I Pendahuluan
Pentingnya
pembelajaran mengenai orang dewasa dalam Pendidikan Kristen adalah untuk
mempermudah kita dalam melakukan pemberitaan Firman Tuhan. Menjadi hal yang
seharusnya ketika manusia di dalam hidup
mengalami perubahan, mulai dari ia di dalam kandungan, lahir ke dalam dunia ini
sampai dengan kematiannya. Perubahan demi perubahan tidak dapat dihindari mulai
dari anak-anak sampai dengan dewasa. Dewasa adalah orang yang sudah mampu
berdiri sendiri, bertanggung jawab terhadap orang lain, pekerjaan dan
lain-lain. Seseorang yang sudah berumur belum tentu ia dikatakan seorang
dewasa, karena masih bersikap selayaknya seperti anak kecil. Orang dewasa
dipengaruhi oleh perkembangan psikologynya baik dari Fisik, Afektif, Kognitif,
Moral, Sosial dan Spiritualitas dan sebagainya. Dibawah ini akan dibahas
mengenai Psikologi Perkembangan Orang Dewasa.
II.
Pembahasan
2.1. Pengertian Dewasa
Secara
etimologi kata dewasa berasal dari kata “Adult”
yang berasal dari kata kerja Latin yaitu “Adolescene-adolescere”
yang berarti “tumbuh menjadi kedewasaan”. Namun kata “Adult” berasal dari bentuk lampau paticiple dari kata kerja “Adultus” yang berarti telah
tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna atau “telah menjadi dewasa”. Oleh
karena itu, orang dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan
pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan
orang dewasa lainnya.[1] Di
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Dewasa
berarti suatu keadaan yang menunjukkan akil
balik yakni berumur 15 tahun ke atas.[2]
Orang
dewasa juga dapat di artikan sebagai individu – individu yang telah memiliki
kekuatan tubuh secara maksimal dan siap berproduksi serta telah dapat
diharapakan memiliki kesiapan kognitif, afektif, fisik, moral, dan juga
spiritualitas dan lain sebagainya. Selain itu, orang dewasa juga diharapkan
untuk dapat memainkan peranannya dengan individu-individu lain dalam
masyarakat.[3]
Sebagai seorang individu yang sudah tergolong dewasa, peran dan tanggung
jawabnya tentu makin bertambah besar. Ia tak lagi harus bergantung secara
ekonomis, sosiologis ataupun psikologis pada orangtuanya. Mereka justru merasa
tertantang untuk membuktikan dirinya sebagai seorang pribadi dewasa yang
mandiri. Artinya seorang dewasa akan berusaha secepat mungkin untuk menangani
masalah mereka secara individual.[4]
Namun
kedewasaan juga dapat diatikan sebagai proses kehidupan yang panjang dan
tingkatan kehidupan yang khas yang di dalamnya terdapat cerita masa lalu dan
segala akibatnya. Ciri kedewasaan adalah “serius dengan kegiatan yang
dikerjakan”, pribadinya semakin matang dan mengalami perpindahan dari masa
remaja menuju dewasa muda.[5]
2.1.1.
Pengertian
Dewasa Menurut Beberapa Tokoh
Pengertian Dewasa menurut beberapa tokoh ialah
sebagai berikut:
a.
E.B.
Hurlock
Menurut E.B. Hurlock
orang dewasa adalah individu yang telah mengalami kematangan secara hukum sampai kira-kira umur 40 tahun
(dialami seseorang sekitar umur 20 tahun), lalu masa stengah baya atau middle age yang umumnya di usia 40 tahun
dan terakhir dalam usia yang ke 60 tahun (juga dialami dalam kurun waktu 20
tahun). Dan akhirnya old age yang
dimulai sejak berakhirnya masa setengah baya sampai seseorang meninggal dunia.[6]
b. Lydia Harlina dan S.K
Satya Joewana
Dewasa adalah tidak
dapat dipisahkan dari arti dan tujuan. Jika telah mampu dan ingin menjadi manusia
yang dapat bertanggungjawab sendiri, yang didalamnya terdapat hal-hal yang
normatif, etika atau kesusilaan. Ada dua yang dapat dikatakan dewasa secara
jasmani dan sosial. Dikatakan dewasa secara jasmani jika ia telah mampu
menghasilkan keturunan (akil balik),
dikatakan dewasa secara sosial jika ia telah mampu hidup mandiri dan
bertanggungjawab.[7]
c. Richard Daulay
Dewasa secara jasmani
artinya sudah mengalami pertumbuhan tinggi dan berat badan secara maksimal
dengan gizi yang memadai. Agar kondisi tubuh yang sehat harus juga diperhatikan
keseimbangan antara waktu bekerja dengan waktu santai dan olahraga. Orang dewasa
biasanya menaruh perhatian khusus pada bentuk tubuh yang ramping sehingga
memiliki pola makan yang teratur.[8]
d.
Singgih
D. Gunarsa dan Y. Singgih D. Gunarsa
Dewasa adalah
mengandung berbagai arti yang meliputi kemampuan untuk berdiri sendiri,
menentukan tindakan sesuai dengan kedewasaan dan menempatkan diri dengan
ketergantungan dengan orang lain.[9]
e.
Ramlan
Surbakti
Dewasa adalah memiliki
tanggungjawab yang sudah dapat terjun langsung pada masyarakat. Disinilah
dewasa sudah mengenal pada masyarakat politik, sehingga mereka mempunyai
pemikiran yang sangat radikal.[10]
f.
Jersild
Mengartikan masa dewasa
bukan hanya diukur dari aspek kematangan tubuh, tetapi juga diukur dengan aspek
psikologys. Aspek kematangan tubuh sudah dapat dipastikan atau ditentukan
sebagai orang yang dewasa, tetapi dari aspek psikologis belum tentu orang yang
berumur 22 tahun dapat dikatakan dewasa. Sebab masih banyak ditemukan orang
yang berumur 22 tahun masih bersikap selayaknya anak kecil, yang bersifat
egosentris, tidak dapat mengendalikan perasaan diri, melakukan sesuatu tanpa
tujuan yang pasti, sulit menerima kritik, saran atau pendapat dari orang-orang
sekitar dan tidak mampu menempatkan diri sesuai dengan kenyataan hidup.
Seseorang dikatakan dewasa jika ia dewasa secara sosial dan jasmani.[11]
g.
Andi
Mappiare
Dewasa
(Adult) secara umum merupakan suatu
status dalam perkembangan manusia yang ditandai terutama dengan arah diri dalam
bertindak, tanggung jawab dan adanya kebebasan emosional.[12]
Kata dewasa juga dapat dikenakan kepada individu yang telah memiliki kekuatan
tubuh secara maksimal dan siap berproduksi dan telah dapat diharapkan memiliki
kesiapan kognitif, afektif, psikomotorik serta dapat diharapkan memainkan
peranannya bersama dengan individu-individu lain dalam masyarakat. [13]
h. Robert J. Havighurst
Havighurst
menyatakan bahwa dewasa adalah seseorang yang mengalami pertumbuhan dengan
periode-perode yang berlangsung di dalam diri setiap individu, pencapaian yang
sempurna yang membawanya pada kebahagiaan dan berhasil melakukan apa yang
tanggungjawabnya, di saat kegagalan
untuk ketidakbahagiaan di dalam diri individu, tidak diterima oleh
sosial, dan kesulitan dalam melaksanakan tanggungjawab.[14]
i. David Chaney
Chaney
berpendapat bahwa seseorang yang disebut dewasa adalah individu yang telah siap
untuk menerima kedudukan dalam masyarakat.
Kedewasaan
atau kematangan adalah suatu keadaan bergerak maju ke arah kesempurnaan.
Kedewasaan bukanlah suatu keadaan yang statis, (a state of becoming). Adapun
ciri-ciri kedewasaan adalah: menghargai orang lain, sabar, penuh daya tahan,
sanggup mengambil keputusan, menyenangi pekerjaan, menerima tanggung jawab,
percaya pada diri sendiri, memiliki rasa humor, memiliki kepribadian yang utuh,
seimbang, menerima diri sendiri, dan memiliki prinsip yang kuat.[15]
j.
Daniel
Nuhamara
Orang dewasa adalah
orang yang melihat dirinya sebagai orang yang mandiri dan mempunyai rasa
identitas individual yang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri tidak hanya
pasif menunggu orang lain membentuk kehidupannya. Daniel mengatakan
karakteristik orang dewasa dilihat dari beberapa segi seperti:
i.
Dari
segi ekonomis, orang dewasa telah mampu mendukung
dirinya sendiri secara finansial dan mampu mencukupi kebutuhan ekonomisnya
sendiri.
ii.
Dari
segi pendidikan, orang dapat disebut dewasa
apabila telah menyelesaikan tahun-tahun sekolahnya sebagaimana tuntutan
masyarakatnya.
iii. Dari segi cultural, sosiologis dan pengetahuan, orang dewasa adalah orang yang telah mengasumsikan semacam tanggung jawab bagi diri sendiri dan terhadap orang lain dan juga mempunyai tingkat kemandirian dari otoritas orang tua yang tidak sama lagi dengan remaja dan pemuda.[16]
2.2.
Psikology
Perkembangan Orang Dewasa
2.2.1.
Pengertian
Psikology
Psikologi
berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu “psychy” yang artinya jiwa dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan.
Jadi, secara Etimologi, psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa,
baik mengenai gejala-gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya.[17] Dalam
KBBI, pengertian Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan tentang gejala dan
kegiatan-kegiatan jiwa.[18]
Menurut Kamus Psikologi, Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang
mempelajari proses-proses mental dan prilaku makhluk hidup ataupun
proses-proses mental dan prilaku itu sendiri.[19]
Psikologi
adalah ilmu pengetahuan tentang tingkah laku dan kehidupan psikis (jiwani)
manusia.[20]
Menurut pandangan umum, psikologi merupakan suatu “sains” yang berdasarkan
penelitian yang nyata dan benar.[21]
Menurut Wundt, psikologi adalah ilmu tentang kesadaran manusia.[22]
Menurut Aristoteles, psikologi adalah ilmu mengenai gejala-gejala jiwa manusia,
dimana di dalam ilmu itu dipelajari tentang tingkah laku manusia dan
pengkhayatan akan manusia.[23] Sedangkan
Menurut Jhon Broadus, psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari
tingkah laku tampak (lahiriah) dengan menggunakan metode observasi yang
objektif terhadap rangsangan dan jawaban (respons).[24]
2.2.2. Kedudukan Psikology
Psikologi
terbagi menjadi 2 yaitu psikologi umum dan khusus. Psikologi umum ialah
psikologi meneliti dan mempelajari kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas
psikis manusia yang tercermin dalam perilaku yang umumnya yang dewasa, yang
normal dan yang berkultur (dalam arti tidak terisolasi). Psikologi khusus ialah
psikologi yang meneliti dan mempelajari segi-segi kekhususan dari
aktivitas-aktivitas psikis manusia. Dalam hal ini kita menggunakan kaidah bahwa
tingkah laku kita pandang sebagai gerak-gerik jiwa, atau gejala-gejala
kehidupan jiwa. Tentu saja ini tidak selamanya benar. Misalnya, seseorang
menangis, tidak selalu karena sedang bersedih, sering juga karena terlalu
bergembira. Namun karena gejala jiwa itu sangat abstrak sifatnya, maka para
ahli kemudian memutuskan, lebih baik kita menentukan objek sekalipun kurang
baik, daripada menggunakan objek yang baik tetapi tidak ada.[25]
2.2.3. Pengertian Psikology
Perkembangan
Psikologi
dibagi menurut aliran lama yang sampai sekarang masih berlaku ialah Psikology
umum dan Psikology khusus. Pada studi ini, psikologi perkembangan termasuk
dalam psikologi khusus. Psikologi perkembangan atau psikologi genetis adalah
ilmu yang mempelajari psikhe/jiwa dan perkembangan kehidupan psikis manusia
normal.[26]
Istilah
perkembangan berarti serangkaian perubahan yang terjadi proses kematangan dan
pengalaman dan yang menyatakan perbedaan yang terjadi dalam diri pribadi
seseorang dengan menitikberatkan pada relasi antara kepribadian dan
perkembangan.[27]
Jadi
Psikology perkembangan adalah suatu ilmu yang membicarakan kepribadian
seseorang yang mencakup proses-proses perkembangan yang terjadi di dalam diri
seseorang, apa yang bertambah atau berubah yang dimulai dari masa kanak-kanak
hingga bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa. Setiap orang akan mengalami
tahapan perkembangan yang berlangsung secara berantai, dan setiap individu itu
berbeda, dengan kata lain setiap orang itu khas, tidak akan ada dua orang yang
tepat sama meskipun berasal dari orang tua yang sama atau kembar sekalipun.[28]
Dengan demikian, psikologi perkembangan diartikan sebagai suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari kegiatan/tingkah laku individu dalam perkembangannnya, beserta latar belakang yan mempengaruhinya sehingga menimbulkan efek-efek tertentu.[29]
2.2.4.
Pembagian
Masa Dewasa
Masa
dewasa dibagi menjadi 3, yaitu:
2.2.4.1.
Masa Dewasa Dini
Masa dewasa ini dimulai dari umur sekitar 18-34 tahun, saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif.[30] Masa dewasa ini adalah masa pencarian kemantapan dan masa reproduktif yaitu masa yang penuh dengan masalah, ketegangan emosi, periode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan-perubahan nilai, kreatifitas dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru.[31] Diusia seperti ini orang dewasa muda sering memiliki keragu-raguan. Mereka tahu bahwa mereka tidak akan kembali seperti dulu lagi. Pada masa ini, mereka sangat membutuhkan simpati, pengertian, bimbingan.[32] Seseorang yang berada pada tingkat ini juga mengambil keputusan berdasarkan suatu kontrak / perjanjian, baik sosial maupun pribadi. Dalam hal hukum, dan proses-proses yang mengubahnya pada masa kini, mereka dibimbing oleh rasionya.[33]
2.2.4.1.1. Tugas Masa Dewasa Dini
Tugas-tugas
perkembangan masa dewasa dini dipusatkan pada harapan-harapan masyarakat dan
mencakup mendapatkan suatu pekerjaan, memilih seorang teman hidup, belajar
hidup bersama seorang atau isteri membentuk suatu keluaraga, membesarkan
anak-anak, mengelola sebuah rumah tangga, menerima tanggung jawab sebagai warga
negara dan bergabung dan bergambung dalam suatu kelompok sosial yang ccok.
Tingkat penugasan tugas-tugas ini pada tahun awal masa dewasa akan mempengaruhi
tingkat keberhasilan mereka ketika mencapai puncak keberhasilan pada waktu usia
setengah baya apakah dibidang pekerjaan atau diterima dalam sosial, atau
kehidupan keluarga. Tingkat penguasaan ini yang akan menentukan kebahagiaan
mereka selama tahun-tahun akhir kehidupan mereka. Keberhasilan dalam menguasai
tugas-tugas perkembangan masa dewasa dini sangat dipengaruhi oleh jenis dasar
yang telah diletakkan sebelummya. Walaupun demikian ada beberapa faktor yang
memngaruhi kehidupan orang dewasa yaitu:
Ø Efisiensi
Fisik
Puncaknya
biasanya pada usia pertengahan dua puluhan, secara fisik orang mampu mengahadapi
dan mengatasi masalah-masalah.
Ø Kemampuan
motorik
Orang-orang
muda mencapai punca kekuatannya antara usia 20-an sampai 30-an. Sesudah itu
kemampuan untuk merespon akan mulai menurun. Dalam menguasai kemampuan orang-orang
usia muda lebih mudah dari pada orang-orang yang sudah diatas 35 tahun.
Ø Kemampuan
Mental
Kemampuan
mental yang diperlukan untuk mempelajari dan menyesuaikan diri pada usia-usia
baru, diperlukan penalaran analogis dan berpikir kreatif, mencapai puncaknya
dalam usia duapuluhan kemudian sedikit demi sedikit menurun.
Ø Motivasi
Apabila remaja mencapai usia dewasa secara hukum mereka berke-inginan kuat untuk dianggap sebagai orang dewasa yang mandiri oleh kelompok sosial mereka.
Ø Model
Peran
Remaja
yang bekerja setelah tamat sekolah akan mempunyai model peran untuk diteladani.
Karena bekerja dengan orang dewasa maka mereka harus memperoleh motvasi dari
orang dewasa untuk mencontoh perilaku sesuai dengan orang dewasa tersebut.
2.2.4.1.2. Tantangan Dewasa Dini
Orang
dewasa dini ialah orang-orang yang berada pada jenjang umur 18-34 tahun. Dewasa
dini ini juga disebut sebagai dari remaja ke dewasa. Seperti yang telah
dijelaskan diatas bahwa pada jenjang umur dewasa dini ialah masa kreatif, masa settle down (masa pengaturan) dan juga
usia produktif.
a.
Ekonomi
Perubahan
dari sistem ekonomi kapitalisme menuju terbentuknya sistem multinational
corporation. Komoditi gaya hidup menjadi sesuatu yang sangat penting dalam
konteks ekonomi. Kecenderungan ini akan terus menguat seiring dengan adanya perkembangan
hubungan-hubungan ekonomi yang sangat cepat dan seolah menyatukan planet bumi
sebagai satu kesatuan ekonomi global.[34]
Orang dewasa dini akan terus bekerja dan bekerja untuk memenuhi yang menjadi kebutuhaan, terkhusus apabila ia telah memiliki keluarga, maka ia mulai berpikir akan kebutuhan hidup dalam berkeluarga tersebut. Orang dewasa dalam hal ekonomi harus mampu membangun organisasi pembelajaran (learning organization). Oleh karena perubahan lingkungan strategik yang begitu cepat, orang dewasa harus mampu belajar untuk beradaptasi pada perubahan lingkungan tersebut. Berubahnya struktur dan mekanisme kerja organisasi menuntut sivitas akademika untuk memiliki dosen dan staf) perlu memiliki sikap mental baru, menggunakan pola pikir baru, dan cara kerja baru yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Untuk mampu beradaptasi pada situasi yang baru karyawan harus kreatif, inovatif, proaktif, dan berwawasan entrepreneurial. Orang dewasa masa kini harus berfungsi sebagai belajar, dan tugas organisasi untuk meningkatkan peluang belajar bagi semua anggota institusi untuk terus belajar. Persaingan dalam berbagai aspek di masa kini dan masa depan bertumpu pada persaingan pengetahuan (knowledge based competition). Hanya melalui ‘knowledge management yang baik orang dewasa akan sukse[35]
b.
Agama
Kebangunan agama-agama di luar Kekristenan juga menjadi suatu tantangan yang besar bagi iman Kristen. Semakin banyaknya kaum cendekiawan dalam agama-agama lain dan kesadaran mereka untuk melakukan konsolidasi juga merupakan fakta yang tidak boleh kita abaikan. [36] Orang dewasa perlu berhati-hati dalam hal agama dan spiritualitas.
c.
Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi
Pada milenium ketiga
ini akan terjadi pergeseran dan perubahan kehidupan sosial yang maha dahsyat,
sehingga terjadi apa yang disebut dengan cultural and social discontinuity.
Perubahan yang akan terjadi 100 tahun mendatang nampak akan melampaui perubahan
yang terjadi 1000 tahun lalu baik dari segi dampaknya, kecepatannya, luasnya
dan pentingnya. Masyarakat dunia akan mengalami fenomena baru di mana seluruh
tatanan sosial akan didominasi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi selain berperan dalam memacu proses
globalisasi, berperan juga untuk dipengaruhi perkembangan globalisasi.
Globalisasi menyebabkan IPTEK harus dikonsumsi oleh banyak komunitas.[37]
Dewasa dini harus mampu menyeimbangkan dalam kekreatifan dan juga ilmu
pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang.
d.
Politik
Yang
menjadi hal yang penting pada abad ke-21 ialah perbedaan
kepribadian pria dan wanita. Kehadiran komputer dan internet telah merubah
dunia kerja, dari tekanan pada kerja otot ke kerja otak. Implikasinya adalah
perbedaan perilaku pria dan wanita semakin mengecil. Kini semakin banyak
pekerjaan kaum pria yang dijalankan oleh kaum wanita. Banyak pakar yang
berpendapat bahwa kini semakin besar porsi wanita yang memegang posisi sebagai
pemimpin, baik dalam dunia pemerintahan maupun dalam dunia bisnis. Bahkan
perubahan perilaku ke arah perilaku yang sebelumnya merupakan pekerjaan pria
semakin menonjol. Peran wanita dalam kepemimpinan semakin membesar. Semakin
banyak wanita yang memasuki bidang politik, sebagai anggota parlemen, senator,
gubernur, menteri, dan berbagai jabatan penting lainnya. Selain itu semakin
banyak wanita yang menjadi pimpinan perusahaan dan sekaligus menjadi pemilik
perusahaan.
Peran wanita dalam pengambilan keputusan dalam kehidupan keluarga semakin besar.[38] Ada hal yang positif yang semakin mengikisnya kestratifikasian gender yang terjadi. Dewasa dini ialah dalam masa ketegangan emosional dan inilah yang menjadi tantangannya pria yang merasa bahwa dialah yang diatas dari wanita akan terus berusaha untuk menjadi yang diatas tanpa peduli akan apapun.
e.
Budaya
Telah
lahir kecenderungan suatu budaya dunia yang baru, budaya yang mengidealisasikan
budaya global dalam bentuk berbagai budaya dominan. Inilah yang disebut sebagai
budaya trans-nasional. Mode kebudayaan ini menjadi sangat mungkin ditunjang
oleh hubungan komunikasi yang semakin cepat dan tak berbatas.[39]
Orang dewasa dini pada tahap ini sedang mengalami perubahan-perubahan nilai
oleh sebab itu , tantangannya ialah bagaiman dewasa dini tetap memegang budaya
yang baik terus memperbaharui budaya yang baik tersebut dan menghilangkan budaya
yang tidak baik.
2.2.4.1.3. Ciri-ciri Masa Dewasa
Muda (Dini)
Berikut
ini adalah ciri-ciri masa dewasa muda adalah:[40]
a.
Masa
Pengaturan
Pada
masa anak-anak dan remaja merupakan periode “pertumbuhan” dan masa dewasa merupakan masa “pengaturan” (settle down). Pada generasi-generasi terdahulu berada
pada pandangan bahwa jika anak laki-laki dan perempuan mencapai usia secara sah,
hari-hari kebebasan mereka telah berakhir dan saatnya telah tiba untuk menerima
tanggunjawab sebagai orang dewasa.
b.
Usia
Reproduktif
Orang tua merupakan peran yang sangat penting dalam hidup orang dewasa. Orang yang kawin berperan sebagai orangtua pada waktu ia berusia duapuluh atau awal tigapuluhan sebelum masa dini berakhir. Orang yang belum menikah menyelesaikan pendidikan atau telah memulai kariernya, tidak akan menjadi orangtua sebelum ia merasa mampu berkeluarga. Perasaan ini biasanya terjadi sesudah umurnya sekitar awal tigapuluhan. Bagi orang yang cepat mempunyai anak dan mempunyai keluarga besar pada awal masa dewasa atau bahkan pada tahun-tahun terakhir masa remaja kemungkinan seluruh masa dewasa dini merupakan masa reproduksi.
c.
Masa
Bermasalah
Dengan
menurunnya tingkatan usia kedewasaan secara hukum menjadi 18 tahun pada tahun
1970, anak-anak muda telah dihadapakan kepada banyak masalah dan mereka tidak
siap untuk mengatasinya. Penyesuaian terhadap masalah-masalah dewasa dini
menjadi lebih intensif dengan diperpendeknya masa remaja, sebab masa transisi
untuk menjadi dewasa menjadi sangat pendek sehingga anak muda hampir-hampir
tidak mempunyai waktu untuk membuat peralihan dari masa kanak-kanak ke masa
dewasa.
d.
Masa
Ketegangan Emosional
Apabila emosi yang menggelora yang merupakan ciri tahun-tahun awal kedewasaan masih tetap kuat pada usia tigapuluhan, maka hal ini merupakan tanda bahwa penyesuaian diri pada kehidupan orang-orang dewasa belum terlaksana secara memuaskan.
e.
Masa
Keterasingan Sosial
Dengan berakhirnya pendidikan formal dan terjunnya seseorang kedalam pola kehidupan orang dewasa, yaitu karier, perkawinan dan rumah tangga, hubungan dengan teman-teman kelompok sebaya semasa remaja menjadi renggang, dan berbarengan dengan keterlibatan dalam kegiatan kelompok diluar rumah akan terus berkurang.
f.
Masa
Komitmen
Sewaktu menjadi dewasa, orang-orang muda mengalami perubahan tanggungjawab dari seorang pelajar yang sepenuhnya tergantung pada orangtua menjadi orang dewasa mandiri, maka mereka menentukan pola hidup yang baru, memikul tanggungjawab baru dan membuat komitmen-komitmen baru.
g.
Masa
Ketergantungan
Meskipun telah secara resmi mencapai status dewasa pada usia 18 tahun dan status ini memberikan kebebasan untuk mandiri, banyak orang muda yang masih agak tergantung atau bahkan tergantung pada orang lain selama jangka waktu yang berbeda-beda.
h.
Masa
Perubahan Nilai
Banyak nilai masa kanak-kanak dan remaja berubah karena pengalaman dan hubungan sosial yang lebih luas dengan orang-orang yang berbeda usia dan karena nilai-nilai itu kini dilihat dari kacamata orang dewasa. Orang dewasa yang tadinya menganggap sekolah itu suatu kewajiban yang tak berguna, kini sadar akan nilai pendidikan sebagai batu loncatan untuk meraih keberhasilan sosial, karier dan kepuasaan pribadi.
i. Masa Penyesuaian Diri
dengan Cara Hidup Baru
Dalam masa dewasa ini gaya-gaya hidup baru paling menonjol di bidang perkawinan dan peran orang tua. Diantara berbagai penyesuaian diri yang harus dilakukan orang muda terhadap gaya hidup baru, yang paling umum adalah penyesuaian diri pada pola peran seks atas dasar persamaan derajat (egilitarian) yang membedakan pembedaan pola peran seks tradisional, serta pola-pola baru bagi kehidupan keluarga, termasuk perceraian, ber-orang tua tunggal dan berbagai pola baru ditempat pekerjaan khususnya pola baru di tempat pekerjaan khususnya pada unit-unit kerja yang besar.
j.
Masa
Kreatif
Bentuk kraetifitas yang akan terlihat dari sesudah ia dewasa akan tergantung pada minat dan kemampuan individual, kesempatan untuk mewujudkan keinginan dan kegiatan-kegiatan yang memberikan kepuasan sebesar-besarnya. Ada yang menyalurkannya melalui pekerjaan yang memungkinkan ekspresi kreatifitas.
2.2.4.2. Masa Dewasa Menengah
(Madya)[41]
Masa dewasa menengah ini disebut masa penghasilan, karena pada masa inin seseorang sudah menetapkan bahwa sedang proses memelihara dan meningkatkan stabilitas ekonomi pada saat ini dan untuk masa yang akan datang. Mereka sering merasa tidak nyaman dengan pilihan yang mereka buat semasa muda dan menganggap bahwa pilihan-pilihan tersebut tidak berlaku lagi. Pada masa itu juga pindah kerja atau meninggalkan keluarga merupakan hal yang biasa namun hubungan keluarga yang stabil merupakan budaya Kristen. Yang menjadi masalah utama mereka adalah perubahan fisik karena usia karena pada usia ini biasanya merupakan awal kemerosotan atau melemahnya fungsi-fungsi tubuh. Mereka harus membiasakan diri untuk bersikap positi
2.2.4.2.1. Tantangan Dewasa Madya
a.
Ekonomi
Dalam masyarakat industri atau ekonomi industri tuntutan tidak lagi cukup dengan penguasaan ketrampilan motorik yang kaku melainkan diperlukan kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan – pekerjaan seperti “controlling, monitoring, maintaning, designing, organizing, yang dengan kemajuan teknologi pekerjaan yang sifatnya fisik telah diganti dengan mesin. Dengan kata lain, menyiapkan anggata masyarakat memasuki dunia kerja yang dalam “technology knowledge based economy”, belajar melakukan sesuatu dalam situasi yang konkrit yang tidak hanya terbatas kepada penguasaan ketrampilan yang mekanistis melainkan meliputi kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain, mengelola dan mengatasi konflik, menjadi penting.[42] Tantangan bagi dewasa madya ialah dewasa bagiamana ia mempertahankan apa yang telah ia capai sekalipun pada segi ekonomi ia sudah dapat dikatakan mapan.
b.
Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi
Tantangan bagi dewasa madya ialah kekreatifan yang mulai berkurang oleh karena dari segi umur pun mereka semakin tua sehingga ketika mereka diperhadapkan dengan zaman yang IPTEK semakin maju dan canggih mereka susah untuk mengikutinya.
c.
Segi Sosial
Kemajuan IPTEK pada kebanyakan rumah tangga golongan menengah ke atas telah merubah pola interaksi keluarga. Komputer yang disambungkan dengan telepon telah membuka peluang bagi siapa saja untuk berhubungan dengan dunia luar. Program internet relay chatting (IRC), internet, dan e-mail telah membuat orang asyik dengan kehidupannya sendiri. Selain itu tersedianya berbagai warung internet ( warnet) telah memberi peluang kepada banyak orang yang tidak memiliki komputer dan saluran internet sendiri untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui internet. Kini semakin banyak orang yang menghabiskan waktunya sendirian dengan komputer.[43] Tantangan bagi dewasa madya ialah Penyesuaian diri dengan hidup sendiri : masalah pria lajang dan wanita lajang. Penyesuaian diri dengan hilangnya pasangan yang diakibatkan oleh kematian dan perceraian. Dan juga ancaman perceraian didalam perkawinan oleh karena komunikasi yang hanya lewat komputer, handphone, atau internet.
2.2.4.2.2. Ciri-ciri Masa Dewasa
Menengah
Masa dewasa madya dimulai pada umur 40 tahun sampai 60 tahun, yakni saat menurunnya kemampuan fisik dan psikologis yang jelas nampak pada setiap orang, biasanya juga terjadi penurunan kekuatan fisik dan di ikuti oleh penurunan daya ingat. Walaupun pada masa ini banyak yang mengalami perubahan tersebut, lebih lambat dari masa lalu, namun garis batas tradisionalnya masih nampak. Meningkatnya kecenderungan untuk pensiun pada usia 60-an, sengaja ataupun tidak sengaja, usia 60-an dianggap sebagai garis batas antara usia madya dengan usia lanjut.
a.
Merupakan
Periode yang Sangat Ditakuti
Diakui
bahwa semakin mendekati usia tua, periode usia madya terasa lebih menakutkan
dilihat dari segi kehidupan manusia.
b.
Masa
Stress
Penyesuaian terhadap peran dan pola hidup yang berubah, khususnya bila disertai dengan berbagai perubahan fisik, selalu cenderung merusak homeostatis fisik dan psikologis seseorang dan membawa ke masa stress
c.
Merupakan
Masa Transisi
Transisi merupakan penyesuaian diri terhadap minat, nilai, perilaku yang baru. Seperti halnya masa puber, yang merupakan masa transisi dan masa kanak-kanakan ke masa remaja dan kemudian dewasa, demikian pula usia madya merupakan masa dimana pria dan wanita meningkatkan ciri-ciri jasmani dan perilaku masa dewasanya dan memasuki suatu periode dalam kehidupan yang akan diliputi oleh ciri-ciri jasmani dan perilaku baru.
d.
Masa
Yang Berbahaya
Saat ini merupakan suatu masa dimana seseorang mengalami kesusahan fisik sebagai akibat dari terlalu banyak bekerja, rasa cemas yang berlebihan, ataupun kurang memperhatikan kehidupan
e.
Usia
Canggung
Sama seperti remaja, bukan anak-anak dan juga bukan dewasa, demikian juga pria dan wanita berusia madya bukan “muda” lagi tetapi juga bukan “tua”.
f.
Masa
Berprestasi
Selama masa dewasa madya, orang akan menjadi lebih sukses atau sebaliknya mereka berhenti dan tidak mengerjakan sesuatu apapun lagi. Apalagi orang berusia madya mempunyai kemauan yang kuat untuk berhasil, mereka akan mencapai puncaknya pada masa ini dan memungut hasil dari masa – masa persiapan dan kerja keras yang dilakukan sebelumnya.
g.
Masa
Evaluasi
Pada umumnya masa ini merupakan masa saat pria dan wanita mencapai puncak prestasinya, maka logislah apabila masa ini merupakan saat mengevaluasi prestasi tersebut berdasarkan aspirasi mereka semula dan harapan-harapan orang lain, khusunya anggota keluarga dan teman.
h.
Masa
Jenuh
Banyak atau hampir seluruh pria dan wanita mengalami kejenuhan pada akhir usia tiga puluhan dan empat puluhan.
2.2.4.3. Masa Dewasa Akhir
Masa dewasa lanjut/senescene atau usia lanjut dimulai pada umur 60 tahun sampai kematian. Pada umumnya para usia lanjut mempunyai masalah dalam menyesuaikan diri terhadap pekerjaan dan kehidupan keluarga. Penyesuaian diri terhadap pekerjaan dan keluarga bagi orang usia lanjut adalah sulit karena hambatan ekonomis yang dewasa ini sangat memainkan peran penting ketimbang masa sebelumnya. Walaupun ada bantuan keuangan dari pemerintah dalam bentuk jaminan sosial, bantuan kesehatan dan pembagian keuntungan secara bertahap yang diperoleh dari dana pensiun, namun mereka kadang-kadang tidak sanggup mengatasi pelbagai problemsa hidup yang mereka hadapi.
2.2.5.
Tantangan
Dewasa Lanjut
a.
Segi
Ekonomi
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai ciri eksponensial yaitu semakin lama semakin cepat, karena hasil dari suatu tahap menjadi dasar dan alasan bagi tahap selanjutnya. Ditinjau dari peran ekonominya teknologi merupakan pendorong utama bagi penciptaan nilai tambah ekonomis. Nilai tambah ini dinikmati oleh para pelaku ekonomi, sehingga menaikkan kualitas kehidupannya. Dengan naiknya kualitas kehidupan maka semakin besar pula dorongan untuk penciptaan nilai tambah agar peningkatan kualitas hidup itu berkesinambungan. Tidak mengherankan bahwa bukan saja perkembangannya semakin cepat tapi peranan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat modern bertambah lama bertambah penting.[44] Tantangan bagi dewasa lanjut usia ialah bagaimana ia mencukupi kebutuhannya karena pada usia kemungkinan besar dewasa lanjut usia sudah ada yang pensiun tetapi tidak lupa akan percaya kepada Tuhan. Pensiun, kondisi fisik yang sudah tidak lagi kuat sementara pertumbuhan ekonomi meningkat.
b.
Segi
Sosial Politik
Banyak pakar
berpendapat bahwa kunci sukses untuk mengarungi kehidupan turbulensi
perubahannya sangat tinggi, orang harus memiliki tiga modal, yakni intellectual capital, social capital, soft
capital, and spiritual capital. Persaingan dalam kehidupan, baik itu
kehidupan bisnis, kehidupan bermasyarakat, maupun kehidupan individual sangat
ditentukan oleh kemampuan berinovasi. Untuk bisa berinovasi diperlukan kreativitas
yang tinggi dan pengetahuan yang luas. Teknologi informasi telah meribah dunia
kerja, dari kerja yang bertumpu pada otot ke pekerjaan yang bertumpu pada otak.
Pekerjaan masa sekarang lebih menuntut karyawan yang berpengetahuan (knowledge
workers). Kondisi ini akan membuat jurang sosial antara mereka yang
berpengetahuan (know) dan yang tidak berpengetahuan (know-not). Mereka yang
tidak memiliki pengetahuan akan tergusur dari dunia kerja (Tappscott, 1996).
Selain itu ada korelasi anatara pengetahuan dan kekuasan (power).. Mereka yang
mempunyai pengetahuan akan memiliki kekuasaan. Sebaliknya mereka yang mempunyai
kekuasaan bisa memiliki pengetahuan, karena mereka bisa menggunakan orang yang
berpengetahuan untuk kepentingan kekuasaan. Kondisi ini akan membuat jurang
sosial yang lain, yakni jurang antara yang memiliki akses pada kekuasaan dan
yang tidak memiliki akses pada kekuasaan. Golongan ke dua ini akan
termarginalisasi dalam kehidupan. Jurang sosial ini akan menjadi pemicuk
konflik yang berwujud keresahan sosial.[45]
Dan inilah yang menjadi tantangan bagi dewasa lanjut usia ketika mereka yang mulai mengendur akan potensi kekuatan memori ingatan dengan sendirinya pengetahuan mereka berkurang dan itu akan mengakibatkan jurang sosial yang dalam antara dewasa lanjut usia dengan orang-orang yang masih muda dan energik. Dewasa lanjut usia dengan sendirinya akan mundur dan kurang diperhatikan.
2.2.6.
Ciri-ciri
Usia Lanjut
a.
Merupakan
Periode Kemunduran
Istilah “kemunduran” digunakan untuk mengacu pada periode waktu selama usia lanjut apabila kemunduran fisik sudah terjadi dan apabila sudah terdisorganisasi mental.
b.
Perbedaan
Individual Pada Efek Menua
Hal ini menekankan dalam referensinya kepada keyakinannya popular bahwa menua itu membuat orang sulit hidup. “Usia tua tidak seperti anggur karena tidak pada setiap bagian dapat timbul rasa asamnya seuai dengan usianya”
c.
Usia
Tua Dinilai Dengan Kriteria yang Berbeda
Karena
arti tua itu sendiri kabur dan tidak jelas serta tidak dapat dibatasi pada anak
musa, maka orang cenderung menilai tua itu dalam hal penampilan dan kegiatan
fisik.
d.
Penyesuaian
yang Buruk Merupakan Ciri-ciri Usia Lanjut
Sikap sosial yang tidak menyenangkan bagi banyak orang usia lanjut yang nampak dalam cara orang memperlakukan mereka, maka tidak heran lagi kalau banyak orang usia lanjut mengembangkan konsep diri yang tidak menyenangkan.
e.
Keinginan
Menjadi Muda Kembali Sangat Kuat pada Usia Lanjut
Status kelompok-kelompok minoritas yang dikenakan pada orang berusia lanjut secara alami telah mengakibatkan keinginan untuk tetap muda selama mungkin dan ingin dipermuda apabila tanda-tanda menua nampak.
2.3.5.
Psikologi
Perkembangan Orang Dewasa
2.3.5.1. Perkembangan Fisik
Menurut
Kamus Umum Besar Bahasa Indonesia, fisik berarti badan dan jasmani.[46]
Dewasa
Dini (18-34
tahun) |
Dewasa
Madya (35-60
tahun) |
Dewasa
Lanjut Usia (60
tahun keatas) |
1. Pria
yang sosio ekonomi menengah atau lebih tinggi, lebih memperhatikan berat
badannya dari pada yang berasal dari pada status ekonomi yang lebih rendah. 2. Tanda-tanda
ketuaan misalnya: mengendornya dagu, beruban, dan perut membesar. 3. Selain
daripada lebih tinggi, pinggul dan paha akan membesar. 4. Efesiensi
fisik mencapai puncaknya, terutama pada usia 23-27 tahun. 5. Berhentinya
pertumbuhan ke atas. 6. Pori-pori
kelenjar kulit lebih lamban mengeluarkan air keringat. 7. Meningkatnya
tekanan darah. 8. Warna
rambut yang mulai keabu-abuan atau memutih sebagian.[47] |
1. Berat
badan bertambah, lemak mengumpul terutama areal paha dan perut. 2. Berkurangnya
rambut dan beruban, rambut mulai menipis, rambut di hidung dan ditelinga
menjadi kaku. 3. Perubahan
pada kulit, kulit wajah, leher, tangan menjadi lebih kering dan keriput. 4. Tubuh
menjadi lebih gemuk. Terjadi penggemukan seluruh tubuh yang membuat perut
menjadi menonjol. 5. Otot
menjadi lembek dan mengendor disekitar dagu, pada lengan atas dan perut. 6. Terjadinya
perubahan-perubahan seksual. Kaum laki-laki dapat mengalami “climacterium”
dan perempuan “menopause” yang merupakan tanda berhentinya
kemampuan-kemampuan menghasilkan keturunan, akibatnya dapat menimbulkan
penyakit “melancholia involutive”(cemas dan merasa diri tak berguna). 7. Tulang-tulang
semakin rapuh. 8. Mulai
menurunnya kekuatan fisik, seperti menurunnya kemampuan fungsi mata.[48] |
1. Pada
usia 60 biasanya terjadi penurunan kekuatan fisik, dan penurunan daya ingat. 2. Pada
daerah kepala biasanya rambut semakin menipis dan berwarna putih. 3.
Mata kelihatan pudar
dan sering mengeluarkan cairan. 4.
Kulit berkerut dan
kering serta berbintik hitam seperti tahi lalat. 5.
Tubuh membungkuk dan
tampak kecil. 6.
Perut membesar, garis
pinggang melebar. 7.
Pangkal tangan dan
kaki menjadi kendor, pembuluh darah dan pembuluh vena akan balik menonjol
serta kuku tangan dan kaki menebal dan mengeras. 8.
Kesehatan rata-rata
sangat menurun sehingga sering sakit-sakitan. 9.
Pipi berkerut,
longgar dan bergelombang. 10. Dagu
berlipat dua atau tiga. 11. Tangan
menjadi kurus kering. 12. Kuku
tangan dan kaki menebal, mengeras dan mengapur.[49] |
2.3.5.2. Perkembangan Afektif
Dewasa
Dini (18-34
tahun) |
Dewasa
Madya (35-60
tahun) |
Dewasa
Lanjut Usia (60
tahun keatas) |
|
1. Masa
ketergantungan 2. Penyesuaian
diri terhadap hidup baru, yang menyenangkan, menerima tanggung jawab dan
mulai bekerja.[50] 3. Rasa
keragu-raguan 4. Membutuhkan
simpati pengertian dan bimbingan.[51] 5. Menemukan
kelompok sosial yang menyenangkan. |
1. Mereka
tidak aman dan depresi. 2. Mengalami
tekanan hidup (stress) 3. Masa
transisi 4. Hidup
sendirian sebab anak-anak sudah berkeluarga 5. Semakin
berkurangnya sahabat dekat. 6. Pengangguran
dan pensiun.[52] |
1. Harus
bergantung kepada orang lain 2. Cenderung
untuk mengenang sesuatu yang sudah lewat 3. Mencari
teman baru untuk menggantikan istri/suami yang sudah meninggal. |
|
2.3.5.3. Perkembangan Kognitif
Kognitif
berarti proses mental dimana seseorang akan waspada terhadap lingkungannya
termasuk wawasan, alasan, penilaian, pemikiran.
Dewasa Dini (18-34 tahun) |
Dewasa Madya (35-60 tahun) |
Dewasa Lanjut Usia (60 tahun keatas) |
1. Pada
saat ini hanya sedikit orang muda yang
punya persiapan dalam menghadapi masalah yang perlu diatasi sebagai orang
dewasa. 2. Adanya
persaingan yang menjadikan mereka menjadi egosentris 3. Kemampuan
mental yang diperlukan untuk mempelajari dan menyesuaikan diri pada
situasi-situasi baru seperti mengingat hal-hal yang dulu pernah dipelajari 4. Penalaran
proaktif, kritis dan berpikir kreatif. 5. Kemampuan-kemampuan
mental seperti penalaran dalam menggunakan analogis dan mengingat telah
mencapai puncaknya.[53] |
1. Penyesuaian
terhadap peran dan pola hidup yang berubah selalu cenderung membawa orang
dewasa ke masa stress. 2. Usia
madya adalah masa berprestasi dimana mereka mempunyai kemauan yang kuat untuk
berhasil 3. Pada
masa ini juga mengevaluasi prestasi 4. Pada
masa ini menuntut tanggung jawab yang nyata. 5. Bersikap
negative. |
1. Orang
yang berusia lanjut lebih berhati-hati dalam belajar memerlukan waktu yang
lebih banyak untuk mengintegrasikan jawaban mereka, kurang mampu mempelajari
hal-hal yang baru 2. Keinginan
untuk berfikir kreatif berkurang 3. Orang
yang berusia lanjut pada umumnya cenderung lemah dalam mengingat hal-hal baru
tetapi baik terhadap hal-hal yang telah lama dipakai. 4. Penurunan
kerja memori. 5. Penurunan
konsentrasi pada informasi yang relevan dan kecepatan pemprosesan informasi. 6. Selalu
mengenang masa lalu. |
2.3.5.4. Perkembangan Sosial
Dewasa Dini (18-34 tahun) |
Dewasa Madya (35-60 tahun) |
Dewasa Lanjut Usia (60 tahun keatas) |
1. Lebih
suka berpartisifasi baik langsung maupun tidak langsung dalam kegiatan
politik dan kewarganegaraan 2. Masa
membuat komitmen 3. Orang
yang baru menikah kurang memperhatikan sekelilingnya. 4. Bagi
orang tua, anak pertama adalah hal yang paling penting dalam hidup mereka. 5. Orang
single lebih suka hidup sendirian dan tidak harus dengan yang lain. 6. Mampu
menyesuaikan diri dengan orang lain.[54] |
1. Umumnya
orang yang dewasa mudya hanya bergerak keatas dan hanya sedikit yang puas
yang berpindah ke jenjang yang lebih rendah 2. Memiliki
semangat dalam bersosialisasi. 3. Kebanyakan
teman-teman mereka adalah orang-orang yang sudah tua dan yang berumur
pertengahan empat puluhan dalam lingkungannya yang tidak dapat dipungkiri. 4. Pria
pada umunya mempunyai lebih banyak teman dan kerabat daripada wanita namun
wanita lebih dekat dengan keluarga dibanding laki-laki.[55] 5. Terlibat
dalam aktivitas social misalnya pendidikan dan kesejahteraan. 6. Mereka
senang terhadap kegiatan menjamu teman dalam acara jamuan makan malam, pesta.[56] |
1. Memiliki
rasa malas untuk bersosialisasi akibat kondisi tubuh yang sudah renta (Lemeh).
Mereka lebih suka tinggal dirumah, terutama laki-laki yang sudah pensiun. 2. Kebanyakan
orang beranggapan orang yang usia lanjut tidak begitu dibutuhkan karena
energinya sudah melemah. 3. Adanya
perubahan peran karena tidak sanggup bersaing dengan kelompok yang lebih muda 4. Tekanan
yang membuat orang usia ini menarik diri dari keterlibatan social. 5. Sebagian
orang lanjut usia lebih senang terhadap diri sendiri daripada pendapat
kelompok orang lain tentang diri mereka sendiri. 6. Mereka
merasa bosanpada orang lain.[57] |
2.3.5.5. Perkembangan Moral
Dewasa Dini (18-34 tahun) |
Dewasa Madya (35-60 tahun) |
Dewasa Lanjut Usia (60 tahun keatas) |
|
1. Periode
isolasi sosial 2. Perubahan
nilai-nilai 3. Bekerja,
hidup dengan seorang pendamping 4. Hukum
yang mengubahnya dan dibimbing sesuai rasionya.[58] |
1. Bertanggung
jawab bagi keluarganya 2. Mengambil
keputusan dengan baik berdasarkan perjanjian 3. Bersifat
universal, moralitas diputuskan dari hati nurani.[59] |
1. berhenti
dari kegiatan sosial 2. perasaan
rendah diri dan tidak berguna.[60] 3. Mereka
menganggap peraturan kelompok sebagai keadilan.[61] |
|
2.3.5.6. Perkembangan
Spiritualitas
Dewasa Dini (18-34 tahun) |
Dewasa Madya (35-60 tahun) |
Dewasa Lanjut Usia (60 tahun keatas) |
1. Mampu
mempertanggung jawabkan keyakinanya sebagai komitmen 2. Kesempatan
untuk bersaksi dan melayani Tuhan 3. Menegaskan
keputusan pribadinya untuk hidup dijalan Tuhan 4. Melakukan
Meditasi 5. Kontemplasi |
1. Kegiatan
keagamaan lebih tertarik waktu muda 2. Menganggap
kegiatan keagamaan lebih social untuk memenuhi kebutuhan 3. Merasa
agama sebagai sumber kesenangan. |
1. Toleransi
keagamaan 2. Keyakinan
keagamaan lebih condong kepada keyakinan tradisional 3. Menurun
kehadiran dan partisispasi dalam kegiatan gereja. |
2.3.5.7.
Perkembangan Jiwa dan Mental
Dewasa
Dini (18-34
tahun) |
Dewasa
Madya (35-60
tahun) |
Dewasa
Lanjut Usia (60
tahun keatas) |
1. Fungsi
organ-organ berjalan dengan sempurna dan mengalami masa produktifitas yang
tinggi. |
1. Fungsi
organ-organ berjalan sempurna namun mulai mengalami gangguan-gangguan seperti
penyakit seperti pencernaan dan lain sebagainya. |
1. Kemunduran
kemampuan mental karena proses penuan organism secara umum. 2. Fungsi
organ-organ mulai menurun dan mengalami gangguan-gangguan. 3. Menurunya
berbagai hal, secara otomatis akan timbul kemunduran kemampuan mental. |
2.3.5.8. Perkembangan Motorik
Dewasa Dini (18-34
tahun) |
Dewasa
Madya (35-60
tahun) |
Dewasa Lanjut Usia (60 ahun keatas) |
1. Memiliki kecepatan respon yang
maksimal dan mereka dapat menggunakan kemampuan ini dalam situasi tertentu
dan lebih luas |
1. Memiliki kecepatan respon yang
baik, tetapi di akhir usia dewasa madya kecepatan respon mengalami penurunan.
|
1. Kecepatan respon
mulai menurun. |
2.3.5.9.
Perkembangan Psikomotorik
Dewasa Dini (18-34
tahun) |
Dewasa
Madya (35-60
tahun) |
Dewasa Lanjut Usia (60 ahun keatas) |
1. Kemampuan kaki mampu berjalan
dan meloncat secara maksimal, biasanya atlit yang berprestasi mencapai puncak
kejayaannya atau klimaksnya pada usia dewasa muda |
1.
Kemampuan kaki telah
mengalami keterbatasan, tidak lagi mampu seperti masa dewasa madya. 2.
Kemampuan tangan
dalam bekerjapun semakin lama semakin melemah. |
1. Kelenturan
otot-otot tangan bagian depan dan otot-otot yang menopang tegaknya tubuh. 2. Penurunan
kecepatan dalam bergerak mulai melemah 3. Kekuatan orang
lanjut usia cenderung menjadi cangkung. |
2.3.5.10.
Perkembangan Bahasa
Dewasa Dini (18-34
tahun) |
Dewasa
Madya (35-60
tahun) |
Dewasa Lanjut Usia (60 ahun keatas) |
1. Keterampilan
berbahasa lebih dikuasai, dan lebih super dan mudah berkomunikasi dengan
orang lain. 2. Bahasa
yang digunakan sudah behasa pendidikan dan ilmiah. Tidak sembarangan dalam
berbicara. |
1. Keterampilan
berbahasa lebih sopan, agak bijak dan lebih dewasa 2. Suka
berbahasa yang baku dan bahasa yang di pakai adalah bahasa yang terkonsep. |
1. Lebih
sopan dan perkembangan berbicaranya lebih bermakna. Selalu berbicara dengan
baik. 2. Bahasa
yang selalu di pakai selalu bahasa sehari-hari karena daya pikir sudah
menurun untuk mengkonsep bahasa yang ilmiah. |
2.3.5.12.
Perkembangan Intelegensi
Dewasa
Dini (18-34
tahun) |
Dewasa
Madya (35-60
tahun) |
Dewasa Lanjut Usia (60 ahun keatas) |
1. Kemampuan berfikir lebih realistis dan berfikir
jauh kedepan, strategis dan selalu bersemangat untuk berwawasan luas. 2. Pengalaman
orang dewasa menjadikan mereka untuk mengevaluasi ulang kriteria mereka dalam
menentukan apa yang benar dan adil. Pengalaman pula yang memiliki peranan
penting seorang dewasa dalam memecahkan masalahnya. Karena pengalaman setiap
orang dewasa berbeda-beda, maka efek yang ditimbulkan ke perkembangan
kognitifnya pun berbeda.[62] |
1. Kekampuan berfikir masih realistis 2. Selalu dapat mengevaluasi diri dan orang lain. 3. berbuat sesuai yang sudah di pahami bahwa hal
itu baik. |
1. Kecepatan
memperoses informasi mengalami penurunan dan kurang mampu mengeluarkan
informasi yang telah disimpan dalam ingatanya. 2. hanya mampu
mengemukakan pengetahuan sesuai yang dimilikinya saja, kerena sudah tidak
mampu menggalli informasi lebih mendalam lagi akibat daya pikir yang sudah
melemah. |
2.3.5.13.
Perkembangan Emosi
Dewasa
Dini (18-34
tahun) |
Dewasa
Madya (35-60
tahun) |
Dewasa Lanjut Usia (60 ahun keatas) |
1. Usia ini adalah usia yang tengang dalam hal
emosi (emotion tension). Ketenangan-ketenangan emosi yang terjadi dalam masa
awal. Sering dialami karena perubahan awal pada masa ini. Banyak diantara dewasa
muda ini mengalami ketegangan emosi yang
berhubungan dengan persoalan-persoalan jabatan, perkawinan, keuangan,
dsb. Banyak orang dalam usia ini mengalami kegagalan emosi yang berhubungan
dengan persoalan-persoalan ayang dialaminya. Ketegangan emosi sering kali
tampak dalam kekuatan-kekuatan atau kekwatiran-kekwatiran. Kekuatan/ kekwatiran
itu pada umumnya bergantung pada ketercapaianya penyesuaian terhadap
persoalan-persoalan yang dihadapi pada saat tertentu, atau sejauh mana sukses
atau kegagalan yang alami dalam pergumulan dan persoalan. 2.Masa dimana motivasi untuk meraih sesuatu sangat
besar yang diikuti oleh ketakutan fisik yang prima. 3.Ada streriope mengatakan lebih mengutamakan
kekuatan fisik dari pada rasio dalam menyelesaikan suatu masalah 4.Mengendalikan perasaan pribadi (tidak
mementingkan diri sendiri) tetapi mempertimbangkan juga perasaan orang lain.Kekhawatiran-kekhawatiran utama
mereka mungkin terpusat pada pekerjaan mereka, karena mereka merasa bahwa
mereka tidak mengalami kemajuan secepat yang mereka harapkan, atau mungkin
terpusat pada masalah-masalah perkawinan atau peran sebagai orang tua.[63] |
1. Stabilitas emosi masih seimbang, terkontrol.
Namun dikalangan perempuan biasanya tampak gejala depresi (murung), cepat
tersingung, cemas, kwatir kehilangan anak-anak yang mulai beranjak dewasa.
Mereka juga cemas karena takut kehilangan suami karena menopause dan
timbulnya tanda-tanda atau garis-garis ketuaan di bagian tertentu pada tubuh. 2. Hurlock mengatakan muncul rasa takut karena
kekuarangan persiapan menghadapai masa ini, sehingga perlunya pengetahuan
untuk persiapan menghadapi masa ini. 3.Pada usia pertengahan 50 an, individu pada
umunya dapat melakukan penyesuaian diri yang baik, dan tidak merasa kecewa
lagi dengan statusnya. Orang dapat menyesuaikan diri dengan perannya dan
kegiatan yang telah disesuaikan oleh perubahan mentalnya dan fisiknya, karena
itu kehidupan dapat bejalan dengan mulus sampai usia lanjut. |
1. Sebagian lansia
kurang siap menghadapi dan menyikapi
masa tua itu, sehingga menyebabkan mereka kurang dapat menyesuaikan
diri dan memecahkan masalah yang mereka hadapi. 2. Munculnya rasa
tersisih, tidak lagi dibutuhkan 3. Ketidak-iklasan
menerima kenyataan baru, seperti penyakit yang tidak mudah sembuh. 4. Kematian pasangan
merupakan perasaan yang tidak enak yang harus dihadapi lansia. Sejalan bertambahnya usia,
terjadinya gangguan fungsional, keadaan depresi dan ketakutan membuat lansia
semakin sulit melakukan penyelesaian masalah. 5.Hilangnya harga
diri, padahal mereka tidak ingin dikesampingkan atau menjadi tidak berguna
lagi.[64] |
2.3.5.14.
Perkembangan Kepribadian
Dewasa
Dini (18-34
tahun) |
Dewasa
Madya (35-60
tahun) |
Dewasa Lanjut Usia (60 tahun keatas) |
1. Masa dewasa ini masa kreatif (bentuk
kreativitas tergantung pada minat dan kemampuan individual) dan reproduktif
yang ditandai dengan membentuk rumah tangga atau menunda berumah tangga dan
karier. 2. Masa peralihan dari masa ketergantungan ke masa
mandiri, baik dari segi ekonomi, kebebasan menentukan diri sendiri dan
pandangan tentang masa depan sudah realistis. Masa dewasa dini sebagai masa
keinginan mandiri. 3.Masa dewasa dini sebagai masa komitmen; suatu
komitmen dibuat oleh orang dewasa muda karena mereka dituntut untuk menjadi
orang dewasa yang mandiri dan bertanggung jawab bagi kehidupanya sendiri. 4. Memantapkan
letak kedudukan. Mengatur hidup dan bertanggung jawab dengan kehidupan. Pria
mulai membentuk pekerjaan yang akan ditanganinya sebagai karier. Perempuan
menerima tanggung jawab sebagai ibu yang mengurus rumah tangga. Seberapa baik
seseorang menyesuaikan diri dengan konsep diri yang mereka miliki, semakin
baik konsep dirinya individu akan mampu lebih dapat berfikir untuk berbuat
yang terbaik untuk keluarga, masyarakat dan lingkungannya. |
1. Di kalangan tertentu dikalangan usia 40 tahun
keatas, pria dan perempuan sedang mengalami masa pubertas kedua, karena
mereka sedang bersolek, suka bersikap dan berbuat emosional, mudah marah
bahkan masih mudah jatuh cinta. 2.Terjadi kesukaran emosional baik laki-laki dan
perempuan. Dengan menurunya kejantanan pada laki-laki membingungkan dan
mengkwatirkan serta menyusahkan. 3. Menurunya kesuburan pada perempuan dapat
menyedihkan perempuan. 4. beberapa orang yang dewasa madya masih sangat
aktif dalam bedikari. 5. Masih mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. 6. Dalam hal memimpin, merupakan masa yang masih bersemangat. |
1. Adanya keinginan
menjadi muda kembali sangat kuat pada masa usia lanjut ini. 2.Tipe kepribadian
tergantung, madiri, dan kritik diri. 3. sering tidak
percaya diri akan dirinya yang sudah tua. 4. selalu ingin
mencoba bergaya lebih muda seperti sebelum-sebelumya. 5. bagi yang
berintelektual tinggi, mampu menjadi pemimpin yang ideal karena pengalaman
yang sudah sangat matang. |
2.3.5.14.
Perkembangan Minat
Dewasa
Dini (18-34
tahun) |
Dewasa
Madya (35-60
tahun) |
Dewasa Lanjut Usia (60 ahun keatas) |
1. Berbagai
minat dalam dewasa: - Minat
penampakan/ penampilan fisik. Misalnya: mempelajari cara-cara diet, melakukan
sport, menggunakan make-up, dan sebagainya. - Minat
terhadap pakaian/perhiasan. Misalnya: pakaian/perhiasan - Minat
terhadap pemikiran benda-benda. Misalnya: mobil, rumah, dan lain-lain. - Minat
terhadap uang - Minat
terhadap agama. Ada 3 jenis minat yang dapat dianggap sebagai
cirri orang dewasa, antara lain: 2. Minat
Pribadi; meliputi penampilan, pakaian & perhiasan, status, symbol
kedewasaan, uang dan agama. 3. Minat
Rekreasional yaitu untuk menghilangkan kepenatan setelah lama bekerja. Yaitu
berupa berbincang-bincang, bertamasya, berolahraga, hiburan, atau sekedar
menyalurkan hobi. 4. Minat
Sosial, seperti telah dijelaskan di awal bahwa masa dewasa dini adalah masa
keterasingan sosial. Mereka harus bisa mencari penyelesaiannya dan berupaya
untuk menjalin tali persahabatan baru dengan lingkungan barunya. |
1.Berbagai usaha untuk diet berlebihan dan
olahraga terlalu berat dapat berbahaya pada jantung mereka. 2. Minat
biasanya sering ditekan daripada dikembangkan karena semakin bertambahnya usia |
1. Sangat bahagia
jika mereka di tanya akan pengalaman yang mereka alami, 2. Belajar dari
pengalaman yang pernah mereka alami untuk menjadi lebih baik 3. Ingin merasakan
menimbang cucu dan mengayomi anak dan cucunya. 4. Namun dalam hal
bermewah-mewah, tidak ada lagi minat. 5. Yang diminati oleh
dewasa Lanjut adalah ingin menikmati hasil pekerjaannya selama masih dewasa
madya. |
2.3.5.15.
Perkembangan Kepercayaan
Dewasa
Dini (18-34
tahun) |
Dewasa
Madya (35-60
tahun) |
Dewasa
Lanjut Usia (60
tahun keatas) |
1. Pada tingkatan ini mereka meyakini ada kuasa alamiah yang dirasaklan
dalam kehidupannya, meskipun ini bertolak belakang dengan kehidupan Kristen. 2. Perkembangan keyakinan seseorang dipengaruhi sosial adikordrati, tetapi rasi, emosi dan
masih banyak lagi.. Meyakini bahwa kepercayaan seseorang mempengaruhi
pandangan dan nilai-nilai orang tertentu dalam kehidupan mereka. 3. Keyakinan dewasa muda telah bergeser dari keyakinan orang tuanya dari keyakinan
reflektif. Mereka
dapat mempertanggungjawabkan keyakinannya dalam bentuk komitmen, perilaku,
kepercayaan dan jalan hidupnya. 4. Hanya ada satu jawaban berdasarkan otoritas dan kuasa. 5. Komitmen muncul ketika dewasa muda memilih posisi yang diambilnya. |
1. Minat keagamaannya muncul dengan bayak melakukan ibadah. 2. Khusus wanita meningkatkan keaktifan dalam kegiatan agama untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhannya, baik kebutuhan agama itu sendiri maupun kebutuhan
sosial. 3.Kecendrungan bahwa setengah baya beribadah karena asalan murni
keagamaan atau karena taqwa, namun ada juga besar kmungkinan karena
memikirkan liang kubur semakin dekat.[65] 4. Pada usia ini timbullah kesadaran baru dan pengakuan kritis terhadap
berbagai macam polaritas, ketegangan, kedwiartian dan multidimensionalitas
yang dirasakan oleh sang peribadi dalam diri dan hidupnya. 5. Pada tahap ini sang pribadi mencapai satu tingkat kepolosan kedua yang
meresapi tanggap terhadap segala arti simbol, bahasa kiasan, cerita mitos yang mengandung banyak
kiasan.[66] |
1. Pada tingkatan ini kepercayaan semakin mundur latar belakang. Pribadi
mengosongkan diri, sekaligus mengalami diri sebagai makhluk yang berakar
dalam Allah dan daya kesatuan Adanya. 2. Tahap kepercayaan ini mengacu pada univesalitas yang terwujud secara konkrit. 3. Kepercayaan pada usia ini sudah
mencapai kemantapan. 4. Pada usia ini pun sudah muncul pengakuan terhadap realitas tentang
kehidupan akhirat secara
kebih sungguh-sungguh. 5. Sikap kepercayaan cenderung
mengarah kepada kebutuhan saling cinta antara sesama manusia serta sifat-sifat luhur. 6. Pada usia ini, cederung juga timbul dampak pada peningkatan pembentukan terhadap
adanya kehidupan abadi (akhirat).[67] |
2.3.6.
Hubungan
Orang Dewasa Dengan Keluarga Sesuai Psikologi Perkembangan
Dewasa Dini (18-34
tahun) |
Dewasa
Madya (35-60
tahun) |
Dewasa
Lanjut Usia (60
tahun keatas) |
- Keluarga
merupakan salah satu tempat untuk membentuk karakter yang dimana pembentukan
karakter tersebut berasal dari orangtua.[68] |
- Masa
ini seseorang sudah menetapkan bahkan sedang dalam proses pemeliharaan dan
peningkatan stabilitas ekonomi pada saat ini dan untuk masa yang akan datang. |
- Tempat
pendidikan dan latihan anak untuk pola-pola kebiasaan melayani Kristus.[69] |
- Orang
dewasa (ayah-ibu) bertugas mengasuh anak-anak dan mempersiapkan
kebutuhanseluruh anggota keluarga. [70]
|
- Tempat
dimana orang dewasa dalam keluarga terjadi perubahan fisik karena usia ini
biasanya merupakan awal kemerosotan atau melemahnya fungsi-fungsi tubuh. |
- Penyesuaian
diri terhadap pekerjaan dan keluarga bagi orang usia lanjut adalah sulit
karena hambatan ekonomis yang dewasa ini sangat memainkan peran penting
ketimbang masa sebelumnya. |
- Memiliki
tanggung jawab yang besar dalam keluarga sesuai dengan tingkatannya. |
- Tempat
dimana orang dewasa sudah memikirkan hal baik yang akan mereka lakukan di
dalam keluarganya. |
|
- Orang
dewasa (18-20) yang sangat membutuhkan sinpati, pengertian, dan dari
keluarga. |
- Orang
dewasa dalam keluarga yang memikirkan dari jauh-jauh untuk masa depan
anaknya. Dan berusaha untuk hidup sejahtera. |
|
- Tempat
yang butuh dukungan orangtua atau orang-orang yang ada di dalamnya dalam
menentukan pasangan hidupnya, sehingga dia tidak merasa kekurangan, dan pada
saat dewasa muda ini jugalah dia melanjutkan studi dan mencari pekerjaan yang
sesuai dengan dia. |
2.3.7.
Hubungan
Orang Dewasa Dengan Gereja Sesuai Psikologi Perkembangan
Dewasa Dini (18-34
tahun) |
Dewasa
Madya (35-60
tahun) |
Dewasa
Lanjut Usia (60
tahun keatas) |
- Dalam
masa madya orang dewasa dalam gereja memiliki hubungan sebagai pemimpin dan
pelayan. |
- Pada
Masa dewasa madya sangat berminat untuk melakukan ibadah. |
- Orang
dewasa dalam tahap inipun kadang ingin beribadah jika dia memiliki seorang
pendamping, karena usianya yang sudah tua. |
-
Gereja harus melayani dan membela kepentingan orang-orang miskin, orang-orang
lapar, orang-orang yang lemah, orang-orang yang tertindas baik di bidang
hokum maupun di bidang sosial dan politik. Yang mana pelayanan gereja adalah
pelayanan persekutuan, pelayanan yang dipercayakan kepada anggota gereja,
yaitu orang dewasa.[71] |
- Dalam
masa madya orang dewasa dalam gereja memiliki hubungan sebagai pemimpin dan
pelayan. |
- Biasanya
orang dewasa lanjut usia dalam hubungannya dengan gereja adalah bahwa orang
dewasa tersebut sudah mulai memiliki kejenuhan dalam beribadah, dikarenakan
karena memiliki factor fisik yang lemah dan tidak kuat. |
- Hubungan
orang dewasa dengan gereja adalah orang dewasa dalam gereja merupakan
generasi penerus yang merupakan anggota jemaat sepenuhnya bagi gereja maupun
bangsa, sehingga mereka sangat diharapkan untuk menjadi pemimpin yang
terampil, cekatan, dan mempunyai sifat-sifat yang radikal dan militant.[72] |
- Banyak
melayani jemaat dalam artian mereka sudah bisa menjabat sebagi
pelayan-pelayan gereja (Majelis Jemaat). |
|
- Orang
dewasa memilki hubungan dalam gereja
juga sebagai agen dari pelaksanaan tugas panggilan gereja yaitu bersaksi,
bersekutu dan melayani dalam menempati tempatnya dalam bidang pekerjaan,
profesi masing-masing yang bertanggungjawab.[73] |
- Orang
dewasa memilki hubungan dalam gereja
juga sebagai agen dari pelaksanaan tugas panggilan gereja yaitu bersaksi,
bersekutu dan melayani dalam menempati tempatnya dalam bidang pekerjaan,
profesi masing-masing yang bertanggungjawab.[74] |
|
- Berminat
untuk melakukan ibadah. Khususnya wanita yang meningkatkan ke aktifannya
dalam kegiatan gereja untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.[75] |
|
|
- Banyak
melayani jemaat dalam artian mereka sudah bisa menjabat sebagi
pelayan-pelayan gereja (Majelis Jemaat). |
|
|
2.3.8.
Hubungan
Orang Dewasa Dengan Masyarakat Sesuai Psikology Perkembangan
Dewasa Dini (18-34
tahun) |
Dewasa
Madya (35-60
tahun) |
Dewasa
Lanjut Usia (60
tahun keatas) |
- Punya
cita-cita atau arah tujuan hidup bermasyarakat, dalam mana dia tidak dipandang sebagai manusia tanpa guna. - Adapun
hubungan orang dewasa dengan masyarakat adalah generasi bangsa untuk
mengambil alih puncak pimpinan terhadap bangsa dan Negara berjuang untuk
mencapai cita-cita yang mereka harapkan, hendak memperbaharui masyarakat yang
sudah dipengaruhi oleh segala kejahatan dan ingin mengubahnya menjadi
masyarakat yang adil dan makmur, serta orang dewasa dalam masyarakat
berwibawa dan beranggungjawab terhadap tugasnya baik secara fisik dan rohani.[76] |
- Tempat
untuk berpartisipasi berpartisipasi dalam berbagai organisasi formal
masyarakat yang berbeda demi kesenangannya, sebagai pelayanan kebutuhan
masyarakat, menolong sesamanya dan lebih tertarik kepada kebudayaan. - Wadah
untuk melakukan berbagai kegiatan sosial, karena perasaan sepi, mengingat
berbagai kasus lebih baik kalau ia melibatkan diri dengan kegiatan social
sehingga mereka dapat lebih banyak mengenal orang lain yang dilayani secara
langsung, kesehatan yang baik, kegiatan social yang baik dapat melahirkan
motivasi yang baik, dan dapat memperkuat kepercayaan diri. [77] |
- Dalam
bertambahnya usia mengakibatkan banyak orang yang merasa menderita karena
jumlah kegiatan sosial yang dilakukannya semakin berkurang, sehingga terjadi
proses penguduran diri serta pelepasan beban dari lingkungan masyarakat. Dan
biasanya proses pengunduran diri
dilantar belakangi karena mina terhadap diri mereka sendiri meningkat, maka
minat untuk masyarakat(orang lain) berkurang. |
|
||
- Dewasa
awal yang normal memilki minat-minat dan keinginan-keinginan untuk lebih
berarti, lebih berdaya guna bagi lingkungan masyarakat. [78] |
|
|
- Hubungannya
dalam masyarakat adalah bahwa dewasa dini ini juga mulai mengambil peranan sebagai pemimpin,
pengatur, pengikut dll. Yang jelas pada usia ini mereka punya cita-cita atau
arah tujuan hidup bermasyarakat, dalam mana dia tidak dipandang sebagai manusia tanpa guna. |
III.
Kesimpulan
Dewasa
adalah orang yang sudah mampu berdiri sendiri, bertanggung jawab sendiri terhadap orang lain, pekerjaan dan terhadap
yang lain-lain. Istilah Adolescene yang berarti tumbuh menjadi
kedewasaan. Namun kata Adult berasal dari bentuk lampau paticiple
dari kata kerja Adultus yang berarti telah tumbuh menjadi
kekuatan dan ukuran yang sempurna atau telah menjadi dewasa. Oleh karena itu,
orang dewasa adalah individu yang sudah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap
menerima kedudukan di dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya.
Psikology adalah ilmu atau sesuatu pengetahuan, pengajaran mengenai manusia
dalam segi mental, jiwa dan juga
prilakunya. Psikologi perkembangan orang dewasa adalah suatu ilmu yang
mempelajari mengenai perkembangan jasmani, jiwa dan prilaku orang dewasa
tersebut. Masa dewasa dibagi menjadi 3, yaitu masa dewasa dini (18-34 tahun),
masa dewasa madya (35-60 tahun) dan masa dewasa lanjut usia (60 tahun keatas).
Dan dalam setiap tahapan atau masa dalam periode orang dewasa terdapat
psikologi perkembangan yang terjadi di dalam diri orang dewasa tersebut, baik Fisik,
Afektif, Kognitif, Sosial, Moral dan Spiritualitas serta yang lainnya lagi.
IV.
Daftar
pustaka
Abineno J.L. Ch., Melayani dan Beribadah di Dalam Dunia, Jakarta: BPK-GM, 1974.
Ahmadi Abu, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Rineka Cipta, 2005.
Ahmadi Abu, Psikologi Umum, Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Bahagijo Sugeng, Globalisasi Menghempas Indonesia, Jakarta: Pustaka LP3S, 2010.
Bambang Mulyono Y., Kenakalan Remaja, Jakarta: ANDI, 1986.
Brubaker J Oemar
& Clark Robert E, Memahami Sesama
Kita Kanak-kanak, kaum muda dan orang Dewasa, Malang: Gandum Mas, 1972.
Dariyo Agoes, Psikologi Perkembangan Dewasa, Jakarta: Grasindo, 2003.
Daulay Richard M., Seluruh Siswa: Bertumbuh Dalam Kristus, Jakarta: BPK-GM, 2009.
Fower
James W.,Tahap-tahap
Perkembangan Kepercayaan, Yogyakarta: Kanisius,1995.
Gerungan W. A., Psikologi Sosial, Bandung : Refika Aditama, 2004.
GP. Harianto, Pendidikan Agama Kristen dalam Alkitab & Dunia Pendidikan Masa
Kini, Yogyakarta: ANDI, 2012.
Gunarsa Singgih D., Psikologi perkembangan Anak dan Remaja, Jakarta: BPK-GM, 1983.
Gunarsa Singgih D., Psikologi Praktis Anak, Remaja dan Keluarga, Jakarta: BPK-GM, 2004.
Gunarsa Yulia Singgih D., Asas-Asas Psikologi Keluarga Idaman, Jakarta:
BPK-GM, 2002.
Harlina Lydia
& Joewana S.K Satya, Peran Orangtua Mencegah Narkoba, Jakarta: Hak Cipta,
2008.
Hendricks Howard G., Kasih Dasar Keluarga Bahagia, Bandung:
Kalam Hidup, 1995.
Hurlock, Elizabeth B., Psikologi Perkembangan: Suatu
Pendekatan Rentang Kehidupan, Jakarta: Penerbit Erlangga, 1980.
Hyde Kenneth E., Religion in Childhood & Adolecene, Alabama: Education Press
Birmingham, 1990.
Jersild, The Psychology Of Adolescene, New York: MacMilan, 1978.
John Nasbitt, Global Paradox, Jakarta: Binarupa, 2000.
John Stoot, Isu-isu Global, Jakarta: YKBK/OMF, 2005.
Kamus
Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,
2007.
Kartini & Gulo Dali, Kamus Psikologi, Bandung: Pionir, 2001.
Kartini Kartono, Psikologi Umum, Bandung: Bandar Maju, 1996.
Kristianto Paulus Lilik, Prinsip dan Praktik PAK, Yokyakarta:
ANDI, 2010.
Maltimoe, Membina Jemaah Missioner, Jakarta: BPK-GM, 1986.
Mappiare Andi, Kamus Istilah Konseling & Terapi, Jakarta: Raja Grafindo
Perkasa, 2003.
Mappiare Andi, Psikologi Orang Dewasa, Surabaya: Usaha Nasional, 2003.
Nuhamara Daniel, PAK Dewasa, Bandung: Jurnal Info Media, 2008.
Papalia
Diane E., Human Development, Jakarta: Kencana Prenada Media Goup 2008.
Robert Gilpin, Tantangan Kapitalisme Global Ekonomi Dunia Abad ke-21, Jakarta:
Persada, 2000.
Sabri M. Alisuf, Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan, Jakarta: Pedoman Ilmu
Jaya, 1993.
Saleh Abdurrahman, Ilmu Jiwa Umum, Jakarta: Darmabakti, 1971.
Sitompul A.A., Manusia Dan Budaya, Jakarta: BPK-GM, 1991.
Situmorang Bona Parte, Ceramah No. 11 Mengenai Pemuda/I dari Segi
Psikologi Sosial, Pematang Siantar: Malili.
Soejanto Agoes, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Rineka Cipta, 2005.
Stanley Heath W., Psikologi Yang Sebenarnya, Yogyakarta : ANDI, 1995.
Subri Mulyadi, Ekonomi Sumber Daya Alam Dalam Perspektif Pembangunan, Jakarta:
Rajawali Press, 2008.
Surbakti Ramlan, Memahami Ilmu Politik, Jakarta: Grasindo, 2005.
Zahrotun Suralaga & Idriyani Fadhilah, Psikologi Perkembangan: Pengantar Dalam
Berbagai Bagiannya, Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006.
Zeigler Earl F., Christian Education Of Adults, Philadelphia: The Westmister Press,
1989. Daniel Eleanor dkk, Introduction to
Christian Education, Ohio: Standard Publishing, 1978.
[1] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi
Perkembangan Edisi Kelima (Jakarta : Penerbit Erlangga, 2002), 246.
[3] Andi Marpiare, Psikologi Orang Dewasa, (Surabaya: Usaha
Nasional, 2003), 17.
[4]
http://qalbinur.com/2017/03/20/periodisasi-perkembangan-masa-dewasa-awal.
[5] Paulus Lilik Kristianto,
Prinsip dan Praktik PAK, (Yogyakarta: Andi Anggota IKAPI,
2006), 103.
[6] Andi Marpiare, Psikologi Orang Dewasa, (Surabaya: Usaha
Nasional, 2003), 18.
[7] Lydia
Harlina & S.K Satya Joewana, Peran
Orangtua Mencegah Narkoba, (Jakarta: Hak Cipta, 2008), 35.
[8] Richard M. Daulay, Seluruh Siswa: Bertumbuh Dalam Kristus, (Jakarta:
BPK-GM, 2009), 4.
[9] Singgih D. Gunarsa &
Y. Singgih D Gunarsa, Psikologi Praktis
Anak, Remaja dan Kelurarga, (Jakarta: BPK-GM, 2004), 128.
[14]
Eleanor Daniel dkk, Introduction to
Christian Education, (Ohio: Standard Publishing, 1978), 138
[15] Agus Soejanto, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2005), 163.
[16] Daniel Nuhamara, PAK Dewasa, (Jakarta:
BK-GM, 2010), 57
[20] Kartini Kartono, Psikologi Umum, (Bandung : Mandar Maju,
1996), 1.
[21] W. Stanley Heath, Psikologi Yang Sebenarnya, (Yogyakarta :
ANDI, 1995), 1.
[22] Harianto GP, Pendidikan Agama Kristen dalam Alkitab
& Dunia Pendidikan Masa Kini, (Yogyakarta : ANDI, 2012), 179.
[23] W. A. Geregungan, Psikologi Sosial, (Bandung : Refika
Aditama, 2004), 6.
[24] Abdurrahman Saleh, Ilmu Jiwa Umum, (Jakarta : Darmabakti,
1971), 3.
[25] Agoes Soejanto, Psikologi Perkembangan, (Jakarta :
Rineka Cipta, 2005), 163.
[26] Kartini Kartono, Psikologi Umum, (Bandung: Bandar Maju,
1996), 13-14.
[27] Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2005), 4.
[28] Singgih Gunarsa &
Yulia Singgih Gunarsa, Psikologi
Perkembangan Anak dan Remaja, (Jakarta: BPK-GM, 1983), 5.
[29]M. Alisuf Sabri, Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan,
(Jakarta:Pedoman Ilmu Jaya, 1993), 133.
[32] Earl
F. Zeigler, Christian Education Of
Adults, (Philadelphia: The Westmister Press, 1989), 100.
[34] Robert Gilpin, Tantangan Kapitalisme Global Ekonomi Dunia
Abad ke-21, (Jakarta: Persada, 2000), 30.
[35] Sugeng Bahagijo, Globalisasi Menghempas Indonesia, (Jakarta: Pustaka LP3S, 2010) , 88.
[36] Maltimoe, Membina
Jemaah Missioner, (Jakarta: BPK-GM, 1986), 103.
[37] John Nasbitt, Global Paradox, (Jakarta: Binarupa,
2000), 50.
[38] John Stoot, Isu-isu Global, (Jakarta: YKBK/OMF,
2005), 42.
[39] A. A. Sitompul, Manusia Dan Budaya, (Jakarta: BPK-GM,
1991), 65.
[42] John Stoot, Isu-isu Global, 43.
[43] W. A. Gerungan, Psikologi Sosial, (Bandung: Eresco,
1996), 32.
[44] Sugeng Bahagijo, Globalisasi Menghempas Indonesia, 76.
[45] W. A. Gerungan, Psikologi Sosial, 65.
[50] M. Alisuf Sabri, Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan, (Jakarta:
Pedoman Ilmu Jaya, 1993), 171.
[51] Earl Zeigler, Christian Education of Adults, 100.
[52] Ibid., 100.
[54] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, (Jakarta:Erlangga,2009),
250-251.
[55] Ibid, 336-337.
[56] Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan Dewasa, (Jakarta:
Grasindo, 2003), 5.
[57] Suralaga Zahrotun &
Fadhilah Idriyani, Psikologi
Perkembangan: Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya, (Jakarta:UIN Jakarta
Press,2006), 153-158.
[58] Kenneth E. Hyde, Religion in Childhood & Adolecene, (Alabama:Education
Press Birmingham,1990), 279.
[59] Earl zeigler, Christian Education,151.
[60] M. Alisuf Sabri, Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan,171.
[61] Paulus Lilik Kristianto, Prinsip dan Praktik PAK, (Yokyakarta:
ANDI, 2010), 115-116.
[62] Diane
E. Papalia, Human Development, (Jakarta: Kencana Prenada Media Goup,
2008), 654.
[63]
B. Hurlock, Elizabeth, Psikologi
Perkembangan : Suatu Pendekatan Rentang Kehidupan. (Jakarta: Penerbit Erlangga,1980),
249-250.
[64] J Oemar Brubaker dan
Robert E Clark , Memahami Sesama Kita
Kanak-kanak, kaum muda dan orang Dewasa, (Malang: Gandum Mas, 1972), 121.
[65]Andi
Marpiare, Psikologi Orang Dewasa, (Surabaya:
Usaha Nasional, 1983), 219-221
[66]James W. Fower, Tahap-tahap Perkembangan Kepercayaan, (Yogyakarta:
Kanisius,1995), 168
[67] Ibid, 169.
[68] Singgih D. Gunarsa, Psikologi perkembangan Anak dan Remaja,
(Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1983), 201-202.
[69] Howard G. Hendricks, Kasih Dasar Keluarga Bahagia, (Bandung:
Kalam Hidup, 1995), 42.
[70] J. Verkuyl, Aku Percaya, 19.
[71] J.L. Ch. Albieno, Melayani dan Beribadah di Dalam Dunia,
(Jakarta: BPK-GM, 1974), 62.
[72] Bona Parte Situmorang, Ceramah No. 11 Mengenai Pemuda/I dari Segi
Psikologi Sosial, (Pematang Siantar: Malili), 2.
[73] Daniel Nuhamara, PAK Dewasa, (Bandung: Jurnal Info Media,
2008), 9-10.
[74] Daniel Nuhamara, PAK Dewasa, (Bandung: Jurnal Info Media,
2008), 9-10.
[75] Mappiare, Psikologi Perkembangan Edisi V, 219-220.
[76] Y. Bambang Mulyono, Kenakalan Remaja, (Jakarta: ANDI Ofset
Cetakan I, 1986), 10.
[77] B. Hurlock, Psikologi Perkembangan Edisi V, 334-335.
[78] Ibid, 89.
Mudah-mudahan bermakna
BalasHapus