang tokoh
yang memiliki peran dalam gerakan oikumenika tersebut yang juga dikenal sebagai
bapak oikumenika yaitu John R. Mott. Bagaimana pemahamannya terhadap
oikumenika, sehingga menurutnya hal ini sangat dibutuhkan, serta kiprahnya
dalam gerakan tersebut?
II.
Pembahasan
2.1.
Oikumenika
Istilah oikumene tidak terpisahkan
dari istilah Gerakan Oikumene. Hal ini diungkapkan oleh Eka Darmaputera bahwa
pemahaman oikumene hendaknya memang menjadi suatu gerakan, sebab gerakan
berarti menandakan suatu kondisi dinamis dan dalam konteks dunia yang terus
berubah.[1]
Menurut Chris Hartono, konsep kesatuan gereja di Indonesia dibicarakan dalam
terminologi oikumene. Kata ini berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni
dari kata όικος yang berarti "rumah" dan μενειν yang berarti
"mendiami", “menghuni” atau "tinggal", sehingga secara
etimologi oikumene berarti mendiami rumah atau menghuni rumah sebagai tempat
tinggal bersama.[2]
Lebih lanjut Chris Hartono menegaskan: “Dengan demikian maka, gerakan ekumenis
berarti gerakan yang bersangkut paut dengan ekumene, atau gerakan yang
bertujuan untuk mewujudkan dan menghayati keesaan gereja-gereja. Dengan
perkataan lain dapat diungkapkan bahwa gerakan ekumenis adalah usaha
gereja-gereja dalam mewujudkan keesaannya di dunia ini.[3]
Menurut Pilon, oikumene dapat dipahami sebagai: Gereja-gereja yang bersama-sama
bergumul sampai mencapai keesaan Injili dan yang terlihat melalui sikapnya,
kegiatannya dan aktifitasnya mau membuktikan keesaan yang asasi ini di dalam
dunia dan pada konteks masa kini.[4]
Dari pemahaman Gerakan Oikumene yang disampaikan oleh kedua tokoh di atas,
nampak bahwa Gerakan Oikumene adalah upaya yang dilakukan oleh gereja-gereja
dalam mewujudkan kesatuannya, namun tidak dalam arti sempit hanya berkutat pada
persoalan gereja.[5]
Tetapi Oikumene adalah suatu sikap iman yang
mendorong gereja-gereja untuk berjalan bersama-sama pada satu jalan dan arah
yang sama.[6]
Perintis Gerakan Oikumene adalah John R. Mott yang merupakan pendiri Badan Misi
Dunia.[7]
2.2.
John R. Mott
John Raleigh Mott (25 Mei 1865-31
Januari 1955) lahir di Livingston Manor, New York, anak ketiga dan putra
tunggal diantara empat anak.[8] Ayahnya bernama John Stitt Mott dan ibunya bernama Elmira
Dogde. Ayah John Mott bekerja sebagai pedagang kayu dan John Mott biasa
membantu ayahnya dalam usaha tersebut.[9]
Dalam pemilihan Walikota, ayahnya terpilih sebagai walikota pertama di Postville, Iowa.[10] Pada tahun 1881 Mott belajar pada Upper Iowa University
selama 4 tahun. Sekolah ini adalah milik Gereja Metodis sehingga proses
belajar-mengajarnya diwarnai oleh kekristenan setelah itu Mott melanjutkan
studinya ke Universitas Cornell pada tahun 1885. Di sinilah Mott memulai
kegiatan pekabaran Injil.[11]
Mott dikenal juga sebagai tokoh ekumene dunia karena turut
berperan dalam pembentukan "Dewan Gereja se-Dunia"
(World Church Organization).[12]
Dia adalah seorang mahasiswa yang antusias
sejarah dan literatur di sana dan pemenang hadiah di berdebat dan pidato, Pada
saat ia berpikir tentang pekerjaan hidupnya sebagai pilihan antara hukum dan
bisnis kayu ayahnya, tetapi ia berubah pikiran setelah mendengar ceramah oleh
J. Kynaston Studd pada 14 Januari 1886. Tiga kalimat dalam pidato Studd,
katanya, mendorong pelayanan seumur hidupnya untuk menyajikan Kristus kepada
para siswa: “apakah engkau mencari hal besar untuk dirimu sendiri? Jangan cari
mereka. Carilah dahulu kerajaan Allah”.[13] Pada tahun 1888 ia menyelesaikan studinya di Cornell.
Pada waktu dibukanya cabang YMCA (The Young Men’s Christian Association), Mott sudah melibatkan diri dalam organisasi oikumenis
ini.[14]
Pada musim panas 1886, Mott mewakili YMCA Universitas Cornell pada
konferensi Kristen antar denominasi internasional pertama yang pernah diadakan.
Pada konferensi itu, yang mengumpulkan 251 orang dari 89 perguruan tinggi dan
Universitas, 100 orang termasuk Mott berjanji untuk bekerja dalam misi asing.
Dari ini, dua tahun kemudian, melompat gerakan relawan mahasiswa untuk misi
luar negeri. Ia lulus pada 1888, anggota Phi Beta Kappa, dengan gelar sarjana
dalam bidang filsafat dan sejarah. Ia mulai melayani dua puluh tujuh tahun
sebagai Sekretaris Nasional Intercollegiate YMCA dari Amerika Serikat dan
Kanada, posisi yang membutuhkan kunjungan ke perguruan tinggi untuk berbicara
kepada siswa mengenai kegiatan Kristen. Selama periode ini, dia juga Ketua
Komite Eksekutif gerakan sukarelawan siswa untuk misi luar negeri, pejabat
ketua konferensi misionaris dunia di Edinburgh pada 1910, Ketua Dewan
misionaris internasional. Dengan Karl Fries dari Swedia, ia mengorganisir World's
Student Christian Federation (WSCF) di 1895 dan sebagai sekretaris umum pergi
pada dua tahun tour dunia, di mana ia mengorganisir gerakan mahasiswa nasional
di India, Cina, Jepang, Australia, Selandia Baru, bagian dari Eropa dan Timur
laut. Untuk YMCA ia terus kontak internasional sebagai keadaan diperbolehkan
dan membantu untuk melakukan pekerjaan bantuan bagi tahanan perang di berbagai
negara. Dia telah menolak tawaran Presiden Wilson sebagai Duta besar ke Cina,
namun ia bertugas di 1916 sebagai anggota Komisi Meksiko, dan pada 1917 sebagai
anggota misi diplomatik khusus ke Rusia. Dr. Mott menikahi Leila ada White dari
Wooster, Ohio, pada 1891; mereka memiliki empat anak, dua putra dan dua putri.
Dia meninggal di rumahnya di Orlando, Florida, pada usia 89.[15]
2.3.
Pemahaman
dan Kiprah John R. Mott Dalam Oikumenika
Tahun 1886, Mott menjadi Ketua
Student Christian Movement di Cornell. Dia bekerja keras untuk menjalankan
kegiatan-kegiatan gerakan ini di Cornell. Dari sinilah Mott belajar untuk
mengumpulkan mahasiswa dari berbagai denominasi. Dia berkata: "Kita harus
awas! Jangan kita menyangka bahwa gereja kita sendiri adalah satu-satunya
gereja. Kita harus selalu menghormati semua cabang dari gereja yang Kudus dan am." Setelah
konferensi itu bubar, maka dibentuklah Komisi Penerus (Continuation Committee)
yang diketuai oleh Mott hingga tahun 1920. Tokoh Mott tidak dapat dilepaskan
dari Dewan Pekabaran Injil International (International Missionary Council)
yang dibentuk pada 1920. Mott menjadi ketua dewan ini hingga tahun 1942. Selama
Perang Dunia I (1914-1918) Mott bersama anggota YMCA melayani pemuda-pemuda
yang masuk tentara serta melayani para tawanan perang. Karena pekerjaan
pelayanannya selama Perang Dunia I, maka pemerintah Amerika Serikat
menghadiahkan kepadanya medali kehormatan.[16]
John Mott
yang terlibat dalam Student Volunteer Movement For Foreign Missions, sebuah
organisasi awam untuk pekabaran Injil. Di sana dia memperkembangkan semboyan
yang juga sangat menentukan Edinburgh mengenai “the Evangelization of the world
in this generation” penginjilan dunia dalam generasi ini.[17]
Sebagai pendiri WFCS (Federasi Mahasiswa Kristen Sedunia) sehingga memiliki
banyak kunjungan, John Mott dapat mengenal pekerjaan Pekabaran Injil di
berbagai tempat.[18]
Namun, John R. Mott dan
rekan-rekannya sadar bahwa karya misi yang efektif membutuhkan kerja sama dan
kesatuan gereja dan mungkin kesatuan gereja membutuhkan pekerjaan misi. Gerakan
Relawan Mahasiswa yang dipimpin Mott menghasilkan aktivitas misi seperti
pusaran angin. Misi tersebut beroperasi melintasi garis-garis denominasi. Pada
tahun 1910, International Missionary Conference (Konferensi Pekabaran Injil
Internasional), bertemu di Edinburgh untuk merencanakan strategi-strategi bagi
penginjilan dunia. Hal ini umumnya dianggap sebagai awal gerakan oikumene.
Dengan John R. Mott sebagai penggerak utama, keseribu delegasi tersebut
menggerakkan dua organisasi Faith and Order Movement (Gerakan Iman dan Tata
Ibadah) “untuk isu-isu doctrinal” dan Life and Work Movement (Gerakan Kehidupan
dan Karya) “bagi misi dan pelayanan”. Life and Work Movement bertemu di Stockholm
pada tahun 1925 untuk mendiskusikan hubungan kekristenan dengan masyarakat,
politik dan ekonomi. Dua tahun kemudian Faith and Order Movement bertemu di
Lausanne, mengupayakan tugas sulit dalam merencanakan kesatuan ajaran. Pada
tahun 1937, dengan pertemuan secara terpisah di Oxford dan Edinburgh, kedua
organisasi ini memilih untuk bergabung. Para pemimpin gereja bertemu di
Utrecht, pada tahun 1938, untuk menyusun sebuah konstitusi. Namun, Perang Dunia
II mencegah langkah maju gereja-gereja dengan rencananya tersebut. [19]
Setelah perang usai, bagaimanapun
juga ada rasa kesatuan yang lebih besar ketika gereja-gereja di seluruh dunia
berupaya memulihkan keadaan. Pertemuan di Amsterdam pada tahun 1948 akhirnya
menyatukan kedua badan terdahulu itu menjadi World Council of Churches (WCC)
[Dewan Gereja-gereja se-Dunia]. Terdapat 135 badan-badan gereja yang terwakili
dari empat puluh negara. Menggambarkan dirinya sebagai "persekutuan
gereja-gereja yang menerima Yesus Kristus Tuhan kita sebagai Allah dan Juruselamat",
WCC mengajak gereja-gereja bekerja sama, belajar bersama, bersekutu bersama,
berbakti bersama, dan bertemu bersama dalam konferensi khusus dari waktu ke
waktu. WCC merupakan organisasi dunia yang aktif dan berpengaruh. Kenneth Scott
Latourette menyebutnya "badan paling inklusif yang pernah dimiliki agama
Kristen". Banyak orang Kristen konservatif menyerang sikap
"revolusioner" WCC. Cara-cara baru untuk bekerja sama dan bersatu
sebagai orang-orang Kristen sedang ditemukan dan diimplementasikan. Doa Yesus
"agar mereka menjadi satu" (Yohanes 17:21) masih harus dijawab
sepenuhnya.[20]
Usaha dari John Mott untuk
mengupayakan kesatuan gereja dirintisnya sejak awal, Pada bulan Agustus 1895 di
Wettern, ia mendirikan World Student Christian Federation (WSCF). Cita-cita
dari didirikannya organisasi ini adalah mengusahakan terciptanya kesetaraan
antara sesama, dengan menghilangkan berbagai bentuk diskriminasi yang ada, juga
ia memiliki visi dan harapan akan persatuan sebagai tubuh Kristus. Cita-cita
WSCF ini tercermin dalam mottonya yang berbunyi “UT OMNES UNUM SINT” atau
“Itu semua menjadi satu”. Pada tahun
1948 Mott adalah salah seorang pemenang Hadiah Nobel perdamaian.[21]
Jumlah karya Mott membuat catatan
yang mengesankan: ia menjadi ketua konferensi yang tak terhitung jumlahnya. Di
antara penghargaan kehormatan yang diterimanya adalah: dekorasi dari Cina,
Cekoslovakia, Finlandia, Perancis, Yunani, Hungaria, Italia, Jepang, Yerusalem,
Polandia, Portugal, Siam, Swedia, dan Amerika Serikat; enam gelar kehormatan
dari Universitas dari Brown, Edinburgh, Princeton, Toronto, Yale, dan Upper
Iowa; dan gelar kehormatan dari Gereja Ortodoks Rusia di Paris.[22] Pada waktu dibentuknya Dewan
Gereja-gereja sedunia, di Amsterdam 1948, Mott diangkat sebagai ketua
kehormatan. Jabatan ini dipegangnya hingga dia meninggal dunia pada 31 Januari
1955.[23]
2.4.
Kiprah John R. Mott di Indonesia
Dalam sejarah pergerakan oikumene di
Indonesia nama Mott perlu dicatat pula. John Mott mengunjungi Indonesia pada 1926.
Di sini dia memberikan rangsangan yang sangat berarti bagi kegiatan Gerakan
Mahasiswa Kristen di Hindia-Belanda. Organisasi-organisasi seperti YMCA,
kemudian GMKI dan DGI dengan Komisi Pekabaran Injilnya berakar dari pekerjaan
John R. Mott. Walaupun John R. Mott hanya tercatat sebagai seorang anggota
gereja biasa yang tidak belajar teologi secara formal, akan tetapi dia sangat
berjasa bagi gereja di dunia. Dia orang yang selalu optimis dan dinamis.
Semboyannya yang terkenal adalah: "Biarlah mereka maju. Tahun-tahun yang
terbaik masih di hadapan kita.[24]
Beliau
memberikan perhatian besar kepada Asia dan melakukan beberapa kali kunjungan ke
sana untuk menyebarkan paham Oikumene dan menghidupkan aktivitas persekutuan
dan pendalaman Alkitab di tengah mahasiswa Kristen Asia. Beliau juga hadir
sebagai keynote speaker pada tahun 1933 saat konferensi Pemuda Kristen se-Asia
Tenggara yang diadakan di Citeureup, Bogor dengan panitia pelaksana adalah
mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Christelijk Studenten Veregning op
Java (CSV op Java, cikal bakal GMKI).[25]
Pada tanggal 22 Agustus 1948
diadakan pembentukan DGD di Amsterdam, yang merupakan penggabungan dari Gerakan
Life and Work dan Gerakan Faith and Order. DGD (Dewan Gereja-gereja Sedunia)
yang merupakan hasil dari Gerakan Oikumene, memberikan suatu perkembangan yang
baru bagi Gerakan Oikumene. Sebagai realisasi di Indonesia, pada tanggal 6-13
Nopember 1949 diadakan konferensi persiapan pembentukan DGI di Jakarta; dan
akhirnya pada tanggal 25 Mei 1950 terbentuklah DGI (setelah SR X th. 1984
di Ambon, berubah nama menjadi PGI), yang juga merupakan hasil dari gerakan
Oikumene. Dan selanjutnya PGI menjadi motivator utama bagi gerakan Oikumene di
Indonesia.[26]
Dewan gereja-gereja di Indonesia memiliki dasar keesaan dari Alkitab. Keesaan
itu mutlak pada kesaksian dan pelayanan Gereja “supaya mereka semua menjadi satu sama
seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar
mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus
Aku” (Yoh. 17:21)[27]
III.
Kesimpulan
John R. Mott tokoh Oikumene yang
berperan penting dalam terwujudnya suatu wadah yang mempersatukan Gereja-gereja
antar denominasi menjadi esa atau bersatu. Dalam pengalaman hidupnya yang harus
menentukan apakah dia akan mengejar pekerjaan duniawi atau menghidupi panggilan
Allah. Serta belajar dari pengalaman bagaimana John R Mott melihat perpecahan
akibat dari pekabaran Injil sehingga terpanggil untuk mengubah keadaan
tersebut. Pilihan untuk menghidupi pangggilan Allah dengan memperjuangkan
kesatuan, yang memulai dari mengajari pemuda para mahasiswa (YMCA) dan
memberitakan Injil ke penjara-penjara hingga membuat suatu wadah untuk kesatuan
tersebut dengan membentuk World Council of Churches (WCC) [Dewan Gereja-gereja se-Dunia].
Peraih Nobel perdamaian dan menjadi ketua DGD serta dia memperhatiakan Asia dan
terus berkarya sampai di Indonesia melalui pemuda sehingga di Indonesia juga
mulai membentuk GMKI. Pengaruh yang luar biasa di ciptakan untuk menjawab/menghidupi
panggilan Tuhan yaitu doa syafaat Yesus "agar mereka menjadi satu"
(Yohanes 17:21).
IV.
Daftar
Pustaka
A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang,
& Randy Petersen, 100 Peristiwa
Penting Dalam Sejarah, Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2003.
Antone,
Hope S., “Introduction” dalam Idem,
Living In Oikumene. Hongkong: CCA, 2003.
Darmaputera,
Eka, Berbeda Tapi Bersatu: Bacaan Praktis
untuk pimpinan dan warga jemaat mengenai
Oikoumene, Jakarta: BPK GM, 1974.
F, Ukur, Cooley, F.L., Jerih
dan Juang, Jakarta: BPK, 1979.
Fisher,
Galen M., John R. Mott Architect of Cooperation and Unity, New York:
Association Press, 1953.
Goodall, Norman, The
Ecumenical Movement, London: Oxford University Press, 1966.
Hartono,
Chris, Gerakan Ekumenis di Indonesia,
Yogyakarta: PPIP UKDW, 1984.
Hartono,
Chris, Pemaknaan Oikoumene: Perkembangan
Pemaknaan Oikoumene dalam Tradisi, Jakarta: t, p, 2009.
Jonge,
Christiaan De., Menuju Keesaan Gereja,
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.
Marantika,
Simon, Ekumene Dalam Pembangunan
Bangsa-Bangsa, Jakarta: Sinar Harapan, 1983.
Pilon, P.K., Ut Omnes Unum Sint: Oikumenika, Bagian Sejarah, Jakarta: BPK GM,
1973.
Wellem,
F. D., Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh
Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia,
1999.
Sumber Internet:
http://id.wikipedia.org/wiki/Federasi_Mahasiswa_Kristen_se-Dunia
diakses pada 07 September 2019 pada
pukul 08:30 WIB.
http://moseschristiant.blogspot.com/2013/04/john-r-mott-bapak-oikumene-dunia.html
diakses pada 5 September 2019, pukul 09:52 WIB.
[1]
Eka Darmaputera, Berbeda Tapi Bersatu:
Bacaan Praktis untuk pimpinan dan warga jemaat mengenai Oikoumene (Jakarta:
BPK GM, 1974), 35.
[2]
Chris Hartono, Pemaknaan Oikumene:
Perkembangan Pemaknaan Oikoumene dalam Tradisi (Yogyakarta: t, p, 2009), 1.
[3]
Chris Hartono, Gerakan Ekumenis di
Indonesia (Yogyakarta: PPIP UKDW, 1984), 2.
[4]
P.K. Pilon, Ut Omnes Unum Sint:
Oikumenika, Bagian Sejarah (Jakarta: BPK GM, 1973),13.
[5]
Hope S. Antone, “Introduction” Idem,
Living In Oikumene (Hongkong: CCA, 2003), 5.
[6]
Eka Darmaputera, Berbeda tapi bersatu,
53.
[7]
Norman Goodall, The Ecumenical Movement
(London: Oxford University Press, 1966), 4.
[8]
Galen M. Fisher, John R. Mott Architect of Cooperation and Unity (New
York: Association Press, 1953), 367.
[9]
F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh
dalam Sejarah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987), 187.
[10]
Galen M. Fisher, John R. Mott Architect of Cooperation and Unity, 367.
[11]
F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam
Sejarah Gereja, 187.
[12]
A. Kenneth Curtis, dkk, 100 Peristiwa Penting
dalam Sejarah Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003) 161-162.
[13]
Galen M. Fisher, John R. Mott Architect of Cooperation and Unity, 367.
[14]
F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh
dalam Sejarah Gereja, 188.
[15]
Galen M. Fisher, John R. Mott Architect of Cooperation and Unity,
367-368.
[16]F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat
Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja, 187-189.
[17] Christiaan De Jonge, Menuju Keesaan Gereja (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1996), 9.
[18] Simon Marantika, Ekumene Dalam Pembangunan Bangsa-Bangsa
(Jakarta: Sinar Harapan, 1983), 25-26.
[19]
A. Kenneth Curtis, dkk, 100 Peristiwa Penting
dalam Sejarah Kristen,
160-162.
[20]
A. Kenneth Curtis, dkk, 100 Peristiwa Penting
dalam Sejarah Kristen,
160-162.
[21]
http://moseschristiant.blogspot.com/2013/04/john-r-mott-bapak-oikumene-dunia.html
diakses pada 5 September 2019, pukul 09:52 WIB.
[22]
Galen M. Fisher, John R. Mott Architect of Cooperation and Unity, 367-368.
[23]
F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh
dalam Sejarah Gereja, 187-189.
[24]
F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh
dalam Sejarah Gereja, 187-189.
[25]
http://id.wikipedia.org/wiki/Federasi_Mahasiswa_Kristen_se-Dunia diakses pada 07 September 2019 pada pukul 08:30
WIB.
[26]
F. Ukur, F.L. Cooley, Jerih dan Juang
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1979), 571-572.
[27] Simon Marantika, Ekumene Dalam Pembangunan Bangsa-Bangsa,
39.
0 comments:
Posting Komentar