Just another free Blogger theme

Jumat, 16 Oktober 2020

 





Tinjauan Historis Praktis Mengenai Kiprah Bonifatius Dalam Pekabaran Injil

 

1.1. Riwayat Hidup Bonifatius

Bonifasius dilahirkan dalam keluarga Kristen pada tahun 680. Ia lahir di kota Kirton, Inggris. Nama aslinya adalah Winfred. Ia sempat tinggal dan belajar di sebuah biara sebelum akhirnya ditahbiskan sebagai imam pada usia tiga puluh tahun. Tahun 723, ia diangkat sebagai uskup dan sejak itulah namanya kemudian berubah menjadi Bonifasius. Ia meninggal sebagai seorang martir ketika sedang menjalankan misinya di Frisia pada tahun 754. Saat peristiwa itu terjadi, Bonifasius bersama sejumlah pengikutnya sedang berkemah di lembah sungai Borne sambil menanti kedatangan orang-orang yang hendak menerima sakramen. Akan tetapi, sebaliknya yang datang justru adalah orang-orang yang berniat untuk membunuh Bonifasius beserta seluruh pengikutnya. Tulang kerangka Bonifasius dikumpulkan untuk disimpan di Utrecht tetapi kemudian dipindahkan ke Mainz dan akhirnya disimpan di Fulda.

1.2. Ajaran Bonifatius

Bonifatius ingin agar semua orang mempunyai kesempatan untuk mengenal serta mengasihi Yesus dan Gereja-Nya. Ia menjadi seorang misionaris dibagian barat Jerman. Paus Santo Gregorius II memberkatinya serta mengutusanya dalam misi tersebut. Bonifatius berkhotbah dan berhasil dengan gemilang. Ia seorang yang lemah lembut serta baik hati, Ia juga sangat pemberani. Dia membuktikan keberaniannya bahwa berhala kafir-kafir itu tidak benar, dimana suatu pohon yang sangat besar yang disebut “Oak Thor” banyak orang kafir percaya bahwa pohon itu pohon keramat bagi para dewa mereka. Dihadapan orang banyak itu, Bonifatius menebang pohon itu dengan sebuah kampak, pohon besar itu pun tumbang. Orang-orang kafir itu sadar bahwa dewa-dewa mereka itu tidak ada ketika tidak suatu pun terjadi atas Bonifatius.

1.3.Karya Bonifatius

Bonifasius menjadi begitu terkenal karena tindakan yang dilakukannya di Geismar, Hesse (Jerman Barat). Pada waktu itu, penduduk di sana punya kebiasaan menyembah sebuah pohon Ek raksasa yang diyakini mereka sebagai tempat bersemayam dari dewa yang bernama Thor. Thor berarti dewa guntur dan perang. Orang yang tidak menghormati pohon tersebut berarti tidak menghormati dewa Thor. Ini dapat menimbulkan kemarahan sang dewa kepada manusia. Bonifasius kemudian dengan berani menebang pohon itu. Tindakannya tersebut banyak mengundang kemarahan orang-orang. Konon, pada saat bonifasius menebang pohon itu, datang angin kencang yang menerjang pohon hingga patah menjadi empat bagian yang sama panjangnya. Tumbangnya pohon raksasa itu ternyata tidak menimbulkan kemarahan dewa. Melihat peristiwa yang terjadi, orang-orang yang menyaksikan kemudian menjadi banyak yang percayaIa melanjutkan karyanya dengan mendirikan biara-biara di kota Jerman. Salah satu yang terkenal adalah biara di Fulda yang hingga kini dikenal sebagai salah satu pusat Kristen Katolik di Jerman Tengah.  Bonifasius menjadi semakin bersemangat untuk memperluas kegiatan-kegiatan misinya bagi orang-orang Jerman. Dalam usahanya menyebarkan kekristenan, ia mendapatkan perlindungan dari Raja dari suku Franka yakni Karel Martel yang terkenal hebat dalam bidang militer. Ia membuat berbagai aturan yang harus dipahami oleh siapa saja yang ingin menjadi seorang Kristen. Bersama dengan sahabat-sahabatnya, Bonifasius perlahan-lahan mulai mengajarkan beberapa cara hidup Kristen seperti mengajarkan orang-orang membedakan kebaikan dan kejahatan, tentang penghakiman yang akan datang,dan pentingnya orang melakukan puasa dan memperhatikan sesama dengan memberikan derma kepada orang miskin.

1.4. Pekabaran Injil Bonifatius

Pada tahun 715, Winfred berangkat ke Firisia, tempat para misionaris Inggris yang telah berupaya berpuluh-puluh tahun lamanya. Ia bersemangat untuk memberitkan Injil kepada orang-orang Inggris yang berpindah ke Eropa daratan. Oleh karena itu, ia meminta kepala baiaranya untuk mengutusnya ke Jerman supaya melakukan karya kerasulan di sana. Permohonannya segera dikabulkan dan bersama-sama dengan dua belas biarawan lainnya menuju ke Jerman. Pada tahun 715 mereka mendarat dipantai Friesland, Belanda Utara. Mereka memberikan Injil kepada penduduk disana namun tidak berhasil. Tekanan disitu sangat kuat dan Winfred pun kembali ke Inggris. Inilah kegagalan misinya yang pertama. Pada tahun 718 Winfred pergi ke Roma dan disana dia menerima tugas misionaris dari Paus. Ia ditugaskan untuk pergi lebih jauh, melewati sungai Rhine, ia mengunjungi Bavaria dan Thuringia. Selama tiga tahun lamanya ia memberitakan Injil di Friesland. Pada tahun 722 Bonifatius bekerja dikalangan penduduk Hesse dengan sangat berhasil. Ia mendirikan sebuah biara di Amanaburg. Pada tahun 723 Bonifatius dipanggil ke Roma dan ditahbiskan menjadi Uskup misionaris dan bersumpah untuk setia kepada Paus. Dari Roma, ia pertama-tama ke Gaul (Perancis Selatan) dan menjalin hubungan kerja sama dengan keluarga Carolingen dalam pemberitaan kepada orang yang belum Kristen. Dengan dukungan Paus dan Carolingen, ia menuju Hesse untuk mengkristenkan penduduk disana. Disana Bonifatius membuat tindakan yang sangat berani. Ia ingin memperlihatkan bahwa Allah orang Kristen merupakan Allah yang memiliki kuasa yang mahatinggi. Bonifatius memusnahkan kekafiran dengan cara menumbangkan pohon yang dianggap suci. Dari hal itu penduduk  Hesse menjadi Kristen.

Semangat Bonifatius untuk memberitakan Injil tidaklah padam. Ia masih merasa berutang kepada penduduk Frisia karena kegagalannya masa lampau. Sehingga ia dan bersama-sama dengan 50 orang pengikutnya berangkat ke Frisia. Mereka berkemah di lembah Sungai Borne sambil menunggu datangnya orang yang bertobat untuk menerima sakramen. Maka datanglah serombongan orang, namun bukan untuk menerima sakramen, melainkan untuk membunuh Bonifatius dan kawan-kawannya. Pengikut Bonifatius mencoba melawan, tetapi Bonifatius berteriak; “Hentikanlah anak-anakku, dari pertikaian… jangan takut kepada mereka yang membunuh badan ini, tetapi tidak dapat membunuh jiwa yang abadi… terimalah dengan tenang serangan maut ini, agar anda dapat hidup dan memerintah bersama-sama Kristus selama-lamanya” Bonifatius dan pengikutnya dibunuh. Mereka menjadi martir pada 5 juni 755.

Kepustakaan      

Collins, Michael, Matthew Price. The Story of Christianity: Menelusuri Jejak Kristianitas, Yogyakarta: Kanisius, 2006

Curtis, Kenneth, Stephen Lang, Randy Petersen. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001

End, Th. Van den, Harta dalam Bejana. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008

Greenaway, George William,  Saint Boniface: Three Biographical Studies for the Twelfth Centenary Festival. London, 1995

Moore, Michael E. Boniface in Francia,  Leiden: Brill, 1998    

Mostert, Marco .Bonifatius bij Dokkum Vermoord. Hilversum: Verloren, 1999

Patte, Daniel , The Cambridge Dictionary of Christianity, New York: Cambridge University Press, 2001

Wellem, F.D. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016         

 





 Tinjauan Dogmatis Terhadap Gereja Digital di Perhadapkan Dengan Esensi Persekutuan Gereja


A.    Pengertian Gereja

    Gereja (bahasa InggrisChurchbahasa PortugisIgreja) adalah suatu kata bahasa Indonesia yang berarti suatu perkumpulan atau lembaga dari penganut iman Kristiani. Istilah Yunani ἐκκλησία, yang muncul dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen biasanya diterjemahkan sebagai "jemaat/umat". Istilah ini muncul dalam 2 ayat dari Injil Matius, 24 ayat dari Kisah Para Rasul, 58 ayat dari surat Rasul Paulus, 2 ayat dari Surat kepada Orang Ibrani, 1 ayat dari Surat Yakobus, 3 ayat dari Surat Yohanes yang Ketiga, dan 19 ayat dari Kitab Wahyu.

B.     Pengertian Persekutuan

Kata persekutuan dalam tulisan surat-surat Paulus digunakan untuk menerjemahkan kata Yunani “koinônia”. Kata koinônia dari kata koinos yang artinya bersama, umum. Koinoô: menjadikan bersama. Dengan demikian arti kata koinônia adalah memiliki sesuatu bersama, berbagi sesuatu dengan orang lain, ikut serta dalam sesuatu. Koinônia adalah istilah yang dipakai dalam Perjanjian Baru yang berarti berbagi dalam penderitaan Kristus (Fil 3:10), membantu orang yang membutuhkan (Rm 15:26), keikutsertaan dalam Ekaristi (1 Kor 10:16), persekutuan dengan dan yang dihasilkan oleh Roh Kudus (2 Kor 13:13), dan juga untuk menyebut orang-orang beriman yang ikut serta dalam kehidupan Allah (2 Ptr 1:3-4). Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, persekutuan merupakan kata benda yang menerangkan tentang hal bersekutu; persatuan; perhimpunan; ikatan (orang-orang yang sama kepentingannya). Dengan demikian, persekutuan merupakan perhimpunan atau persatuan orang-orang beriman yang mengimani Kristus yang satu dan sama dan berlandaskan rasa berbagi, bersolider dan berbelarasa. Dan juga persekutuan dapat diartikan sebagai sebuah situasi akrab dan bersahabat dalam sebuah ikatan tertentu.

C.    Gereja Secara Alkitabiah

Dalam Perjanjian Lama memakai dua istilah untuk menunjuk Gereja, yaitu qahal (atau kahal), yang diturunkan dari akar kata yang sudah tidak dipakai lagi yaitu qal (atau khal), yang artinya “memanggil”; dan edhah yang berasal dari kata ya’adh yang artinya “memilih” atau “menunjuk” atau “bertemu bersama-sama disatu tempat yang telah ditunjuk”. Dalam Perjanjian Baru makna Gereja juga memiliki dua kata yang diambil dari septuaginta, yaitu ekklesia  yang berasal dari kata –ek dan kaleo, artinya “memanggil keluar”, dan kata sunagoge, dari kata sun dan  ago yang berarti “datang atau berkumpul bersama”. Gereja sebagai wadah untuk kemudian mengumpulkan bahkan mempersatukan ragamnya pola pikir, ras dan budaya yang kemudian menjadi sangat penting untuk dikembangkan dan dipertahankan di tengah-tengah masyarakat. Dalam Kitab Perjanjian Baru menggambarkan Gereja dengan bermacam-macam gambaran, yaitu; sebagai umat Allah (why. 21:3), sebagai bait Allah (1 Kor. 3:16), sebagai bait Roh Kudus (1 Kor. 6:19), sebagai bangunan Allah (1 Kor. 3:9), sebagai kawanan domba Allah (1 Ptr. 5:2). Semua ungkapan ini menyatakan satu kesatuan dari Gereja, tetapi dilihat dari bermacam-macam segi.

D.    Gereja dan Era Digital

Di era digital, kemajuan teknologi semakin canggih. Oleh karena itu gereja tidak bisa menutup diri dengan perkembangan jaman, dimana gereja harus dengan bijak mengambil peran atas kemajuan teknologi sebagai penatalayanan yang cakap demi terlaksananya pemberitaan Amanat Agung. Dalam kerangka pemahaman Digital Ecclesiologi. Stedzer mengatakan technologicalification of the church atau teknologifikasi gereja adalah sebuah tantangan sekaligus peluang yang sangat besar, di mana setiap individu atau jemaat dan para pelayan firman perlu memanfaatkan teknologi untuk memungkinkan pelaksanaan misi gereja. Stedzer menawarkan tiga hal terkait bagaimana gereja dapat memanfaatkan teknologi digital ini dalam memenuhi panggilan misinya, antara lain :

a. Technology Enables Communication. Melalui sosial media, maka seharunya dapat dengan mudah dibangun sebuah komunikasi secara langsung dengan jemaat sepanjang hari bahkan minggu. Di sini teknologi memungkinkan jemaat dengan mudah memiliki komunikasi langsung dalam skala yang lebih luas dan lebih jelas.

b. Technology Enables Community. Teknologi memungkinkan ikatan komunitas eklesiologis yang lebih besar yang tidak menuntun kedekatan secara fisik. Dalam dunia nyata seseorang dapat saja duduk berdampingan satu sama lain di dalam gereja pada hari minggu namun tidak bertegur sapa satu sama lain. Namun melalui teknologi, jemaat di gereja dapat berdoa satu sama lain akibat melihat postingan atau berita di media sosial.

c.  Technology Enables Discipleship. Gereja digital dapat saja menjadi sebuah metode baru dalam pemuridan.

E.     Esensi Gereja Sebagai Persekutuan

Gereja merupakan persekutuan orang kudus, yaitu suatu persekutuan orang yang percaya dan disucikan di dalam Kristus, dan yang disatukan dengan Dia sebagai kepala dalam persekutuan. Persekutuan orang beriman yang dipanggil dan dikumpulkan ke luar dari dunia ini, suatu persekutuan orang-orang kudus, yaitu mereka yang sunguh-sunguh tahu dan beribadah dengan benar dan melayani Allah yang benar. Didalam Perjanjian Baru persekutuan denganKristus menuntut banyak hal, tetapi bukan sebagai hukum yang baru (taurat baru) melainkan sebagai latar belakang atau dasar. Di 1 Yoh. 3:11 kita membaca, bahwa kita harus saling mengasihi, dan menurut 1 Yoh. 4:11 hal itu disebabkan karena Allah telah mengasihi kita (bnd . 1 Yoh. 4:19; 2 Yoh. 5). Jadi keadaan yang baru Gereja ini menyusun persekutuan yang didalam Kristus itu, dan juga mengungkapkannya. Persekutuan itu adalah suatu persekutuan kasih, dimana semua anggota saling membantu didalam penderitaan (1 Kor. 12:26), bersama-sama mengerti akan kasih Kristus (Ef. 3:17), saling dihubungkan dalam persekutuan Roh (Flp. 2:1), bersama-sama mengasihi orang yang miskin (Yak. 2:5) saling menolong, dimana yang kuat menanggung yang lemah (Rm. 15:1, 1 Kor. 8:17). Gereja sebagai persekutuan yang kudus yaitu persekutuan yang saling menunjukkan kesabaran serta pengampunan terhadap kelemahan masing-masingnya, sesuai dengan kehendak Kristus (Galatia 6: 2). Persekutuan itu menjadi tanda, bahwa jemaat sadar akan artinya “keimaman am” yang berlaku bagi semua orang yang beriman bersama-sama : sebagai“imam-imam” haruslah kita saling menasehati, menghiburkan, memberi pertolongan, serta saling mendoakan. Adanya persekutuan orang-orang kudus, membuat kita dengan rendah hati dapat menerima kelemahan kita sendiri dan sesama kita.

F.     Kajian Dogmatis Terhadap Gereja Digital

Dalam perkembangan gereja yang bergerak mulai dari gereja yang dibangun oleh Roh Kudus pada hari Pentakosta sampai di zaman sekarang, bahwa Gereja adalah persekutuan semua orang percaya dimana Injil itu diajarkan dengan murni dan sakramen diselenggarakan sesuai dengan Injil.  Dalam tugas panggilan gereja adalah kelanjutan dari misi Yesus Kristus, yang telah diutus oleh Allah untuk menyelamatkan dunia ini dan memperdamaikan segala sesuatu dengan Allah. Oleh karena itu tugas panggilan gereja tidak pernah berubah disemua tempat dan segala zaman. Sebab gereja hidup oleh Kristus dan bagi Kristus. Dan Kristus tidak pernah berubah, karena Ia adalah sama, kemarin, hari ini, besok dan selama-lamanya. Dalam perkembangan zaman yang semakin modern tentu Gereja tidak bisa menutup diri terhadap perkembangan itu, termasuk era digitalisasi. Dalam era digitalisasi ini Roh Kudus juga telah memberi kuasa kepada gereja dan mengutusnya kedalam dunia untuk menjadi saksi, memberitakan Injil Kerajaan Allah, kepada segala makhluk disemua tempat dan disepanjang zaman (Kis. 1:8; Mrk. 16:15; Mat. 28 :19-20). Dengan demikian gereja tidak  hidup untuk dirinya sendiri. Sama seperti Kristus telah meninggalkan kemuliaan-Nya di sorga, mengosongkan diri dan menjadi manusia (Yoh. 1:14; Flp. 2:6-8). Demikianlah Gereja dipanggil untuk selalu menyangkal diri dan mengorbankan kepentingannya sendiri dalam mengikuti perkembangan zaman. Agar semua orang yang menderita karena pelbagai penyakit dan kelemahan yang merindukan kelepasan, dapat mengalami pembebasan dan penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus (Mat. 9:35-38; Luk. 4:18-19). 

Analisa dan Kesimpulan

Analisa saya sebagai penulis terhadap gereja digital adalah dimana dalam perkembangan zaman yang semakin modern, sangat mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia terkhususnya dalam hal kerohanian. Oleh karena itu gereja tidak bisa menutup diri terhadap perkembangan zaman, khususnya dalam digitalisasi. Mengenai Gereja sebagai persekutuan atau koinonia saya mengambil teks Alkitab dalam Kitab, 1 Petrus 2:9, ayat ini merupakan gambaran gereja sebagai persekutuan beriman kepada Yesus Kristus yang dibawa keluar dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib untuk memberitakan kebenaran Firman Allah. Dengan demikian, seseorang yang beriman kepada Yesus Kristus, ia dipanggil untuk masuk ke dalam sebuah persekutuan atau koinonia. Kata koinonia (bhs. Yunani: κοινωνία) sendiri sangat banyak maknanya. Bentuk dasar verbal dari kata benda koinonia berarti: memiliki sesuatu secara bersama-sama, berbagi, berpartisipasi, mengambil bagian di dalam, bertindak bersama-sama, atau berada dalam hubungan kontrak yang melibatkan kewajiban akuntabilitas yang timbal balik. Dari gambaran metaforis kata koinonia tersebut, koinonia adalah sebuah persekutuan di mana masing-masing pihak saling berelasi dengan pihak yang lain, saling melengkapi dan mencapai tujuan bersama.

sebenarnya Gereja Digital tidak menghilangkan esensi gereja sebagai persekutuan. Dengan Gereja Digital¸ umat juga bisa berpartisipasi dalam kegiatan Gereja, umat juga bertindak bersama-sama di dalam Kegiatan Gereja, seperti;  ibadah live streaming, mendengarkan khotbah, berdoa, dan lain sebagainya. Hal yang terpenting adalah pusat dari persekutuan tersebut di dalam Yesus Kristus. Oleh karena Yesus adalah pusat gereja, persekutuan itu berkumpul di dalam nama Yesus, yang tertuang dalam Matius 18:20, “sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul di dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Teks ini tidak menekankan tempat penyelenggaraan ibadah, melainkan teks ini menekankan kehadiran Kristus dalam persekutuan jika persekutuan tersebut didasari akan nama Yesus. Menurut analisa saya, Gereja Digital tidak menjadi masalah, karena umat tetap bersekutu di dalam nama Yesus. Sebagai sebuah persekutuan yang didirikan secara ilahi, Gereja adalah milik Allah dan tidak hadir untuk dirinya sendiri. Secara hakiki ia bersifat misional, dipanggil dan diutus untuk mempersaksikan di dalam kehidupannya sendiri persekutuan yang Allah kehendaki bagi seluruh umat manusia dan bagi seluruh ciptaan di dalam kerajaan Allah. Senada dengan hal tersebut, nyanyian Kidung Jemaat no. 257 juga mengatakan, “Gereja bukanlah gedungnya, dan bukan pula menaranya. Bukalah pintunya, lihat di dalamnya, Gereja adalah orangnya.” Dengan demikian, yang terpenting dari gereja adalah orangnya, bukan tempat penyelenggaraannya, sehingga Gereja Digital tidak menjadi masalah dan tidak kehilangan esensi akan persekutuan tersebut. 

    

Kepustakaan

….LIMA DOKUMEN KEESAAN GEREJA Persekutuan Gereja-Gereja Di Indonesia, Jakarta : BPK-Gunung Mulia, 1996

Becker, Dieter, Pedoman Dogmatika, Jakarta ; BPK Gunung Mulia, 2019

Berkhof, Louis, Teologi Sistematika 5, Doktrin Gereja, Surabaya : Momentum, 2017

Hadiwijono, Harun, Iman Kristen, Jakarta : BPK-Gunung Mulia, 2016

Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika,  Jakarta : BPK-Gunung Mulia, 2015

 Van Niftrik, G.C. & B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2017

Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini: Jilid I, Jakarta: Tyndale House Publishers, INC., 2007

 

                      Sumber Internet :                                                       

Ed Stedzer, dalam https//www.christianitytoday.com/edstezer/2014/october/3-ways-technologyenables-mission-of church.html diakses pada tanggal 8 September 2020 pukul 18.00

https://id.wikipedia.org/wiki/Gereja, diakses pada hari Sabtu, 3 Oktober 2020 pukul 17.30

 



                                                                                                                       Boima Hengki Banurea

Kamis, 15 Oktober 2020

 

PAK dan Iman orang Dewasa

I.                   Pendahuluan

Iman adalah sebuah wadah bagi setiap orang untuk memperlihatkan iman kepercayaannya. Artinya, kepercayaan seseorang terhadap imannya diukur dari iman yang dimilikinya. Dan pada pembahasan ini, akan dibahas lebih lanjut mengenai iman orang dewasa.

II.                Pembahasan

2.1. Pengertian Iman

Dalam kamus Alkitab, Iman adalah kepercayaan, terutama kepada reliabilitas Allah. Pengertian modern mengenai iman adalah semacam pengetahuan yang lebih rendah atau penerimaan pendapat atau cerita, yang tidak sepenuhnya dapat dibuktikan. Maka  Alkitabiah Iman lebih terletak pada hakekat komitmen, meskipun dalam kenyataan tersirat juga adanya dasar yang membuat iman tak dapat didukung  dengan bukti historis yang  secara meyakinkan.[1]

2.2.Pengertian Iman Menurut Para Ahli

A.    Menurut Arthurpink

Menurut Arthurpink Iman ialah dimana ketaatan adalah bunga dan buah yang indah yang terjadi, jika iman itu telah dinyatakan dalam kenyataan.[2]

B.     Menurut Andrew

Menurut Andrew iman adalah “ kepastian bahwa apa yang dikatakan Allah itu benar. Apabila Allah menyatakan bahwa sesuatu akan terjadi, iman itu bersukacita walaupun tidak melihat tanda- tanda ataupun mengenai hal itu. Bagi iman semuanya sama- sama pasti. Iman selalu hanya menurut pada apa yang telah dikatakan Allah serta bersandar pada kuasa dan kesetianNya untuk menggenapi FirmanNya.[3]

C.    Menurut Thomas H. Groome

Menurut Thomas Iman sebagai yang utama, maksudnya disini adalah iman merupakan inti manusia yang mendasar, diposisi fundamental dan membentuk segala sesuatu yang datang setelah iman.[4]

2.3. Pengertian Dewasa

Menurut KBBI, dewasa adalah tidak kanak-kanak lagi, telah mencapai kematangan kelamin dan juga pikiran.[5] Kedewasaan disebut proses kehidupan yang panjang dan tingkata kehidupan yang khas yang didalamnya terdapat cerita masa lalu dan segala akibatnya. Orang dewasa juga sudah serius akan sesuatu pekerjaan yang ia kerjakan, pribadinya juga sudah semakin matang.[6] Dalam bidang Ilmu Psikologi, dewasa adalah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia duapuluh tahun yang berkahir dan yang berakhir pada usia tiga puluh tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, perkembangan karier, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang  secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak-anak.[7] Dan seseorang dikatakan dewasa yaitu orang yang mampu mengarahkan diri sendiri, tidak  tergantung pada diri orang lain, mau bertanggung jawab, mandiri, berani mengambil resiko dan mampu mengambil keputusan.[8] Menurut Elisabeth B. Hurlock menyatakan orang dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan permasalahannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan dewasa lainnya.[9]

Jadi, dapat disimpulkan bahwa orang dewasa adalah orang yang telah mencapai kematangan kelamin dan juga pikiran yang mampu mengarahkan diri sendiri, tidak  tergantung pada diri orang lain, mau bertanggung jawab, mandiri, berani mengambil resiko dan mampu mengambil keputusan.

2.4.Penggolongan Dewasa Menurut Usia

Setiap kebudayaan memuat pembedaan usia kapan seseorang mencapai status dewasa secara resmi. Masa dewasa dapat dikatakan sebagai masa yang paling lama dalam rentang hidup. Selama masa yang panjang ini, perubahan fisik dan psikologis terjadi pada waktu-waktu yang dapat diramalkan yang menimbulkan masalah-masalah penyesuaian diri, tekanan-tekanan, serta harapan-harapan. Saat terjadinya peubahan-perubahan fisik dan psikis tertentu, masa dewasa biasanya dibagi menjadi tiga periode yang menunjuk pada perubahan-perubahan[10] yaitu:

1.      Masa dewasa dini (dewasa awal)

Masa dewasa dini merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan baru. Periode ini secara umum berusia sekitar 18-25 dan berakhir sekitar 35-40 thn.[11]

2.      dewasa madya (dewasa tengah)

Usia madya berusia sekitar 35-40 tahun & berakhir sekitar 60 tahun. Masa tersebut pada akhirnya ditandai dengan adanya perubahan-perubahan jasmani dan mental. Pada usia 60 tahun biasanya terjadi penurunan kekuatan fisik, sering pula diiringi oleh penurunan daya ingat. Usia madya merupakan periode yang panjang dalam rentang kehidupan manusia, biasanya usia tersebut dibagi dalam dua sub bagian, yaitu: (1) Usia madya dini dari usia sekitar 35-50 tahun, dan (2) Usia madya lanjut dari 50-60 tahun. Pada periode usia madya lanjut, perubahan fisik dan psikologis menjadi lebih kelihatan.[12]

3.      Masa usia lanjut (masa tua/ older adult)

Usia lanjut ditandai dengan perubahan fisik dan psikologis tertentu. Efek-efek tersebut menentukan apakah pria atau wanita usia lanjut akan melakuan penyesuaian diri secara baik atau buruk. Akan tetapi, ciri-ciri usia lanjut cendrung menuju dan membawa penyesuaian diri yang buruk daripada yang baik dan kepada kesengsaraan dari pada kebahagiaan. menjadi usia lanjut dini yang berkisar antara usia 60-70 tahun dan usia lanjut yang dimulai pada usia 70 tahun hingga akhir kehidupan seseorang. Orangtua muda atau usia tua (usia 65 hingga 74 tahun) dan orangtua yang tua atau usia tua akhir (75 tahun atau lebih) dan orang tua lanjut (85 tahun atau lebih) dari orang-orang dewasa lanjut yang lebih muda.[13]

2.5.Ciri-Ciri Orang Yang Telah Dewasa

Adapun ciri-ciri kedewasaan adalah sebagai berikut:[14]

a.    Menghargai orang lain 

b.    Sabar 

c.    Penuh daya tahan 

d.    Sanggup mengambil keputusan 

e.    Menyenangi pekerjaan 

f.     Menerima tanggung jawab 

g.    Percaya pada diri sendiri 

h.    Memiliki rasa humor 

i.      Memiliki kepribadian yang utuh 

j.      Seimbang

 

2.6. Pengertian perkembangan

Perkembangan dapat diartikan sebagai suatu perubahan dan perubahan itu bersifat kualitatif bukan kuantitatif.[15] Perkembangan adalah perubahan individu kearah yang lebih sempurna yang terjadi pada proses terbentuknya individu sampai akhir hayat dan berlangsung secara terus menerus. Perkembangan juga dapat diartikan perubahan yang terjadi dalam medium. Menurut seorang tokoh Elisabeth B. Hurlock mengartikan perkembangan sebagai serangkaian perubahan yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman.[16] perkembangan adalah menunjukkan suatu proses tertentu, yaitu bsuatu proses yang menuuju kedepan dan tidak dapat diulang kembali. Dalam perkembangan manusia terjadi perubahan-perubahan yang sedikit banyak bersifat tetap dan tidak dapat diulangi. Perkembangan menunjukkan kepada  perubahan-perubahan dalam satu arah yang bersifat tetap dan maju.[17]

 

2.7. Teori Perkembangan Iman[18]

Pazmino mengemukakan bahwa Fowler memberikan tujuh kategori yang membedahkan tahap yang berbeda dari manusia: bentuk logika, mengambil peran, bentuk penilaian moral, batasan-batasan dari kesadaran sosial, fokus otoritas, bentuk dari koherensi dunia, dan peran simbol. Fowler sangat memperhatikan perbedaan antara bentuk atau struktur iman, dan berusaha untuk membahas dimensi-dimensi kognitif dan afektif dari iman seseorang , atau dimensi rasional dan perasaannya.[19] 7 aspek tersebut untuk pemahaman tahap perkembangan kepercayaan anak-anak, remaja sampai orang dewasa.  Berikut ini kita akan meninjau tujuh aspek atau kategori itu:

1.     Bentuk logika

Artinya pola khas dari gaya penalaran yang dimiliki pribadi pada setiap tahap kognitifnya. Artinya bagi Fowler, setiap individu memiliki ciri atau keunikan tersendiri dalam cara berpikirnya.

2.       Pengambilan peran

Kemampuan seorang pribadi untuk mengambil perspektif sosial dimana ia menyusun seluruh perspektif kelompok sosial pilihannya dan segala sistem ideologis serta tradisi keyakinan yang berbeda dengan perspektif pribadinya.

3.       Bentuk pertimbangan moral

Fowler menerapkan  pandangan Kohlberg mengenai tahap-tahap pertimbangan moral untuk menjelaskan tahap-tahap kepercayaan dalam sebuah bentuk yang dimodifikasi. Fowler melihat pararel penting antara tahap-tahap pertimbangan moral dan tahap-tahap kepercayaan. Modifikasi terhadap Kohlberg dilakukan berdasarkan penelitian empiris dan refleksi teoritis. Fowler mengembangkan suatu teori mengenai diri dan pribadi yang belum dipikirkan oleh Kohlberg.

4.       Batasan-batasan dari kesadaran sosial

Yang menunjuk pada seluruh cara operatif dengan mana pribadi membatasi kelompok-kelompok acuannya yang menyokong rasa identitas diri dan tanggung jawab sosialnya.

5.       Fokus otoritas

Hal ini menjelaskan oknum, gagasan, dan lembaga-lembaga mana yang dipakai oleh pribadi sebagai sumber otoritas sah dan yang diakuinya dalam mempertimbangkan arti dan nilai.

6.       Bentuk dari koherensi dunia

Yang merujuk pada cara-cara khas dengan mana pribadi memandang dan mengerti dunia, hidup dan lingkungannya yang ultim lewat gambaran komprehensif yang menciptakan pola koherensi dan yang menimbulkan rasa berarti yang menyeluruh.

7.       Peran simbol

Imajinasi diakui sebagai daya afektif-kognitif sentral yang mempersatukan dan mengintegrasikan seluruh aspek pengenalan kepercayaan. Imajinasi merupakan daya sentral yang menggerakan seluruh gambaran, simbol, metafor, cerita, mitos, dan ritus yang menjadi sarana utama bagi seorang beriman dalam proses menjadi dirinya sendiri.[20]

Dalam perkembangan iman, agama juga mengatur tingkah laku baik buruk, secara psikologis. Agama bisa merupakan salah satu faktor pengendali terhadap tingkah laku seseorang. Hal ini dapat dimengerti karena agama memang dapat mewarnai kehidupa masyarakat setiap hari. Agama juga menyajikan kerangka moral sehingga seseorang dapat membandingkan tinkahlakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa menerangkan mengapa dan untuk apa seseorang berada di duni.[21]

2.8.Dasar-dasar pertumbuhan Iman

Yang dimaksud dengan dasar-dasar iman disini adalah cara-cara yang dapat  menumbuhkan/menguatkan iman. Menurut Ichwei G. Indra, dalam Alkitab sedikitnya terdapat 7 cara yang dapat menguatkan iman, yaitu:

-          Ucapan syukur kepada Allah (Mzm 50:23)

Salah satu cara untuk dapat menguatkan iman adalah dengan menaikkan pujian dan menyampaikan ucapan syukur kepada Allah

-          Mengakui dosa kepada Allah (Mzm 32:3,5)

Ketika Daud memberitahukan dosa dan salahnya kepada Allah, ia bukan hanya memperoleh pengampunan dosa, tetapi juga imannya dikuatkan.

-          Berdoa kepada Allah (Yes 40:31)

Berdoa adalah hal yang paling penting, apalagi saat menantikan Tuhan dengan tenang dan teratur didalam doa. Tanpa berdoa, iman tidak akan ada.

-          Berpegang pada firman Tuhan Allah (Roma 10:17)

Iman timbul dari pendengaran, jika menginginkan iman tumbuh dan dikuatkan, renungkanlah dan berpeganglah selalu pada Firman Allah.

-          Gunakanlah Iman (Mat 25:29)

Iman harus digunakan, maka kehidupan akan berkemenangan setiap hari.

-          Saksikanlah Iman (Roma 10:10)

Maksudnya adalah kesaksian tentang apa yang telah dilakukan Allah.

-          Layanilah dengan Iman (Yak 2:17)

Bekerja terus dan melayani Tuhan dan sesama dengan bersandar kepada pimpinan Roh kudus yang senantiasa memberikan kekuatan iman.[22]

 

2.9.Perkembangan/Pertumbuhan Iman

Kata pertumbuhan berasal dari kata tumbuh yang artinya hidup dan bertumbuh sempurna Pertumbuhan juga diartikan untuk menyatakan sesuatu keadaan kemajuan.  Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kata pertumbuhan berasal dari kata tumbuh yang artinya bertunas, menjadi tanaman baru, beranjak dewasa, menjadi tumbuh besar.[23] Secara etimologi Iman (bahasa Yunani: πίστιν =  pistin) adalah rasa percaya kepada Tuhan. Iman sering dimaknai “percaya” (kata sifat) dan tidak jarang juga diartikan sebagai kepercayaan (kata benda). Arti kata Iman dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kepercayaan terhadap Tuhan. Seseorang yang memiliki ketetapan hati dalam kepercayaan kepada Allah. Iman kepada Allah berarti iman kepada FirmanNya.[24]  Kata Iman (Faith) memiliki arti sebagai suatu kebenaran yang objektif, yang diwahyukan yang dipercaya (Fides qual) atau penyerahan diri secara pribadi kepada Allah (Fidesque).[25] Pertumbuhan iman adalah suatu proses dimana seseorang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru S’lamatnya (Yohanes 1:12), diberi kuasa jadi anak Allah, lalu rindu mendengar, menerima dan memahami kebenaran Firman Allah dalam hidupnya setiap hari (1 Korintus 10:17), selanjutnya di dalam diri orang tersebut, kebenaran Firman Tuhan mengakar dan bertumbuh hingga dapat menghasilkan buah yang sesuai dengan kehendak Allah (Matius 3:8). Nacy Poyah mengatakan dalam bukunya bahwa: “Hidup di dalam iman kepada Kristus bagaikan tunas yang baru, terus bertumbuh dan berbuah. Bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan Allah, sehingga hidup umat berkenan kepada Allah dalam segala hal dan terus mengarah kepada Kristus (Efesus 4:13-16). Berbuah dalam kesaksian hidup yang baik, untuk memuliakan namaNya (Yohanes 15:7; Efesus 2:10)”.[26]

1.      Iman timbul karena seseorang mendengar Firman Kristus (Rom. 10:17)

2.      Iman timbul dari Berita Injil

Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil, (Filp 1:27). Bagaimana iman dapat tumbuh, sebagai contohnya dapat dilihat pada kisah seorang wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun (Mark. 5:25-29) adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Sebab katanya: “Asal ku jamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Kalimat “Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus,” menjelaskan darimana iman perempuan itu mulai tumbuh. Kabar-kabar yang dia dengar dari banyak orang bahwa Yesus menyembuhkan semua orang dan semua penyakit membuat perempuan malang itu memiliki harapan baru dan keyakinan baru bahwa penyakitnya pasti dapat sembuh asalkan dia ketemu Yesus Kristus, bahkan dia berkata dalam hati “Asal ku jamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” (ayat 28).[27] Kepercayaan eksitensial merupakan suatu kegiatan universal manusia. Kepercayaan eksitensial/iman mengandaikan suatu sikap suatu pilihan hati. Pilihan tersebut diambil sesuai dengan suatu pengertian tentang nilai dan kekuasaan yaitu tentang hal paling penting dalam hidup manusia.[28] Dalam perkembangan iman, agama juga mengatur tingkah laku buruk, secara psikologis. Agama bisa merupakan salah satu faktor pengendali terhadap tingkah laku. Hal itu dapat dimengerti karena agama memang mewarnai kehidupan masyarakat setiap hari. agama juga menyajikan kerangka moral sehingga seseorang seseorang membandingkan tingkah lakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa menerangkan mengapa dan untuk apa seseorang berada didunia, serta menawaran rasa aman khususnya bagi remaja yang sedang mencari eksitensi dirinya.[29]

 

2.10.                     Tahap Pertumbuhan Iman berdasarkan Usia

Tahapan pertama: Individual / Reflektif  usia 18-35

Pada usia ini atau biasanya umur18-35 mengalami suatu perubahan yang mendalam dan menyeluruh dalam hidupnya. Orang dewasa muda tidak lagi berhasil mengatasi semua masalah dengan pola pikir konvensional.Perubahan  akibat struktur berfikir itu yang pertama pada tahap ini muncul suatu kesadaran jelas tentang identitas diri yang khas dan otonomi tersendiri diperjuangkan jenis kemandirian baru. perubahan penting yang kedua ialah orang dewasa muda mulai mengajukan pertanyaan kritis mengenai keseluruhan nilai, pandangan hidup.[30]  Bagi kaum dewasa muda ini, bimbingan rohani merupakan dialog yangt mengandung kaum muda untuk menyadari, mengeerti dan menjawab panggilan Yesus dalam konteks pengalaman pribadi dan perkembangan dirinya. Pengalaman pribadi orang muda sangat dipengaruhi oleh masalah-masalah  perkembangan dan pertumbuhan-pertumbuhan pribadi. Bimbingan rohani bagi kaum muda bertujuan mengembangkan adanya kesadaran akan kehadiran Tuhanm dalam aktivitas hidup sehari-hari.[31] 

Tahapan kedua:   konjungtif setengah baya umur 35-40

Tahapan ini muncul hanya pada usia 35 sampai 40 tahun, dan banyak orang dewasa tidak pernah mencapai tahap ini. Tahapan ini adalah kemampuan baru untuk berdiri sendiri, dan kelompok miliknya dipilih berdasarkan refleksi dan bukan hanya diterima. Kegiatan iman pada tahap ini jarang muncul sebelum setengah baya. Iman pada tahap kelima melibatkan pemakaian kembali pola-pola komitmen dan cara-cara membuat masa lampau, hal tersebut adalah untuk memperoleh kembali kebenaran-kebenaran lama dengan cara yang baru.[32]

Tahap ketiga: Kepercayaan Iman yang Mengacu Pada Universalitas 40-an

Tahap kepercayaan yang dapat berkembang pada umur 45-an. Pribadi untuk melepaskan diri dari egonya dari pandangan bawa ego adalah pusat titik acuan dan kehidupan mutlak. Pemikiran dan pandangan religius biasa yang semuanya itu hendak diubah dan dipengaruhi karena seluruh gaya hidup diliputi dan diresapi oleh semangat cinta inklusif dan universal terhadap seluruh gejala hidup dan segala makhluk.[33] Orang yang berada pada tahapan ketiga ini tinggal di dunia sebagai orang yang hadir untuk mengubah (transform). Pada tahap keenam, diri sendiri “Menggunakan dan digunakan untuk mengubah realitas masa kini ke arah keadaan yang sebenarnya yang transenden. Dalam istilah spiritual, tahap keenam adalah keadaan penyatuan yang paling sempurna dengan Allah yang dapat dilakukan dalam kekekalan.[34]

Tahap keempat: Kepercayaan Iman yang Mengacu pada Lansia (universalizing faith)

pada tahap kepercayaan ini yang jarang dapat dicapai ini terdapat para pemimpin moral dan spritual, mereka digerakkan oleh keinginan untuk berpartisipasi dalam sebuah kekuatan yang menyatukan dan mengubah dunia namun tetap rendah hati, sederhana, dan manusiawi. Lansia adalah teladan bagi generasi dibwahnya. Ia adalah panutan dan tempat orang meminta nasehat, untuk memelihara peertumbuhan iman bagi orang yang lanjut usia dapat diadakan pembelajaran  PAK melalui gereja.[35]

 

III.             Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa Pertumbuhan iman adalah suatu proses dimana seseorang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya (Yohanes 1:12), diberi kuasa jadi anak Allah, lalu rindu mendengar, menerima dan memahami kebenaran Firman Allah dalam hidupnya setiap hari (1 Korintus 10:17), selanjutnya di dalam diri orang tersebut, kebenaran Firman Tuhan mengakar dan bertumbuh hingga dapat menghasilkan buah yang sesuai dengan kehendak Allah (Matius 3:8). Perkembangan iman orang dewasa itu mengalami suatu perubahan yang mendalam dan menyeluruh dalam hidupnya. Orang dewasa muda tidak lagi berhasil mengatasi semua masalah dengan pola pikir konvensional. Perubahan  akibat struktur berfikir itu  muncul suatu kesadaran jelas tentang identitas diri yang khas dan otonomi tersendiri diperjuangkan jenis kemandirian baru.

 

IV.             Daftar Pustaka

....KBBI

Ahmadi, H. Abu & Soleh, Munawar, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Rineka Cipta, 2005

Browning, W.R.F., Kamus Alkitab, Jakarta: BPK-GM, 2014

Daugherty, Billy Joe,  Kuasa Iman, Bandung:  Yayasan Kalam Hidup, 2004

Fowler, James W., Tahap-tahap Perkembangan Kepercayaan, Yogyakarta: Kanasius, 2008

Hurlock, Elisabet B., Psikologi Perkembngan, Jakarta: ERLANGGA, 2002

Indra, Ichwei G., Dinamika Iman, Bandung: Yayasan Kalam Kudus, 1993

Ismail, Andar, Ajarlah mereka melakukan, Jakarta: BPK–GM, 2003

Keeley, Robert J., Menjadikan Anak-Anak Kita Bertumbuh Dalam Iman,  Yogyakarta: Andi, 2009

Kelompok Kerja PAK-PGI, Pendidikan Agama Kristen untuk Kelas 8 SMP, Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 2006

Kristianto, Paulus Lilik, Prinsip dan   Praktek Pendidikan Agama Kristen, Yogyakarta: ANDI, 2008

Licollins, Gerald & Farrugia, Edward G.,  Kamus Teologia, Yogyakarta:  Kanasius, 1996

Pazmino, Robert W., Pondasi Pendidikan Kristen, Bandung: BPK Gunung Mulia, 2012

Pazmino, Robert W., Pondasi pendidikan Kristen, Jakarta: Yogyakarta: ANDI, 2008

Poyah, Nacy & Simanjuntak, Bentty, Bahan PA Mengenai Allah, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004

Sarwono, Sarlito W.,  Psikologi Perkembangan, Jakarta: Rajawali Pers, 2010

Shelton, SJ. & M. Charles, Menuju Kedewasaan Kristen, Yogyakarta: KANSIUS, 1998

Soemanto, Wasty, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2006

Supratiknya, A., Teori Perkembangan Kepercayaan,  Yogyakarta: Kanisius, 1995

Suprijanto, H., Pendidikan orang Dewasa dari Teori hingga Aplikasi, Jakarta: Bumi Aksara, 2009

Wiji Hidayati,  Psikologi Perkembangan, Yogyakarta: TERAS, 2008

Wofford, Kepemimpinan Yang Mengubah, Yogyakarta: Andi, 1990

 



[1] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, (Jakarta: BPK-GM, 2014),150)

[2] Wofford, Kepemimpinan Yang Mengubah, (Yogyakarta: Andi, 1990), 133

[3] Wofford, Kepemimpinan Yang Mengubah, 134

[4] Ichwei G. Indra, Dinamika Iman, (Bandung: Yayasan Kalam Kudus, 1993), 10

[5]....KBBI

[6] Paulus Lilik Kristianto, Prinsip dan               Praktek Pendidikan Agama Kristen, (Yogyakarta: ANDI, 2008), 103

[7] Elisabet B. Hurlock, Psikologi Perkembngan,( Jakarta: ERLANGGA, 2002), 245

[8] H. Suprijanto, Pendidikan orang Dewasa dari Teori hingga Aplikasi,(Jakarta: Bumi Aksara,2009),11

[9] Elisabet B. Hurlock, Psikologi Perkembngan, 246

[10] Wiji Hidayati, Psikologi Perkembangan, (Yogyakarta: TERAS, 2008), 152-159

[11] Wiji Hidayati, Psikologi Perkembangan, 154

[12] Wiji Hidayati,  Psikologi Perkembangan, 152

[13] Wiji Hidayati,  Psikologi Perkembangan , 155

[14]http://aboutscienceworld.blogspot.co.id/2013/02/pengertian-dewasa.html diakses pada tgl 22 Maret 2020, pukul 11.41 WIB

[15] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), 57

[16] Elisabet B. Hurlock, Psikologi Perkembngan, ( Jakarta: ERLANGGA, 1980), 2

[17] H. Abu Ahmadi & Munawar Soleh,Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), 1

[18] Robert W. Pazmino, Pondasi pendidikan Kristen, (Jakarta: Yogyakarta: ANDI, 2008), 103

[19] Robert W. Pazmino, Pondasi Pendidikan Kristen, (Bandung: BPK Gunung Mulia, 2012), 297

[20] A. Supratiknya, Teori Perkembangan Kepercayaan,  (Yogyakarta: Kanisius, 1995), 39

[21] Sarlito W. Sarwono,  Psikologi ,(Jakarta: Rajawali Pers, 2010), 111

[22]Ichwei G. Indra, Dinamika Iman, 15

[23] Badudu-zain, 989

[24] Gerald Licollins & Edward G. Farrugia,  Kamus Teologia, (Yogyakarta:  Kanasius, 1996), 113

[25] Billy Joe Daugherty,  Kuasa Iman, (Bandung:  Yayasan Kalam Hidup, 2004), 4

[26] Nacy Poyah & Bentty Simanjuntak, Bahan PA Mengenai Allah, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 30

[27] Kelompok Kerja PAK-PGI, Pendidikan Agama Kristen untuk Kelas 8 SMP,(Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 2006), 41

[28] James W. Fowler, Tahap-tahap Perkembangan Kepercayaan, (Yogyakarta: Kanasius, 2008), 70

[29] Sarlito W. Sarwono, Psikologi Remaja, (Jakarta: Rajawali, 2010), 111-113

[30] James W. Fowler, Tahap-tahap Perkembangan Kepercayaan, 96-100

[31] Charles M. Shelton SJ., Menuju Kedewasaan Kristen, (Yogyakarta: KANSIUS, 1998), 42-43

[32] Robert J. Keeley, Menjadikan Anak-Anak Kita Bertumbuh Dalam Iman,  (Yogyakarta: Andi, 2009), 13

[33] Robert J. Keeley, Menjadikan Anak-Anak Kita Bertumbuh Dalam Iman,  (Yogyakarta: Andi, 2009), 9

[34] Robert J. Keeley, Menjadikan Anak-Anak Kita Bertumbuh Dalam Iman, 9

[35] Andar Ismail, Ajarlah mereka melakukan, (Jakarta: BPK–GM, 2003), 217