Just another free Blogger theme

Kamis, 15 Juli 2021

                                                

1.1. Gambaran Umum Kitab  1 Samuel

1.1.1. Makna Nama Kitab Samuel

Kitab Samuel dikelompokkan dalam kitab para nabi, khususnya nabi-nabi terdahulu. Kitab ini dinamakan Samuel karena andil nabi Samuel yang begitu besar dalam kerajaan Israel ketika memberkati Saul dan Daud sebagai raja Israel.[1] Kitab Samuel dan kitab Raja-Raja sebenarnya merupakan satu bagian dalam bentuk aslinya.[2] Namun kemudian dibagi menjadi I, II Samuel dan I,II Raja-raja dengan maksud agar kitab ini tidak terlalu banyak.  Samuel adalah Kitab yang menguraikan sejarah umat Allah pada masa transisi antara zaman Hakim hingga zaman Kerajaan. Tokoh utama dalam kisah ini adalah Samuel, karena peranannya yang sangat besar masa transisi tersebut. Dia berperan sebagai hakim (1 Sam 7:13), nabi (1 Sam 3:20), imam mengurapi raja pertama, pemimpin (1 Sam 7:16). Disamping tokoh Samuel sebenarnya tokoh besar seperti Saul dan Daud. Ketiga tokoh ini memiliki hubungan pribadi yang dekat dengan Tuhan Allah. Orang Israel di tanah Kanaan hidup bersama dengan suku-suku lain, diantaranya bangsa Filistin yang sering berlawanan dan bermusuhan dengan Israel. Samuel sering diartikan sebagai orang yang diminta dari Tuhan. Istilah Samuel (Ibr. שֹּמואל) artinya Allah mendengar. Sekaligus juga mengingatkan tokoh raja bahwa kunci sukses pemerintahannya adalah apabila tetap mendengar Allah. Pada kenyataannya prinsip ini sering dilanggar sehingga banyak raja-raja Israel akhirnya dihukum oleh Allah.[3]

 

1.1.2. Latar Belakang Kitab Samuel

Sejarah Israel digambarkan dalam Kitab Samuel yang memperlihatkan bahwa pada waktu itu Israel mengalami sejumlah perubahan besar dalam kehidupan politik, social dan agamanya. Kurun waktu itu dimulai ditengah-tengah kekacauan dan kemerosotan zaman hakim-hakim ketika belum ada seorang raja di Israel. Israel berawal sebagai persekutuan dua belas suku yang disatukan oleh ikatan etnis dan terutama oleh iman yang sama kepada Tuhan Allah. Cerita tentang perubahan itu sebagian besar merupakan cerita empat tokoh, yaitu Samuel, Saul, Daud dan Salomo. Kitab Samuel semula hanya merupakan satu kitab, namun kemudian dibagi menjadi dua jilid. Pembagian tersebut agaknya pertama kali dilakukan dalam Septuaginta yang menganggap Kitab Samuel sebagai bagian dari satu karya utuh yang disebut Kitab Kerajaan.[4]

Periode yang diliput dalam Kitab Samuel jarang mendapat dukungan dari catatan sejarah kerajaan-kerajaan di sekitar Israel. Kitab Samuel hanya meliput periode sekitar satu abad, dimulai dari kelahiran Samuel, sekitar 1070-an SM sampai sesaat sebelum kematian Daud, yang sering diberi tarikh 961 SM. Periode ini ternyata bertepatan dengan waktu sulit bagi pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan lain disekitarnya karena dua wilayah kerajaan besar, Mesir dan Mesopotamia, yang secara tradisional merupakan penguasa besar didaerah tersebut, sedang mengalami masa kerusuhan inernal serta kelemahan eksternal. Selama berabad-abad Mesir menguasai tanah kanaan atau Palestina, tetapi ketika dinasti Tanit mengambil alih kekuasaan sekitar 1065 SM, Mesir memasuki masa pergolakan dalam negeri sehingga tidak mampu mempertahankan kekuasaan atas tanah-tanah miliknya disebelah timur, termasuk kanaan.[5] Sumber-sumber untuk periode sejarah ini sangat jarang. Baik posisi Mesir maupun posisi Mesopotamia tidak memungkin mereka memperhatikan negeri-negeri yang berada jauh di luar perbatasan mereka sehingga bangsa-bangsa kecil dari Siro-Palestina dibiarkan saling bercekcok. Ancaman terhadap Israel yang khususnya datang dari Filistin mengharuskan adanya kerja sama yang lebih besar di antara suku-suku Israel dari pada yang ada sebelumnya. Hal-hal ini secara langsung menyebabkan peralihan-peralihan kepada suatu bentuk pemerintahan kerajaan. Kadang-kadang Saul memperoleh kemenangan atas orang Filistin menguasai paling tidak bagian tengah dari Palestina. Oleh karena itu tugas untuk mengusir orang Filistin berada di tengah Daud. Ia juga berhasil memperluas kekuasaan Israel atas hamper seluruh kawasan Siro-Palestina melalui serangkaian penaklukan dan fakta.[6]

Kanon Ibrani menempatkan Samuel dalam Nabi-Nabi terdahulu karena isinya tentang kisah Samuel yang berperan sebagai nabi yang mendengar suara Tuhan (1 Samuel 3:20). Kanon Yunani menempatkannya dalam sejarah sebab isinya tentang sejarah perbuatan Tuhan pada masa kerajaan sebagai prototype kerajaan Allah. Awalnya kitab Samuel adalah satu kesatuan, tetapi Septuaginta (LXX) membagi menjadi dua kitab dengan alasan isinya terlalu panjang. Pembagiannya didasarkan pada kisah dua raja pertama yang dipisahkan oleh kematian Saul yang sangat tragis.[7]

 

1.1.3. Penulis Kitab Samuel

   Penulis kitab Samuel memang tidak diketahui secara pasti. Namun ada kecenderungan bahwa kitab I dan II Samuel merupakan produksi dari hasil karya Deutronomis atau sumber DH.[8] Karena menurut para ahli Perjanjian Lama sebagian kitab ulangan (pasal 12-26) dan nabi-nabi terdahulu (Yosua, Hakim-Hakim, I-II Samuel, I-II Raja-Raja; kecuali kitab Rut) sebagai bagian dari tradisi DH, sebab kitab-kitab tersebut dipengaruhi oleh perspektif teologi Deutronomis. Oleh karenanya dapat dikatakan bahwa kitab Samuel yang terdiri dari dua bagian ini diedit oleh sejarawan DH. Tentang penulis DH, beberapa ahli menduga bahwa naskah itu secara rahasia ditulis oleh Hilka dan Safan dengan bantuan Nabiah. Hulda, yang segera dimintakan pendapatnya oleh Yosia.[9] Richard Friedman, memperkuat pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa penulis DH adalah golongan imam Lewi yang berasal dari Silo.[10] Berdasarkan pendapat itu, dapat dikatakan bahwa penulis atau editor dari kitab Samuel adalah imam Lewi dari Silo yang dipekerjakan dalam istana pada saat Yosia menjadi raja atas Yehuda. Tetapi dalam tradisi Yahudi menyebut Samuel sebagai pengarang Kitab tersebut, karena dia mempunyai peranan yang dominan dalam I Samuel 1-25. Mungkin saja beberapa bahan dalam Kitab I Samuel berasal dari dia, khususnya sejarah awal Daud, sebagaiman dinyatakan dalam I Tawarikh 29:29-30:

Sesungguhnya, riwayat raja Daud dari awal sampai akhir tertulis dalam riwayat Samuel,   pelihat itu, dan dalam riwayat nabi Natan, dan dalam riwayat Gad, pelihat itu, beserta segala hidupnya sebagai raja dan kepahlawanannya dan keadaan zaman yang dialaminya dan dialami Israel dan segala kerajaan di negeri-negeri lain.”

 

Ayat ini memberi petunjuk bahwa para penyusun kitab-kitab sejarah pada zaman dahulu memanfaatkan beberapa sumber yang ada. Dalam tradisi Yahudi mempercayai bahwa Kitab Samuel adalah karya Samuel, hal ini didasarkan atas beberapa hal; dasarnya alkitabiahnya bahwa Samuel disaksikan menuliskan kisah sejarah tersebut (1 Sam 10:25), kemudian dalam kitab sejarah dinyatakan bahwa Samuel adalah penulis diera kerajaan (1 Taw 29:29). Tradisi Yahudi; Samuel memiliki jabatan yang rangkap, yaitu hakim (memimpin perang melawan Filistin 1 Sam 7:3-9), sebagai Nabi (mendengarkan suara Tuhan 1 Sam 3:20), kemudian sebagai imam (mengurapi raja Saul dan Daud). Multi jabatannya ini adalah satu faktor utama dalam memahami sejarah awal kerajaan Israel.[11]

Dapat disimpulkan penulis bahwa kepenulisan kitab Samuel yang mencakup I dan II Samuel sebagai satu karya tunggal. Karena sebagian I Samuel dan seluruh II Samuel ditulis setelah kematiannya, Samuel hanya menjadi salah satu penulis penyumbang (bnd. I Samuel 10:25). Karya terakhir ditulis oleh seorang sejarahwan dan nabi terilham yang memakai beberapa sumber, termasuk catatan-catatan Samuel (bnd. II Samuel 1:18; I Tawarikh 27:24; 29:29), identitas sejarahwan terilham ini tidak kita kenal.

 

1.1.4. Waktu Penulisan Kitab Samuel

Peristiwa-peristiwa dalam kitab ini terjadi pada paruhan yang akhir dari abad ke-11 dan bagian awal dari abad ke-10 SM, tetapi sulit untuk memastikan kapan peristiwa-peristiwa itu dicatat. Tidak ada alasan-alasan tertentu yang menyakinkan untuk menetapkan tanggal dari sumber-sumber yang dipergunakan oleh penyusun pada saat yang kemudian dari peristiwa-peristiwa itu sendiri.[12] Mengikuti penjelasan sebelumnya bahwa penulis yang mengedit kitab Samuel adalah sumber DH. Ahli-ahli Perjanjian Lama mengatakan bahwa sumber ini berasal dari satu redaksi sehingga menimbulkan dua kemungkinan masa penulisan yaitu sebelum atau sesudah masa pembuangan. Kemungkinan yang dimaksudkan adalah pada masa pemerintahan Yosia, sebelum pembuangan, dan pada masa pembuangan yaitu sekitar abad ke-7 (640-609 SZB).[13] Mendalami dua kemungkinan yang dimaksudkan maka pandangan Cross sangat berguna untuk menentukan kapan kitab Samuel ditulis. Menurut pemahamannya, Cross membagi sumber DH menjadi dua edisi. Edisi pertama atau Dtr I yang ditulis pada masa reformasi Yosia (640-609 SZB) atau sebelum pembuangan; dan edisi kedua atau Dtr II ditulis pada masa pembuangan (550 SZB).[14]

Dtr 1 ditulis sebagi usaha untuk mendukung reformasi Yosia. Tema pertama yang ditampilkan tentang dosa Yerobeam yang sangat besar sehingga harus dipunahkan dari muka bumi ( I Raja-Raja 13:34). Tema kedua mengangkat tentang Daud sebagai hamba yang setia dan Yerusalem sebagai pusat pemerintahan dinasti Daud, (I Raj 11:12-13, II Raj 8:19). Dtr 2 diperkirakan selesai pada tahun 550 SZB dipembuangan dengan tema utama mencatat jatuhnya Yerusalem. Berdasarkan dua edisi ini dapat ditentukan bahwa kitab Samuel termasuk dalam edisi pertama atau Dtr 1 yang ditulis tepatnya pada saat reformasi Yosia tahun 640-609 SZB. Alasannya bahwa bacaan dalam II Samuel 5:1-4 berhubungan dengn tema Daud sebagai hamba yang setia dan Yerusalem sebagai pusat pemerintahan dinastinya.

Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa waktu kepenulisan kitab Samuel ditulis sekitaran tahun 1050-970 SM.

 

          1.1.5. Letak Kitab I Samuel Dalam Kanon

Dalam Alkitab Ibrani, kitab-kitab Samuel adalah bagian dari kitab-kitab “Nabi-nabi awal,” yang letaknya sesudah Kitab Hakim-Hakim. Penempatan seperti ini adalah logis, dan didasarkan pada kronologisnya. Kitab-kitab Samuel menceritakan sejarah Israel sesudah zaman hakim-hakim, ketika kerajaan bersatu berdiri, dan berkembang di bawah Saul dan Daud. Kitab Raja-Raja melanjutkan kisah sejarah Kitab II Samuel, yaitu ketika Salomo, putra Daud naik takhta. Disamping itu juga mengisahkan sejarah dua kerajaan sesudahnya. Dengan demikian, pada dasarnya komposisi tulisan-tulisan “Nabi-Nabi awal” secara kronologis sudah terbentuk. Catatan-catatan versi Yunani, dan Alkitab yang sekarang dipakai kalangan Protestan menempatkan Kitab I Samuel sesudah Kitab Rut. Alasannya karena kejadian-kejadian yang dicatat kitab tersebut secara kronologis ada pada zaman hakim-hakim. Kitab Rut juga cocok menjadi pendahuluan bagi Kitab I dan II Samuel, karena menggambarkan pekerjaan Allah dalam kehidupan satu keluarga yang merupakan bagian dari garis keturunan yang panjang mulai Yehuda sampai Daud. Kitab ini menjadi pengantar yang tepat untuk dua kitab yang mengisahkan Daud sebagai raja pilihan Allah, dan bahwa Allah memberkati keturunannya secara khusus.

Dari sudut kesusastraan maupun sejarah, Kitab I Samuel mengutip kembali satu tempat yang bernama “pegunungan Efraim” pada bagian-bagian akhir Kitab Hakim-Hakim. Tempat ini menjadi latar bagi kisah Mikha dan seorang Lewi yang dijadikan imamnya (Hak. 17-18). Itulah tempat dimana orang Lewi disambut dan menemukan persaudaraan dan keramah-tamahan. Itulah tempat asal keluarga Samuel (1 Sam. 1:1). Kisah penutup dalam Hakim-Hakim juga berfungsi mengantar pada bagian-bagian permulaan dari I Samuel, yang menceritakan kebiadaban penduduk Gibea, kota di wilayah Benyamin. Ia juga menceritakan perang saudara berikutnya antara suku Benyamin dengan suku-suku lainnya, dimana akhirnya suku Benyamin tetap hidup. Kita I Samuel menyajikan kisah Saul yang juga berasal dari Gibea. Jadi, penempatannya pada penutup kitab disamping fungsinya sendiri dalam Kitab Hakim-Hakim, berfungsi memperkenalkan Saul dalam I Samuel. Pada bagian penutup Kitab Hakim-Hakim, orang-orang benyamin tidak muncul dengan kesan yang sepenuhnya menguntungkan; sementara Saul yang berasala dari suku Benyamin ini tentu muncul sebagai figur yang tragis, seorang yang kehilangan kerajaan.[15]

 

1.1.6. Struktur dan Isi Kitab I Samuel

Untuk struktur dan isi kitab Samuel, penulis menggunakan 3 sumber buku yang akan memudahkan kita untuk mengerti mengenai struktur dan isi kitab Samuel. Struktur atau garis besar kitab Samuel adalah sebagai berikut:

1.      Sumber Buku:  Introduction to The Old Testament

A.    Para Imam dan Tabut di Silo (I Samuel 1:1-7:1)

1.      Kelahiran dan masa kecil Samuel, berakhirnya periode Imam di Silo, Eli dan anak-anaknya (1:1-4: ia, termasuk nyanyian Hana (2:1-10)

2.      Hilangnya tabut dari Silo dalam perang melawan bangsa Filistin (4:1b 7:1)

B.     Samuel dan Saul (I Samuel 7:2-15:35)

1.      Samuel sebagai Hakim Israel mengalahkan Filistin (7:2-17) dan Samuel gagal mendapatkan seorang raja yang dikehendaki rakyat (8:1-22)

2.      Saul ditunjuk menjadi raja: pertama, pemberitahuan oleh Samuel secara pribadi kepada Saul (9:1-10:16) kedua, pemberitahuan secara umum di Mizpah, (10:17-27a), ketiga, oleh masyarakat di gilgal (10:27b).

3.      Samuel berhenti dari pekerjaanya sebagai Hakim (12)

4.      Saul dan awal kesuksesan perang melawan Filistin; pecahnya perang (13:1-7), Samuel menawarkan pengorbanan kepada Saul (13:8-14), masa-masa sulit bagi bangsa Israel (13:15-23), kemenangan atas bangsa Filistin di Mikhmas oleh kepahlawanan Yonatan (14:1-46), rangkuman tentang masa pemerintahan Saul (14:47-52).

5.      Kemenangan Saul atas bangsa Amalek dan penunjukannya yang kedua kali oleh Samuel (15).

C.     Saul dan Daud (I Samuel 16-31; II Samuel 1)

1.      Daud dan Saul, Daud ditunjuk menjadi raja oleh Samuel (16:1-13), pertemuan Daud dengan Saul pertama kali sebagai pemain kecapi (16:14-23) dan setelah mengalahkan Goliat (17:1-18:5) Saul iri akan popularitas Daud (18:6-16), Saul menjanjikan Merab sebagai istri Daud (18:17-19); tetapi setelah mengalahkan seratus prajurit Filistin, Saul memberinya Mikhal sebagai Isteri untuk dinikahi (18:20-30); Yonatan membujuk Saul agar tidak membunuh Daud (19:1-7) tetapi karena takut akan bahaya dari Saul, Daud melarikan diri. Pertama ketika istrinya memberitahukan maksud pembunuhan oleh Saul (19:8-17) dan Daud pergi ke Samuel di Ramah dan Saul menyuruh orang suruhannya untuk menangkap Daud tetapi gagal karena dipenuhi Roh Allah (19:18-24); kedua, ketika diperingatkan secara diam-diam oleh Yonatan (20:1-42).

2.      Daud bebas; ia meminta pertolongan pada Imam di Nob (21:1-9); Daud berpura-pura gila (21:10-15); dan menjadi kepala bandit (22:1-5); Saul menyuruh membunuh Imam Nob tetapi Abytar luput dan lari bersama Daud (22:6-23); Daud membebaskan Kehila dari bangsa Filistin (23:1-6), tetapi kemudian melarikan diri dari Saul ke Zif (23:7-14); dimana Yonatan membuat perjanjian ketiga dengan Daud (23:15-18); Saul kembali ke Israel karena serangan Filistin (23:19-28) Daud menyelamatkan Saul di En-Gedi (23:29-24:22); kematian Samuel (25:1); Daud, Nabal dan Abigail (25:2-42); isteri-isteri Daud yang lain (25:43); Daud menyelamatkan Saul di Zif (26:1-25).

3.      Daud diantara orang-orang Filistin (27;28:1); Daud dan gerombolannya menawarkan jasa-jasanya ke raja Akhis di Gat, menerima Ziklak (27:1-4), bertemu dengan Ziklag, berpura-pura menyerang Yehuda (27:7-12); Daud menawarkan diri untuk bersekutu dengan Filistin melawan Saul (28), Daud di kirim pulang oleh orang-orang Filistin (29:1-11); Ziklag terbakar pembalasan Daud kepada orang Amalekh (30:1-6), Daud mengalahkan mereka (30:7-31).

4.      Kematian Saul (1 Samuel 28:3-25;31; II Samuel 1); takut akan bencana Saul memanggil Roh Samuel (1 Samuel 28:3-25); dikalahkan Filistin di Gilboa, Saul bunuh diri (31), Daud mengalahkan Amalekh yang membunuh Saul (II Samuel 1:1-16), ratapan Daud atas Saul dan Yonatan (1:17-27)

D.    Daud Sebagai Raja atas Yehuda (II Samuel 2:4)

Orang-orang Yehuda menunjuk Daud Sebagai raja (2:1-7) tetapi Abner menunjuk Isyboset sebagai raja Israel (2:8-11) dan melawan Daud (2:12-3:1); anak-anak Daud (3:2-5); Abner memihak Daud kemudian dibunuh Yoab (3;6-39).[16]

 

2.      Sumber Buku: Kitab Ilahi

A.    I Samuel : Pembentukan Kerajaan Israel

Kitab 1 Samuel terdiri dari 31 pasl dan 810 ayat. Dalam kitab ini dikisahkan tentang awal kerajaan Israel. Samuel masih mengharapkan agar anaknya menggantikannya sebagai Imam (1 Sam 8:1-2) namun rakyat Israel menolak dan mengharapkan pemimpin seorang raja dengan alasan:

a.       Anak-anak Samuel jahat-jahat (8:3,5).

b.      Israel ingin sama dengan bangsa atau dunia sekitar yang memiliki raja (8:5, 20).

c.       Bangsa Israel ingin pemimpin yang tetap untuk melayani dan mengantisipasi serangan musuh.

d.      Allah sendiri mengijinkan permohonan tentang raja tersebut (8:22).

Ada berbagai faktor penyebab seseorang menjadi raja (suara rakyat, keahlian, keturunan) tetapi secara iman diyakini sebagai Pemberian Allah. Itu sebabnya seorang raja harus diurapi sebagai simbol bahwa seluruh kuasa dan jabatannya harus tunduk kepada Tuhan sebagai Raja yang Agung. Raja harus memimpin sesuai dengan kehendak Allah, inilah ciri pemerintahan yang Teokratis.

Pada awalnya Saul memerintah dengan baik, mengalahkan musuh-musuh (1 Sam 13-14) namun dia sering tidak memerintah sesuai dengan perintah Allah: misalnya mempersembahkan korban, tidak membunuh semua musuh yang ada. Karena tidak mendengarkan Allah maka Saul akhirnya ditolak Allah (1 Sam 15).

Penggantinya adalah Daud sesuai dengan petunjuk Allah. Secara manusia Daud bukan orang yang tepat, tetapi Allah melihat imannya yang polos dan kerendahan hatinya. Ketika Israel menghadapi Goliat (tentara filistin) Iman Daud lebih berkuasa dari pada keperkasaan Saul. Kemenangan Daud melahirkan dendam, iri hati dan benci bagi Saul, sehingga dia terus berusaha untuk membunuh Daud sampai hari kematiaannya. Saul tidak bisa menerima kenyataa peralihan itu yang mengakibatkan rasa takut dan gelisah (1 Sam 18-31); ambisi Absalom (13-18).[17]

 

3.       Sumber Buku: Kitab-Kitab Sejarah Dalam Perjanjian Lama

A.    Kemunculan Samuel (I Samuel 1-7)

1.      Kelahiran Samuel (1:1-2:10)

-          Samuel lahir (1:1-28)

-          Puji-pujian Hana (2:1-10)

2.      Samuel dan Kaum Keluarga Eli: Kejayaan dan Kemerosotan (2:11-4:1a)

3.      Orang Israel, Filistin dan Tabut Perjanjian (4:1b-7:1)

-          Tabut perjanjian dirampas, dan Eli wafat (4:1b-22)

-          Tabut perjanjian di tanah Filistin (5:1-12)

-          Tabut perjanjian kembali dan tinggal di Kiryat Yearim (6:1-7:1)

4.      Samuel Menjadi Hakim (7:2-17)

B.     Permulaan/Pembentukan Sistem Kerajaan (I Samuel 8-15)

1.      Tuntutan untuk memiliki raja (8:1-22)

2.      Saul dipilih dan di urapi (9:1-10:27)

3.      Kemenangan pertama Saul (11:1-15)

4.      Pembaruan perjanjian (12:1-25)

5.      Saul ditolak sebagai raja - A (13:1-15a)

6.      Kepahlawanan Saul dan Yonatan (13:15b-14:52)

7.      Saul ditolak sebagai raja – B (15:1-35)

C.     Daud Memegang Kekuasaan (I Samuel 16-II Samuel 5:10)

1.      Daud diurapi menjadi raja di Betlehem (I Samuel 16:1-13)

2.      Daud di Istana (I Samuel 16:14-23)

3.      Daud dan Goliat (I Samuel 17:1-18:5)

4.      Daud menghadapi banyak ancaman (I Samuel 18:6-20:42)

-          Saul iri hati (18:6-9)

-          Allah mengutus roh jahat merasuki Saul (18:10-11)

-          Daud selalu berhasil dalam segala yang diperbuat (18:12-16)

-          Daud dan Merab, putri Saul (18:17-19)

-          Daud dan Mikhal, putri Saul (18:20-30)

5.      Daud menjadi buronan (I Samuel 21:1-30:31)

-          Daud dan Ahimelekh, Imam dari Nob (21:1-9)

-          Daud berpindah-pindah ke berbagai tempat (21:10-22:5)

Daud dan Akhis, raja dari Gat (21:10-15)

Para pengikut Daud (22:1-2)

Daud di Moab (22:3-5)

-          Saul membunuh para imam di Nob (22:6-23)

-          Daud dalam pelarian (23:1-29)

Daud di Kehila (23:1-13)

Selingan; persahabatan Daud dan Yonatan (23:14-18)

Daud di Padang Gurun Zif dan Maon (23:19-26)

-          Di En-Gedi Daud Daud membiarkan Saul hidup (24:1-22)

-          Daud, Nabal, dan Abigail (25:1-44)

-          Di padang gurun Zif kembali Daud membiarkan Saul Hidup (26:1-23)

-          Daud kembali kepada Akhis, raja Gat (27:1-28:2)

-          Saul dan perempuan pemanggil roh di En-dor (28:3-25)

-          Daud meninggalkan Akhis, Raja Gat (29:1-11)

-          Kepahlawanan raja Daud (30:1-31)

6.      Kematian Saul (I Samuel 31)

-          Saul mati dan dikuburkan (I Samuel 31:1-13). [18]

 

4.      Kesimpulan : dari ketiga struktur kitab diatas, penulis memilih struktur dari sumber buku yang ketiga yaitu dari buku Kitab-Kitab Sejarah Dalam Perjanjian Lama, karena lebih jelas dan terperinci.

 

1.1.7. Tujuan dan Pesan Kitab Samuel

   Kitab Samuel ditulis dengan tujuan sebagai catatan sejarah tentang kejadian-kejadian yang sebenarnya terjadi agar bangsa Israel masa mendatang dapat mengetahui dengan jelas bagaimana awal Israel terbentuk serta kejadian-kejadian yang terjadi dalam periode tersebut. Khususnya mengenai para pendiri bangsa (founding fathers) dan tokoh-tokoh yang ada didalamnya. Selain itu kitab ini juga mengajak bangsa Israel untuk belajar dari keberhasilan dan kegagalan dalam hal kepemimpinan.[19] Tujuan historis dari kitab 1 Samuel adalah untuk mempersiapkan laporan resmi tentang pekerjaan Samuel selama pembentukan dan perkembangan kerajaan Israel dari pemerintahan Saul hingga Daud. Secara teologis buku ini menunjukkan kedaulatan Allah dalam “Kerajaan Teokrasi” yang Ia dirikan dan perintahkan untuk memimpin bangsa Israel. 1 Samuel menguraikan titik peralihan yang kritis dalam sejarah Israel dari kepemimpinan para hakim kepada pemerintahan seorang raja. Kitab ini menyatakan ketegangan di antara pengharapan bangsa itu akan seorang raja dan pola teokratis Allah, dengan Allah sebagai raja mereka. Kitab ini menunjukkan dengan jelas bahwa ketidaktaatan Saul dan pelanggarannya terhadap tuntutan-tuntutan teokratis jabatannya membuat Allah menolak dan menggantikannya sebagai raja.[20] Tujuan dari kitab ini juga adalah menguraikan ketaatan yang menghasilkan berkat Allah dan penunjukan pola teokratis Allah yang dipercayai sebagai raja mereka. Kitab ini juga menjelaskan peralihan yang kritis dalam sejarah Israel dari kepemimpinan para hakim kepeda pemerintahan seorang raja.[21]

Pesan yang disampaiakan dalam Kitab I Samuel adalah Fakta-fakta sejarah yang dikemukakan oleh pengarang kitab ini bukan hanya untuk menambah pengetahuan para pembaca sejarah bangsa Israel, tapi juga untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa tersebut dari segi keagamaan yang sebenarnya. Dengan itu, para pembaca baik pada zaman dahulu maupun pada masa sekarang mendapat pengetahuan kenapa terjadi perubahan bentuk pemerintahan, dan apa yang menyebabkan kegagalan Saul dalam hal mencapai kebesaran yang sesungguhnya. Daud mengajarkan tentang sifat-sifat, watak, dan kelakuan yang diperlukan oleh orang yang berhasrat membimbing umat Allah, demikian pula sikap Allah terhadap orang itu dalam segala keadaan. Dalam seluruh cerita dinyatakan bahwa kehadiran Allah yang selalu menyertai umat-Nya dengan berbagai cara. Walaupun bangsa Israel kerap sekali mengalami penderitaan yang sering disebabkan oleh kesalahan dari para pemimpinnya, tetapi Allah selalu melengkapi mereka dengan sesuatu yang lebih baik.[22]

Jadi, hal yang tepenting melalui pesan yang disampaikan dalam Kitab I Samuel yaitu menguraikan titik peralihan yang kritis dalam sejarah Israel dari kepemimpinan para hakim kepada pemerintahan seorang raja. Kitab ini menyatakan ketegangan di antara pengharapan bangsa itu akan seorang raja (seorang pemimpin yang lalim; seperti pada segala bangsa-bangsa lain), dan pola teokratis Allah, dengan Allah sebagai Raja mereka. Kitab ini menunjukkan dengan jelas bahwa ketidaktaatan Saul dan pelanggarannya terhadap tuntutan-tuntutan teokratis jabatannya adalah dampak dari pemilihan seorang raja atas kehendak manusia bukan kehendak Allah sehingga membuat Allah menolak dan menggantikannya sebagai raja.[23]

 

1.1.8. Tema-tema Teologis Kitab Samuel

a. Pengangkatan Raja dinilai sebagai perwujudan janji Allah kepada Abraham dimana keturunannya akan menjadi bangsa yang besar. Memang ada faktor-faktor dunia yang menjadi faktor penyebab adanya Israel sebagai bangsa dibawah raja. Iman Israel menyakini bahwa raja adalah pemberian Tuhan, sehingga raja harus bertanggungjawab kepada Tuhan.

b. Raja memiliki fungsi ganda di satu sisi sebagai wakil Allah tetapi juga wakil manusia. Seorang raja harus membangun dan berusaha mengamati dan mendengar kehendak rakyat. Masalahnya adalah dalam mendengar kehendak rakyat seorang raja haru lebih dahulu mendengar Allah. Mendengar Allah adalah prioritas utama dari pada mendengar suara-suara yang lain.

c. Seorang raja adalah pilihan Allah meskipun pilihan Allah tersebut tidak menghilangkan pilihan manusia. Saul adalah pilihan Samuel dan usul dari bangsa Israel tetapi peran Allah sangat jelas. Seorang raja dalam menjalankan tugasnya harus tunduk kepada Allah.

d. Tiada gading yang tak retak demikian pepatah yang tepat untuk kehidupan raja. Sehebat-hebatnya raja yang dipilih tetapi semuanya tidak ada yang sempurna. Kitab ini mencatat bahwa tidak ada raja yang setia kepada Tuhan secara sempurna. Ketidak sempurnaan ini adalah awal pengharapan tentang seorang raja Mesias, pemimpin yang datang dari sorga. Pengharapan Mesias adalah akibat kekcewaan orang Israel kepada raja yang berasal dari manusia.[24]

 



[1] David F. Payne, I & II Samuel (Philadelpia: Westminster Press, 1982), 1

[2] Lihat dalam Talmud (Baba Bathra 14b), Eusebius (Hist. eccl. 7:25, 2), dan Jerome (Prologus Galeatus). Dalam Robert H. Pfeiffer, Introduction to The Old Testament (New York and Evanston: Harper & Raw Publisher, 1948), 338

[3] Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi (Medan: Bina Media Perintis, 2016), 92

[4] W.S. Lasor, D.A. Hubbard, F.W. Bush, Pengantar Perjanjian Lama 1, 325

[5] Jonar Situmorang, Mengenal Dunia Perjanjian Lama (Yogyakarta: ANDI, 2019), 359

[6] Andrew E. Hill & John H. Walton, Survei Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2008), 300

[7] Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi, 92-93

[8] Sumber DH adalah sumber ketiga dari empat sumber utama, setelah sumber J dan E, sebelum Sumber P, yang telah membentuk Alkitab Perjanjian Lama, dengan cakupan yang sangat luas yaitu dari kitab Ulangan (pasal 12-26) sampai Raja-raja. Kitab Ulangan merupakan kitab kelima yang ada dalam Pentateukh, bahasa latinnya adalah “Deuteronium” dan dari nama inilah diperoleh nama sumber D atau DH sebagai kependekatan dari Deutronomistic History (sejarah Deutronomis). Hal ini disebabkan karena Ulangan 12-26 adalah dasar acuan yang dipakai untuk menghasilkan keseluruhan Deutronomi. Semua literature yang ditulis oleh para penulis sejarah Deutronomi mengikuti gaya-gaya kitab Ulangan sehingga disebut juga dengan istilah Deutronomistic History (DH).

[9] Karen Amstrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang dilakukan Oleh Orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam selama 4000 tahun (Bandung: Mizan, 2003), 86-87

[10] Golongan Imam Silo menginginkan pemusatan agama, tetapi tidak mengikat kepada tabut atau dibawah keimaman Yerusalem; Peduli terhadap semua mata pencaharian imam-imam Lewi tetapi, akan memberi hak memilih hanya kelompok pusat Lewi; Mereka menerima seorang raja, tetapi kekuasaannya perlu dibatasi, mereka mempunyai pendekatan pra-monarki mengenai aturan-atauran peperangan. Richard Friedman, Who Wrote the Bible? (San Fransisco: Harper Publisher, 1987), 119-124

[11] Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi, 93

[12] Andrew E. Hill & John H. Walton, Survei Perjanjian Lama, 299

[13] Frank M. Cross, Canaanite Myth and Hebrew Ephic: Esay in History of the religion of Israel (Cambrige: Harvard University Press, 1973), 274-289

[14] Frank M. Cross, 275-278

[15] David M. Howard Jr, Kitab-Kitab Sejarah Dalam Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2002), 193-195

[16] Robert H. Pfeiffer, Introduction to The Old Testament, 338-340

[17] Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi, 93

[18] David M. Howard Jr, Kitab-Kitab Sejarah Dalam Perjanjian Lama, 203-205

[19] David F. Payne, I & II Samuel, 3

[20] Donald C. Stamps (ed), Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan (Jakarta: Gandum Mas, 2006), 416.

[21] …., Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, (Malang: Gandum Mas, 2008) 416

[22]Tim Penulis, Tafsiran Alkitab Masa Kini 1 (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2005), 439.

[23]Donald C. Stamps (ed), Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, 416.

[24] Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi, 96-97


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

1 komentar: