Just another free Blogger theme

Sabtu, 17 Juli 2021

 

Nama                          : Boima Hengki Banurea                                                     

Mata Kuliah              : Oikumenika

Dosen                          : Dr. Jan Jahaman Damanik                                 

John R. Mott. 

Pemahaman dan Kiprahnya Dalam Gerakan Oikumenika

I.                   Pendahuluan

            Arti sederhana dari Oikumenika adalah suatu ilmu yang membahas usaha orang-orang Kristen dan yang berbeda antar denominasi untuk menjadi esa. Untuk mewujudkan kesatuan ini dibutuhkan gerakan. Dalam suatu gerakan pasti ada orang-orang yang memberi dirinya untuk mengupayakan hal tersebut, hal yang dianggap perlu untuk diperjuangkan. Berbicara tentang oikumenika akan memperkenalkan kita tentang seorang tokoh yang memiliki peran dalam gerakan oikumenika tersebut yang juga dikenal sebagai bapak oikumenika yaitu John R. Mott. Bagaimana pemahamannya terhadap oikumenika, sehingga menurutnya hal ini sangat dibutuhkan, serta kiprahnya dalam gerakan tersebut?

II.                Pembahasan

2.1.      Oikumenika

            Istilah oikumene tidak terpisahkan dari istilah Gerakan Oikumene. Hal ini diungkapkan oleh Eka Darmaputera bahwa pemahaman oikumene hendaknya memang menjadi suatu gerakan, sebab gerakan berarti menandakan suatu kondisi dinamis dan dalam konteks dunia yang terus berubah.[1] Menurut Chris Hartono, konsep kesatuan gereja di Indonesia dibicarakan dalam terminologi oikumene. Kata ini berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni dari kata όικος yang berarti "rumah" dan μενειν yang berarti "mendiami", “menghuni” atau "tinggal", sehingga secara etimologi oikumene berarti mendiami rumah atau menghuni rumah sebagai tempat tinggal bersama.[2] Lebih lanjut Chris Hartono menegaskan: “Dengan demikian maka, gerakan ekumenis berarti gerakan yang bersangkut paut dengan ekumene, atau gerakan yang bertujuan untuk mewujudkan dan menghayati keesaan gereja-gereja. Dengan perkataan lain dapat diungkapkan bahwa gerakan ekumenis adalah usaha gereja-gereja dalam mewujudkan keesaannya di dunia ini.[3] Menurut Pilon, oikumene dapat dipahami sebagai: Gereja-gereja yang bersama-sama bergumul sampai mencapai keesaan Injili dan yang terlihat melalui sikapnya, kegiatannya dan aktifitasnya mau membuktikan keesaan yang asasi ini di dalam dunia dan pada konteks masa kini.[4] Dari pemahaman Gerakan Oikumene yang disampaikan oleh kedua tokoh di atas, nampak bahwa Gerakan Oikumene adalah upaya yang dilakukan oleh gereja-gereja dalam mewujudkan kesatuannya, namun tidak dalam arti sempit hanya berkutat pada persoalan gereja.[5] Tetapi Oikumene adalah suatu sikap iman yang mendorong gereja-gereja untuk berjalan bersama-sama pada satu jalan dan arah yang sama.[6] Perintis Gerakan Oikumene adalah John R. Mott yang merupakan pendiri Badan Misi Dunia.[7]

2.2.       John R. Mott

            John Raleigh Mott (25 Mei 1865-31 Januari 1955) lahir di Livingston Manor, New York, anak ketiga dan putra tunggal diantara empat anak.[8] Ayahnya bernama John Stitt Mott dan ibunya bernama Elmira Dogde. Ayah John Mott bekerja sebagai pedagang kayu dan John Mott biasa membantu ayahnya dalam usaha tersebut.[9] Dalam pemilihan Walikota, ayahnya terpilih sebagai walikota pertama di Postville, Iowa.[10] Pada tahun 1881 Mott belajar pada Upper Iowa University selama 4 tahun. Sekolah ini adalah milik Gereja Metodis sehingga proses belajar-mengajarnya diwarnai oleh kekristenan setelah itu Mott melanjutkan studinya ke Universitas Cornell pada tahun 1885. Di sinilah Mott memulai kegiatan pekabaran Injil.[11]  Mott dikenal juga sebagai tokoh ekumene dunia karena turut berperan dalam pembentukan "Dewan Gereja se-Dunia" (World Church Organization).[12]

            Dia adalah seorang mahasiswa yang antusias sejarah dan literatur di sana dan pemenang hadiah di berdebat dan pidato, Pada saat ia berpikir tentang pekerjaan hidupnya sebagai pilihan antara hukum dan bisnis kayu ayahnya, tetapi ia berubah pikiran setelah mendengar ceramah oleh J. Kynaston Studd pada 14 Januari 1886. Tiga kalimat dalam pidato Studd, katanya, mendorong pelayanan seumur hidupnya untuk menyajikan Kristus kepada para siswa: “apakah engkau mencari hal besar untuk dirimu sendiri? Jangan cari mereka. Carilah dahulu kerajaan Allah”.[13] Pada tahun 1888 ia menyelesaikan studinya di Cornell. Pada waktu dibukanya cabang YMCA (The Young Men’s Christian Association), Mott sudah melibatkan diri dalam organisasi oikumenis ini.[14] Pada musim panas 1886, Mott mewakili YMCA Universitas Cornell pada konferensi Kristen antar denominasi internasional pertama yang pernah diadakan. Pada konferensi itu, yang mengumpulkan 251 orang dari 89 perguruan tinggi dan Universitas, 100 orang termasuk Mott berjanji untuk bekerja dalam misi asing. Dari ini, dua tahun kemudian, melompat gerakan relawan mahasiswa untuk misi luar negeri. Ia lulus pada 1888, anggota Phi Beta Kappa, dengan gelar sarjana dalam bidang filsafat dan sejarah. Ia mulai melayani dua puluh tujuh tahun sebagai Sekretaris Nasional Intercollegiate YMCA dari Amerika Serikat dan Kanada, posisi yang membutuhkan kunjungan ke perguruan tinggi untuk berbicara kepada siswa mengenai kegiatan Kristen. Selama periode ini, dia juga Ketua Komite Eksekutif gerakan sukarelawan siswa untuk misi luar negeri, pejabat ketua konferensi misionaris dunia di Edinburgh pada 1910, Ketua Dewan misionaris internasional. Dengan Karl Fries dari Swedia, ia mengorganisir World's Student Christian Federation (WSCF) di 1895 dan sebagai sekretaris umum pergi pada dua tahun tour dunia, di mana ia mengorganisir gerakan mahasiswa nasional di India, Cina, Jepang, Australia, Selandia Baru, bagian dari Eropa dan Timur laut. Untuk YMCA ia terus kontak internasional sebagai keadaan diperbolehkan dan membantu untuk melakukan pekerjaan bantuan bagi tahanan perang di berbagai negara. Dia telah menolak tawaran Presiden Wilson sebagai Duta besar ke Cina, namun ia bertugas di 1916 sebagai anggota Komisi Meksiko, dan pada 1917 sebagai anggota misi diplomatik khusus ke Rusia. Dr. Mott menikahi Leila ada White dari Wooster, Ohio, pada 1891; mereka memiliki empat anak, dua putra dan dua putri. Dia meninggal di rumahnya di Orlando, Florida, pada usia 89.[15]

2.3.      Pemahaman dan Kiprah John R. Mott Dalam Oikumenika

            Tahun 1886, Mott menjadi Ketua Student Christian Movement di Cornell. Dia bekerja keras untuk menjalankan kegiatan-kegiatan gerakan ini di Cornell. Dari sinilah Mott belajar untuk mengumpulkan mahasiswa dari berbagai denominasi. Dia berkata: "Kita harus awas! Jangan kita menyangka bahwa gereja kita sendiri adalah satu-satunya gereja. Kita harus selalu menghormati semua cabang dari gereja yang Kudus dan am." Setelah konferensi itu bubar, maka dibentuklah Komisi Penerus (Continuation Committee) yang diketuai oleh Mott hingga tahun 1920. Tokoh Mott tidak dapat dilepaskan dari Dewan Pekabaran Injil International (International Missionary Council) yang dibentuk pada 1920. Mott menjadi ketua dewan ini hingga tahun 1942. Selama Perang Dunia I (1914-1918) Mott bersama anggota YMCA melayani pemuda-pemuda yang masuk tentara serta melayani para tawanan perang. Karena pekerjaan pelayanannya selama Perang Dunia I, maka pemerintah Amerika Serikat menghadiahkan kepadanya medali kehormatan.[16]

            John Mott yang terlibat dalam Student Volunteer Movement For Foreign Missions, sebuah organisasi awam untuk pekabaran Injil. Di sana dia memperkembangkan semboyan yang juga sangat menentukan Edinburgh mengenai “the Evangelization of the world in this generation” penginjilan dunia dalam generasi ini.[17] Sebagai pendiri WFCS (Federasi Mahasiswa Kristen Sedunia) sehingga memiliki banyak kunjungan, John Mott dapat mengenal pekerjaan Pekabaran Injil di berbagai tempat.[18]

            Namun, John R. Mott dan rekan-rekannya sadar bahwa karya misi yang efektif membutuhkan kerja sama dan kesatuan gereja dan mungkin kesatuan gereja membutuhkan pekerjaan misi. Gerakan Relawan Mahasiswa yang dipimpin Mott menghasilkan aktivitas misi seperti pusaran angin. Misi tersebut beroperasi melintasi garis-garis denominasi. Pada tahun 1910, International Missionary Conference (Konferensi Pekabaran Injil Internasional), bertemu di Edinburgh untuk merencanakan strategi-strategi bagi penginjilan dunia. Hal ini umumnya dianggap sebagai awal gerakan oikumene. Dengan John R. Mott sebagai penggerak utama, keseribu delegasi tersebut menggerakkan dua organisasi Faith and Order Movement (Gerakan Iman dan Tata Ibadah) “untuk isu-isu doctrinal” dan Life and Work Movement (Gerakan Kehidupan dan Karya) “bagi misi dan pelayanan”. Life and Work Movement bertemu di Stockholm pada tahun 1925 untuk mendiskusikan hubungan kekristenan dengan masyarakat, politik dan ekonomi. Dua tahun kemudian Faith and Order Movement bertemu di Lausanne, mengupayakan tugas sulit dalam merencanakan kesatuan ajaran. Pada tahun 1937, dengan pertemuan secara terpisah di Oxford dan Edinburgh, kedua organisasi ini memilih untuk bergabung. Para pemimpin gereja bertemu di Utrecht, pada tahun 1938, untuk menyusun sebuah konstitusi. Namun, Perang Dunia II mencegah langkah maju gereja-gereja dengan rencananya tersebut. [19]

            Setelah perang usai, bagaimanapun juga ada rasa kesatuan yang lebih besar ketika gereja-gereja di seluruh dunia berupaya memulihkan keadaan. Pertemuan di Amsterdam pada tahun 1948 akhirnya menyatukan kedua badan terdahulu itu menjadi World Council of Churches (WCC) [Dewan Gereja-gereja se-Dunia]. Terdapat 135 badan-badan gereja yang terwakili dari empat puluh negara. Menggambarkan dirinya sebagai "persekutuan gereja-gereja yang menerima Yesus Kristus Tuhan kita sebagai Allah dan Juruselamat", WCC mengajak gereja-gereja bekerja sama, belajar bersama, bersekutu bersama, berbakti bersama, dan bertemu bersama dalam konferensi khusus dari waktu ke waktu. WCC merupakan organisasi dunia yang aktif dan berpengaruh. Kenneth Scott Latourette menyebutnya "badan paling inklusif yang pernah dimiliki agama Kristen". Banyak orang Kristen konservatif menyerang sikap "revolusioner" WCC. Cara-cara baru untuk bekerja sama dan bersatu sebagai orang-orang Kristen sedang ditemukan dan diimplementasikan. Doa Yesus "agar mereka menjadi satu" (Yohanes 17:21) masih harus dijawab sepenuhnya.[20]

            Usaha dari John Mott untuk mengupayakan kesatuan gereja dirintisnya sejak awal, Pada bulan Agustus 1895 di Wettern, ia mendirikan World Student Christian Federation (WSCF). Cita-cita dari didirikannya organisasi ini adalah mengusahakan terciptanya kesetaraan antara sesama, dengan menghilangkan berbagai bentuk diskriminasi yang ada, juga ia memiliki visi dan harapan akan persatuan sebagai tubuh Kristus. Cita-cita WSCF ini tercermin dalam mottonya yang berbunyi “UT OMNES UNUM SINT” atau “Itu semua menjadi satu”. Pada tahun 1948 Mott adalah salah seorang pemenang Hadiah Nobel perdamaian.[21]

            Jumlah karya Mott membuat catatan yang mengesankan: ia menjadi ketua konferensi yang tak terhitung jumlahnya. Di antara penghargaan kehormatan yang diterimanya adalah: dekorasi dari Cina, Cekoslovakia, Finlandia, Perancis, Yunani, Hungaria, Italia, Jepang, Yerusalem, Polandia, Portugal, Siam, Swedia, dan Amerika Serikat; enam gelar kehormatan dari Universitas dari Brown, Edinburgh, Princeton, Toronto, Yale, dan Upper Iowa; dan gelar kehormatan dari Gereja Ortodoks Rusia di Paris.[22] Pada waktu dibentuknya Dewan Gereja-gereja sedunia, di Amsterdam 1948, Mott diangkat sebagai ketua kehormatan. Jabatan ini dipegangnya hingga dia meninggal dunia pada 31 Januari 1955.[23]

2.4.       Kiprah John R. Mott di Indonesia

            Dalam sejarah pergerakan oikumene di Indonesia nama Mott perlu dicatat pula. John Mott mengunjungi Indonesia pada 1926. Di sini dia memberikan rangsangan yang sangat berarti bagi kegiatan Gerakan Mahasiswa Kristen di Hindia-Belanda. Organisasi-organisasi seperti YMCA, kemudian GMKI dan DGI dengan Komisi Pekabaran Injilnya berakar dari pekerjaan John R. Mott. Walaupun John R. Mott hanya tercatat sebagai seorang anggota gereja biasa yang tidak belajar teologi secara formal, akan tetapi dia sangat berjasa bagi gereja di dunia. Dia orang yang selalu optimis dan dinamis. Semboyannya yang terkenal adalah: "Biarlah mereka maju. Tahun-tahun yang terbaik masih di hadapan kita.[24]

            Beliau memberikan perhatian besar kepada Asia dan melakukan beberapa kali kunjungan ke sana untuk menyebarkan paham Oikumene dan menghidupkan aktivitas persekutuan dan pendalaman Alkitab di tengah mahasiswa Kristen Asia. Beliau juga hadir sebagai keynote speaker pada tahun 1933 saat konferensi Pemuda Kristen se-Asia Tenggara yang diadakan di Citeureup, Bogor dengan panitia pelaksana adalah mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Christelijk Studenten Veregning op Java (CSV op Java, cikal bakal GMKI).[25]

            Pada tanggal 22 Agustus 1948 diadakan pembentukan DGD di Amsterdam, yang merupakan penggabungan dari Gerakan Life and Work dan Gerakan Faith and Order. DGD (Dewan Gereja-gereja Sedunia) yang merupakan hasil dari Gerakan Oikumene, memberikan suatu perkembangan yang baru bagi Gerakan Oikumene. Sebagai realisasi di Indonesia, pada tanggal 6-13 Nopember 1949 diadakan konferensi persiapan pembentukan DGI di Jakarta; dan akhirnya pada tanggal 25 Mei 1950 terbentuklah DGI (setelah SR X th. 1984 di Ambon, berubah nama menjadi PGI), yang juga merupakan hasil dari gerakan Oikumene. Dan selanjutnya PGI menjadi motivator utama bagi gerakan Oikumene di Indonesia.[26] Dewan gereja-gereja di Indonesia memiliki dasar keesaan dari Alkitab. Keesaan itu mutlak pada kesaksian dan pelayanan Gereja “supaya mereka semua menjadi satu sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh. 17:21)[27]

III.             Kesimpulan

            John R. Mott tokoh Oikumene yang berperan penting dalam terwujudnya suatu wadah yang mempersatukan Gereja-gereja antar denominasi menjadi esa atau bersatu. Dalam pengalaman hidupnya yang harus menentukan apakah dia akan mengejar pekerjaan duniawi atau menghidupi panggilan Allah. Serta belajar dari pengalaman bagaimana John R Mott melihat perpecahan akibat dari pekabaran Injil sehingga terpanggil untuk mengubah keadaan tersebut. Pilihan untuk menghidupi pangggilan Allah dengan memperjuangkan kesatuan, yang memulai dari mengajari pemuda para mahasiswa (YMCA) dan memberitakan Injil ke penjara-penjara hingga membuat suatu wadah untuk kesatuan tersebut dengan membentuk World Council of Churches (WCC) [Dewan Gereja-gereja se-Dunia]. Peraih Nobel perdamaian dan menjadi ketua DGD serta dia memperhatiakan Asia dan terus berkarya sampai di Indonesia melalui pemuda sehingga di Indonesia juga mulai membentuk GMKI. Pengaruh yang luar biasa di ciptakan untuk menjawab/menghidupi panggilan Tuhan yaitu doa syafaat Yesus "agar mereka menjadi satu" (Yohanes 17:21).

IV.             Daftar Pustaka

A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang, & Randy Petersen, 100 Peristiwa Penting Dalam Sejarah,    Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.

Antone, Hope S., “Introduction” dalam Idem, Living In Oikumene. Hongkong: CCA, 2003.

Darmaputera, Eka, Berbeda Tapi Bersatu: Bacaan Praktis untuk pimpinan dan warga jemaat        mengenai Oikoumene, Jakarta: BPK GM, 1974.

F, Ukur, Cooley, F.L., Jerih dan Juang, Jakarta: BPK, 1979.

Fisher, Galen M., John R. Mott Architect of Cooperation and Unity, New York: Association          Press, 1953.

Goodall, Norman, The Ecumenical Movement, London: Oxford University Press, 1966.

Hartono, Chris, Gerakan Ekumenis di Indonesia, Yogyakarta: PPIP UKDW, 1984.

Hartono, Chris, Pemaknaan Oikoumene: Perkembangan Pemaknaan Oikoumene dalam Tradisi, Jakarta: t, p, 2009.

Jonge, Christiaan De., Menuju Keesaan Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.

Marantika, Simon, Ekumene Dalam Pembangunan Bangsa-Bangsa, Jakarta: Sinar Harapan,         1983.

Pilon, P.K., Ut Omnes Unum Sint: Oikumenika, Bagian Sejarah, Jakarta: BPK GM, 1973.

Wellem, F. D., Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung          Mulia, 1999.

Sumber Internet:

http://id.wikipedia.org/wiki/Federasi_Mahasiswa_Kristen_se-Dunia diakses pada 07 September 2019 pada pukul 08:30 WIB.

http://moseschristiant.blogspot.com/2013/04/john-r-mott-bapak-oikumene-dunia.html diakses pada 5 September 2019, pukul 09:52 WIB.

 



[1] Eka Darmaputera, Berbeda Tapi Bersatu: Bacaan Praktis untuk pimpinan dan warga jemaat mengenai Oikoumene (Jakarta: BPK GM, 1974), 35.

[2] Chris Hartono, Pemaknaan Oikumene: Perkembangan Pemaknaan Oikoumene dalam Tradisi (Yogyakarta: t, p, 2009), 1.

[3] Chris Hartono, Gerakan Ekumenis di Indonesia (Yogyakarta: PPIP UKDW, 1984), 2.

[4] P.K. Pilon, Ut Omnes Unum Sint: Oikumenika, Bagian Sejarah (Jakarta: BPK GM, 1973),13.

[5] Hope S. Antone, “Introduction” Idem, Living In Oikumene (Hongkong: CCA, 2003), 5.

[6] Eka Darmaputera, Berbeda tapi bersatu, 53.

[7] Norman Goodall, The Ecumenical Movement (London: Oxford University Press, 1966), 4.

[8] Galen M. Fisher, John R. Mott Architect of Cooperation and Unity (New York: Association Press, 1953), 367.

[9] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987), 187.

[10] Galen M. Fisher, John R. Mott Architect of Cooperation and Unity, 367.

[11] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja, 187.

[12] A. Kenneth Curtis, dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003) 161-162.

[13] Galen M. Fisher, John R. Mott Architect of Cooperation and Unity, 367.

[14] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja, 188.

[15] Galen M. Fisher, John R. Mott Architect of Cooperation and Unity, 367-368.

[16]F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja, 187-189.

[17] Christiaan De Jonge, Menuju Keesaan Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 9.

[18] Simon Marantika, Ekumene Dalam Pembangunan Bangsa-Bangsa (Jakarta: Sinar Harapan, 1983), 25-26.

[19] A. Kenneth Curtis, dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, 160-162.

[20] A. Kenneth Curtis, dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, 160-162.

[22] Galen M. Fisher, John R. Mott Architect of Cooperation and Unity, 367-368.

[23] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja, 187-189.

[24] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja, 187-189.

[26] F. Ukur, F.L. Cooley, Jerih dan Juang (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1979), 571-572.

[27] Simon Marantika, Ekumene Dalam Pembangunan Bangsa-Bangsa, 39.


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar