1.1.
Gambaran Umum Kitab 1 Samuel
1.1.1. Makna Nama Kitab Samuel
Kitab Samuel
dikelompokkan dalam kitab para nabi, khususnya nabi-nabi terdahulu. Kitab ini
dinamakan Samuel karena andil nabi Samuel yang begitu besar dalam kerajaan
Israel ketika memberkati Saul dan Daud sebagai raja Israel.[1]
Kitab Samuel dan kitab Raja-Raja sebenarnya merupakan satu bagian dalam bentuk
aslinya.[2]
Namun kemudian dibagi menjadi I, II Samuel dan I,II Raja-raja dengan maksud
agar kitab ini tidak terlalu banyak. Samuel
adalah Kitab yang menguraikan sejarah umat Allah pada masa transisi antara
zaman Hakim hingga zaman Kerajaan. Tokoh utama dalam kisah ini adalah Samuel,
karena peranannya yang sangat besar masa transisi tersebut. Dia berperan
sebagai hakim (1 Sam 7:13), nabi (1 Sam 3:20), imam mengurapi raja pertama,
pemimpin (1 Sam 7:16). Disamping tokoh Samuel sebenarnya tokoh besar seperti
Saul dan Daud. Ketiga tokoh ini memiliki hubungan pribadi yang dekat dengan
Tuhan Allah. Orang Israel di tanah Kanaan hidup bersama dengan suku-suku lain,
diantaranya bangsa Filistin yang sering berlawanan dan bermusuhan dengan
Israel. Samuel sering diartikan sebagai orang yang diminta dari Tuhan. Istilah
Samuel (Ibr. שֹּמואל)
artinya Allah mendengar. Sekaligus juga mengingatkan tokoh raja bahwa kunci
sukses pemerintahannya adalah apabila tetap mendengar Allah. Pada kenyataannya
prinsip ini sering dilanggar sehingga banyak raja-raja Israel akhirnya dihukum
oleh Allah.[3]
1.1.2. Latar Belakang
Kitab Samuel
Sejarah Israel
digambarkan dalam Kitab Samuel yang memperlihatkan bahwa pada waktu itu Israel
mengalami sejumlah perubahan besar dalam kehidupan politik, social dan
agamanya. Kurun waktu itu dimulai ditengah-tengah kekacauan dan kemerosotan
zaman hakim-hakim ketika belum ada seorang raja di Israel. Israel berawal
sebagai persekutuan dua belas suku yang disatukan oleh ikatan etnis dan
terutama oleh iman yang sama kepada Tuhan Allah. Cerita tentang perubahan itu
sebagian besar merupakan cerita empat tokoh, yaitu Samuel, Saul, Daud dan
Salomo. Kitab Samuel semula hanya merupakan satu kitab, namun kemudian dibagi
menjadi dua jilid. Pembagian tersebut agaknya pertama kali dilakukan dalam Septuaginta
yang menganggap Kitab Samuel sebagai bagian dari satu karya utuh yang disebut
Kitab Kerajaan.[4]
Periode yang diliput
dalam Kitab Samuel jarang mendapat dukungan dari catatan sejarah
kerajaan-kerajaan di sekitar Israel. Kitab Samuel hanya meliput periode sekitar
satu abad, dimulai dari kelahiran Samuel, sekitar 1070-an SM sampai sesaat
sebelum kematian Daud, yang sering diberi tarikh 961 SM. Periode ini ternyata
bertepatan dengan waktu sulit bagi pertumbuhan dan perkembangan
kerajaan-kerajaan lain disekitarnya karena dua wilayah kerajaan besar, Mesir
dan Mesopotamia, yang secara tradisional merupakan penguasa besar didaerah
tersebut, sedang mengalami masa kerusuhan inernal serta kelemahan eksternal.
Selama berabad-abad Mesir menguasai tanah kanaan atau Palestina, tetapi ketika
dinasti Tanit mengambil alih kekuasaan sekitar 1065 SM, Mesir memasuki masa
pergolakan dalam negeri sehingga tidak mampu mempertahankan kekuasaan atas
tanah-tanah miliknya disebelah timur, termasuk kanaan.[5]
Sumber-sumber untuk periode sejarah ini sangat jarang. Baik posisi Mesir maupun
posisi Mesopotamia tidak memungkin mereka memperhatikan negeri-negeri yang
berada jauh di luar perbatasan mereka sehingga bangsa-bangsa kecil dari
Siro-Palestina dibiarkan saling bercekcok. Ancaman terhadap Israel yang
khususnya datang dari Filistin mengharuskan adanya kerja sama yang lebih besar
di antara suku-suku Israel dari pada yang ada sebelumnya. Hal-hal ini secara
langsung menyebabkan peralihan-peralihan kepada suatu bentuk pemerintahan
kerajaan. Kadang-kadang Saul memperoleh kemenangan atas orang Filistin
menguasai paling tidak bagian tengah dari Palestina. Oleh karena itu tugas
untuk mengusir orang Filistin berada di tengah Daud. Ia juga berhasil
memperluas kekuasaan Israel atas hamper seluruh kawasan Siro-Palestina melalui
serangkaian penaklukan dan fakta.[6]
Kanon Ibrani
menempatkan Samuel dalam Nabi-Nabi terdahulu karena isinya tentang kisah Samuel
yang berperan sebagai nabi yang mendengar suara Tuhan (1 Samuel 3:20). Kanon
Yunani menempatkannya dalam sejarah sebab isinya tentang sejarah perbuatan
Tuhan pada masa kerajaan sebagai prototype kerajaan Allah. Awalnya kitab Samuel
adalah satu kesatuan, tetapi Septuaginta (LXX) membagi menjadi dua kitab dengan
alasan isinya terlalu panjang. Pembagiannya didasarkan pada kisah dua raja
pertama yang dipisahkan oleh kematian Saul yang sangat tragis.[7]
1.1.3. Penulis Kitab Samuel
Penulis kitab Samuel
memang tidak diketahui secara pasti. Namun ada kecenderungan bahwa kitab I dan
II Samuel merupakan produksi dari hasil karya Deutronomis atau sumber DH.[8]
Karena menurut para ahli Perjanjian Lama sebagian kitab ulangan (pasal 12-26)
dan nabi-nabi terdahulu (Yosua, Hakim-Hakim, I-II Samuel, I-II Raja-Raja;
kecuali kitab Rut) sebagai bagian dari tradisi DH, sebab kitab-kitab tersebut
dipengaruhi oleh perspektif teologi Deutronomis. Oleh karenanya dapat dikatakan
bahwa kitab Samuel yang terdiri dari dua bagian ini diedit oleh sejarawan DH.
Tentang penulis DH, beberapa ahli menduga bahwa naskah itu secara rahasia
ditulis oleh Hilka dan Safan dengan bantuan Nabiah. Hulda, yang segera
dimintakan pendapatnya oleh Yosia.[9]
Richard Friedman, memperkuat pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa penulis
DH adalah golongan imam Lewi yang berasal dari Silo.[10]
Berdasarkan pendapat itu, dapat dikatakan bahwa penulis atau editor dari kitab
Samuel adalah imam Lewi dari Silo yang dipekerjakan dalam istana pada saat
Yosia menjadi raja atas Yehuda. Tetapi dalam tradisi Yahudi menyebut Samuel
sebagai pengarang Kitab tersebut, karena dia mempunyai peranan yang dominan
dalam I Samuel 1-25. Mungkin saja beberapa bahan dalam Kitab I Samuel berasal
dari dia, khususnya sejarah awal Daud, sebagaiman dinyatakan dalam I Tawarikh
29:29-30:
“Sesungguhnya,
riwayat raja Daud dari awal sampai akhir tertulis dalam riwayat Samuel, pelihat itu, dan dalam riwayat nabi Natan,
dan dalam riwayat Gad, pelihat itu, beserta segala hidupnya sebagai raja dan
kepahlawanannya dan keadaan zaman yang dialaminya dan dialami Israel dan segala
kerajaan di negeri-negeri lain.”
Ayat ini memberi petunjuk bahwa
para penyusun kitab-kitab sejarah pada zaman dahulu memanfaatkan beberapa
sumber yang ada. Dalam tradisi Yahudi mempercayai bahwa Kitab Samuel adalah
karya Samuel, hal ini didasarkan atas beberapa hal; dasarnya alkitabiahnya
bahwa Samuel disaksikan menuliskan kisah sejarah tersebut (1 Sam 10:25),
kemudian dalam kitab sejarah dinyatakan bahwa Samuel adalah penulis diera
kerajaan (1 Taw 29:29). Tradisi Yahudi; Samuel memiliki jabatan yang rangkap,
yaitu hakim (memimpin perang melawan Filistin 1 Sam 7:3-9), sebagai Nabi
(mendengarkan suara Tuhan 1 Sam 3:20), kemudian sebagai imam (mengurapi raja
Saul dan Daud). Multi jabatannya ini adalah satu faktor utama dalam memahami
sejarah awal kerajaan Israel.[11]
Dapat disimpulkan penulis bahwa
kepenulisan kitab Samuel yang mencakup I dan II Samuel sebagai satu karya
tunggal. Karena sebagian I Samuel dan seluruh II Samuel ditulis setelah
kematiannya, Samuel hanya menjadi salah satu penulis penyumbang (bnd. I Samuel
10:25). Karya terakhir ditulis oleh seorang sejarahwan dan nabi terilham yang
memakai beberapa sumber, termasuk catatan-catatan Samuel (bnd. II Samuel 1:18;
I Tawarikh 27:24; 29:29), identitas sejarahwan terilham ini tidak kita kenal.
1.1.4. Waktu Penulisan Kitab Samuel
Peristiwa-peristiwa
dalam kitab ini terjadi pada paruhan yang akhir dari abad ke-11 dan bagian awal
dari abad ke-10 SM, tetapi sulit untuk memastikan kapan peristiwa-peristiwa itu
dicatat. Tidak ada alasan-alasan tertentu yang menyakinkan untuk menetapkan
tanggal dari sumber-sumber yang dipergunakan oleh penyusun pada saat yang
kemudian dari peristiwa-peristiwa itu sendiri.[12]
Mengikuti penjelasan sebelumnya bahwa penulis yang mengedit kitab Samuel adalah
sumber DH. Ahli-ahli Perjanjian Lama mengatakan bahwa sumber ini berasal dari
satu redaksi sehingga menimbulkan dua kemungkinan masa penulisan yaitu sebelum
atau sesudah masa pembuangan. Kemungkinan yang dimaksudkan adalah pada masa pemerintahan
Yosia, sebelum pembuangan, dan pada masa pembuangan yaitu sekitar abad ke-7
(640-609 SZB).[13]
Mendalami dua kemungkinan yang dimaksudkan maka pandangan Cross sangat berguna
untuk menentukan kapan kitab Samuel ditulis. Menurut pemahamannya, Cross membagi
sumber DH menjadi dua edisi. Edisi
pertama atau Dtr I yang ditulis pada masa reformasi Yosia (640-609 SZB)
atau sebelum pembuangan; dan edisi kedua
atau Dtr II ditulis pada masa pembuangan (550 SZB).[14]
Dtr 1 ditulis
sebagi usaha untuk mendukung reformasi Yosia. Tema pertama yang ditampilkan
tentang dosa Yerobeam yang sangat besar sehingga harus dipunahkan dari muka
bumi ( I Raja-Raja 13:34). Tema kedua mengangkat tentang Daud sebagai hamba
yang setia dan Yerusalem sebagai pusat pemerintahan dinasti Daud, (I Raj
11:12-13, II Raj 8:19). Dtr 2 diperkirakan selesai pada tahun 550 SZB
dipembuangan dengan tema utama mencatat jatuhnya Yerusalem. Berdasarkan dua
edisi ini dapat ditentukan bahwa kitab Samuel termasuk dalam edisi pertama atau
Dtr 1 yang ditulis tepatnya pada saat reformasi Yosia tahun 640-609 SZB.
Alasannya bahwa bacaan dalam II Samuel 5:1-4 berhubungan dengn tema Daud
sebagai hamba yang setia dan Yerusalem sebagai pusat pemerintahan dinastinya.
Dalam hal ini
dapat disimpulkan bahwa waktu kepenulisan kitab Samuel ditulis sekitaran tahun
1050-970 SM.
1.1.5.
Letak Kitab I Samuel Dalam Kanon
Dalam
Alkitab Ibrani, kitab-kitab Samuel adalah bagian dari kitab-kitab “Nabi-nabi
awal,” yang letaknya sesudah Kitab Hakim-Hakim. Penempatan seperti ini adalah
logis, dan didasarkan pada kronologisnya. Kitab-kitab Samuel menceritakan
sejarah Israel sesudah zaman hakim-hakim, ketika kerajaan bersatu berdiri, dan
berkembang di bawah Saul dan Daud. Kitab Raja-Raja melanjutkan kisah sejarah
Kitab II Samuel, yaitu ketika Salomo, putra Daud naik takhta. Disamping itu
juga mengisahkan sejarah dua kerajaan sesudahnya. Dengan demikian, pada
dasarnya komposisi tulisan-tulisan “Nabi-Nabi awal” secara kronologis sudah
terbentuk. Catatan-catatan versi Yunani, dan Alkitab yang sekarang dipakai
kalangan Protestan menempatkan Kitab I Samuel sesudah Kitab Rut. Alasannya
karena kejadian-kejadian yang dicatat kitab tersebut secara kronologis ada pada
zaman hakim-hakim. Kitab Rut juga cocok menjadi pendahuluan bagi Kitab I dan II
Samuel, karena menggambarkan pekerjaan Allah dalam kehidupan satu keluarga yang
merupakan bagian dari garis keturunan yang panjang mulai Yehuda sampai Daud.
Kitab ini menjadi pengantar yang tepat untuk dua kitab yang mengisahkan Daud
sebagai raja pilihan Allah, dan bahwa Allah memberkati keturunannya secara
khusus.
Dari
sudut kesusastraan maupun sejarah, Kitab I Samuel mengutip kembali satu tempat
yang bernama “pegunungan Efraim” pada bagian-bagian akhir Kitab Hakim-Hakim.
Tempat ini menjadi latar bagi kisah Mikha dan seorang Lewi yang dijadikan
imamnya (Hak. 17-18). Itulah tempat dimana orang Lewi disambut dan menemukan
persaudaraan dan keramah-tamahan. Itulah tempat asal keluarga Samuel (1 Sam.
1:1). Kisah penutup dalam Hakim-Hakim juga berfungsi mengantar pada
bagian-bagian permulaan dari I Samuel, yang menceritakan kebiadaban penduduk
Gibea, kota di wilayah Benyamin. Ia juga menceritakan perang saudara berikutnya
antara suku Benyamin dengan suku-suku lainnya, dimana akhirnya suku Benyamin tetap
hidup. Kita I Samuel menyajikan kisah Saul yang juga berasal dari Gibea. Jadi,
penempatannya pada penutup kitab disamping fungsinya sendiri dalam Kitab
Hakim-Hakim, berfungsi memperkenalkan Saul dalam I Samuel. Pada bagian penutup
Kitab Hakim-Hakim, orang-orang benyamin tidak muncul dengan kesan yang
sepenuhnya menguntungkan; sementara Saul yang berasala dari suku Benyamin ini
tentu muncul sebagai figur yang tragis, seorang yang kehilangan kerajaan.[15]
1.1.6. Struktur dan Isi
Kitab I Samuel
Untuk struktur dan
isi kitab Samuel, penulis menggunakan 3 sumber buku yang akan memudahkan kita
untuk mengerti mengenai struktur dan isi kitab Samuel. Struktur atau garis
besar kitab Samuel adalah sebagai berikut:
1.
Sumber
Buku: Introduction to The
Old Testament
A. Para
Imam dan Tabut di Silo (I Samuel 1:1-7:1)
1. Kelahiran
dan masa kecil Samuel, berakhirnya periode Imam di Silo, Eli dan anak-anaknya
(1:1-4: ia, termasuk nyanyian Hana (2:1-10)
2. Hilangnya
tabut dari Silo dalam perang melawan bangsa Filistin (4:1b 7:1)
B. Samuel
dan Saul (I Samuel 7:2-15:35)
1. Samuel
sebagai Hakim Israel mengalahkan Filistin (7:2-17) dan Samuel gagal mendapatkan
seorang raja yang dikehendaki rakyat (8:1-22)
2. Saul
ditunjuk menjadi raja: pertama, pemberitahuan oleh Samuel secara pribadi kepada
Saul (9:1-10:16) kedua, pemberitahuan secara umum di Mizpah, (10:17-27a),
ketiga, oleh masyarakat di gilgal (10:27b).
3. Samuel
berhenti dari pekerjaanya sebagai Hakim (12)
4. Saul
dan awal kesuksesan perang melawan Filistin; pecahnya perang (13:1-7), Samuel
menawarkan pengorbanan kepada Saul (13:8-14), masa-masa sulit bagi bangsa
Israel (13:15-23), kemenangan atas bangsa Filistin di Mikhmas oleh kepahlawanan
Yonatan (14:1-46), rangkuman tentang masa pemerintahan Saul (14:47-52).
5. Kemenangan
Saul atas bangsa Amalek dan penunjukannya yang kedua kali oleh Samuel (15).
C. Saul
dan Daud (I Samuel 16-31; II Samuel 1)
1. Daud
dan Saul, Daud ditunjuk menjadi raja oleh Samuel (16:1-13), pertemuan Daud
dengan Saul pertama kali sebagai pemain kecapi (16:14-23) dan setelah
mengalahkan Goliat (17:1-18:5) Saul iri akan popularitas Daud (18:6-16), Saul
menjanjikan Merab sebagai istri Daud (18:17-19); tetapi setelah mengalahkan
seratus prajurit Filistin, Saul memberinya Mikhal sebagai Isteri untuk dinikahi
(18:20-30); Yonatan membujuk Saul agar tidak membunuh Daud (19:1-7) tetapi
karena takut akan bahaya dari Saul, Daud melarikan diri. Pertama ketika
istrinya memberitahukan maksud pembunuhan oleh Saul (19:8-17) dan Daud pergi ke
Samuel di Ramah dan Saul menyuruh orang suruhannya untuk menangkap Daud tetapi
gagal karena dipenuhi Roh Allah (19:18-24); kedua, ketika diperingatkan secara
diam-diam oleh Yonatan (20:1-42).
2. Daud
bebas; ia meminta pertolongan pada Imam di Nob (21:1-9); Daud berpura-pura gila
(21:10-15); dan menjadi kepala bandit (22:1-5); Saul menyuruh membunuh Imam Nob
tetapi Abytar luput dan lari bersama Daud (22:6-23); Daud membebaskan Kehila
dari bangsa Filistin (23:1-6), tetapi kemudian melarikan diri dari Saul ke Zif
(23:7-14); dimana Yonatan membuat perjanjian ketiga dengan Daud (23:15-18);
Saul kembali ke Israel karena serangan Filistin (23:19-28) Daud menyelamatkan
Saul di En-Gedi (23:29-24:22); kematian Samuel (25:1); Daud, Nabal dan Abigail
(25:2-42); isteri-isteri Daud yang lain (25:43); Daud menyelamatkan Saul di Zif
(26:1-25).
3. Daud
diantara orang-orang Filistin (27;28:1); Daud dan gerombolannya menawarkan
jasa-jasanya ke raja Akhis di Gat, menerima Ziklak (27:1-4), bertemu dengan
Ziklag, berpura-pura menyerang Yehuda (27:7-12); Daud menawarkan diri untuk
bersekutu dengan Filistin melawan Saul (28), Daud di kirim pulang oleh
orang-orang Filistin (29:1-11); Ziklag terbakar pembalasan Daud kepada orang
Amalekh (30:1-6), Daud mengalahkan mereka (30:7-31).
4. Kematian
Saul (1 Samuel 28:3-25;31; II Samuel 1); takut akan bencana Saul memanggil Roh
Samuel (1 Samuel 28:3-25); dikalahkan Filistin di Gilboa, Saul bunuh diri (31),
Daud mengalahkan Amalekh yang membunuh Saul (II Samuel 1:1-16), ratapan Daud
atas Saul dan Yonatan (1:17-27)
D. Daud
Sebagai Raja atas Yehuda (II Samuel 2:4)
Orang-orang Yehuda
menunjuk Daud Sebagai raja (2:1-7) tetapi Abner menunjuk Isyboset sebagai raja
Israel (2:8-11) dan melawan Daud (2:12-3:1); anak-anak Daud (3:2-5); Abner
memihak Daud kemudian dibunuh Yoab (3;6-39).[16]
2.
Sumber
Buku: Kitab Ilahi
A. I
Samuel : Pembentukan Kerajaan Israel
Kitab
1 Samuel terdiri dari 31 pasl dan 810 ayat. Dalam kitab ini dikisahkan tentang
awal kerajaan Israel. Samuel masih mengharapkan agar anaknya menggantikannya
sebagai Imam (1 Sam 8:1-2) namun rakyat Israel menolak dan mengharapkan
pemimpin seorang raja dengan alasan:
a. Anak-anak
Samuel jahat-jahat (8:3,5).
b. Israel
ingin sama dengan bangsa atau dunia sekitar yang memiliki raja (8:5, 20).
c. Bangsa
Israel ingin pemimpin yang tetap untuk melayani dan mengantisipasi serangan musuh.
d. Allah
sendiri mengijinkan permohonan tentang raja tersebut (8:22).
Ada
berbagai faktor penyebab seseorang menjadi raja (suara rakyat, keahlian,
keturunan) tetapi secara iman diyakini sebagai Pemberian Allah. Itu sebabnya
seorang raja harus diurapi sebagai simbol bahwa seluruh kuasa dan jabatannya
harus tunduk kepada Tuhan sebagai Raja yang Agung. Raja harus memimpin sesuai
dengan kehendak Allah, inilah ciri pemerintahan yang Teokratis.
Pada
awalnya Saul memerintah dengan baik, mengalahkan musuh-musuh (1 Sam 13-14)
namun dia sering tidak memerintah sesuai dengan perintah Allah: misalnya
mempersembahkan korban, tidak membunuh semua musuh yang ada. Karena tidak
mendengarkan Allah maka Saul akhirnya ditolak Allah (1 Sam 15).
Penggantinya
adalah Daud sesuai dengan petunjuk Allah. Secara manusia Daud bukan orang yang
tepat, tetapi Allah melihat imannya yang polos dan kerendahan hatinya. Ketika
Israel menghadapi Goliat (tentara filistin) Iman Daud lebih berkuasa dari pada
keperkasaan Saul. Kemenangan Daud melahirkan dendam, iri hati dan benci bagi
Saul, sehingga dia terus berusaha untuk membunuh Daud sampai hari kematiaannya.
Saul tidak bisa menerima kenyataa peralihan itu yang mengakibatkan rasa takut
dan gelisah (1 Sam 18-31); ambisi Absalom (13-18).[17]
3.
Sumber Buku: Kitab-Kitab Sejarah Dalam
Perjanjian Lama
A. Kemunculan
Samuel (I Samuel 1-7)
1. Kelahiran
Samuel (1:1-2:10)
-
Samuel lahir (1:1-28)
-
Puji-pujian Hana (2:1-10)
2. Samuel
dan Kaum Keluarga Eli: Kejayaan dan Kemerosotan (2:11-4:1a)
3. Orang
Israel, Filistin dan Tabut Perjanjian (4:1b-7:1)
-
Tabut perjanjian dirampas, dan Eli wafat
(4:1b-22)
-
Tabut perjanjian di tanah Filistin
(5:1-12)
-
Tabut perjanjian kembali dan tinggal di
Kiryat Yearim (6:1-7:1)
4. Samuel
Menjadi Hakim (7:2-17)
B. Permulaan/Pembentukan
Sistem Kerajaan (I Samuel 8-15)
1. Tuntutan
untuk memiliki raja (8:1-22)
2. Saul
dipilih dan di urapi (9:1-10:27)
3. Kemenangan
pertama Saul (11:1-15)
4. Pembaruan
perjanjian (12:1-25)
5. Saul
ditolak sebagai raja - A (13:1-15a)
6. Kepahlawanan
Saul dan Yonatan (13:15b-14:52)
7. Saul
ditolak sebagai raja – B (15:1-35)
C. Daud
Memegang Kekuasaan (I Samuel 16-II Samuel 5:10)
1. Daud
diurapi menjadi raja di Betlehem (I Samuel 16:1-13)
2. Daud
di Istana (I Samuel 16:14-23)
3. Daud
dan Goliat (I Samuel 17:1-18:5)
4. Daud
menghadapi banyak ancaman (I Samuel 18:6-20:42)
-
Saul iri hati (18:6-9)
-
Allah mengutus roh jahat merasuki Saul
(18:10-11)
-
Daud selalu berhasil dalam segala yang
diperbuat (18:12-16)
-
Daud dan Merab, putri Saul (18:17-19)
-
Daud dan Mikhal, putri Saul (18:20-30)
5. Daud
menjadi buronan (I Samuel 21:1-30:31)
-
Daud dan Ahimelekh, Imam dari Nob
(21:1-9)
-
Daud berpindah-pindah ke berbagai tempat
(21:10-22:5)
Daud
dan Akhis, raja dari Gat (21:10-15)
Para
pengikut Daud (22:1-2)
Daud
di Moab (22:3-5)
-
Saul membunuh para imam di Nob (22:6-23)
-
Daud dalam pelarian (23:1-29)
Daud
di Kehila (23:1-13)
Selingan;
persahabatan Daud dan Yonatan (23:14-18)
Daud
di Padang Gurun Zif dan Maon (23:19-26)
-
Di En-Gedi Daud Daud membiarkan Saul
hidup (24:1-22)
-
Daud, Nabal, dan Abigail (25:1-44)
-
Di padang gurun Zif kembali Daud
membiarkan Saul Hidup (26:1-23)
-
Daud kembali kepada Akhis, raja Gat
(27:1-28:2)
-
Saul dan perempuan pemanggil roh di
En-dor (28:3-25)
-
Daud meninggalkan Akhis, Raja Gat
(29:1-11)
-
Kepahlawanan raja Daud (30:1-31)
6. Kematian
Saul (I Samuel 31)
-
Saul mati dan dikuburkan (I Samuel
31:1-13). [18]
4.
Kesimpulan : dari ketiga struktur
kitab diatas, penulis memilih struktur dari sumber buku yang ketiga yaitu dari
buku Kitab-Kitab Sejarah Dalam Perjanjian Lama, karena lebih jelas dan
terperinci.
1.1.7. Tujuan dan Pesan Kitab Samuel
Kitab Samuel ditulis
dengan tujuan sebagai catatan sejarah tentang kejadian-kejadian yang sebenarnya
terjadi agar bangsa Israel masa mendatang dapat mengetahui dengan jelas
bagaimana awal Israel terbentuk serta kejadian-kejadian yang terjadi dalam
periode tersebut. Khususnya mengenai para pendiri bangsa (founding fathers) dan tokoh-tokoh yang ada didalamnya. Selain itu
kitab ini juga mengajak bangsa Israel untuk belajar dari keberhasilan dan
kegagalan dalam hal kepemimpinan.[19] Tujuan
historis dari kitab 1 Samuel adalah untuk mempersiapkan laporan resmi tentang
pekerjaan Samuel selama pembentukan dan perkembangan kerajaan Israel dari
pemerintahan Saul hingga Daud. Secara teologis buku ini menunjukkan kedaulatan
Allah dalam “Kerajaan Teokrasi” yang Ia dirikan dan perintahkan untuk memimpin
bangsa Israel. 1 Samuel menguraikan titik peralihan yang kritis dalam sejarah
Israel dari kepemimpinan para hakim kepada pemerintahan seorang raja. Kitab ini
menyatakan ketegangan di antara pengharapan bangsa itu akan seorang raja dan
pola teokratis Allah, dengan Allah sebagai raja mereka. Kitab ini menunjukkan
dengan jelas bahwa ketidaktaatan Saul dan pelanggarannya terhadap
tuntutan-tuntutan teokratis jabatannya membuat Allah menolak dan
menggantikannya sebagai raja.[20] Tujuan
dari kitab ini juga adalah menguraikan ketaatan yang menghasilkan berkat Allah
dan penunjukan pola teokratis Allah yang dipercayai sebagai raja mereka. Kitab
ini juga menjelaskan peralihan yang kritis dalam sejarah Israel dari
kepemimpinan para hakim kepeda pemerintahan seorang raja.[21]
Pesan
yang disampaiakan dalam Kitab I Samuel adalah Fakta-fakta sejarah yang
dikemukakan oleh pengarang kitab ini bukan hanya untuk menambah pengetahuan
para pembaca sejarah bangsa Israel, tapi juga untuk menjelaskan
peristiwa-peristiwa tersebut dari segi keagamaan yang sebenarnya. Dengan itu,
para pembaca baik pada zaman dahulu maupun pada masa sekarang mendapat
pengetahuan kenapa terjadi perubahan bentuk pemerintahan, dan apa yang
menyebabkan kegagalan Saul dalam hal mencapai kebesaran yang sesungguhnya. Daud
mengajarkan tentang sifat-sifat, watak, dan kelakuan yang diperlukan oleh orang
yang berhasrat membimbing umat Allah, demikian pula sikap Allah terhadap orang
itu dalam segala keadaan. Dalam seluruh cerita dinyatakan bahwa kehadiran Allah
yang selalu menyertai umat-Nya dengan berbagai cara. Walaupun bangsa Israel
kerap sekali mengalami penderitaan yang sering disebabkan oleh kesalahan dari
para pemimpinnya, tetapi Allah selalu melengkapi mereka dengan sesuatu yang
lebih baik.[22]
Jadi,
hal yang tepenting melalui pesan yang disampaikan dalam Kitab I Samuel yaitu menguraikan
titik peralihan yang kritis dalam sejarah Israel dari kepemimpinan para hakim
kepada pemerintahan seorang raja. Kitab ini menyatakan ketegangan di antara
pengharapan bangsa itu akan seorang raja (seorang pemimpin yang lalim; seperti
pada segala bangsa-bangsa lain), dan pola teokratis Allah, dengan Allah sebagai
Raja mereka. Kitab ini menunjukkan dengan jelas bahwa ketidaktaatan Saul dan
pelanggarannya terhadap tuntutan-tuntutan teokratis jabatannya adalah dampak
dari pemilihan seorang raja atas kehendak manusia bukan kehendak Allah sehingga
membuat Allah menolak dan menggantikannya sebagai raja.[23]
1.1.8.
Tema-tema Teologis Kitab Samuel
a.
Pengangkatan Raja dinilai sebagai perwujudan janji Allah kepada Abraham dimana
keturunannya akan menjadi bangsa yang besar. Memang ada faktor-faktor dunia
yang menjadi faktor penyebab adanya Israel sebagai bangsa dibawah raja. Iman
Israel menyakini bahwa raja adalah pemberian Tuhan, sehingga raja harus
bertanggungjawab kepada Tuhan.
b.
Raja memiliki fungsi ganda di satu sisi sebagai wakil Allah tetapi juga wakil
manusia. Seorang raja harus membangun dan berusaha mengamati dan mendengar
kehendak rakyat. Masalahnya adalah dalam mendengar kehendak rakyat seorang raja
haru lebih dahulu mendengar Allah. Mendengar Allah adalah prioritas utama dari
pada mendengar suara-suara yang lain.
c.
Seorang raja adalah pilihan Allah meskipun pilihan Allah tersebut tidak
menghilangkan pilihan manusia. Saul adalah pilihan Samuel dan usul dari bangsa
Israel tetapi peran Allah sangat jelas. Seorang raja dalam menjalankan tugasnya
harus tunduk kepada Allah.
d.
Tiada gading yang tak retak demikian pepatah yang tepat untuk kehidupan raja.
Sehebat-hebatnya raja yang dipilih tetapi semuanya tidak ada yang sempurna.
Kitab ini mencatat bahwa tidak ada raja yang setia kepada Tuhan secara
sempurna. Ketidak sempurnaan ini adalah awal pengharapan tentang seorang raja
Mesias, pemimpin yang datang dari sorga. Pengharapan Mesias adalah akibat
kekcewaan orang Israel kepada raja yang berasal dari manusia.[24]
[1] David F. Payne, I & II Samuel (Philadelpia: Westminster Press, 1982), 1
[2] Lihat dalam Talmud (Baba Bathra 14b), Eusebius (Hist. eccl. 7:25, 2), dan Jerome (Prologus Galeatus). Dalam Robert H.
Pfeiffer, Introduction to The Old Testament
(New York and Evanston: Harper & Raw Publisher, 1948), 338
[3] Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi (Medan: Bina Media Perintis,
2016), 92
[4] W.S. Lasor, D.A. Hubbard, F.W.
Bush, Pengantar Perjanjian Lama 1,
325
[5] Jonar Situmorang, Mengenal Dunia Perjanjian Lama
(Yogyakarta: ANDI, 2019), 359
[6] Andrew E. Hill & John H.
Walton, Survei Perjanjian Lama (Malang:
Gandum Mas, 2008), 300
[7] Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi, 92-93
[8] Sumber DH adalah sumber ketiga
dari empat sumber utama, setelah sumber J dan E, sebelum Sumber P, yang telah
membentuk Alkitab Perjanjian Lama, dengan cakupan yang sangat luas yaitu dari
kitab Ulangan (pasal 12-26) sampai Raja-raja. Kitab Ulangan merupakan kitab
kelima yang ada dalam Pentateukh, bahasa latinnya adalah “Deuteronium” dan dari nama inilah diperoleh nama sumber D atau DH
sebagai kependekatan dari Deutronomistic
History (sejarah Deutronomis). Hal ini disebabkan karena Ulangan 12-26
adalah dasar acuan yang dipakai untuk menghasilkan keseluruhan Deutronomi.
Semua literature yang ditulis oleh para penulis sejarah Deutronomi mengikuti
gaya-gaya kitab Ulangan sehingga disebut juga dengan istilah Deutronomistic History (DH).
[9] Karen Amstrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang
dilakukan Oleh Orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam selama 4000 tahun (Bandung:
Mizan, 2003), 86-87
[10] Golongan Imam Silo menginginkan
pemusatan agama, tetapi tidak mengikat kepada tabut atau dibawah keimaman
Yerusalem; Peduli terhadap semua mata pencaharian imam-imam Lewi tetapi, akan
memberi hak memilih hanya kelompok pusat Lewi; Mereka menerima seorang raja,
tetapi kekuasaannya perlu dibatasi, mereka mempunyai pendekatan pra-monarki
mengenai aturan-atauran peperangan. Richard Friedman, Who Wrote the Bible? (San Fransisco: Harper Publisher, 1987),
119-124
[11] Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi, 93
[12] Andrew E. Hill & John H.
Walton, Survei Perjanjian Lama, 299
[13] Frank M. Cross, Canaanite Myth and Hebrew Ephic: Esay in
History of the religion of Israel (Cambrige: Harvard University Press,
1973), 274-289
[14] Frank M. Cross, 275-278
[15] David M. Howard Jr, Kitab-Kitab Sejarah Dalam Perjanjian Lama
(Malang: Gandum Mas, 2002), 193-195
[16] Robert H. Pfeiffer, Introduction to The Old Testament,
338-340
[17] Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi, 93
[18] David M. Howard Jr, Kitab-Kitab Sejarah Dalam Perjanjian Lama,
203-205
[19] David F. Payne, I & II Samuel, 3
[20] Donald C. Stamps (ed), Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan (Jakarta: Gandum Mas, 2006),
416.
[21] …., Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, (Malang: Gandum Mas, 2008)
416
[22]Tim Penulis, Tafsiran Alkitab Masa Kini 1 (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina
Kasih, 2005), 439.
[23]Donald C. Stamps (ed), Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, 416.
[24] Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi, 96-97
Semoga membantu..😉
BalasHapus